Analisis Kelas Bahaya Pelapukan Kayu di Pulau Jawa
Pendugaan potensi/ancaman pelapukan mengacu pada metode Scheffer (1971), yaitu dengan penentuan indeks pelapukan (IP) dengan rumus:
Dalam penentuan indeks pelapukan ini menggunakan data iklim dari tahun 2002 sampai 2008 yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Berdasarkan indeks pelapukan tersebut kelas bahaya pelapukan berbagai daerah ditentukan sebagaimana kriteria pada Tabel 1 dan disusun petanya. Pembuatan peta menggunakan Program ArcView GIS 3.3 dengan peta dasar Pulau Jawa yang diperoleh dari Bakosurtanal.
Tabel 1 Kriteria kelas bahaya pelapukan kayu Indeks
Pelapukan Kelas Bahaya Pelapukan (Decay Hazard Class)
< 35 rendah
35-65 sedang/ menengah
66-100 tinggi
> 100 sangat tinggi
Sumber: Scheffer (1971)
Indeks pelapukan yang kurang dari 35 menunjukkan kelas bahaya pelapukan rendah atau kondisi yang paling tidak sesuai untuk pelapukan. Daerah yang berindeks pelapukan 35 hingga 64 (kelas bahaya pelapukan sedang) merupakan kondisi yang agak mendukung pelapukan kayu. Untuk indeks pelapukan 66 hingga 100 menunjukkan daerah yang mendukung terjadinya pelapukan kayu. Sedangkan indeks pelapukan lebih tinggi dari 100 adalah kondisi yang sangat mendukung terjadinya pelapukan kayu.
Keterangan:
T : suhu rata-rata bulanan (oC)
D: jumlah rata-rata hari dalam satu bulan dengan curah hujan tidak kurang dari 0,25 mm
17
3
2
Des JanD
T
IP
Survey Pelapukan Kayu pada Bangunan Rumah
Survey dilakukan pada 500 rumah yang tersebar di kota dan kabupaten yang mewakili variasi iklim (suhu dan kelembaban) di Pulau Jawa. Hasil cluster analyses (analisis gerombol) data iklim menggunakan program Minitab 14 diperoleh 10 kelompok kota dan kabupaten yang kemudian diambil satu daerah secara acak dari masing-masing kelompok tersebut untuk dijadikan daerah survey, yaitu Lembang, Malang, Gresik, Subang, Bogor, Serang, Tegal, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta Utara. Survey di setiap daerah tersebut dilakukan terhadap 50 bangunan rumah yang ditentukan secara purposive sampling (Teddie & Tashakkori 2009).
Dalam penelitian ini aspek yang diteliti adalah kerusakan yang disebabkan oleh jamur pelapuk pada berbagai komponen kayu bangunan rumah. Komponen yang diobservasi adalah kusen jendela, kusen pintu, daun jendela, daun pintu, lisplang, plafon, tiang, rangka atap dan komponen bangunan lainnya yang menggunakan kayu. Bangunan rumah yang disurvey diklasifikasikan ke dalam empat kelas umur, yaitu : 0-10 tahun; 11-20 tahun; 21-30 tahun; dan lebih dari 30 tahun.
Pengamatan, pengukuran dan dokumentasi dilakukan terhadap objek pelapukan komponen bangunan rumah. Dalam kegiatan tersebut digunakan peta daerah-daerah penelitian, lembar survey dan tally sheet (Lampiran 3 dan 4). Selain itu digunakan juga meteran, palu, lampu senter untuk memeriksa kerusakan kayu pada bangunan, kamera dan alat dokumentasi lainnya. Observasi pelapukan kayu pada bangunan rumah juga mencakup diagnosis terhadap faktor-faktor pendukung terjadinya serangan jamur pelapuk kayu tersebut. Pelapukan kayu oleh jamur diklasifikasikan menjadi lapuk putih, lapuk coklat dan lapuk lunak berdasarkan deskripsi dari Eaton dan Hale (1993) dalam Tabel 2.
