• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional. Penelitian dilakukan dengan mengobservasi dua variabel yaitu obesitas dan kandungan glukosa dalam urin. Keduanya diobservasi melalui pengukuran sesaat (cross sectional).

3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Waktu penelitian dilaksanakan bulan Juli-November 2018.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL 3.3.1 Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa obesitas di stambuk 2016 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3.3.2 Sampel

Sampel penelitian ini adalah individu yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan.

1. Kriteria Inklusi:

a. Mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2016

b. IMT ≥ 25 kg/m2

c. Bersedia menjadi sampel penelitian 2. Kriteria Eksklusi

a. Memiliki riwayat gangguan ginjal

b. Menggunakan obat-obatan seperti: tiazid, kortikosteroid, dan hormone adrenocorticotropic.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode total sampling. Penilaian kriteria inklusi dan eksklusi dilakukan melalui pengukuran dan pengisian kuisioner.

Universitas Sumatera Utara

Telah dilakukan pengukuran langsung terhadap 114 mahasiswa FK USU stambuk 2016 sejak bulan Agustus hingga November 2018 dan diperoleh 67 mahasiswa yang memiliki skor IMT lebih besar sama dengan 25 kg/m2, 7 diantaranya tidak memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi karena memiliki riwayat penggunaan obat-obatan dan tidak bersedia untuk menjadi sampel penelitian.

Sepanjang penelitian, terdapat 10 orang koresponden yang mengundurkan diri.

Total sampel dalam penelitian ini adalah 50 orang.

3.4 PENGUMPULAN DATA

Sumber data dalam penelitian ini adalah melalui pengukuran langsung terhadap objek penelitian.

3.5 DEFINISI OPERASIONAL

Variabel yang akan diteliti: obesitas dan glukosa dalam urin. Definisi operasional dari variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:

1. Obesitas

a. Definisi Operasional: skor Indeks Massa Tubuh (IMT) diatas atau sama dengan 25 kg/m2.

b. Cara ukur: observasi dan perhitungan melalui rumus.

Prosedur pengukuran tingi badan:

 Partisipan diminta untuk melepaskan alas kaki (sepatu, sandal, dan lain-lain), penutup kepala (topi, aksesori rambut, pita, dan lain-lain). Catatan: jika partisipan tidak bersedia untuk melepaskan jilbab boleh disarankan untuk menggunakan jilbab dengan bahan yang tipis.

 Partisipan diminta untuk berdiri pada tempat pengukuran

 Partisipan diminta untuk berdiri dengan kedua kaki secara seimbang (tidak bertumpu pada sebelah kaki), tumit partisipan diposisikan merapat pada dinding pengukuran dengan posisi lutut yang lurus.

29

 Partisipan diminta untuk melihat lurus kedepan, tidak menegadah dan tidak menunduk.

 Pandangan partisipan dipastikan sejajar dengan ketinggian telinga.

 Partisipan diminta untuk bernafas dan berdiri tegak sembari menggerakkan lengan pengukur secara lembut melewati vertex.

 Menandai posisi tinggi partisipan dan hasil pengukuran dibaca pada titik yang tepat dalam ukuran sentimeter.

 Partisipan diminta untuk meninggalkan tempat pengukuran.

 Hasil pengukuran dicatat didalam kuisioner partisipan.

Prosedur pengukuran berat badan:

 Partisipan diminta untuk melepaskan alas kaki (sepatu, sandal) dan kaus kaki.

 Partisipan diminta untuk melangkah ke alat timbangan dengan kaki yang bersisian diatas alat pengukur.

 Partisipan diminta untuk berdiri tegak, wajah dihadapkan ke depan, lengan diposisikan sejajar dengan tubuh disisi kiri dan ksanan, partisipan diminta untuk tetap berdiri diatas timbangan sampai diberi aba-aba untuk turun.

 Hasil pengukuran berat badan partisipan dicatat dalam kuisioner Prosedur penghitungan IMT:

 Hasil pengukuran dari tinggi badan dan berat badan di rekapitulasi, berat badan dalam skala kilogram dan tinggi badan dalam skala meter.

