BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Metode Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditansmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Kelebihan spektrometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating ataupun celahoptis (Khopkar, 1990).
Spektrofotometri UV-Vis merupakan pengukuran serapan cahaya di daerah ultraviolet (200-400 nm) dan sinar tampak (400-800 nm) oleh suatu senyawa.
Serapan cahaya uv atau sinar tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Absorbsi spektrofotometri UV-Vis adalah istilah yang digunakan kettika radiasi ultraviolet dan cahaya tampak diabsorbsi oleh molekul yang diukur. Alatnya disebut UV-Vis spektrofotometer (Day & Underwood).
Radiasi elektromagnetik, yang mana sinar ultraviolet dan sinar tampak merupakan salah satunya, dapat dianggap sebagai energi yang merambat dalam bentuk gelombang. Panjang gelombang merupakan jarak linier dari suatu titik pada satu gelombang ke titik yang bersebelahan pada gelombang yang berdekatan (Gandjar dan Rohman, 2009).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Tempat
Analisis kadar sulfat pada air minum isi ulang dengan metode spektrofotometri uv-vis yang bertempat di Jl K.H. Wahid Hasyim No.15.
3.2 Sampel, Alat dan Bahan 3.2.1 Sampel
Air baku yang digunakan sebagai sampel uji analisis kadar sulfat pada air minum isi ulang dengan metode spektrofotometri adalah:
1. Sampel 1 dengan kode: AM 1324 2. Sampel 2 dengan kode: AM 1325 3.2.2 Alat
Alat – alat yang digunakan adalah Spektrofotometri Nova 60, corong gelas, kertas saring, kuvet 20 mm-cell, labu lrlemeyer, pipet volum 5 ml, tisu, hot plate, tabung reaksi, vortex mix xlab-02, auto selector
3.2.3 Bahan.
Bahan yang digunakan adalah akuabides steril, reagen SO4
-1, reagen SO4
-2, reagen SO4
-3, SO4
-4, sulfat standar solusi CRM 40 mg/L, sulfat standar solusi CRM 125 mg/L.
3.3 Prosedur
Adapun prosedur yang dilakukan pada preparasi sampel adalah:
3.3.1 Prosedur preparasi Sampel
1. Dipipet 2,5 ml sampel kedalam tabung reaksi 2. Dipanaskan pada suhu 15 – 400C.
3. Ditambahkan dengan reagen SO4-1 sebanyak 2 tetes 4. Dihomogenkan dengan menggunakan vortex mix
5. Ditambahkan dengan reagen SO4-2 sebanyak 1 sendok mikrospoon, satu tingkat hijau. Tabung ditutup dan homogenkan.
6. Dipanaskan pada suhu 400C pada penangas air selama 5 menit.
7. Ditambahkan dengan reagen SO4-3 sebanyak 2,5 ml, homogenkan kembali.
8. Dibiarkan beberapa menit hingga terbentuk endapan.
9. Diambil filtratnya dan dipindahkan ke dalam tabung reaksi yang baru.
10. Ditambahkan dengan reagen SO4-4 sebanyak 4 tetes akan terbentuk warna kuning kemudian dihomogenkan.
11. Dipanaskan pada suhu 40 0C pada penangas air selama 7 menit.
3.3.2 Prosedur Analisa Sampel Prosedur analisa sampel adalah:
1. Dipindahkan sampel yang telah dipreparasi kedalam kuvet 10 mm-cell.
2. Tempatkan kuvet kedalam ruang sel.
3. Dimasukkan autoselektor SO4-2 kedalam alat.
4. Konsentrasi sulfat akan terbaca pada layar spektrofotometer dengan panjang gelombang 525 nm.
5. Dicatat hasil yang tertera pada layar.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Analisis kadar Sulfat (SO42-) pada air minum isi ulang menggunakan metode spektrofotometri NOVA 60. Pemeriksaan kadar Sulfat pada air minum isi ulang pada panjang gelombang 525 nm dilakukan di Laboratorium Kimia Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Medan.
Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini:
Tabel 4.1 Hasil Analisa Kadar Sulfat dalam Sampel
SAMPEL HASIL
1324/AM/24/03/16 31 mg/L
1325/AM/24/03/16 30 mg/L
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penetapan kadar yang diperoleh, sampel air minum memenuhi persyaratan dan tidak melebihi kadar rata-rata yang telah ditetapkan.