Wawancara terhadap penghuni dilakukan untuk melengkapi dan mendukung data pengamatan yang diperoleh. Dalam wawancara diperoleh data kondisi lingkungan masing-masing bangunan, komponen bangunan yang diserang jamur pelapuk, sejarah bangunan, tahun renovasi bangunan, jenis kayu, harga kayu,
upah perbaikan kerusakan dan sebagainya. Volume kayu lapuk di setiap komponen bangunan rumah dihitung dan dianalisis statistik deskriptif.
Perhitungan kerugian ekonomi akibat pelapukan pada bangunan rumah ditentukan berdasarkan nilai bahan kayu pengganti dan biaya upah kerja perbaikan. Ukuran dan volume setiap komponen kayu lapuk diukur sehingga bisa ditentukan ukuran dan volume kebutuhan bahan kayu untuk mengganti komponen kayu yang lapuk tersebut. Kemudian banyaknya bahan kayu yang dibutuhkan dikalikan dengan harga bahan kayu tersebut sehingga diperoleh total biaya bahan. Harga kayu yang digunakan untuk mengkonversi kerusakan ke dalam nilai kerugian berdasarkan jenis kayu yang digunakan di rumah tersebut. Apabila tidak diketahui jenis kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan maka menggunakan harga kayu borneo yang banyak digunakan masyarakat dan banyak tersedia di pasaran. Selain itu biaya upah perbaikan dihitung berdasarkan jumlah hari kerja yang diperlukan untuk memperbaiki komponen bangunan yang lapuk dikalikan dengan nilai upah harian tukang. Selanjutnya, total nilai kerugian pelapukan dihitung sebagai jumlah total biaya bahan kayu yang diperlukan dengan biaya upah perbaikan (Remran 1993; Herdiansyah 2007). Secara ringkas perhitungan kerugian tersebut dirumuskan sebagai berikut:
H X UY
K
i iKeterangan:
K = Nilai kerugian (Rp)
H = Harga sortimen kayu gergajian (Rp/sortimen) X = Jumlah sortimen kayu yang diperlukan (sortimen) i = Jenis sortimen (papan 2 x 20; balok 6 x 12, atau yang
lainnya)
U = Upah harian tukang kayu (Rp 50.000,-/ hari) Y = Jumlah hari kerja (hari)
Contoh perhitungan nilai kerugian ekonomi disajikan pada Lampiran 5. Nilai kerugian pada suatu banguanan rumah adalah penjumlahan dari nilai kerugian seluruh komponen bangunan tersebut. Nilai yang diperoleh merupakan kerugian ekonomi minimal yang disebabkan oleh serangan jamur. Dengan memasukkan faktor umur bangunan maka ditentukan juga nilai kerugian per
rumah per tahun. Prediksi kerugian ekonomi akibat serangan jamur pelapuk di setiap daerah diperhitungkan berdasarkan data jumlah rumah di masing-masing daerah tersebut.
Tabel 2 Klasifikasi pelapukan kayu berdasarkan karakteristik yang nampak pada kayu
Sumber : Eaton dan Hale (1993)
Identifikasi Jenis dan Uji Karakteristik Jamur Penyebab Pelapukan pada Bangunan Rumah
Isolasi dan Pemeliharaan Jamur Pelapuk Kayu
Untuk mempelajari karakteristik degradasi kayu oleh jamur pelapuk, diisolasi jamur pelapuk yang sering ditemukan menyerang komponen kayu bangunan rumah selama survey, yaitu spesimen jamur DE, PB dan SC. Isolasi dilakukan dari tubuh buah (basidiokarp) jamur pelapuk sehingga bisa dibandingkan dan dipastikan bahwa isolat adalah sama dengan yang di lapangan. Setelah dilakukan pembelahan bagian basidiokarp berdaging, sepotong kecil jaringan dari dalam basidiokarp diambil dan dipindahkan dengan pinset ke media
Kriteria Lapuk Putih Lapuk Coklat Lapuk Lunak
Warna
kayu Menjadi lebih pucat atau lebih muda warnanya
Menjadi lebih gelap: coklat
kemerahan hingga coklat gelap Menjadi lebih gelap Tingkat
dini Banyak garis dan noda coklat Berupa lapuk bagian-bagian kecil/ kantong atau berupa lapuk dalam, dengan permukaan kayu tampak bagus ketika kering
Tingkat
lanjut Permukaan kayu jadi lunak, terjadi penyusutan
Ketika basah, kayu menjadi lunak
hingga kedalaman tertentu Ketika basah, permukaan kayu jadi lunak dan gelap warnanya, tapi di bawahnya kayu masih utuh.
Adanya serabut-serabut lepas sejajar serat karena pemisahan di lamela tengah; menjadi seperti pulp
Ketika kering, terjadi retakan yang dalam melintang dan sejajar serat pada kayu ketika kering, disebabkan penyusutan (cuboidal cracks). Kayu mudah hancur menjadi tepung dengan cubitan jari
Ketika kering permukaan kayu mengalami retak dangkal melintang dan sejajar serat
Kondisi Kayu daun lebar lebih rawan daripada kayu daun jarum
Terjadi pada kondisi pertumbuhan Basidiomycetes terhambat, seperti pada kadar air tinggi, aerasi rendah, kayu diawetkan, suhu dan kadar nitrogen yang relatif tingi
PDA (Potato Dextrose Agar). Isolasi jamur dan pemurniannya dilakukan dengan metode yang dijelaskan Shivas dan Beasley (2005). Dalam pembuatan tiap liter media PDA dipergunakan bahan-bahan berikut: potongan kentang (200 g), agar-agar (15 g), dekstrosa (20 g), dan antibiotik kloramfenikol (250 mg/l).
Inkubasi dilakukan pada suhu ruang (28 oC) sehingga tumbuh miseliumnya. Kemudian dilakukan pemurnian dengan memisahkan organisme target dari organisme lainnya. Organisme target adalah jamur pelapuk yang pada umumnya termasuk dalam Basidiomycota. Isolat terus dipelihara sebagai bahan penelitian.
Untuk meyakinkan bahwa isolat sama dengan jamur yang diisolasi dari lapang, maka isolat ditumbuhkan pada media baglog sehingga tumbuh tubuh buahnya. Dengan demikian tubuh buah isolat bisa dibandingkan dengan tubuh buah yang di lapang. Media baglog terdiri dari 82,5% serbuk gergaji kayu sengon atau pinus, 15% dedak, 1,5% gips atau kalsium sulfat, 1% kapur atau kalsium karbonat dan air secukupnya (Herliyana 2007). Tiap kantong plastik berisi ± 200 gram media dan disterilisasi dalam autoklaf pada tekanan 15 psi, suhu 121 oC, selama 15 menit. Setiap media diinokulasi dengan isolat dari PDA lalu diinkubasikan pada suhu ruang.
Kegiatan isolasi dan penumbuhan tubuh buah jamur pelapuk ini dilakukan di Laboratorium Penyakit Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Sedangkan identifikasi berdasarkan ciri-ciri morfologis dilakukan pada struktur somatik dan reproduktif ketiga jenis jamur dilakukan di Laboratorium Struktur dan Anatomi Kayu, Fakultas Kehutanan. Tahapan selanjutnya, yaitu identifikasi molekuler dilakukan di Laboratory of Forest Resource Biology, Graduate School of Agriculture, Hokkaido University, Jepang.
Identifikasi Jamur Pelapuk Kayu Berdasarkan Ciri Morfologis
Sebelum dilakukan berbagai pengujian dilakukan prakultur jamur. Kegiatan prakultur jamur uji dilakukan untuk memperoleh isolat murni yang siap digunakan dalam pengujian. Tiga isolat jamur pelapuk bangunan rumah dengan kode SC, DE dan PB, ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar ) selama tujuh hari.
