Terkadang seringkali nasabah mengajukan kredit dengan jumlah tertentu yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya. Tidak jarang pula bank menolak memberikan jumlah yang diinginkan oleh nasabah dengan alasan memang jumlah yang diminta melebihi dari yang dibutuhkan. Namun, terkadang tidak jarang bank juga menawarkan kepada nasabah untuk menambah jumlah kredit di atas jumlah yang diminta. Hal ini disebabkan karena memang jumlah yang dibutuhkan masih kurang dari yang diminta. Oleh karena itu, persetujuan suatu kredit termasuk jumlah kredit yang dibutuhkan ditentukan oleh perbankan.
Untuk itu, dalam hal memutuskan kredit pihak perbankan memerlukan suatu perhitungan agar kebutuhan yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan yang sesungguhnya.
Pokok persoalan yang sering timbul adalah terkadang nasabah dalam mengajukan kredit memang sengaja melebihi dari yang diinginkan.
Alasannya adalah mereka tahu bahwa bank pasti tidak akan menyetujui
jumlah pinjaman yang mereka inginkan. Oleh karena itu, plafon kredit mereka naikkan diatas dari yang diinginkan. Padahal kalau memang kebutuhan mereka sama dengan yang diinginkan, tentu bank tidak akan mengurangi jumlah tersebut, justru bank merasa senang apabila ternyata jumlah permohonan hampir sama dengan jumlah kebutuhan kredit perhitungan bank sehingga tidak ada yang merasa dikecewakan. Untuk menentukan jumlah kredit yang sesungguhnya, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu sebagai berikut (Kasmir, 2010:281-283):
1. Nilai jaminan, artinya jaminan yang diberikan nasabah untuk memperoleh kredit.
2. Penghasilan nasabah (gaji), artinya khusus bagi para karyawan yang mengajukan kredit.
3. Jumlah biaya yang dikeluarkan nasabah untuk pembiayaan usahanya tersebut juga dapat menentukan yang akan dibiayai oleh nasabah.
4. Studi kelayakan, artinya bank terlebih dulu menilai jumlah yang dibutuhkan sesuai dengan kelayakan usahanya (kebutuhan modalnya.
5. Analisis rasio, artinya persetujuan jumlah kredit yang diputuskan dengan mempertimbangkan berdasarkan dengan rasio keuangan nasabah yang terlihat dari laporan keuangan (neraca dan laporan laba rugi) yang diajukan.
Menurut Sutardjo Tui, SE, Msi (2013) Bank dalam menghitung jumlah kebutuhan kredit menggunakan metode perputaran modal kerja atau turn over working capital dengan menggunakan rumusan sebagai berikut :
a. Lamanya perputaran modal kerja.
- Kas Bank
Kas Bank Penjualan
- Piutang
Piutang Penjualan
- Persediaan
Persediaan Harga Pokok Penjualan
- Total lamanya perputaran modal kerja = hari
b. perputaran modal kerja keseluruhan
Jumlah Hari Laporan Keuangan
Total Lamanya Perputaran Modal Kerja X kali = hari X kali = hari X kali = hari
X kali = hari
c. Kebutuhan modal kerja
Penjualan
Perputaran Modal kerja Kesehatan
d. Proyeksi tambahan modal kerja - (x%) x Kebutuhan modal kerja = Rp.
X% adalah prosentase proyeksi tambahan kebutuhan modal kerja.
e. Total kebutuhan modal kerja
Total kebutuhan modal kerja = Kebutuhan modal kerja + proyeksi tambahan modal kerja
E. Kerangka Pikir
Bagan Kerangka Pikir
X Rp. = Rp
BANK RAKYAT INDONESIA
MODAL KREDIT USAHA RAKYAT ( KUR )
PROSEDUR
5C 7P
F. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka hipotesisnya adalah “Diduga bahwa pemberian kredit modal kerja berupa kredit usaha rakyat pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Takalar telah sesuai dengan prinsip 5C dan 7P”.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada PT. Bank Rakya Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Takalar Kab. Takalar. Dengan waktu penelitian selama 2 bulan.
B. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data yang relevan untuk memecahkan dan menganalisis data tersebut sebagai berikut:
1. Observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung kepada perusahaan khususnya pada bagian kredit usaha yang merupakan objek dalam penelitian ini.
2. Interview, yaitu melakukan wawancara langsung dengan pimpinan dan karyawan yang berhubungan dengan penelitian ini.
3. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data atau informasi yang diperoleh melalui laporan-laporan tertulis dari PT. Bank Rakyat lndonesia (Persero) Tbk. Cabang Takalar
44
C. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah:
1. Data kualitatif yaitu data yang diperoleh dari perusahaan yang berisi data tertulis, yang terdiri atas gambaran umum perusahaan dan struktur organisasi.
2. Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan berupa angka-angka yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Sedangkan data yang digunakan dalalm penelitian ini bersumber dari:
1. Data primer, yaitu data diperoleh dari pihak PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Takalar, melalui wawancara langsung dengan karyawan yang menangani masalah kredit usaha.
2. Data sekurder, yaitu data yang diperoleh dari pihak lain baik secara lisan maupun tertulis atau dokumen yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
D. Metode Analisis
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif yaitu dengan memberikan gambaran tentang pemberian kredit modal kerja (KUR) pada PT. Bank Rakyat lndonesia (Persero) Tbk. Cabang Takalar dengan prinsip 5C dan 7P.
46 BAB IV
GAMBARAN UMUM PENELITIAN
A. Sejarah Singkat Berdirinya PT. Bank Rakyat Indonesia
Pada akhir abad XIX tepatnya tanggal 16 Desember 1895 Raden Patih Wiriatmadja beserta kawan-kawannya mendirikan suatu bank yang bernanma “Depoerwokerto Hulp-en Spaarbank der Islandsche Hoofden”
(Bank Penolong dan Penabung dari Priyavi Poermokerto).
Pada tahun 1898 Asisten Residen Purwekerto diganti oleh W.P.D de Wolff van Westerrode. Ia bersama A.L Schiff mendirikan De Poerwokerto Hulp-en Spaarbank der Islandsche Hoofden, dimana Raden Wiriatmajda waktu itu juga duduk dalam kepengurusan.
Pada tahun 1898 dengan bantuan Pemerintah Hindia Belanda didirikan Volksbanken (Bank Rakyat), di kota-kota dalam wilayah Nusantara atau Hindia Belanda pada waktu itu.
Pada tahun 1912 dengan Stbl. 1912-393 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan suatu lembaga berbadan hukum dengan nama Centrale Kas yang berfungsi sebagai Bank Sentral bagi Volksbanken pada umumnya termasuk Bank Desa. Sebagai akibat krisis internasional atau resesi ekonomi dunia pada tahun 1929 hampir semua Volksbanken mengalami kesulitan sehingga tugas dan kerwajiban diambil alih oleh Centrale Kas.
Pada tahun 1934 dengan Stbl. 1934-82 didirikan Algemene Volkscredietbank (AVB) yang berstatus badan hukum Eropa. Modal pertama berasal dari likuidasi Centrale Kas, ditambah dengan kekayaan bersih dari Volksbanken tersebut. Dengan demikian, AVB sebagai kelanjutan Contrale Kas merupakan integrasi dari volksbanken. Pada jaman pendudukan Jepang, berdasarkan UU No. 39 tanggal 3 Oktober 1942 di pulau jawa di ganti namanya menjadi Syomin Ginko (Bank Rakyat).
Berdasarkan peraturan pemerintah No. 1-1946 tanggal 22 1946 tentang “Aturan Bank Rakyat Indonesia” ditetapkan berdirinya BRI yang merupakan bank pemerintah yang dahulu berturut-turut bernama AVB dan Syomin Ginko.
