3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode semiotik yang bersifat deskriptif kualitatif- interpretative (interpretation). Bogdan dan Taylor mengemukakan metode kualitatif sebagai berikut :
”Metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis/ lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan ini diarahkan pada individu secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu kedalam variabel atau hipotesis , tetapi memandanganya sebagai suatu keutuhan”
( Moleong,2002:3)
Sedangkan penggunaan semiologi sebagai metode pembacaan dalam penelitian ini karena ada kecenderungan dewasa ini memandang berbagai wacana sosial, politik, ekonomi, seni, dan desain sebagai fenomena bahasa. Berdasarkan pandangan semiologi, pendekatan semiologi lebih menitik beratkan bahwa bahasa adalah suatu sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Sehingga dalam penerapannya semiologi lebih memberikan kebebasan kepada seseorang didalam memaknai sebuah tanda di tengah masyarakat, karena seseorang dapat menyampaikan makna yang berbeda dengan orang lain dikarenakan lingkungannya.
signifikasi dua tahap ( two order of signification ) dari Roland Barthes. Dimana pada tahapan pertama tanda denotatif ( denotative sign ) juga merupakan penanda konotatif ( konotative signifier ) sehingga muncul petanda konotatif (
konotative signified ) yang akan membentuk tanda konotatif ( konotative sign ).
Dalam tahap kedua dari tanda konotatif akan muncul mitos yang menandai masyarakat yang berkaitan dengan budaya sekitar. Kemudian teks akan dimaknai dengan menggunakan lima macam kode menurut Barthes, yaitu kode hermeunitik, kode semik, kode simbolik,, kode proaretik dan kode kultural untuk pemaknaan sebuah tanda, dari proses pemaknaan melalui pembacaan dari kode-kode tersebut akan diungkap subtansi dari pesan dibalik lirik lagu ”Lagu Gituan”.
3.2 Ker angka Konseptual
Agar konsep ini semakin jelas batasannya, peneliti mencoba memberikan batasan judul, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang lain dari judul yang ada. Adapun judul penelitian ini adalah Representasi seksualitas dalam lirik lagu ”LAGU GITUAN”. Dengan representasi seksualitas, yang dimaksud seksualitas pada penelitian ini adalah:
Segala sesuatu yang menyangkut dan sikap berkaitan dengan perilaku seksual maupun orientasi seksual. Kata seksualitas berasal dari kata dasar ” seks ”, yang memiliki beberapa arti, yaitu:
1. J enis k elamin: keadaan biologis manusia yang membedakan laki dan per empuan.
ter tentu laki maupun per empuan bisa menghasilkan bayi dengan kondisi ter tentu. Bagian tubuh itu disebut alat atau or gan r epr oduk si. Or gan r epr oduk si laki-laki dan per empuan ber beda kar ena punya fungsi yang ber beda.
3. Or gan r epr oduksi: or gan r epr oduksi laki-laki dan wanita ter dir i atas or gan bagian luar dan bagian dalam.
4. Rangsangan atau Gair ah seksualitas: r angsangan seksualitas dapat disebabkan per asaan ter tar ik sekali (seper ti magnet) pada seseor ang sehingga terasa ada getar an”aneh” yang muncul dalam tubuh.
5. Hubungan seks: Hubungan seks (HUS) ter jadi bila dua individu saling mer asa ter angsang satu sama lain (dapat ter ja di pada lain jenis maupun pada sejenis) sampai or gan seks satu sama lain ber temu da n ter jadi penetr asi.
6. Or ienta si sek sual (sexual or ientation) adalah kecender ungan seseor ang mencar i pasangan seksualnya ber da sar kan jenis kelamin. Ada tiga or ientasi seksual :
• Heter osek sual (ter ta r ik pada jenis k elamin yang ber beda)
• Homosek sual (ter tar ik pada jenis kelamin yang sama: gay pada laki-laki, lesbian pada per empuan). 50 konseling k esehatan Repr oduksi Remaja Bagi Calon Konselor Sebaya.
per empuan).
7. Kelainan per ilaku kepuasan sek sual adalah kecender ungan seseor ang untuk memper oleh k epuasan seksual melalui tingkah laku ter tentu. Misalnya:
• Vayour isme: Memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip.
• Fethisme: Memperoleh kepuasan seksual dengan
menggunakan benda-benda mati untuk merangsang.
• Sanisme: Memperoleh kepuasan seksual dengan
melukai/menyiksa pasangannya.
• Machosisme: Memperoleh kepuasan seksual dengan melukai diri sendiri.
3.2.1 Unit Analisis
Unit analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanda-tanda berupa tulisan, yaitu terdiri atas kata-kata yang membentuk kalimat yang ada pada lirik lagu “LAGU GITUAN”
3.2.2 Kor pus Penelitian
Korpus adalah sekumpulan bahan yang terbatas, yang ditentukan pada perkembangannya oleh analisis semacam kesemenaan, bersifat sehomogen mungkin ( Kurniawan ,2001 :70 ). Korpus atau data yang dikumpulkan berwujud
“LAGU GITUAN” oleh Kungpow Chicken.
Alasan Peneliti menggunakan lirik lagu “LAGU GITUAN” sebagai korpus adalah dikarenakan dalam lagu tersebut menggambarkan immoral remaja yang merupakan adanya pergeseran budaya dan pengaruh budaya asing. Berikut ini adalah lirik lagu “LAGU GITUAN”
”Lagu Gituan”
Udah gak kuat nahan Pengen gitu-gituan Ayo cepat masukan Tapi pake pengaman
Semenjak dulu hingga sekarang ini Udah banyak kerjaan yg pernah kualami Dari cleaning service, jadi waiter, jadi kernet Jadi brengsek karna dari kecil sudah mengenal seks Tubuh terdidik dari bacaan-bacaan yang vulgar Dari lipstik dan eksotika sambil ngumpet di kamar Ortu sempat negur karena bicaraku kotor
Gara-gara ku bertanya ”Pak, apakah itu vibrator?” Pernah waktu sma ketika masih muda
Rasa penasaran ingin bertanya-tanya Apa tuh mr happy, apa tuh miss cherful
Yang jelas kedua-duanya kalo ketemu, be careful Pernah ketahuan waktu nonton film gituan Kegep waktu ngebokep di rumah sendirian Tak kuat nahan,,waktu rombongan satu adegan Maenin si joni sampe keluar karna ku tak kuat nahan Tak heran kalo anak umur belasan udah pernah gituan Berawal dari pegangan, ciuman, sampe pelukan Gimana caranya kuingin merasakan
Tontonlah film virgin sbg panduan Mengenal wanita waktu smp kelas dua Hilang keperjakaan sma kelas tiga Waktu SD pipis gak pernah lurus Sekarang kuliah gak lulus-lulus Gimana mungkin bisa berkonsentrasi
Hati berdebar yg bawah pun ikut Kadang semua itu hanya sebagai godaan Jangan coba sendirian kalo kesepian Jauhkan sabun timun biar gak ketagihan Sediakan kondom kalo kamu mau gituan repeat reff [2x]
Ha ha, ini first 3, siap menjadi gila Seiring ku bertanya soal payudara
Huhui, katanya yg kiri dan kanan itu berbeda ya Aku sih gak percaya, coba sini kuraba
Semua kalo udah maen di tempat kos-kos-an Tempat yg cocok kalo kamu mau gituan Kalo balik dugem mau check-in kemahalan Karena lagi mabok lupa pake pengaman Kalo mau gituan harus pemanasan Sambil berciuman raba kiri raba kanan Eh iya ya, kok yg kiri dan kanan berbeda ya Aku pun semakin gila
Horny sampe ubun-ubun kepala
Siapapun bisa bebas masuk ke kamar kos-kos-an
Pacarnya, selingkuhannya, bos-bos-nya, gadung-gadungnya Semuanya akan baik-baik saja
Asal telentang dengan pasrah
Dan jangan lupa mempersiapkan tisu basah
3.3 Tek nik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data ini berasal dari data primer dan sekunder yang di peroleh dari :
1. Data primer : pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mendengarkan lagu “LAGU GITUAN”, kemudian membaca serta memahami kata perkata dari lirik tersebut,yang kemudian di tulis kembali oleh peneliti untuk di jadikan bahan penelitian
seperti buku-buku dan data dari internet yang berhubungan dengan objek kajian yang di teliti.
