KATA PENGANTAR
DAFTAR TABEL
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan bulan Juni 2006 hingga bulan Januari 2007, yang mencakup survey literatur, pengumpulan data, pengolahan data, dan penyusunan laporan. Kegiatan dilaksanakan di Laboratorium Klimatologi Departemen Geofisika dan Meteorologi Institut Pertanian Bogor.
3.2. Alat dan Bahan
Data yang dibutuhkan dalam studi ini antara lain :
• Data jumlah kasus DBD per bulan di Indonesia tahun 1992 – 2005 (Sumber: Sub Direktorat Arbovirosis Direktorat PPBB Ditjen PPM-PL Depkes, RI)
• Data curah hujan wilayah Kabupaten Indramayu tahun 1992 – 2002
(Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu )
• Data Jumlah Penduduk tiap kabupaten di Indonesia
(Sumber: Sub Direktorat Arbovirosis Direktorat PPBB Ditjen PPM-PL Depkes, RI dan BPS, Jakarta)
• Peta Wilayah Kajian
(Sumber: Labklim- IPB, 2006 ) Alat yang digunakan dalam studi ini adalah Seperangkat Komputer dengan aplikasi Microsoft Office dan Arc View 3.3 untuk pengolah data dan pemetaan tingkat kerawanan DBD.
3.3. Metode Penelitian
Penelitian terdiri dari dua tahap.
Tahap pertama penyusunan peta sebaran
tingkat kerawanan IR DBD tingkat Kabupaten. Tahap kedua analisis pengaruh pola hujan terhadap jumlah IR DBD di Kabupaten Indramayu.
3.3.1 Penyusunan Peta Sebaran Tingkat Kerawanan
Penyusunan peta sebaran tingkat kerawanan melalui tiga tahap yaitu:
Incidence Rate (IR) rata-rata, menentukan frekuensi tahun kejadian dan menentukan deret tahun kejadian demam berdarah. 3.3.1.1. Menentukan Incidence Rate (IR)
Rata-rata
Tahap pertama Berdasarkan data kasus
DBD perbulan tiap kabupaten ditentukan nilai IR per tahun tiap kabupaten dengan menggunakan persamaan: IR = Penduduk uduk JumlahPend erita JumlahPend 000 . 100 ×
Tahap kedua. Mengklasifikasikan nilai IR menurut Sasaran Indonesia Sehat 2010
(www. depkes.co.id) dengan klasifikasi
sebagai berikut: Ringan : IR < 5 Sedang : 5 ≤ IR < 20 Berat : IR ≥ 20 Dimana:
IR Ringan: Jika jumlah kasus DBD < 5 kasus per tahun
IR Sedang: Jika jumlah kasus DBD antara 5 – 10 kasus per tahun
IR Berat : Jika jumlah kasus DBD ≥ 20 kasus per tahun
Tahap Ketiga. Menentukan nilai IR rata- rata dengan persamaan sebagai berikut: IR R = a* IRr + b*IRs + c*IRb Dimana: RR : IR rata-rata IRr : Jumlah IR ringan IRs : Jumlah IR sedang IRb : Jumlah IR berat
a, b dan c adalah nilai pembobotan yang didapatkan dari pola sebaran data.
3.3.1.2. Menentukan Frekuensi Tahun Kejadian DDB
Tahun kejadian DBD adalah tahun ditemukan adanya kasus DBD. Frekuensi Kejadian (FK) ditentukan berdasarkan data
nilai IR setiap tahun untuk setiap kabupaten dengan kategori sebagai berikut: FK = 0 jika IR < 1
FK = 1 jika IR ≥ 1
Dimana:
• IR < 1 per tahun diasumsikan tidak ada kejadian DBD yang berarti frekuensi tahun kejadiannya dianggap sama dengan nol.
• IR ≥ 1 per tahun diasumsikan ada kejadian DBD yang berarti frekuensi tahun kejadiannya dianggap sama dengan satu.