Pihak Nederlansche lndie Civil Administration di Jakarta mendirikan kembali Kantor Besar Algemene volkskrcredietbank dan setetah itu lbu Kota Rl Yogyakarta diduduki oleh Belanda, Kantaor Besar Bank Rakyat Indonesia Dihapuskan. Setelah tercapai persetujuan Roem-Royen, Kantor Besar Bank Rakyat Indonesia dihidupkan kembali, akan tetapi wilayah kerjanya hanya meliputi daerah yang dikembalikan kepada Negara RI 1945.
Perkembangan sejarah politik Indonesia selanjutnya ternyata mempengaruhi sejarah Bank Rakyat lndonesia. Dengan Surat Keputusan Menteri Kemakmuran RIS tanggal 16 Maret 1950, Direksi Bank Rakyat Indonesia Bagian Republik Indonesia 1945 dipindahkan dari Yogyakarta
ke Jakarta untuk dijadikan Direksi BARRIS (Bank Rakyat Republik Indonesia Serikat). Surat Keputusan Menteri Kemakmuran RIS ini diprotetes oleh para federalis dengan alasan bahwa K.B. BARRIS belum merupakan kenyataan, sehingga Menteri Kemakmuran RIS meralatnya dengan menamakan Direksi Volkscreditbank/Bank Rakyat lndonesia.
Aturan Bank Rakyat Indonesia PP No. 1-1946 diperbaharui dengan PP No. 25-1951 tanggal 20 April 1951, yang menjadikan BRI seaegai Bank menengah. Pada tanggal 17 Agustus 1950 Negara RIS dengan UUD sementara RI dijadikan Negara dan Algemene Volkscredietbank dibubarkan tanggal 29 Agustus 1951 dengan UU No 12-1951 yang mencabut Stbt. 1934-82 tentang pendirian Algemene Volkscredietbank.
Dengan demikian maka terhitung sejak tanggal tersebut BRI menjadi ahli waris satu-satunya dari Algemene Volksredietbank dan meneruskan tugas dan kewajibannya.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (PERPU) No.
41-1960 tanggal 26 Oktober LN No. 128-1960, dibentuk Bank Koperasi, Tani dan Nelayan (BKTN) dalam bentuk Bank mana seharusnya beturut-turut dilebur dan diintegrasikan.
a. BRI dengan PERPU No. 42 tahun 1960 tanggal 26 oktober I960.
b. PT. Bank Tani Nelayan dengan PERPU No. 43 tahun 1960 Tanggal 26 Oktober 1960.
c. Nederlansche Hendel-Mlj (NHM) setelah dinasionalisasikan dengan PP No. 44/60 dan dengan peraturan menteri keuangan No.
261206/BUM II tanggal 30 November 1960 diserahkan kepada BKTN.
Pada akhir tahun 1968 berdasarkan UU No. 14 tahun 1967 tentang UU Pokok-Pokok Perbankan dan UU No. 13 tahun 1958 tentang UU Bank Sentral yang mengembalikan fungsi BI sebagai Bank Sentral, BNI Unit II Bidang Rural//Eksim dipisahkan menjadi bank-bank milik negara dengan nama:
a. Bank Rakyat Indonesia yang menampung segala hak dan kewajiban serta kekayaan dan perlengkapan BNI Unit II bidang Rural dengan UU No. 21 tahun 1968.
b. Bank Ekspor Impor Indonesia yang menampung segala hak dan kewajiban serta kekayaan dan perlengkapan BNI Unit II dengan UU No. 22 tahun 1968.
B. Struktur Organisrsi Perusahaan
Struktur organisasi merupakan salah satu faktor yang harus diperhatiakan oleh suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya yang dapat menunjang tercapainya tujuan perusahaan.