Kecepatan tumbuh miselium ditentukan pada media PDA dengan pH 5,6 dan suhu 30 oC. Kecepatan pertumbuhan (cm/hari) dihitung sebagai hasil pembagian diameter miselium (cm) dengan waktu inkubasi (hari). Adapun tipe pertumbuhan miselium ditentukan berdasarkan kriteria Stamets (2000), yaitu: 1 Linier: terdiri dari garis-garis memanjang radial secar homogen, seperti pada
Lentinula edodes, Pleurotus ostreatus (pertumbuhan awal)
2 Rhizomorfik (ropey): terdiri dari jalinan benang-benang terpilin dalam diameter berbeda, contohnya pada Agaricus brunnescens.
3 Cottony (tomentose): seperti kapas, aerial. Miselia rizomorfik yang sudah tua sering jadi cottony, contohnya pada Pleurotus sp.
4 Zonate: miselium cottony yang membentuk lingkaran-lingkaran konsentrik
(tebal-tipis), seperti pada Ganoderma sp.
5 Matted (Oppressed): miselium padat, sulit dibelah, biasanya kultur yang sudah lama, contoh pada G. lucidum
6 Powdered: miselia terurai jika kena angin, contohnya pada Polyporus sulphureus.
7 Bentuk Unik: hyphal agregat
Untuk pengamatan struktur somatik jamur, miselium dari kultur PDA diambil dengan jarum dan diuraikan pada bagian tengah gelas objek steril. Setetes air steril diberikan pada hifa tersebut, kemudian kaca penutup diletakkan dibagian atasnya dan diatur posisinya secara perlahan sehingga tidak ada gelembung udara yang terjebak di bawah gelas penutup. Selanjutnya hifa diamati dibawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 400 dan 1000 kali. Untuk pembesaran 1000 kali di atas kaca penutupnya diberi immersion oil.
Pengamatan juga dilakukan pada struktur reproduktif, yaitu basidiokarp jamur. Bentuk, warna dan ukuran tubuh buah dicatat. Demikian pula halnya dengan bentuk, ukuran dan jumlah pori per mm2 yang dimiliki tubuh buah jamur tersebut. Untuk mengamati spora dibuat jejak spora dengan meletakkan tubuh buah di atas kertas putih dan hitam di dalam cawan petri. Kapas lembab steril diletakkan juga di dalam cawan petri. Setelah diinkubasikan selama 24 jam, spora berjatuhan pada kertas dan terlihat kontras pada salah satu kertas yang digunakan
(putih atau hitam). Selanjutnya spora diamati dengan mikroskop stereo. Data morfologi struktur somatik dan reproduktif jamur yang diuji digunakan untuk menentukan jenisnya mengacu pada Emberger (2006) dan Hutchings (2010). Identifikasi Jamur dengan Metode Molekuler
Identifikasi molekuler terhadap jamur pelapuk dapat dilakukan walaupun tidak ditemukan tubuh buahnya (Schmidt & Moreth 2003). Identifikasi molekuler juga mengatasi subjektivitas yang sering terjadi pada identifikasi secara berdasarkan ciri-ciri morfologis. Identifikasi molekuler jamur pelapuk dilakukan dalam lima tahapan sebagaimana diuraikan dalam Afrida et al. (2008), yaitu ekstraksi DNA, Polymerase Chain Reaction Amplification, Agarose Gel Electrophoresis, purifikasi produk PCR, dan DNA sequencing.
