• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.16. Konservasi Sumber Daya Air

2.16.1. Metode Vegetasi

Kebutuhan air diambil 45% dari kebutuhan air total domestik (Ditjen Cipta Karya, 2000).

2.16. Konservasi Sumber Daya Air

Usaha konservasi sumber daya air diperlukan dalam rangka upaya untuk menjaga dan melestarikan keberadaan air pada suatu daerah aliran sungai. Usaha konservasi tersebut dapat menggunakan 2 metode yaitu: metode vegetasi dan mekanis.

2.16.1.Metode Vegetasi

Metode vegetasi adalah penggunaan tanaman atau tumbuhan untuk mengurangi daya mengurangi daya rusak hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan daya rusak aliran permukaan dan erosi.

Dalam konservasi dengan metode vegetasi diperoleh beberapa fungsi antara lain (Arsyad, 1989):

1. Melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang turun; 2. Melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air di atas permukaan

tanah;

3. Memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahan air yang langsung mempengaruhi besarnya aliran permukaan.

Dalam analisa konservasi vegetasi, faktor simpanan lengas tanah (soil water storage) atau disingkat SWS sangat mempengaruhi dalam ketersediaan air dalam tanah. Simpanan lengas tanah adalah jumlah total air yang tersimpan pada perakaran tanaman. Tektur dan struktur tanah, serta kedalaman perakaran tanaman, berarti semakin banyak air yang dapat disimpan dalam tanah dan semakin besar pula cadangan air tersedia bagi tanaman selama periode tertentu.

Untuk menentukan beberapa besar SWS, maka perlu diketahui:

a. Kedalaman efektif perakaran tanaman (rooting depth) seperti yang dijelaskan pada Tabel 2.7.

b. Kapasitas simpanan air tersedia

Kapasitas simpanan air tersedia (Available Water Storage Capacities) seperti yang dijelaskan pada Tabel 2.8.

27

Tabel 2.7. Kedalaman Efektif Perakaran Tanaman Dewasa

Shallow 0,45 m (1,5 feet) Medium Shallow 0,60 m (2 feet) Medium Deep 0,90 m (3 feet) Deep 1,20 m (4 feet)

Kubis Kacang polong Jagung Asparagus

Bunga Kol Bit Terong Blackberry

Mentimun Bluberi Buah Kiwi Anggur

Selada Brokoli Paprika Loganberries

Bawang Wortel Labu Raspberi

Lobak Seledri Tebu

Kentang

Kacang-kacangan Strawberi

Tomat

Pohon Buah Pohon Buah Pohon Buah

spacing (1x3)m spacing (2x4)m spacing (4x6)m

Sumber: Ministry of Aglicurture, Food and Fisheries British Columbia, 2002

Tabel 2.8. Kapasitas Simpanan Air Tersedia

(in.water/in.soil) (in.water/ft.soil) (mm water/m soil)

Tanah liat 0,21 2,5 200

Lempung liat 0,21 2,5 200

Lumpur lempung 0,21 2,5 208

lempung liat 0,20 2,4 200

Lempung liat 0,18 2,1 175

Lempung berpasir baik 0,14 1,7 142

Lempung berpasir 0,12 1,5 125

Pasir liat 0,10 1,2 100

Pasir 0,08 1,0 83

Kapasitas Simpanan Air Tersedia (AWSC) Tekstur Tanah

Sumber: Ministry of Aglicurture, Food and Fisheries British Columbia, 2002 Dalam menentukan besarnya nilai simpanan lengas tanah (soil water storage) dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

SWS = RD x AWSC (2.23)

Dimana:

SWS = simpanan lengas tanah (mm)

RD = kedalaman efektif perakaran tanaman dalam (m)

28 c. Luas lahan yang dibutuhkan

Perhitungan penyediaan luasan lahan yang seharusnya dibutuhkan sebagai lahan konservasi vegetasi, sehingga dapat menyimpan cadangan air tanah (PermenPU No.05, 2008):

La = da / (SWStot x Tda) (2.24)

Dimana:

La = luas lahan yang dibutuhkan (ha)

da = defisit air (m³)

SWStot = total simpanan lengas tanah (m)

Tda = lama bulan defisit air

Beberapa jenis tanaman (vegetasi) yang memiliki nilai ekonomi dan juga berperan dalam upaya konservasi sumber daya air, antara lain:

1) Pohon Gaharu

Gaharu adalah kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon dari marga Aquilaria, terutama