3.4 Tek nik Analisis Data
Peneliti menginterpretasikan teks dalam lirik lagu “LAGU GITUAN”, serta menyimpulkan beberapa representasi mengenai bagaimana penggambaran seksualitas dalam lirik lagu tersebut. Dari lirik lagu yang terdiri dari judul lagu, sing, reff inilah yang kemudian akan dianalisis dalam penelitian ini dengan menggunakan pandangan dari Roland Barthes, yaitu metode signifikasi dua tahap ( two order of siognification ). Penulis akan memberikan batasan-batasan dan menjelaskan istilah serta beberapa pengertian yang terdapat dalam judul skripsi ini, dan tanda-tanda berupa tulisan, terdiri dari kata-kata tersebut akan dipenggal-penggal terlebih dahulu menjadi beberapa laksia (satuan bacaan) yang dapat berupa kata, beberapa kalimat, sebuah paragraph, atau beberapa paragraph, untuk dikategorikan kedalam lima macam kode pembacaan menurut Barthes, yaitu kode hermeunitik, kode semik, kode simbolik,, kode proaretik dan kode kultural untuk pemaknaan sebuah tanda, sehingga akan mengetahui tanda denotasi dan konotatifnya. Bila dijelaskan berdasarkan peta tanda dari Barthes, maka lirik lagu ”Lagu Gituan” akan tampak sebagai berikut:
Yang pada akhirnya akan dapat ditarik suatu makna yang sebenarnya mengenai bagaimana seksualitas bila digambarkan dalam lirik lagu ”Lagu Gituan”.
1. Signifier ( Penanda ) : semua kata-kata yang ada dalam lirik lagu ”Lagu Gituan”
2. Signified ( petanda ) : konsep makna menurut kamus bahasa indonesia 3. Denotative sign (tanda denotative) :
Kata – kata yang bermakna paling nyata atau sebenarnya
4. CONOTATION SIGNIFIER
(PENANDA KONOTATIF) : Kata yang bermakna paling nyata
5. CONOTATION
SIGNIFIERD (PETANDA KONOTATIF) : Konsep baru yang muncul dari pembaca terhadap kata-kata yang bermakna paling nyata 6. CONOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF) : Kata-kata tersebut
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambar an umum Obyek Penelitian
Kungpow Chickens yang dibentuk pada 1 April 2004, dengan mini album Alit Da Baong. Mini Album ini dinaungi oleh sebuah label independent lokal Bandung, yaitu V-Music. Album Ini Alit Da Baong” bercerita tentang sebuah karakter rekaan anak kecil bernama Alit yang baong, jorang, dan omes. Lewat Alit, Andi menyuarakan pendapatnya Kungpow Chickens Memang pilihan katanya terkesan jorok, kasar, dan provokatif. Pilihan metode ini dirasa Andi perlu karena hanya dengan cara ini pendengar akan “ngeh” dengan apa yang berusaha disampaikan olehnya lewat musiknya Kungpow Chickens. Musik Kungpow Chickens memang terkesan main-main dengan pilihan gaya seperti yang diperuntukkan anak kecil (menurut Andi genrenya disebut Kindergarten), juga liriknya yang terkesan becanda. Tapi emang itulah konsep dari album ini, toh awalnya iseng, Andi dan dj Jojo memang sekadar ngejoke lewat musik dan rhyme, Kungpow Chickens cuma pengen menyampaikan apa sih yang dirasa nggak bener dengan dunia sekarang ini. Sebuah misi serius dengan cara yang nggak serius.
Buat Kungpow Chickens Isu-isu macam itulah yang justru menghidupkan kreatifitas mereka dalam bermusik. Kungpow Chickens mencoba untuk mengkritik realitas sosial yang tampak menutupi dan kurang memperhatikan isu masa depan anak negeri ini. Terutama masalah Sex Education. Inspirasi memang bisa datang dari mana saja, bahkan dari hal yang dampaknya tidak lumrah atau tabu bagi sebagian besar orang. Anda bisa melihat sebuah dunia yang lebih luas lagi, jika anda mengartikan isi album ini dengan pikiran sehat yang terbuka.