Dengan adanya struktur Organisasi perusahaan dapat dilihat suatu kerangka dan susunan perwujudan pola yang tetap. Hubungan antara fungsi-fungsi bagian atau posisi yang menunjukan kedudukan tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang berbeda dalam suatu Organisasi
PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Takalar sebagai salah satu Bank pemerintah yang mempunyai peranan penting dalam menggerakan roda perekonomian di daerah mempunyai struktur organsasi perusahaan sebagai berikut
PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Takalar sebagai salah satu Bank pemerintah yang mempunyai peranan penting dalam menggerakan roda perekonomian di daerah mempunyai struktur organsasi perusahaan sebagai berikut
C. Pembagian Tugas Dan Tanggung Jawab
Uraian tugas dan tanggung jawab dari jabatan-jabatan pada struktur Organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia (Pesero) Tbk. Cabang Takalar sebagai berikut:
a. Pemimpin Kantor Cabang
1) Membina dan mengawasi kegiatan operasional di kanca.
2) Mempersiapkan, mengusulkan, melakukan negosiasi, merevisi dan mengupayakan pencapaian RKA (Rapat Kerja Administrasi).
3) Melakukan pembinaan secara aktif dalam meningkatkan kualitas setiap fungsi seperti marketing, operasional, dan support.
4) Menciptakan dan menjamin kelancaran pelayanan operasional di Kanca.
5) Menjamin bahwa seluruh transaksi yang disetujui/disahkan telah sesuai dengan kewenangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6) Menjamin ketepatan dan kebenaran pembukuan.
7) Mengelola dan mengawasi kebutuhan logistik secara efiisien.
b. Asisten Manajer Operasional (AMO) Kanca
1) Membantu Pinca dalam penanganan kegiatan operasional Kanca selama Pinca tidak di tempat, sedang bila Pinca ada di
tempat maka AMO membantu kelancaran pelayanan bidang operasional kepada nasabah.
2) Mengelola kas dan surat berharga Kanca selama Pinca tidak ditempat.
3) Mengelola kas Kanca, melaksanakan pergeseran kas antar unit kerja dan memelihara kerjakan Register O.
4) Melaksanakan tambahan kas awal hari/selama pelayanan kas bagi Teller dan ATM serta menerima setoran kas teller.
5) Mengesahkan dalam OLSIB (On line Sistem informasi Bank, sekarang BRINETS) dan menandatangani bukti kas atas transaksi tunai, kliring dan pemindahbukuan yang ada dalam batas wewenangnya.
6) Memeliharakerjakan register dan penyimpanan surat berharga serta kuitansi Payment Point.
7) Mengaktifkan rekening pinjaman dan rekening peserta Phone Banking/TAC.
8) Memastikan kebenaran pembuatan/penerimaan dokument/ nota yang berkaitan dengan pelayanan dana dan jasa serta kebenaran pembuatan laporan yang menjadi tanggung jawabnya.
9) Melaksanakan verifikasi akhir transaksi tunai kewenangan teller.
10) Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lainnya yang di berikan oleh atasan
c. Asisten Manajer Bisnis Makro (AMBM)
1) Membuka RKA BRI Unit se-wilayah kerjanya untuk mencapai target bisnis yang telah ditetapkan
2) Menetapkan strategi bisnis berdasrkan analisis pesaing yang telah dilakukan untuk meningkatkan pangsa pasar mikro
3) Pengembangan bisnis BRI Unit di Wilayah kerjanya untuk mencapai laba yang maksimal.
4) Mengevaluasi/memonitor bisnis BRI Unit diwilayah kerjanya untuk mengetahui positioning BRI unit dibandingkan bank pesaing.
5) Melakukan cross selling untuk mendukung sinergi bisnis BRI 6) Mengadakan hubungan kerja sama dengan instansi-instansi
terkait untuk melaksanakan pelayanan secara optimal.
7) Pembinaan nasabah BRI Unit (kunjungan kenasabah pemberantasan tunggakan, pemasukan Daftar Hitam, penyelamatan kredit melalui 3R “Restructuring, Reconditioning, Resceuling “, memotivasi dan memberikan petunjuk teknis kepada Kaunit dan Mantri dalam meningkatkan atau memperbaiki unitnya).
8) Meningkatkan kualitas SDM dengan membina dan membimbing SDM serta mengevaluasi kinerja SDM di jajaran BRI Unit di wilayah kerjanya.