Sampel air minum isi ulang diperoleh dari dua depot air minum (galon 19 liter).
Pengujian kadar sulfat (SO4
2-) menggunakan metode spektrofotomteri UV-Vis dengan reagen SO4-1, reagen SO4-2, reagen SO4-3, dan reagen SO4-4.
Penambahan reagen SO4-1
, reagen SO4-2
dan reagen SO4-3
kedalam sampel air minum akan terbentuk endapan berwarna putih setelah dipanaskan pada suhu
400C selama 5 menit. Guna penambahan reagen tersebut adalah untuk mengendapkan zat yang bukan sulfat. Kemudian filtrat ditambahkan reagen SO4 -4
terbentuk larutan berwarna kuning dan dipanaskan pada suhu 400C selama 7 menit.
Menurut (Day, 2002) spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu. Sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 400-750 nm.
Pengukuran spektrofotometri menggunakan alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis secara kuantitatif.
Konsumsi air minum dengan konsentrasi sulfat diatas 500 sampai dengan 1000 mg/L dapat menyebabkan laksatif. Efek laksatif adalah timbulnya rasa mual dan ingin muntah sehingga menyebabkan dehidrasi. Efek lain yang dapat ditimbulkan adalah penyakit pencernaan akut (diare) terutama pada bayi dan anak kecil yang sudah mengidap mikroba diare dalam tubuh.
Menurut SNI 01-3553-2006 yang memberikan batas maksimal untuk anion sulfat sebesar 200 mg/L. Kadar sulfat yang berlebih dalam air minum akan menurunkan tingkat kualitas air sehingga tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kadar sulfat pada air minum isi ulang yang diperoleh dari hasil pemeriksaan memenuhi persyaratan, yaitu 31 dan 30 mg/L. Air minum isi ulang layak untuk dikonsumsi karena memenuhi persyaratan SNI 01-3553-2006 dengan konsentrasi maksimal 200 mg/L.
5.2 Saran
a) Diharapkan dilakukan pemantauan dan pengontrolan terhadap proses pengolahan air minum agar kadarnya tetap pada batas yang telah ditetapkan.
b) Mengingat bahwa kadar sulfat didalam air yang telah ditetapkan harus sedemikian kecil, maka dari itu perusahaan harus mempertahankan nilai sulfat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Barus, T.A. (2005). Pengantar LIMNOLOGI Studi Tentang Ekosistem air Daratan. Medan: USU. Halaman 74-75.
Day, R.A, dan Underwood A.L, 1986, Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi Kelima, Jakarta: Penerbit Erlangga.
Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Jakarta: Kanisius.
Gabriel, J.F. (2001). Fiska Lingkungan. Jakarta: Hipokrates. Halaman 79-87;92-94.
Khopkar, S.M, 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta: Halaman 215-216.
Mulyanto, H.R. (2007). Ilmu Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Halama 15-16.
Palar, H. (1994). Pencemaran dan toksikologi logam berat. Jakarta: Rhineka.
Halaman 116-128.
SNI. (2006). 01-3554-2006 Cara Uji Air Minum. Jakarta. Badan Standarisasi Nasional. Halaman 36.
Suriawiria, U. (2005). Air Dalam Kehidupan Dan Lingkungan Yang Sehat.
Bandung. Halaman 3.
Sutrisno, C.T. (1987). Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: PT Bina Aksara.
Halaman 9-10;37-38.
Wardhana, W.A. (2004). Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: ANDI.
Halaman 72-73.
LAMPIRAN GAMBAR
Gambar 1. Spektrofotometer nova 60
Gambar 2. Reagen SO4-1
Gambar 3. Reagen SO4 -2
Gambar 4. Reagen SO4 -3
Gambar 5. Reagen SO4-4
Gambar 7. sampel air minum 2.5 ml
Gambar 8. Penambahan SO4-1
dan SO4-2
Gambar 9. dipanaskan pada suhu 400C
Gambar 10. Penambahan SO4-3
Gambar 11. terbentuk endapan putih
Gambar 12. Filtrat
Gambar 14. Terbentuk warna kuning setelah penambahan SO4-4
.