Menurut si pencipta lagu tersebut yaitu kang Andi yang termasuk vokalis Kungpow Chickens, yang saya hubungi sendiri melalui telephone mengatakan seksualitas itu sendiri adalah hal yang sangat luar biasa, seks itu bagaikan obat dimana ketika seorang lelaki merasa jenuh atau jerah dengan pekerjaannya maka lelaki tersebut dapat melakukan hubungan kemudian baru lelaki tersebut bisa tidur dengan nyaman. Inspirasi lagu tersebut sendiri diambil dari lingkungan sekitar berdasarkan pergaulan remaja saat ini yang secara tidak langsung sebagai pelaku seks. Tetapi dengan pengetahuan yang kurang maka bisa berdampak buruk, misalnya seseorang tersebut bisa ketagihan dengan seks yang mungkin berdampak hamil diluar nikah. Lewat lagu ini pencipta lagu ingin memberi peringatan dengan menyindir para pelaku seks dan melalui lagu ini si pencipta juga memberi himbauan untuk tetap aman disaat melakukan seks. Menurut sang pencipta, banyak orang salah mengartikan makna isi dari lirik lagu ini.
Menurut pengamatan peneliti, seks telah dianggap sebagian orang sebagai sesuatu yang tidak sakral lagi. Ada banyak bukti yang dapat kita saksikan di tengah-tengah masyarakat. Misalnya,kasus kawin cerai, “kumpul kebo”, lokalisasi dan beberapa fenomena lain. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai para remaja yang bergaul secara bebas antara laki-laki dan perempuan tanpa batasan-batasan, hal ini karena saat ini banyak sekali fasilitas yang mendukung untuk dapat melakukan aktifitas pergaulan bebas tersebut, misalnya saja : rumah kost, club malam, café music, diskotik, bahkan tempat karaoke pun kadang disalah gunakan bagi mereka untuk ajang pergaulan bebas. Entah sejak kapan budaya tentang kegadisan berubah. Dulu, kegadisan merupakan sesuatu yang sangat mahal. Tak jarang untuk mempertahankannya, seorang remaja putri lebih memilih mati daripada dinodai sebelum saatnya, yaitu nikah. Kini, hal keperawanan nampaknya tak penting lagi.
Album pertama “Alit Da Baong” dan album kedua “Chickens Strike Back “ serta album ke tiga ”Smell Like Fish Taste Like Chickens”dengan tagline yang sama “Dengan Bimbingan Mamah Papah” ini mengkritisi tentang realitas sosial yang tampak menutupi dan kurang memperhatikan isu masa depan anak negeri, terutama masalah sex education. Bukan karena kebebasan dalam menghadapi pesatnya kemajuan teknologi, media-media yang bebas dan berhamburan sekarang ini, melainkan karena memang kurangnya pendidikan secara formal dari orang tua dan kurangnya memahami sex education yang sebenarnya. Namun
respon masyarakat, merasa tidak sesuai dengan moral bangsa, dengan adat timur, merusak generasi muda, dan sebagainya. Masyarakat tidak menyadari jika generasi muda yang sudah banyak seperti itu.
4.2 Lir ik lagu “Lagu Gituan” menur ut Semiologi Roland Bar thes
Salah satu area yag dirambah oleh Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran dari pembaca. Roland Barthes sebagai salah seorang pengikut Saussure membuat sistematika dalam menganalisa makna dari tanda-tanda. Fokus perhatian Barthes lebih bertujuan pada gagasan tentang signifikasi dua tahap terhadap tanda (two step of signification).