3.3.1.3. Menentukan Deret Tahun Kejadian DBD (DKDBD)
DKDBD adalah deret tahun terdapatnya kasus DBD yang berturut-turut. Menentukan Deret Tahun Kejadian DBD (DKDBD) berdasarkan nilai IR DBD tiap tahun. Nilai IR tersebut diklasifikasikan dulu menurut Sasaran Indonesia Sehat 2010
(www. depkes.co.id) dengan klasifikasi
sebagai berikut: Ringan : IR < 5 Sedang : 5 ≤ IR < 20 Berat : IR ≥ 20
Selanjutnya ditentukan frekuensi tahun kejadian berdasarkan klasifikasi tersebut dengan persamaan sebagai berikut:
FKr = 0, jika IR > 5 FKr = 1, jika IR < 5 FKs = 0, jika IR bukan 5 ≤ IR < 20 FKs = 1, jika 5 ≤ IR < 20 FKb = 0, jika IR < 20 FKb = 1, jika IR ≥ 20
Dalam hal ini yang digunakan hanya nilai DKDBD terbesar (maksimum) berdasarkan deret frekuensi tahun kejadian DBD untuk kategori ringan, sedang dan berat. Untuk penentuan DKDBD berdasarkan persamaan berikut:
DKDBr = Max (FKr)
DKDBs = Max (FKs)
DKDBb= Max (FKb)
Dimana:
DKDBr = Deret tahun kejadian DBD ringan
DKDBs = Deret tahun kejadian DBD sedang
DKDBb = Deret tahun kejadian DBD berat
FKr = Nilai frekuensi kejadian ringan
(dihitung dari deret data IR per tahun untuk kategori ringan)
FKs = Nilai frekuensi kejadian sedang
(dihitung dari deret data IR per tahun untuk kategori sedang )
FKb = Nilai frekuensi kejadian berat
(dihitung dari deret data IR per tahun untuk kategori berat) Kemudian, menentukan nilai DKBB rata-rata dengan persamaannya sebagai berikut :
DKDBR = a*DKDBr + b * DKDBs + c
*DKDB b) Dimana:
DKDBR = Deret tahun kejadian DBD rata-
rata
DKDBr = Deret tahun kejadian DBD ringan
DKDBs = Deret tahun kejadian DBD sedang
DKDBb = Deret tahun kejadian DBD berat
a, b dan c adalah nilai pembobotan yang didapatkan dari pola sebaran data.
3.3.1.4. Menentukan Indeks Kerawanan DBD untuk Tiap Kabupaten
Menentukan Indeks Kerawanan (IK) DBD untuk tiap kabupaten (IK) dilakukan analisis dengan menggunakan rumus: IK = 0,3 * IRR + 0,3 * FK + 0,4 * DKDBR
Dimana:
IK : Indeks kerawanan IRR : IR rata -rata
FK : Frekuensi kejadian rata-rata DKDBR : Deret Tahun Kejadian DBD
( Nilai Pembobot untuk berat diberi lebih tinggi dari sedang dan ringan yaitu masing- masing 0.3, 0.3 dan 0.4 dimana yang tertinggi untuk yang mempertimbangkan deret tahun kejadian yang berat)
3.3.1.5. Menentukan Pembagian Kelas Tingkat Kerawanan.
. Pembagian kelas tingkat kerawanan berdasarkan sebaran nilai analisis indeks kerawanan DBD setiap kabupaten yang diperoleh. Kisaran nilai indeks dan tingkat kerawanan tiap kabupaten dilakukan seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Kisaran indeks dan tingkat kerawanan DBD N o Tingkat Kerawanan Selang Nilai Kerawanan 1 Aman Q0 2 Agak Aman Q0 < IK ≤ Q1 3 Agak Rawan Q1 < IK ≤ Q2 4 Rawan Q2 < IK ≤ Q3 5 Sangat Rawan IK > Q3 Dimana:
Q0 : nilai indeks kerawanan minimum.
Q1 : nilai kuartil I.
Q2 : nilai kuartil II (median).
Dalam penentuan nilai kisaran indeks dan tingkat kerawanan tiap kabupaten ini diasumsikan sebaran nilai indeks kerawanan menyebar menurut sebaran normal.
3.3.1.5. Pemetaan Indeks Kerawanan DBD tiap Kabupaten
Pemetaaan Indeks Kerawanan DBD dengan cara memindahkan nilai-nilai indeks kerawanan DBD tiap kabupaten ke peta dengan bantuan software Arc View 3.3
menggunakan sistem pewarnaan.
3.3.2. Analisis Data Curah Hujan dengan IR DBD (Studi Kasus: Kabupaten Indramayu)
Tahap pertama, mengklasifikasikan curah hujan bulanan berdasarkan ketentuan yang dikeluarkan BMG kedalam kategori sebagai berikut:
Normal : 85% < CHi/CHr < 115 %
Atas Normal : CHi/CHr > 115 %
Bawah Normal : CHi/CHr < 85%
Tahap kedua, menentukan rata-rata curah hujan tiga bulanan. Kemudian juga diklasifikasikan berdasarkan ketentuan BMG kedalam kategori normal, atas normal dan bawah normal. Tahap ketiga,
menentukan klasifikasi IR DBD bulanan kedalam kategori ringan, sedang dan berat berdasarkan Sasaran Indonesia Sehat 2010 sebagai berikut:
Ringan : IR < 0,42 Sedang : 0,42 ≤ IR < 1,67 Berat : IR ≥ 1,67
Tahap keempat, menentukan peluang kejadian DBD tingkat ringan, sedang dan berat pada kondisi curah hujan normal, atas normal dan bawah normal.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN