Penelitian ini berusaha menjelaskan dan memaparkan bagaimana praktik-praktik jurnalisme yang dilakukan oleh beritagar.id dalam menerapkan teknologi artificial intelligence (AI). Oleh karena itu, pendekatan kualitatif dinilai lebih relevan dalam penelitian ini karena pendekatan ini diasumsikan mampu mendeskripsikan sebuah fenomena secara utuh dan menyeluruh. Afifudin dan Saebani menjelaskan bahwa pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, dan definisi
sebuah situasi.99
Lebih khusus lagi, metode penelitian studi kasus dinilai memiliki kapasitas untuk menjabarkan sebuah situasi dan mengidentifikasi masalah-masalah penelitian. Menurut Kriyantono, studi kasus adalah metode riset yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program,
organisasi atau peristiwa secara sistematis.100 Melalui pendekatan ini,
peneliti memaparkan dan menjabarkan suatu situasi secara rinci dan memaknainya berdasarkan perspektif yang terdapat dalam kerangka pemikiran demi menjawab rumusan masalah.
Dalam mengumpulkan berbagai sumber data tersebut, peneliti membutuhkan berbagai macam instrumen pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dokumentasi, studi pustaka, dan lain sebagainya. Metode ini memang berupaya secara saksama dan dengan berbagai cara mengkaji sejumlah besar variabel mengenai suatu kasus khusus. Oleh sebab itu, Robbins menyebut studi kasus sebagai “represent an-indepth analysis of one setting,”.101 Dengan mempelajari semaksimal mungkin mengenai
99 Afifudin dan Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm: 94
100Rachmat Kriyantoro, Riset Komunikasi: Teknis dan Praktis (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 66
101 Stephen Robbins, Teori Organisasi: Strukutr, Desain, dan Aplikasi (Edisi 3) (terj. Jusuf Udaya) (Jakarta: Arcan, 1996), hlm. 324
38
beritagar.id, periset bertujuan memberikan uraian yang lengkap dan mendalam mengenai objek yang diteliti. Studi kasus sendiri memiliki empat
ciri-ciri102, di antaranya adalah: partikularistik, deskriptif, heuristik, dan
induktif.
2. Obyek dan Subyek Penelitian
Obyek penelitian dalam penelitian ini adalah situs kurasi berita beritagar.id. Untuk mengetahui praktik-praktik jurnalisme dalam beritagar.id, peneliti mewawancara beberapa informan yang mengetahui seluk-beluk mengenai beritagar.id. Informan-informan tersebut adalah pengelola dan aktor-aktor dalam media tersebut, yakni wakil pemimpin redaksi, redaktur senior, dan kepala tim Lokadata. Informan ini dipilih sesuai dengan tugas dan fungsi mereka dalam media tersebut dan dianggap memahami dengan baik mengenai praktik jurnalisme pada beritagar.id.
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di kantor beritagar.id pada 9-10 Mei 2017. Sementara wawancara dilakukan baik langsung maupun tidak langsung melalui surat elektronik. Wawancara tersebut dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kesediaan dan waktu luang narasumber dari bulan Maret hingga Juni 2017.
4. Teknik Pengumpulan Data a. Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan dokumen-dokumen berupa audio-visual maupun tulisan. Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah artikel-artikel berita pada situs beritagar.id, khususnya yang ditulis oleh jurnalis robot
39
(CAR) dan diedit oleh kurator atau editor. Kedua artikel tersebut, baik yang telah disunting maupun yang belum digunakan untuk membandingkan pengerjaan konten yang dilakukan oleh robot dan manusia. Hal tersebut dilakukan untuk melihat sejauh apa peran editor dalam ruang redaksi serta melihat apa saja yang tidak bisa dilakukan oleh CAR dan harus dikontrol oleh manusia.
b. Observasi
Dalam Afifudin dan Saebani, Nawawi dan Martini menjelaskan bahwa observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau
gejala-gejala dalam objek penelitian.103 Dalam penelitian ini, peneliti
mengamati masalah-masalah yang terjadi secara langsung tentang dinamika yang muncul dalam praktik-praktik jurnalisme pada beritagar.id.
c. Wawancara Mendalam (in depth interview)
Wawancara adalah percakapan antara periset dan informan.104
Wawancara dalam riset kualitatif biasa disebut sebagai wawancara mendalam (depth interview) atau wawancara secara intensif (intensive-interview). Wawancara mendalam sendiri diartikan sebagai cara mengumpulkan data atau informasi agar mendapatkan data yang lengkap dan mendalam. Jenis wawancara ini biasanya tidak berstruktur karena bertujuan untuk mendapatkan data kualitatif yang mendalam. Pada wawancara mendalam ini, pewawancara relatif tidak mempunyai kontrol atas respons informan, artinya informan bebas memberikan jawaban.
d. Studi Pustaka
103Afifudin dan Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 134
104 Arthur Asa Berger, Media and Communication Research Methods (New York: SAGE Publications, 2000), hlm. 111.
40
Studi pustaka di sini digunakan sebagai pelengkap data primer. Studi pustaka merupakan teknik pengumpulan data dan informasi yang berkenaan dengan penelitian melalui pembacaan literatur atau sumber tertulis, seperti buku, jurnal, artikel, penelitian-penelitian sebelumnya, atau makalah. Dengan menggunakan teknik ini, peneliti mengumpulkan referensi yang lebih relevan terkait dengan permasalahan penelitian.
5. Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan memindai dan memilih semua data dari hasil wawancara dengan para informan, observasi di ruang redaksi, dokumentasi, dan studi pustaka dari penelitian-penelitian sebelumnya. Setelah pemilihan data selesai, penulis kemudian menghubungkan data-data tersebut sesuai dengan kerangka konsep yang telah dibangun.
6. Teknik Penyajian Data
Data yang diolah dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi disajikan dalam bentuk cerita (narasi), tabel, bagan, dan gambar. Sedangkan transkrip hasil wawancara dan rangkuman data dokumentasi akan disajikan terlampir.
7. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan setelah semua data yang diperlukan, baik berupa wawancara, observasi, dokumentasi dan studi pustaka terkumpul. Langkah pertama yang dilakukan peneliti adalah mengaji seluruh data yang didapat, baik data primer maupun sekunder. Kemudian, langkah selanjutnya adalah mereduksi data. Pereduksian data tersebut dilakukan dengan cara membuat rangkuman inti dan pernyataan-pernyataan kunci terkait topik penelitian. Ketiga, pengkategorisasian data. Data yang diperoleh dari wawancara mendalam serta data-data pustaka tersebut dikelompokan berdasarkan tema dan kesamaan gagasan untuk dianalisis dan
41
diinterpretasikan yang kemudian dikaitkan dengan rumusan masalah dan kerangka pemikiran.
Peneliti memberikan interpretasi terhadap data-data tersebut sesuai dengan pemahaman peneliti yang berkaitan dengan tema penelitian. Dalam tahap ini peneliti membandingkan data-data yang diperoleh untuk menguji kesesuaian antara data hasil dokumentasi, wawancara, studi pustaka, dan observasi. Hal ini dilakukan agar tidak terdapat bias antara data yang satu dengan yang lain. Kemudian, langkah terakhir adalah menyimpulkan data tersebut dan ditulis pada hasil penelitian.