• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 PENDEKATAN METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA

3.3. Metodologi Kajian

Pengambilan sampel dan uji parameter kualitas lingkungan merupakan pekerjaan yang tidak mudah karena polutan bersifat dinamis dan bermigrasi seiring perubahan situasi dan kondisi setempat. Karakteristik fisik matrik air, sedimen, padatan/lumpur atau cairan, cuaca, jumlah polutan, kecepatan lepasnya polutan ke lingkungan, sumber emisi atau efluen, sifat kimia, biologi, dan fisika polutan, dan intervensi manusia sangat mempengaruhi cara dan kecepatan migrasi polutan.

Untuk mendapatkan validitas data uji parameter kualitas air, beberapa aspek yang harus dipertimbangkan antara lain:

III - 5 | D i n a s L i n g k u n g a n H i d u p K a b u p a t e n I n d r a m a y u - Penentuan lokasi dan titik pengambilan contoh;

- Pengambilan data laju aliran sungai;

- Pengambilan contoh;

- Analisis contoh;

- Perhitungan data contoh dengan metode Neraca Massa dan STORET;

- Penentuan hasil akhir kesimpulan.

1. Metode Penentuan Titik Sampel

Menurut Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 12 Tahun 2013 tentang Baku Mutu dan Pengendalian Pencemaran Air Sungai Cimanuk, Sungai Cilamaya dan Sungai Bekasi, dijelaskan bahwa DAS Cimanuk terbagi atas 4 segmen. Segmen 1 berada di Kabupaten Garut, segmen 2 berada di Kabupaten Semarang, segmen 3 berada di Kabupaten Majalengka dan segmen 4 berada di Kabupaten Indramayu. Pada segmen 4 dari DAS Cimanuk melintasi 14 kecamatan di Kabupaten Indramayu.

Gambar 3. 1. Peta Segmentasi DAS Cimanuk

Menurut SNI 6989.57:2008 tentang Air dan Air Limbah – Bagian 57: Metoda pengambilan contoh air permukaan, lokasi pemantauan kualitas air pada umumnya dilakukan pada:

a. Sumber air alamiah, yaitu pada lokasi yang telah menerima limbah (titik 1, lihat Gambar 3.2).

b. Sumber air tercemar, yaitu pada lokasi yang telah menerima limbah (titik 4, lihat Gambar 3.2).

c. Sumber air yang dimanfaatkan, yaitu pada lokasi tempat penyadapan sumber air tersebut. (titik 2 dan 3, lihat Gambar 3.2).

d. Lokasi masuknya air ke waduk atau danau (titik 5, lihat gambar 3.2).

Gambar 3. 2. Contoh lokasi pengambilan air

Titik pengambilan contoh air sungai ditentukan berdasarkan debit air sungai yang diatur dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Sungai dengan debit kurang dari 5 m3/detik, contoh diambil pada satu titik ditengah sungai pada kedalaman 0,5 kali kedalaman dari permukaan atau diambil dengan alat intergrated sampler sehingga diperoleh contoh air dari permukaan sampai ke dasar secara merata (lihat Gambar 3.3);

b. Sungai dengan debit antara 5 m3/detik – 150 m3/detik, contoh diambil pada dua titik masing-masing pada jarak 1/3 dan 2/3 lebar sungai pada kedalaman 0,5 kali kedalaman dari permukaan atau diambil dengan alat integrated sampler sehingga

III - 7 | D i n a s L i n g k u n g a n H i d u p K a b u p a t e n I n d r a m a y u

diperoleh contoh air dari permukaan sampai ke dasar secara merata (lihat Gambar 3.3) kemudian dicampurkan;

c. sungai dengan debit lebih dari 150 m3/detik, contoh diambil minimum pada enam titik masing-masing pada jarak 1/4, 1/2, dan 3/4 lebar sungai pada kedalaman 0,2 dan 0,8 kali kedalaman dari permukaan atau diambil dengan alat integrated sampler sehingga diperoleh contoh air dari permukaan sampai ke dasar secara merata (lihat Gambar 3.3) lalu dicampurkan.

Gambar 3. 3. Titik pengambilan contoh sungai 2. Metode Pengukuran Laju Aliran Sungai.

Kecepatan arus pada ekosistem sungai merupakan faktor pembatas terpenting.

Kecepatan aliran sungai sendiri dipengaruhi oleh bentuk saluran sungai, kondisi permukaan saluran, ukuran saluran dan kemiringan saluran. Perairan sungai berdasarkan kecepatan arusnya dapat dibedakan menjadi daerah arus cepat (rapid zone) dan daerah lubuk (pool zone). Masing-masing daerah terssebut memiliki cirri-ciri kehidupan biota akuatiknya yang khas.

Menurut Soewarno (1995), debit air (discharge) atau besarnya aliran sungai (stream flow) adalah volume aliran yang mengalir melalui suatu penampang melintang sungai persatuan waktu. Debit air sendiri biasanya danyatakan dalam

satuan meter kubik per detik (m3/detik) atau liter per detik (l/det). Aliran adalah pergerakan air di dalam aliran sungai.

