• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam penelitian ini terdapat tiga tahap tes yang dilakukan, yaitu: 1) Tes Tahap 1

Tes tahap pertama merupakan tes yang digunakan untuk menarik gambaran awal tentang kemampuan pembelajar Korea memproduksi bunyi-bunyi bahasa Indonesia. Tes pertama ini merupakan video rekaman di mana sekelompok pembelajar Korea sedang melakukan tes berbicara (speaking experiment). Mereka akan diberi beberapa pertanyaan sederhana tentang hobi, jurusan, warna favorit, dll oleh guru dan diminta menjawabnya dalam bahasa Indonesia. Di sini dapat dilihat bagaimana mereka memproduksi bunyi secara natural.

Jika melihat teori yang digunakan Ellis dan Barkhuizen (2005) tahap ini disebut sebagai tahap “naturally occurring”, di mana walaupun para pembelajar sedang dalam tes berbicara, tapi mereka tidak sadar bahwa pengucapan mereka sedang diteliti. Yang mereka sadari bahwa mereka harus bisa menjawab pertanyaan dalam bahasa Indonesia dengan tepat. Tujuan utama dari tes tahap ini adalah untuk melihat bunyi mana saja yang bermasalah bagi para pembelajar. Pembelajar sendiri dipilih secara random karena ingin dilihat kesulitan secara general tanpa klasifikasi. Kemudian diambil kesimpulan, yang nantinya akan menjadi hipotesis di tes selanjutnya, bahwa bunyi yang sulit untuk diproduksi adalah bunyi pasangan minimal konsonan hambat dan paduan serta bunyi alir.

Selanjutnya dijelaskan oleh keduanya bahwa proses pengambilan data untuk hasil yang dapat menjawab hipotesis yang sudah diambil adalah dalam tahap “elicitation”. Ini merupakan proses di mana instrument yang didesain digunakan

untuk mendapatkan sampel produksi. Proses ini diaplikasikan pada tahap 2 dan tahap 3.

Elicitation memiliki dua bentuk yang pertama ada clinical, dan yang kedua adalah experimental. Dalam penelitian ini yang digunakan adalah yang kedua, yaitu elicitation experimental dimana prosedur penelitian ini dengan sangat hati-hati dan memepertimbangkan banyak faktor dikontrol. Penelitian jenis ini juga hanya focus pada bentuk linguistik yang spesifik, yaitu produksi bunyi konsonan hambat, paduan, dan alir dalam bahasa Indonesia oleh penutur berbahasa ibu bahasa Korea

2) Tes Tahap 2

Setelah mengamati performa pembelajar dalam tes berbicara di tahap pertama, maka selanjutnya akan dilakukan tes membaca (reading experiment) dalam skala kecil untuk menentukan kelompok yang akan digunakan untuk melakukan tes utama. Di dalam tahap ini dilakukan tes kecil dengan hipotesis yang sudah diambil di tes sebelumnya. Tahap ini dipilih pembelajar dengan variabel yang beragam untuk menentukan varibel mana yang nantinya menjadi batasan dalam pengelompokan partisipan tes tahap 3.

3) Tes Tahap 3

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa kondisi di mana data diambil sangatlah mempengaruhi data yang di dapat. Karenanya sebelum berbicara mengenai metode dan teknik pengumpulan data pada tahap ini maka akan dipaparkan terlebih dahulu tentang situasi pengambilan data.

Pada tes utama, tes tahap 3, yang merupakan tes pengambilan data, pembelajar dalam keadaan sadar bahwa mereka dijadikan sampel dari penelitian.

Pada saat merekam produksi juga mereka sadar bahwa mereka sedang berada di dalam tes yang bertujuan untuk melihat kemampuan mereka dalam memproduksi. Selain mengenai kondisi kesadaran partisipan, alat tes yang merupakan kelompok kata-kata tunggal dan frasa jugalah penting.

Seperti yang sudah diungkapkan oleh Ellis dan Barkhuizen bahwa data sangat dipengaruhi oleh kondisi partisipan dan alat tes yang digunakan, seperti kata atau frasa. Hal ini juga yang menjadikan landasan kenapa dalam menyusun alat tes digunakan kata tunggal dan frasa.

Tes yang digunakan pada tahap ini sama dengan tahap sebelumnya yaitu tes membaca (reading experiment) pada kelompok partisipan yang sudah digolongkan. Walaupun sama-sama tes membaca, tetapi kata-kata yang digunakan merupakan kata-kata yang dipilih berdasarkan hasil penelitian dari data yang didapat dari tes tahap 2. Kata-kata dan frasa-frasa yang digunakan di sini lebih komplek. Ada dua bagian besar di dalam perangkat tes ini.

1) Bagian 1: Kata-kata Tunggal

Pada bagian ini terdapat kata-kata tunggal yang kemudian dikelompokan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok kata-kata tunggal dengan bunyi hambat dan paduan sebagai inisial. Bunyi hambat dan paduan di posisi ini diikuti oleh bunyi vokal yang beragam. Pada kelompok kedua ditemukan kata-kata tunggal dengan bunyi hambat dan paduan yang berada di tengah kata dan berdampingan dengan bunyi nasal dan geseran, atau berada di antara bunyi vokal. Akan dilihat bagaimana deret konsonan ini mampu diproduksi. Kelompok ketiga merupakan kelompok kata yang

mengandung bunyi alir, baik di posisi inisial, berada di deret konsonan (nasal dan geseran), maupun di antara bunyi vokal (intervocalic). Pada bagian ini, jika memungkinkan akan digunakan kata-kata pembanding seperti pada kata hambat /kakak/ dan /gagak/, pada kata paduan /cicik/ dan /jijik/, dan pada kata alir seperti /polos/ dan /poros/. Hal ini untuk melihat kemampuan mereka untuk membedakan bunyi dengan kategori yang sama tapi memiliki kaidah pembeda. Kata-kata ini sengaja diletakan berurutan maupun menyebar. Hal ini bisa dijadikan alat untuk melihat faktor kesadaran pengucapan. Dengan ini dapat dilihat bagaimana bunyi sekategori tersebut diproduksi secara sadar dan tak sadar.

2) Bagian 2: Frasa-frasa

Pada bagian ini terdapat frasa-frasa di mana bunyi hambat, paduan, dan alir ditemukan. Di bagian awal akan berikan frasa-frasa sederhana yang kata-katanya banyak digunakan di percakapan sehari-hari, hingga kef rasa-frasa dengan kata-kata yang hanya digunakan dalam bidang-bidang tertentu, sehingga untuk pembelajar pada tahap awal akan kesulitan karena kemungkinan besar mereka belum pernah mendengar kata-kata tersebut. Bagian kedua ini diharapkan dapat memperlihatkan kemampuan pembelajar dalam memproduksi bunyi dengan keadaan tak sewaspada bagian pertama, karena bunyi-bunyi tersebut menyebar dan berada di dalam frasa.

Data dari ketiga tahap tes ini akan dikumpulkan metode catat dan simak, di mana hasil tes tersebut menjadi data utama dari proses analisi (Kesuma, 2007).

Rekaman hasil tes tersebut akan didengarkan dan dicatat hasilnya dalam bentuk transkrip fonologis.

Dokumen terkait