9) Merekomendasi/mengusulkan promosi, training, pendidikan demisi dan rolling dalam rangka peningkatan jenjang karier pekerja
10) Menjamin ketetapan, kebenaran dan keakuratan laporan-laporan yang dikirim, baik ke kanwil maupun ke kampus agar laporan yang di sampaikan tepat waktu dan tepat guna.
d. Supervisor Penunjang Bisnis (SPB)
1) Mengelola proses dan presedur administrasi kredit di Kanca.
2) Memantau portofolio kredit retail menengah (non Tapsun maupun Tapsum) sesuai dengan informasi yang dibutuhkan manajemen Kanca.
3) Memastikan bahwa ketaatan terhadap KUP BRI dan PPK untuk setiap permohonan kredit telah dilaksanakan dengan memberikan pendapat/opini bahwa pemberian kredit telah sesuai dengan KUP dan PPK serta kriteria yang ditetapkan telah terpenuhi.
4) Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PTK terutama mengenai pemenuhan persyaratan kredit dan dokumentasi kredit.
5) Menginformasikan kredit-kredit yang akan jatuh tempo 3 bulan yang akan datang kepada Pejabat Pemrakarsa Kredit.
6) Memastikan bahwa pengelolaan berkas I kredit yang telah dilaksakan sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.
7) Memastikan bahwa asuransi kredit, asuransi kerugian dan asuransi jiwa yang berkaitan dengan kredit telah dikelola/diadministrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
8) Memastikan bahwa aspek yuridis yang berkaitan dengan kredit telah diselesaikan dan memberikan perlindungan yang memadai bagi BRI.
9) Membina dan menilai semua personil yang menjadi bawahannya serta menjamin terlaksananya fungsi back office bagi Kanca lain sesuai dengan ketentuan.
10) Melakukan tugas-tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.
e. Fungsi Account Officer (AO) 1) Fungsi AO Kredit Komersil
a) Membuat RPT perkreditan atas sektor yang dikelolanya dan bertanggung jawab atas pencapaiannya.
b) Mempersiapkan dan melaksanakan rencana atas account yang menjadi tanggung jawabnya serta memantau hasil yang dapat dicapainya (pendapat/keuntungan) dan menetapkan priorita pembinaan atas account yang dikelolanya.
c) Mengelola account yang sesuai batas-batas yang ditetapkan untuk mencapai pendapatan yang optimal bagi Kanca dan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin kepada nasabah.
d) Menyampaikan masalah-masalah yang timbul pada atasannya dalam pelayanan debitur untuk diselesaikan dengan unit kerja terkait.
e) Melakukan penelitian kelengkapan dan keabsahan dokumen kredit sebelum diputus serta melakukan pembinaan dan penagihan kredit yang menjadi tanggung jawabnya.
f) Melaporkan situasi dan kondisi debitur yang masih lancar maupun memburuk serta memberikan usul, saran, dan pemecahan atau penanggulangannya kepada atasan.
g) Menguasai account yang diback-up sesuai dengan yang ditentukan oleh atasannya serta melengkapi dokumen-dokumen kredit yang tetunda sesuai batas waktu yang ditetapkan dalam PPND.
h) Melaksanakan fungsi Funding Officer (FO) dalam hal tidak terdapat FO di unit kerja.
i) Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh WBP dan atau Pirca.
j) Sebagai anggota Tim Penyelamatan dan penyelesaian Kredit Bermasalah di Kanca dalam rangka penyelamatan dan penyelesaian kredit bermasalah.
2) Fungsi AO Kredit Program
a) Membuat RPI atas Kredit Program sesuai rencana yang dibreakdown dan bertanggung jawab atas pencapaiannya.
b) Mempersiapkan dan melaksanakan pembinaan account yang menjadi tanggung jawabnya serta memantau hasil (laba/pendapatan) yang dapat dicapainya.
c) Mengelola account yang sesuai batas-batas yang ditetapkan untuk mencapai pendapatan yang optimal bagi Kanca.
d) Memberikan pelayanan yang sebaik mungkin kepada nasabah.
e) Menyampaikan masalah-masalah yang timbul kepada atasannya dalam pelayanan kepada debitur untuk diselesaikan dengan unit kerja terkait.
f) Melaporkan situasi dan kondisi debitur, baik yang masih lancar maupun yang memburuk serta memberikan usul, saran dan pemecahan atau penanggulanggannya.
g) Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.