 Dimasukkan kedalam rumus sebagai berikut:

𝐼𝑀𝑇 = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛2

 Hasil perhitungan IMT dicatat dalam kuisioner.

c. Alat ukur : timbangan dan meteran.

d. Hasil pengukuran: Obes I: IMT= 25-29,9 kg/m2; Obes II: IMT ≥ 30 kg/m2.

Universitas Sumatera Utara

e. Skala Pengukuran: ordinal 2. Glukosa dalam Urin

a. Definisi Operasional: ditemukannya kandungan glukosa dalam urin ditandai dengan tes benedict positif.

b. Cara ukur: observasi.

Prosedur pengambilan sampel urin:

 Partisipan dijelaskan terlebih dahulu mengenai prosedur pengambilan urin dan diberi kontainer untuk menampung urin.

 Urin yang dikumpulkan adalah urin pertama pada pagi hari (first void urine)

 Sebelum mengumpulkan urin, partisipan terlebih dahulu mencuci tangan dan membersihkan daerah genital dengan menggunakan kapas yang direndam pada larutan natrium klorida 0,9%, dengan arah apusan depan ke belakang.

 Partisipan diinstruksikan untuk mengumpulkan urin porsi tengah (1/3 keluaran urin awal dibuang, selebihnya di tampung dalam wadah)

 Sampel urin kemudian dikumpulkan kepada peneliti dalam kurun waktu kurang dari 6 jam untuk dilakukan tes Benedict.

Prosedur pemeriksaan uji Benedict (Benedict test):

 Sampel urin yang telah dikumpulkan disimpan dalam wadah dipanaskan dalam air mendidih) selama 5-10 menit kemudian didinginkan. Warna akhir pada sampel diamati kemudian diinterpretasikan.

c. Alat ukur : uji benedict.

31

d. Hasil pengukuran: sampel hasil uji benedict memberi gambaran warna bervariasi dari hijau hingga merah bata sesuai dengan kadar glukosa pada urin. Pada hasil uji benedict negatif (benedict test negatif): tidak terdapat glukosa pada urin yang ditandai dengan warna sampel tetap biru dan tidak mengalami perubahan. Sedang pada hasil uji benedict positif (benedict test positif): terdapat glukosa dalam urin yang ditandai dengan perubahan warna pada sampel.

e. Skala Pengukuran: nominal.

3.6 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

Hasil uji yang diperoleh dalam penelitian ini dicatat dan ditabulasi. Data yang didapat kemudian dianalisis menggunakan program komputer berupa aplikasi statistik. Hasil yang diperoleh dilaporkan dalam bentuk tabel dan dideskripsikan.

Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan yang berlokasi di Jl. Dr. Mansyur No. 5, Kecamatan Padang Bulan, Medan Baru, Medan Sumatera Utara.

4.2 KARAKTERISTIK RESPONDEN

Tabel 4.1 Ditribusi jenis kelamin responden.

Kategori Jenis Kelamin Frekuensi (orang) %

Laki-laki 25 50

Perempuan 25 50

Pada tabel 4.1 sebanyak 50 orang sampel mahasiswa obesitas stambuk 2016 di Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara terdiri dari 25 orang (50 %) perempuan dan 25 orang (50%) laki-laki. Hasil ini menunjukkan bahwa jumlah responden yang obesitas baik laki-laki maupun perempuan memiliki perbandingan yang sama.

Hasil ini berbeda dengan data epidemiologi yang diperoleh dalam penelitian di Pekan Baru yang menunjukkan bahwa angka kejadian obesitas pada perempuan lebih tinggi dibanding pada laki-laki (Sundari et al., 2015). Menurut data Riskesdas 2013 kejadian obesitas pada perempuan 3 kali lebih besar (42,1 %) dibanding pada laki-laki (11,3%).

Meskipun demikian, beberapa penelitian lain melaporkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna angka kejadian obesitas antara laki-laki dan perempuan.

Menurut Skizenzweight et al. (2017) baik ditahun 2012, 2014 maupun 2015 tidak ada perbedaan signifikan pada prevalensi obesitas baik pada perempuan maupun pada laki-laki. Sejalan dengan hal tersebut, Mehrabani dan Ganjifar (2018) menunjukkan secara global prevalensi obesitas mengalami peningkatan sejak tahun 1980, 28,8% pada laki-laki dan 29,8% pada perempuan hingga tahun 2013 pada

Dokumen terkait