Ekstraksi DNA. Miselia ketiga spesimen jamur diambil dari prakultur PDA, diinokulasikan, dan diinkubasikan pada suhu 25 oC selama 7 hari pada 20 ml media PDB (Potato Dextrose Broth). Medium PDB terdiri dari tepung kentang 4 g/l dan dextrose 20 g/l: Difco dalam labu Erlenmeyer. Media yang dihasilkan memiliki pH 5,1 ± 0,2. Ketiga kultur jamur dari media PDB selanjutnya dipanen dengan filtrasi menggunakan bahan penyaring Miracloth, Calbiocem. Bahan penyaring dan kertas saring disterilasi sebelum digunakan. Miselia dari ketiga jamur dibilas dengan air steril dan dikeringkan pada kertas saring. Miselium kering dari setiap jamur dibagi tiga untuk ulangan dan ditempatkan dalam tabung Efendorf dan disimpan dalam freezer.
Setelah meja kerja dan peralatan disterilkan dengan etanol 70%, pastle penghomogen dipasang pada mesin pemutar. Kemudian 300 µl “larutan I” ditambahkan ke miselium beku dan dihaluskan dengan pastle. Lalu 150 µl “larutan II” ditambahkan diikuti 10 menit vortex dan inkubasi pada 50 oC selama 10 menit pada blok pemanas. Setelah merata, 100 µl “larutan III-A” ditambahkan dengan pipet yang dipotong ujungnya. “Larutan III-B” ditambahkan, diikuti 1-2 detik vortex dan inkubasi dalam es selama 10 menit. Sampel lysate disentrifugasi pada 14000 xg, 4 oC selama 10 menit. Supernatan dipindahkan ke microtube
dengan vortex. Lalu campuran disentrifugasi pada 6000 xg, suhu ruang (20 oC) selama 5 menit. Setelah supernatan dibuang, 1 ml etanol 70% ditambahkan diikuti vortex. Campuran disentrifugasi lagi pada 6000 xg, suhu ruang selama 1 menit. Setelah supernatan dibuang, endapan dikeringkan pada suhu ruang. Selanjutnya, 50 µl TE buffer dan 1 µl RNaseA ditambahkan ke dalam endapan dan dicampur merata. Kemudian campuran diinkubasi pada 37 oC selama 30 menit. Larutan DNA yang terekstrak dari sampel (template DNA solution) disimpan pada suhu -20 oC.
Polymerase Chain Reaction (PCR) Amplification. Pasangan forward
primer ITS1F (5’-CTT GGT CAT TTA GAG GAA GTA A-3’) dan reverse
primer ITS4B (5’-CAG GAG ACT TGT ACA CGG TCC AG-3’) yang
merupakan primer spesifik untuk Basidiomycetes digunakan dalam amplifikasi
Internal Transcribed Spacer (ITS) dari DNA jamur. Pertama, semua reagent beku
dibiarkan mencair kemudian disentrifugasi dengan singkat. “Master mix” dipersiapkan dalam microtube steril (yang didinginkan dalam es). “Master mix” (untuk satu reaksi) terdiri dari:
1) Sterilized water 26,5 µl 2) Tuning buffer 10 µl 3) G-Taq buffer 5 µl 4) Forward primer (ITS1F) 1 µl 5) Reverse primer (ITS4B) 1 µl
6) dNTP 4 µl
7) G-Taq polymerase 0,5 µl 8) Template DNA solution 2 µl Volume total 50 µl
Ketujuh bahan pertama dicampurkan dan dipindahkan ke dalam tabung PCR. Untuk mempersiapkan “master mix” lebih dari satu reaksi, sejumlah volume yang sama dipipet terpisah ke dalam tabung-tabung PCR dan jumlah ketujuh bahan dikali dengan N (= jumlah reaksi yang akan dijalankan + 1 reaski tambahan). Template DNA ditambahkan ke masing-masing tabung yang mengandung “master mix”, kecuali untuk sampel negatif, “master mix” diberi air
steril. Semua larutan dicampur merata dalam masing-masing tabung PCR untuk menghasilkan campuran reaksi yang homogen. Kemudian proses PCR segera dimulai berdasarkan siklus pemanasan PCR (Tabel 3).