Menurut Asdak (1995), teknik pengukuran debit aliran sungai langsung di lapangan pada dasarnya dapat dilakukan melalui empat kategori, yaitu :

1. Pengukuran volume aliran sungai

2. Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan menentukan luas penampang melintang sungai.

3. Pengukuran debit dengan menggunakan bahan kimia (pewarna) yang dialirkan dalam aliran sungai.

4. Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukur debit seperti weir (aliran air lambat) atau flume (aliran air cepat).

Pada prinsipnya pengukuran debit adalah pengukuran luas penampang basah dan kecepatan aliran. Penampang basah (A) diperoleh dengan pengukuran lebar permukaan air dan pengukuran kedalaman dengan tongkat pengukur atau kabel pengukur. Kecepatan aliran (V) dapat diukur dengan metode : metode current-meter dan metode apung.

Current meter adalah alat untuk mengukur kecepatan aliran (kecepatan arus).

Ada dua tipe current meter yaitu tipe baling-baling (proppeler type) dan tipe canting (cup type). Oleh karena distribusi kecepatan aliran di sungai tidak sama baik arah vertikal maupun horisontal, maka pengukuran kecepatan aliran dengan alat ini tidak cukup pada satu titik.

Debit aliran sungai dapat diukur dengan beberapa metode. Tidak semua metode pengukuran debit cocok digunakan. Pemilihan metode tergantung pada kondisi (jenis sungai, tingkat turbulensi aliran) dan tingkat ketelitian yang akan dicapai.

Salah satu cara yang akan digunakan untuk pengukuran debit pada penelitian ini adalah Pengukuran Debit dengan Cara Apung (Float Area Methode).

Prinsip :

• kecepatan aliran (V) ditetapkan berdasarkan kecepatan pelampung (U).

• luas penampang (A) ditetapkan berdasarkan pengukuran lebar saluran (L) dan kedalaman saluran (D).

• debit sungai (Q) = A x V atau A = A x k dimana k adalah konstanta.

III - 9 | D i n a s L i n g k u n g a n H i d u p K a b u p a t e n I n d r a m a y u Q = A x k x U

Keterangan:

Q = debit (m3/det)

U = kecepatan pelampung (m/det) A = luas penampang basah sungai (m2) k = koefisien pelampung

3. Metode Pengambilan Contoh.

Menurut SNI 6989.57:2008 tentang Air dan Air Limbah – Bagian 57: Metoda pengambilan contoh air permukaan, tahapan pengambilan sampel air dilakukan dengan cara:

1. Persiapan alat pengambilan contoh sampel dengan menyesuaikan keadaan sumber airnya;

2. Sebelum pengambilan sampel, perlu dilakukan pembilasan alat pengambilan contoh sampel sebanyak 3 (tiga) kali;

3. Pengambilan contoh sampel disesuaikan dengan peruntukan analisis dan dicampurkan dalam penampung atau wadah sementara dan dihomogenkan;

4. Sampel dipindahkan ke dalam wadah yang sesuai peruntukan analisis;

5. Selanjutnya dilakukan segera pengujian untuk parameter yang akan diukur, terutama suhu, kekeruhan, daya hantar listrik, pH dan oksigen terlalut karena dapat berubah dengan cepat dan tidak dapat diawetkan;

6. Setiap hasil dari pengujian sampel dicatat dalam buku atau catatan khusus;

7. Untuk pengambilan sampel yang pengujian di laboratorium perlu dilakukan pengawetan.

4. Analisis Sampel

Untuk mengetahui data kualitas mutu dari sampel yang telah diambil, diperlukan analisis yang merupakan suatu rangkaian pekerjaan untuk memeriksa/mengetahui/menentukan kandungan dari suatu sampel dengan tujuan tertentu. Secara umum analisis dibagi menjadi dua bagian, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Pembagian ini didasari atas tujuan dari kegiatan analisis itu sendiri.

a) Analisis Kimia Kualitatif

Adalah suatu rangkaian pekerjaan analisis yang bertujuan mengetahui keberadaan (bisa juga identifikasi) suatu ion,unsur, atau

senyawa kimia lain baik organik maupun anorganik dalam suatu sampel yang kita analisa.

b) Analisis Kimia Kuantitatif

Adalah suatu rangkaian pekerjaan analisis yang bertujuan untuk mengetahui jumlah suatu unsur atau senyawa dalam suatu sampel yang kita analisa.

Dalam Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2013 tentang Baku Mutu Air dan Pengendalian Pencemaran Air Sungai Cimanuk, Sungai Cimalaya dan Sungai Bekasi, pada Lampiran II terdapat Kriteria Kelas Air dengan 52 parameter yang perlu diuji untuk menentukan kelas air tersebut. Berikut merupakan tabel dari kriteria kelas air:

Tabel 3. 1. Tabel Kriteria Kelas Air

No Parameter Unit Kelas

Dokumen terkait