3) Fungsi AO Kredit Konsumer
a) Melakukan analisis/identifikasi terhadap debitur potensial secara kolektif (instansi).
b) Mengembangkan rencana pemasaran melalui Instansi/
Perusahaan.
c) Mempersiapkan dan melaksanakan rencana atau account yang menjadi tanggung jawabnya serta memantau hasil laba/pendapatan yang dapat dicapai dan ditetapkan prioritas pembinaan atas account yang dibinanya.
d) Mempersiapkan naskah kerja sama dengan Instansi yang pegaiwainya akan dilayani Kretap/Kresun.
e) Melakukan upaya dan pendekatan terhadap Instansi/Perusahaan yang akan dilayani Kretap/Kresun, agar pembayaran gaji para pegawai (debitur) dan segala transaksi bisnis perusahaan dapat dilakukan melalui BRI.
f) Meneliti kebenaran dan kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan pada Kretap/Kresun, seperti keaslian surat keputusan, daftar gaji, dan lain-lain.
g) Mengelola account yang sesuai batas-batas yang ditetapkan untuk mendapatkan pendapatan yang optimal bagi Kanca.
h) Mencari, mengupayakan dan merekomendasikan pemecahan masalah serta melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam upaya penagihan maupun
penyelesaian tunggakan, termasuk melakukan koordinasi dengan Instansi/Perusahaan yang bersangkutan termasuk bendaharawan/pemotong gaji.
i) Mengusulkan kepada Pinca untuk rnembentuk Tim Penagih tunggakan dengan AO Kretap/Kresun sebagai koordinatornya.
j) Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.
f. Supervisor Pelayanan Kas
1) Menyiapkan kuitansi tambahan kas supervisor dan ATM serta menerima uang dari AMO.
2) Menyetujui tambahan kas awal Teller, membuku dan mendistribusikan uangnya kepada Teller.
3) Memeliharakerjakan register kas induk.
4) Mengisi ATM bersama petugas yang ditunjuk.
5) Menerima kuitansi tambahan kas atau setoran kas beserta uangnya dari Kanca Pembantu dan BRI Unit yang diterima di Kanca
6) Meneliti keabsahan bukti kas yang diterima serta mengesahkan OLSIB (sekarang BRINETS) dan menandatangani bukti atas transaksi tunai, kliring dan overbooking yang ada dalam batas wewenangnya.
7) Membuku setoran kas Teller pada akhir hari dan melakukan opname kas serta membuat tanda setoran dan menyerahkan fisik uang ke AMO.
8) Melaksanakan verifikasi awal atas semua transaksi Teller serta menjamin kelancaran pengiriman uang sesuai dengan kewenangannya.
9) Memastikan kebenaran pengelolaan kuitansi pembayaran rekening listrik/telepon/PAM/PBB yang dilaksanakan Teller/Petugas Payment Point serta memeriksa Daftar Mutasi Harian (DHM) dan jumlah bukti pembukuan yang diserahkan oleh Teller/Teller Kliring/Tapsun.
10) Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.
g. Fungsi Teller
1) Membuat aplikasi tambahan kas awal dan menerima uang dari OO.
2) Menerima uang dari nasabah dan mencocokkan dengan tanda setorannya serta menjamin kelancaran pelaksanaan pengiriman uang sesuai dengan kewenangannya.
3) Membayar uang kepada nasabah yang berhak serta meneliti keabsahan bukti kas yang diterima.
4) Meminta pengesahan/fiat kepada pejabat yang berwenang atas transaksi tunai yang melebihi batas wewenengnya.