Aquilaria Malaccensis (Gambar 2.3). Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan dupa) karena berbau harum. Gaharu sejak era modern telah menjadi komoditi perdagangan dari Kepulauan Nusantara ke India, Persia, Jazira Arab serta Afrika Timur. Di Indonesia terdapat 16 (enam belas) jenis pohon yang dapat menghasilkan gaharu, diantaranya 6 (enam) jenis tumbuh di wilayah Maluku (Sumarna, 2002 dalam Manuhuwa, 2009). Diantara 6 (enam) jenis pohon tersebut, terdapat 3 (tiga) jenis yang berkualitas baik antara lain: Aquilaria malaccenis, Aquilaria filarial dan Aetoxylon sympethallum. Gaharu terbentuk pada jaringan kayu pohon penghasil dengan mekanisme dan proses biologis sebagai akibat adanya perlukaan alami pada batang atau cabang. Bagian pohon yang mengalami perlukaan tersebut kemudian terinfeksi oleh mikroba yang menimbulkan adanya penyakit. Tanaman akan melakukan pertahanan dari gangguan penyakit dengan membentuk antibodi. Pada kondisi tanaman yang mampu melindungi diri dari gangguan penyakit, maka pohon tidak akan

29

menghasilkan gaharu. Pohon yang lemah terhadap serangan penyakit, maka hara dari jaringan sel-sel kayu akan diubah menjadi senyawa fitoaleksin. Senyawa tersebut yang berupa resin gaharu berwarna coklat gelap (kehitaman) dan beraroma harum.

Gaharu banyak diperdagangkan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aqualira.

Kualitas gaharu ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya dan banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut semakin mahal dan begitu pula sebaliknya. Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal, kemedangan dan abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecoklatan dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat. Kemendangan adalah kayu gaharu dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecoklatan sampai abu-abu, memiliki serat kasar dan kayu lunak. Kelas terakhir adalah abu gaharu yang merupakan serbuk atau sisa penghancuran kayu gaharu. Gaharu memiliki potensi yang besar dan pasarannya sangat mudah. Harga satu kilogram hasil panen gaharu mulai Rp. 5 juta sampai Rp. 30 juta, tergantung kualitasnya. Hanya saja masa panennya cukup lama yakni 9 (sembilan) tahun (http://petanigaharu.blogspot.com, 2013).

Selain sebagai komoditas ekonomi potensial, menurut Lembaga Ilmu Pengertahuan Indonesia (LIPI) kayu gaharu merupakan tanaman prioritas sebagai acuan konservasi. Pohon Gaharu memiliki daya simpanan air yang cukup tinggi. Persyaratan dalam pengembangan tanaman gaharu agar diperoleh hasil maksimal diantaranya (Sumarna, 2003): a. Topografi  Ketinggian 0-2400 m dpl b. Keadaan iklim  Kelembaban antara 60-80%  Suhu antara 28°C-34°C

30 c. Keadaan tanah

 Tumbuh pada tekstur tanah subur, sedang maupun ekstrim

 Tekstur tanah lempung dan liat berpasir d. Kondisi lingkungan

 Kayu gaharu dapat tumbuh pada hutan rawa, hutan gambut, hutan daratan rendah dan hutan pegunungan.

 Mampu beradaptasi pada kemiringan lereng antara 8%-140% (Crow, 2005)

Gambar 2.3. Kayu Gaharu

(http://petanigaharu.blogspot.com, 2013)

2) Bambu

Tanaman bambu mudah ditanam serta memiliki pertumbuhan yang sangat cepat, tidak membutuhkan perawatan khusus dan dapat pada semua jenis tanah. Sistem perakaran bambu adalah perakaran serabut dengan akar ramping yang sangat kuat (perakaran dalam), meskipun berakar serabut tetapi kuat terhadap hempasan angin kencang. Perakarannya tumbuh sangat dapat dan menyebar ke segala arah, serta memiliki struktur yang unik karena terkait secara horizontal dan vertikal, sehingga tidak mudah putus dan mampu berdiri kokoh untuk menahan erosi dan tanah longsor di sekitarnya, disamping itu lahan di bawahnya menjadi sangat stabil dan mudah meresapkan air.

31

Bambu memiliki kamampuan menyerap air hingga 90% jika dibandingkan pepohonan yang rata-rata menyerap 35% sampai 40% air (Prabowo, 1994). Bambu yang mampu memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga dapat meningkatkan water storage (cadangan air tanah), maka bambu digunakan sebagai tanaman konservasi. Pertumbuhan bambu yang sangat cepat pada umur 3-5 tahun dapat di panen. Bambu juga memiliki kemampuan peredam suara yang baik dan menghasilkan banyak oksigen sehingga dapat di tanam di daerah permukiman maupun dipinggir jalan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegaran Kementerian Pertanaian, bahwa perkembangan bambu dapat beradaptasi pada beberapa hal diantaranya:

a. Topografi

 Ketinggian 0-1500 m dpl b. Keadaan iklim

 Kelembaban +80%, namun bisa bertahan pada kelembaban yang rendah

 Suhu antara 15°C-41°C

 Curah hujan 1000-3000 mm/tahun

c. Keadaan tanah

 Dapat tumbuh pada semua jenis tanah terutama pada tekstur berpasir sampai berlempung

 Berdrainase baik

 pH tanah antara 5,6-6,5 d. Kondisi lingkungan

 Mampu beradaptasi pada kemiringan lereng antara 0%-55%

Dokumen terkait