Tahap pertama, tanda merupakan hubungan antara signifier dan
signified, Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata
dari tanda. Selanjutnya tahap kedua ialah makna konotasi dari tanda, hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika anda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Dengan kata lain denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap suatu objek, sedangkan konotasi adalah bagaimana cara menggambarkannya.(Fiske, 1990:72)
Begitupun juga dengan lirik lagu “ Lagu Gituan” yang mengalami proses signifikasi dua tahap (two step signification). Karena dalam lirik lagu tersebut menggambarkan suatu makna konotatif dari realitas sosial yang
terjadi di dalam masyarakat kita. Bila dijelaskan berdasarkan peta tanda Barthes, maka lirik lagu “Lagu Gituan” akan tampak sebagai berikut :
Gambar 4.1. Peta Tanda Bar thes
1.Signifier (Penanda) 2. Signified (Petanda) 3.Denotative sign (tanda denotatif) 4.Connotative Signifier (Penanda Konotatif) 5.Connotative Signified (Petanda Konotatif) 6.Connotative Sign (tanda konotatif)
Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi pada saat yang bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain hal tersebut merupakan unsure material: hanya jika anda mengenal tanda “singa” barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin.
Jadi dalam konsep barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. (Sobur, 2004:69)
4.3 Penyajian Data dan Pemaknaan Data
4.3.1 Penyajian Data
Data yang digunakan dalam peneletian ini yaitu berupa lirik lagu “Lagu Gituan” yang diciptakan dan dibawakan oleh Kungpow Chickens. berikut adalah lirik lagu “Lagu Gituan”
“Lagu Gituan” Oleh :Kungpow Chicken
Udah gak kuat nahan Pengen gitu-gituan Ayo cepat masukan Tapi pake pengaman
Semenjak dulu hingga sekarang ini Udah banyak kerjaan yg pernah kualami Dari cleaning service, jadi waiter, jadi kernet Jadi brengsek karna dari kecil sudah mengenal seks
Tubuh terdidik dari bacaan-bacaan yang vulgar Dari lipstik dan eksotika sambil ngumpet di kamar Ortu sempat negur karena bicaraku kotor
Pernah waktu sma ketika masih muda Rasa penasaran ingin bertanya-tanya Apa tuh mr happy, apa tuh miss cherful
Yang jelas kedua-duanya kalo ketemu, be careful Pernah ketahuan waktu nonton film gituan Kegep waktu ngebokep di rumah sendirian Tak kuat nahan,,waktu rombongan satu adegan Maenin si joni sampe keluar karna ku tak kuat nahan
Tak heran kalo anak umur belasan udah pernah gituan Berawal dari pegangan, ciuman, sampe pelukan Gimana caranya kuingin merasakan
Tontonlah film virgin sbg panduan Mengenal wanita waktu smp kelas dua Hilang keperjakaan sma kelas tiga Waktu SD pipis gak pernah lurus Sekarang kuliah gak lulus-lulus
Gimana mungkin bisa berkonsentrasi
Antara belajar dan cewek di kelas yg seksi-seksi Seragam rok pendek 15 senti di atas lutut Hati berdebar yg bawah pun ikut
Kadang semua itu hanya sebagai godaan Jangan coba sendirian kalo kesepian Jauhkan sabun timun biar gak ketagihan Sediakan kondom kalo kamu mau gituan
repeat reff [2x]
Ha ha, ini first 3, siap menjadi gila Seiring ku bertanya soal payudara
Huhui, katanya yg kiri dan kanan itu berbeda ya Aku sih gak percaya, coba sini kuraba
Semua kalo udah maen di tempat kos-kos-an Tempat yg cocok kalo kamu mau gituan Kalo balik dugem mau check-in kemahalan Karena lagi mabok lupa pake pengaman
Kalo mau gituan harus pemanasan Sambil berciuman raba kiri raba kanan Eh iya ya, kok yg kiri dan kanan berbeda ya Aku pun semakin gila
Siapapun bisa bebas masuk ke kamar kos-kos-an
Pacarnya, selingkuhannya, bos-bos-nya, gadung-gadungnya Semuanya akan baik-baik saja
Asal telentang dengan pasrah
Dan jangan lupa mempersiapkan tisu basah
Berdasarkan pengamatan terhadap lirik lagu diatas, maka hasil pengamatan tersebut kemudian akan diinterpretasikan dan disajikan representasinya, setelah itu akan diketahui pesan yang terkandung didalamnya tentang Representasi Seksualitas Pada Lirik Lagu “Lagu Gituan”. Lirik lagu tersebut selanjutnya dianalisis berdasarkan landasan teori dari Roland Barthes, untuk mengetahui pengungkapan representasi yang nantinya dalam hasil representasi tersebut mengandung sebuah pesan sosial.