5) Mengelola dan menyetorkan uang fisik kas kepada OO baik selama jam pelayanan kas maupun akhir hari serta membayarkan biaya-biaya Rutang, realisasi kredit dan transaksi lainnya.
6) Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.
h. Fungsi Payment Point 1) Menerima setoran uang.
2) Memeriksa kebenaran dan keabsahan bukti setoran dan dokoumen pendukungnya.
3) Melakukan penyetoran uang ke Teller atau OO (dalam hal bertindak sebagai Teller)
4) Mengelola kuitansi pembayaran rekening listrik/telepon/PAM/PBB dan menerima pembayaran pelanggan.
5) Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh atasan.
i. Fungsi Unit Pelayanan Nasabah (UPN)
1) Memberikan informasi kepada calon nasabah mengenai produk dana dan jasa BRI.
2) Memberikan informasi saldo pinjaman, transfer maupun pinjaman bagi nasabah yang memerlukan.
3) Melayani permintaan salinan rekening koran bagi nasabah yang memerlukan (di luar pengiriman secara rutin setiap awal bulan).
4) Memberikan pelayanan khusus kepada nasabah inti yang memerlukan seperti mengantarkan atau menjemput uang ke tempat tinggal/usaha nasabah).
5) Membantu nasabah yang memerlukan pengisian aplikasi dana maupun jasa BRI.
6) Menerima dan menginventarisir keluhan-keluhan nasabah untuk diteruskan kepada pejabat yang berwenang.
7) Mengentry dana nomor seri CEPEBRI yang didistribusikan nomor seri CEPEBRI yang dinyatakan hilang serta nota pendekatan atas pencairan CEPEBRI Cabang sendiri di Kanca di PC CEPEBRI.
j. Fungsi Petugas Administrasi (PAU)
1) Membuat dan mengadministrasikan laporan-laporan untuk menjaga ketertiban keakuratan laporan yang akan digunakan manajemen.
2) Memeliharakerjakan register Surat Keterangan Permohonan Pinjaman (SKPP) untuk kredit yang diputus MBM/Pinca dan AMBM, untuk menjaga ketertiban administrasi Kupesdes.
3) Mengadministrasikan nomor undian simpedes dan Simaskot serta pengaturan pelaksanaan undiannya dalam rangka mendukung keberhasilan pelaksanaan undian Simpedes/Simaskot.
4) Membuat konsep surat berdasarkan perintah/disposisi MBM/Pinca.
5) Mengadministrasikan berkas kepegawaian pegawai BRI Unit di wilayah kerjanya.
6) Menatausahakan gaji pegawai, biaya pengobatan dan hak-hak pegawai lainnya untuk mendukung ketertiban administrasi pegawai BRI Unit.
7) Mengalokasikan biaya supervisi keseluruh BRI Unit di wilayah kerjanya dalam rangka kewajaran biaya BRI l Unit.
8) Menatakerjakan persediaan logistik Unit di wilayah kerjanya dengan catatan persediaannya.
k. Fungsi Petugas Rekonsitiliasi Unit (PRU)
1) Mengelola register nota hubungan Kanca dan BRI Unit.
2) mengentry UD-IA dan UD-IB ke PC hubungan Kanca dan BRI Unit.
3) Mengarsipkan nota-nota hubungan Kanca dan BRI Unit.
4) Merekonsillasi rekening hubungan Kanca BRI Unit, rekening BRI Unit Kanca dan mencocokan saldo rekening hubungan Kanca BRI Unit yang berasal dari sistem pembukuan sentral.
l. Fungsi Logistik
1) Memenuhi kebutuhan logistik/supplies kepada pegawai sesuai kebutahan.
2) Memenuhi kebutuhan bensin, pengganti suku cadang kendaraan dinas dan kebutuhan logistik lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku
3) Mengadministrasikan semua aktiva tetap Kanca dengan ketentuan yang berlaku.
4) Menyiapkan laporan-laporan di bidang logistik sesuai permintaan Kanwil/Kanpus.
4) Menyiapkan laporan-laporan di bidang logistik sesuai permintaan Kanwil/Kanpus.