Tabel 3 Siklus pemanasan dalam PCR Temperatur
(oC) (menit) Durasi Siklus Tujuan
94 3 1 Denaturasi fragmen DNA panjang (>1Kb)
94 1 30 Denaturasi – pemisahan dua DNA strands dan membuka daerah sasaran
50 1 30 Annealing – ke 2 primers dihibridisasikan ke sekuens target dalam 3 arah pada suhu dibawah 5-10 dari M.P. nya
72 3 30 Extension – heat stable Taq DNA polymerase mereplikasi DNA strands baru dalam arah 5’ ke 3’
72 10 1 Pemanjangan akhir
8 Selamanya ∞ Penyimpanan
Agarose Gel Electrophoresis. Dalam 100 ml Conical flask, 0,3 g agarose S ditambah 30 ml 0,5xTBE. Bahan tersebut diaduk hingga tercampur dan dipanaskan dengan microwave selama 1 menit untuk melarutkan agarose. Flask
didinginkan selama 5 menit hingga 60oC sehingga bisa dipegang tangan. Gel
dituangkan perlahan ke dalam gel tray. Tip steril digunakan untuk mendorong gelembung jauh ke samping. Sisir yang sesuai disisipkan ke dalam gel untuk membuat beberapa sumur. Gel dibiarkan mengeras selama paling tidak 30–60 menit. Gel dipasang dalam electrophoresis chamber. Sekitar 300 ml 0,5xTBE
buffer dituangkan ke dalam chamber sehingga gel terendam 2-5 mm dari
permukaan. Chamber ditutup, listrik dinyalakan dan gel dijalankan awal selama 5-30 menit.
Beberapa tetes 1 µl loading buffer dibuat pada selembar parafilm. Kemudian 5 µl sampel atau marker ditambahkan ke setiap tetesan loading buffer. Sumur-sumur diisi pertama kali dengan marker diikuti negative dan sampel-sampelnya. Chamber kemudian ditutup, listrik dinyalakan pada 100 V. Elekroda menghasilkan gas/ gelembung-gelembung. Pemantauan dilakukan pada pewarna marker. Elektroforesis dihentikan ketika bromophenol blue bergerak ¾ panjang gel (± 40 menit). Setelah listrik dimatikan, gel diwarnai dalam ruang gelap
dengan larutan 1 µg/ml ethidiumbromide. Pita-pita DNA yang telah diamplifikasi harus terlihat dalam UV light-box.
Purifikasi Produk PCR Sebelum Sequencing. Pertama, 150 µl buffer PB ditambahkan ke dalam 30 µl sampel dan dicampur. Campuran dipindahkan ke
spin column dan disentrifugasi selama 1 menit. Cairannya dibuang, spin column dimasukkan lagi ke tabung yang sama. Buffer NW (700 µl) ditambahkan dan disentrifugasi selama 2 menit pada 10.000xg, suhu ruang. Spin column
dipindahkan ke dalam tabung 1,5 ml yang baru. Buffer EB (50 µl) diberikan ke tengah membran dalam spin column, dibiarkan tegak selama 1 menit, dan disentrifugasi lagi selama 1 menit. Akhirnya, produk PCR yang sudah murni (larutan template DNA untuk sequencing) dapat disimpan pada suhu –20 oC.
Sejumlah peralatan disterilisasi dengan autoklaf sebelum digunakan, seperti: mortar dan pestle, microtube (1,5 ml), spatula, micropipette tip 1000 µl (biru), 200 µl (kuning), dan 10 µl (bening). Air steril juga disiapkan sekitar 100 ml.
DNA Sequencing. Primer-primer digunakan untuk reaksi siklus sequencing
dengan ABI Big Dye Terminator Cycle Sequencing Ready Reaction Kit (applied Biosystem). Sequence dideteksi menggunakan ABI auto Sequencer 3730 (applied Biosystem), dan diatur menggunakan CLUSTAL W. Sequence yang dihasilkan dibandingkan dengan sequence database dalam DDBJ (DNA Data Bank of Japan) menggunakan BLAST (Basic Local Alignment Tool) Program (Zhang et al. 2000).