Tanda-tanda berupa tulisan, terdiri dari kata-kata tersebut akan dipenggal-dipenggal terlebih dahulu menjadi beberapa leksia (satuan bacaan) yang dapat berupa kata, beberapa kalimat, sebuah paragraph atau beberapa paragraph, untuk dikategorikan ke dalam lima kode pembacaan Barthes, sehingga dapat diketahui bagaimana representasi seksualitas dalam lirik lagu tersebut.
Definisi tanda dari Roland Barthes adalah berdasarkan unsure penanda (signifier) dan petanda (Signified). Hubungan antara keduanya akan terjadi melalui dua tahap signifikasi (two order of signification). Pada tataran pertama disebut sebagai tanda denotative yaitu berupa realitas atau sebuah kenyataan yang ada dalam masyarakat. Kemudian pada tataran kedua terdapat tanda konotatif yang akan membentuk sebuah ideology terhadap cerminan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat.
4.3.2. Pemaknaan Lir ik Lagu “Lagu Gituan”
Berdasarkan pengamatan terhadap lirik lagu di atas, hasil pengamatan tersebut kemudian akan diinterpretasikan dan disajikan representasinya. Setelah itu baru diketahui apa pesan yang terkandung di dalamnya. Lirik lagu tersebut selanjutnya akan di analisis berdasarkan landasan teori dari Roland Barthes, untuk menegetahui pengungkapan representasi seksualitas dibalik lirik lagu “Lagu Gituan”.
Tanda – tanda berupa tulisan, terdiri dari kata – kata tersebut akan di penggal – penggal terlebih dahulu menjadi beberapa leksia (satuan bacaan) yang dapat berupa kata, beberapa kalimat, sebuah paragraph atau beberapa paragraph, untuk dikategorikan ke dalam kode Barthes.
Definisi tanda dari Roland Barthes adalah berdasarkan unsure penanda
(signifier), petanda (signified), dan diantara hubungan tersebut terdapat dua
tahap yang disebut tataran pertama dan tataran kedua. Pada tataran pertama berupa realitas atau kenyataan dan juga tanda yang ada dalam masyarakat. Barthes menyebutkan tataran ini sebagai denotasi. Kemudian pada tataran kedua merupakan suatu pencerminan kebudayaan yang dimiliki masyarakat atau disebut Barthes sebagai konotasi.
Pemaknaan lirik lagu “Lagu Gituan” oleh peneliti akan dilakukan penjabaran makna tiap kalimat yang terdiri dari rangkaian kata-kata, lalu tiap bait yang terdiri dari rangkaian kalimat. Tentunya dalam memaknai pesan yang terkandung dalam lirik lagu “Lagu Gituan” berdasarkan atas
frame of reference (pengetahuan) dan field of experience (pengalaman) dari
peneliti. Setiap kata tentu mengandung suatu makna, baik makna denotatif maupun makna konotatif. Makna denotatif ialah suatu konsep mental yang telah disepakati bersama oleh masyarakat. Disini peneliti berpedoman pada kamus lengkap Bahasa Indonesia untuk menentukan makna yang telah disepakati bersama tersebut.
Makna konotatif ialah makna subjektif yang terbentuk dari interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai nilai dari kebudayaannya. (Fiske, 1990:72). Jadi peneliti subjektif untuk menentukan makna konotatif sesuai dengan nilai-nilai dan kebudayaan yang dianut oleh peneliti.
Dalam lagu ini pencipta lagu menggunakan kata “Lagu Gituan” sebagai judul. lagu ini juga menceritakan anak-anak jaman sekarang yang makin lama-makin hancur. Seperti itulah, Kungpow chicken, penyanyi menyanyikan lagu ini nggak sembarangan.. setiap lagu yang dinyanyikan