BAB IV: DATA DAN ANALISIS TEMUAN INTERNALISASI FALSAFAH PERI MESTIKE DALAM
FALSAFAH, PERI MESTIKE, GAYO DAN PENDIDIKAN KARAKTER
D. Metode dan Strategi Pengumpulan Data
Dalam setiap tindakan, untuk mencapai hasil yang maksimal sangat dibutuhkan dan perlu ditentukan suatu metode, strategi, alat dan teknik yang relevan. Begitu pula dalam penelitian ini dibutuhkan suatu metode, strategi, alat dan teknik yang relevan dengan konteks penelitian, sehingga data yang diperlukan dapat terkumpul dengan baik. Jadi dalam penelitian ini penulis menggunakan metode dan strategi pengumpulan data sebagai berikut;
1. Wawancara Interaktif
Metode ini peneliti lakukan guna untuk mempertanyakan sejumlah pertanyaan yang sudah peneliti susun atau rancang sebelumnya, meskipun pada saat dilapangan peneliti mengajukan pertanyaan tidak berurutan atau sistematis seperti dalam daftar interview, begitu juga dengan bahasa yang
116
digunakan lebih banyak menggunakan bahasa daerah (Gayo) untuk menemukan makna dan realitas sesungguhnya. Peryataan ini diperkuat oleh Spradley, bahwa bahasa yang bebeda akan mengekspresikan realitas yang berbeda – maka dalam penelitian etnografi mempelajari bahasa penduduk asli menduduki prioritas tertinggi.10
Selain menggunakan metode wawancara interaktif dengan bahasa penduduk asli, dalam wawancara ini peneliti menggunakan strategi
tengkah bengkuang gewat.11 “perumpamaan atau qiyas” artinya peneliti
tidak langsung menanyakan pertanyaan seperti yang ada dalam pedoman wawancara, namun menggunakan bahasa atau kalimat yang lain (perumpamaan atau qiyas) akan tetapi inti pertanyaan mengarah pada pertanyaan yang ada pada pedoman wawancara tersebut. Strategi tengkah
bengkuang gewat ini peneliti lakukan guna menghindari rasa canggung,
ketegangan dan kekakuan para informan dalam memberi jawaban. Alasan ini di perkuat dengan sejumlah pengalaman penelitian yang dilakukan peneliti sebelumnya, baik saat meneliti Skripsi, Tesis maupun penelitian jurnal lainnya, ketika peneliti mengajukan pertanyaan secara runtun dan sistematis dengan memegang pedoman interview, dan peneliti tidak mendapat hasil yang maksimal, kebanyakan informan akan mengatur gaya bahasa secara formal, memberi jawaban bias bahkan mengalihkan pada topik yang lain.
Strategi “tengkah bengkuang gewat” dalam maksud lain tak langsung, peneliti juga mengaplikasikan etika penelitian, karena penelitian ini merupakan penelitian tentang adat dan budaya maka hal ini sangat penting sekali. Terutama pada informan yang berbudaya tinggi, maka mereka akan merespon kedatangan dan keperluan peneliti berdasarkan etika-etika peneliti tersebut.
10
James P. Spradley, Metode Etnografi…, h. 25-26.
11
Strategi tengkah bengkuang gewat merupakan strategi atau metode tertua di Gayo yang diwariskan secara turun temurun dalam mencari dan mengumpulkan informasi akurat tentang sesuatu kejadian. Hingga saat ini masih digunakan, dan lebih sering digunakan oleh masyarakat Gayo pada saat mencari silsilah keluarga dan kepribadian calon mempelai serta pada saat
117
Dalam pelaksanaan strategi tengkah bengkuang gewat peneliti menggunakan beberapa teknik diantaranya;
a. Teknik personal experience (cerita) menggali informasi seputar pengalaman pribadi informan sebagai pembuka pembicaraan (muqadimah) sebelum mengarah pada pertanyaan lain, dengan maksud untuk mencairkan suasana dan menyetuh pengalaman sosialnya di masyarakat.
b. Teknik Pancing artinya peneliti tidak langsung menayakan PM seperti yang ada pada pedoman interview, akan tetapi mengunakan logika dan retorika yang berbeda-beda (terkadang benar dan salah) sehingga informan memberikan tanggapan dan jawaban yang detail mengenai makna, tujuan ataupun kegunaan PM tersebut, teknik ini bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam dari informan mengenai fokus yang diteliti.
c. Teknik Qiyas, artinya peneliti memaparkan PM dengan perumpamaan dan kalimat lain yang lebih mendekati sehingga informan lebih leluasa mengingat-ingat tentang PM atau maksud dan ditujuan PM, yang mereka ketahui baik berupa pengalaman sejak dari kecil maupun yang sudah dan sedang diaplikasikan dalam keluarganya.
Dari ketiga teknik tersebut hanya diberlakukan kepada masyarakat, tokoh adat, dan otoritas, karena kebiasaan masyarakat di Gayo yang memiliki budaya tinggi kalau secara langsung diwawancarai mereka tidak mau (enggan) memberikan informasi yang valid, sehingga peneliti tidak mendapat data yang valid juga. Semetara untuk informan yang bekerja di instansi kepemrintahan peneliti meggunakan dua teknik di atas dan bahkan langsung menanyakan sesuai pedoman wawancara. Artinya ketiga teknik tersebut belaku situasional dan kodisional atau professional dan proporsional.
Berkaitan dengan masalah waktu dan tempat wawancara interaktif ini juga menyesuaikan situasi dan kondisi karena peneliti berdomisili di
118
daerah tersebut, yang terpenting adalah informan merasa nyaman dan rileks, ada kalanya di caffe sambil ngopi, mendatangi rumah informan, kantor atau kantin sekolah, atau ditaman-taman wisata sambil bercerita dan menikmati situasi wisata, bahkan dikebun informan, karena penelitian ini adalah penelitian budaya yakni falsafah Gayo Berwujud PM jadi informannya pun beragam dalam profesi dan latar belakang pendidikan. penyesuaian waktu dan tempat sangat penting dipertimbangkan dalam melakukan wawancara. Hal ini diperkuat oleh Emzir, yang mengatakan bahwa tidak ada satu cara pun yang paling baik untuk wawancara, dan tidak ada satu format tunggal yang tepat untuk semua situasi, dan tidak ada satu cara tunggal dari penyusunan kata-kata pertanyaan yang akan selalu bekerja. Situasi evalusi tertentu keperluan dari orang yang diwawancarai, dan gaya personal pewawancara semuanya secara bersama-sama menciptakan situasi yang unik untuk setiap wawancara.12 Kendatipun tidak ada resep yang efektif dan baku dalam melakukan wawancara, namun petunjuk adat dan norma-norma budaya setempat serta etika perlu dipertimbangkan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan. Saat wawancara berlangsung peneliti mencatat dan menangkap poin-poin penting dari jawaban informan, serta merekam pembicaraan untuk mendapatkan keterangan penuh, sehingga memungkinkan untuk didengarkan ulang dan memudahkan saat menulis laporan hasil wawancara.
2. Dokumentasi
Mengumpulkan sejumlah dokumentasi merupakan suatu metode penting dalam menghimpun dan melengkapi sejumlah data penelitian, setelah dokumen terkumpul peneliti melakukan analisis konten atas dokumentasi untuk menemukan data tambahan atau informasi penelitian dalam memperjelas makna yang tesirat tentang nilai falsafah budaya Gayo PM dan menemukan aspek-aspek domain, taksonomi, komponen, dan
12
Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif, (Jakarta: Rajagrafindo Persada: 2017), h. 169.
119
tema budayanya. Hal ini diperkuat oleh Emzir, bahwa di samping observasi partisipan dan wawancara, para peneliti entografi dapat juga menggunakan berbagai dokumen dalam menjawab pertanyaan terarah.13
Barkaitan dengan dokumentasi ini, peneliti mengumpulkan sejumlah item terkait dengan kajian ini seperti: Artefak, manuskrip, rekaman (berupa video dan audio), iklan, arsip-arsip, buku-buku, qanun kabupaten Aceh Tengah, foto-foto dan sebagainya yang ada di masyarakat maupun di sekolah. Strategi yang di gunakan dalam menghimpun dokumentasi ini ialah dengan mengcopy, memotret, merekam, dan menyalin.
3. Observasi
Penelitian ini juga menggunakan metode observasi untuk menghimpun data awal penelitian dan validasi data, terutama sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan obyek penelitian. karena menurut hemat penelitian, observasi ini sebenaraya lebih berperan dan berfungsi dalam tinjauan analisis dan validasi data bukan pada memperoleh data utama. Misalkan setelah peneliti temukan data-data melalui wawancara dan dokumentasi, maka untuk mengecek keabsahan data tersebut dengan metode obsevasi (check over). Alasan ini penulis buat karena penelitian ini berkaitan dengan internalisi nilai falsafah budaya Gayo dalam pendidikan jadi tidak tepat jika mengumpulkan data dengan observasi, berbeda halnya bila meneliti tetang pengadaan suatu barang atau media pendidikan, atau penguasaan guru terhadap materi ajar, mengimpun data-data sejarah, maka perlu kiranya menggunakan metode observasi sebagai metode pengumpulan datanya.