Uji Oksidasi Jamur Pelapuk Kayu
Uji oksidasi jamur dilakukan dengan metode yang diuraikan Nishida et al.
(1988), yaitu dengan menggunakan guaiacol C6H4(OH)(OCH3). Media guaiacol dibuat dari serbuk kayu (0,2 %), guaiacol (0,01 %), dan agar (1,6 %). INA AGAR BA-10 (20%) 20% ber-pH 7 ± 0,5 dan mengandung SO4 (max 1,0 %), Cu (max 0,4%), dan Fe (100 ppm). Guaicol yang digunakan adalah Guaiacol (FW 124,14), Cica-Reagent, Kanto-Chemical Co INC.
Untuk membuat 200 ml media guaiacol, disiapkan 0,4 g serbuk kayu (Shorea laevis; 80 mesh), 20 µl guaiacol, 3,2 g agar and air destilata. Campuran media diaduk setelah sterilisasi dalam autoklaf (121 oC; 15 menit). Campuran dituangkan ke dalam cawan petri steril (20 ml/ cawan petri) dalam clean bench.
Inokulum jamur (Ø 6 mm) dipindahkan ke media guaiacol yang telah memadat, kemudian diinkubasikan pada 25 oC. Media diamati selama beberapa hari. Pewarnaan coklat pada media mengindikasikan terjadinya oksidasi oleh jamur pelapuk putih, sedangkan jamur pelapuk coklat tidak menghasilkan pewarnaan tesebut.
Pengaruh Suhu dan pH terhadap Pertumbuhan Jamur Pelapuk Kayu
Jamur pelapuk yang telah diisolasi dari tubuh buahnya ditumbuhkan pada media PDA (potato dextrose agar) dan disimpan pada suhu 4 oC. Prakultur jamur-jamur tersebut dibuat pada media PDA dan diinkubasikan pada suhu 25 oC selama tujuh hari. Isolat diambil dari prakultur tersebut untuk uji pertumbuhan dalam variasi suhu dan pH media PDA. Inkubasi dilakukan dalam Eyela Multi Thermo Incubator MTI-202 yang bisa mengkondisikan lima kondisi suhu inkubasi. Variasi suhu yang digunakan adalah 20 oC, 25 oC , 30 oC, 35 oC, 40 oC, 45 oC dan 50 oC. Untuk membuat media denga pH bervariasi digunakan citric acid phosphate buffer. Media yang dihasilkan memiliki pH 4,26, 5,02, 5,40, 6,08 dan 7,09.
Citric acid phosphate buffer dibuat dari 0,1 M citric acid (19,21 g/L; MW 192,1) dan 0,2 M Na2PO4 (35,6 g/L; MW178) dalam volume berbeda sesuai pH yang diperlukan. Sebagai contoh, untuk membuat 100 ml media PDA dengan pH 4,2, ke dalam 29,4 ml 0,1 M citric acid (CA) ditambah dengan 20,6 ml 0,2 M sodium phosphate (SP) dan tepung 39/10 g PDA. Air steril ditambahkan sehingga volume total menjadi 100 ml. Lampiran 6 menunjukkan volume CA dan SP untuk membuat berbagai pH pada 100 ml media PDA.
Suhu inkubasi pada uji pertumbuhan pada variasi pH adalah 35oC. Diameter miselium pada media PDA diukur setiap hari selama inkubasi. Kecepatan pertumbuhan miselium pada kultur PDA dianalisis secara grafis dan
statistik. Kecepatan pertumbuhan miselium jamur juga diklasifikasikan berdasarkan deskripsi dari US Department of Agriculture (1942) dalam Technical Bulletin No 785 yang dipakai untuk jamur penyebab pelapukan pada pohon Oak sebagaimana disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Kelas kecepatan pertumbuhan miselium jamur pelapuk kayu pada media PDA
Kelas Pertumbuhan
Jamur Kecepatan Pertumbuhan Diameter Miselium Jamur
Cepat > 9 cm/ 7 hari > 1.29 cm/hari
Agak cepat > 9 cm/ 14 hari ; ≤ 9 cm/ 7 hari 0,65–1,29 cm/hari
Sedang 6-9 cm/ 14 hari 0,37–0,64 cm/hari
Lambat 2-5 cm/ 14 hari 0,14–0,36 cm/hari
Sangat lambat < 2 cm/ 14 hari < 0,14 cm/hari
Sumber : US Department of Agriculture (1942)
Analisis Dampak Degradasi Kayu oleh Jamur Pelapuk Persiapan Bahan Uji Dampak Serangan Jamur Pelapuk pada Sifat-sifat Kayu
Dalam eksperimen ini digunakan kayu pinus (Pinus insularis), sengon (Paraserianthes falcataria), dan kamper (Dryobalanops spp). Berbagai ukuran contoh uji kayu dibuat diantaranya adalah untuk penentuan berat jenis berukuran 20 mm x 20 mm x 20 mm, untuk nilai penurunan berat 10 mm x 10 mm x 5 mm (Huang et al. 2004), untuk uji modulus lentur atau modulus of elasticity (MOE) dan modulus patah atau modulus of rupture (MOR) berukuran 10 mm x 10 mm x 150 mm dan untuk pengamatan struktur anatomi 5 mm x 5 mm x 40 mm.
Untuk analisis kandungan selulosa dan lignin digunakan serbuk kayu berukuran 40-60 mesh. Media serbuk kayu sengon dan pinus disiapkan dalam plastik baglog (± 250 g) dengan komposisi bahan: 82,5% serbuk kayu, 15% dedak, 1,5% gips, 1,0% kapur dengan kadar air 40%-60%. Campuran bahan tersebut disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121 oC, bertekanan 15 psi, selama 15 menit.
Media untuk penumbuhan jamur S. commune dan G. applanatum (Pers.) Pat.adalah PDA yang dibuat dari ekstrak 200 g potongan kentang, 20 g dekstrosa,
20 g agar, 250 mg chloramfenicol, dan 1000 ml aquades. Media PDA yang sudah homogen disterilkan dalam autoklaf pada tekanan 15 psi, suhu 121 oC, selama 15 menit. Setelah media dingin dan memadat diinokulasi dengan jamur dan diinkubasikan pada suhu ruang (27 oC) (Gunawan et al. 2004).
Bibit kedua jenis jamur dibuat pada media jagung. Butiran kasar jagung giling dibersihkan dan direbus. Selanjutnya dimasukkan kedalam botol dan disterilisasi dalam autoklaf. Media jagung yang telah dingin diinokulasi dengan isolat jamur dari kultur PDA dan diinkubasikan pada suhu ruang (27 oC) hingga miselia tumbuh merata pada media jagung.
Pengaruh Serangan Jamur Pelapuk terhadap Struktur Anatomi Kayu
Contoh uji kayu sengon dan pinus untuk pengamatan struktur anatomi dibasahkan dengan perendaman dalam air suling selama 24 jam dan disterilisasi dalam autoklaf pada suhu 121 oC, tekanan 15 psi, selama 15 menit, termasuk contoh uji kontrol. Contoh uji yang telah disterilkan diletakkan pada kultur jamur
S. commune dan G. applanatum dalam bejana uji secara steril dan diinkubasikan pada suhu 27 oC dengan RH 70% selama 2, 4, 8 dan 12 minggu (kecuali contoh uji kontrol). Ulangan pengujian untuk tiap perlakuan adalah tiga.
Prosedur pengamatan mikroskopik menggunakan metode dari Suhirman (1987). Contoh uji direndam dalam gliserol untuk memudahkan penyayatan dengan sledge microtome dengan ketebalan 20 µm. Pewarnaan dilakukan dengan