DAFTAR PUSTAKA
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret hingga Agustus 2011 di Bagian Pemodelan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung dan Laboratorium Klimatologi Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah seperangkat komputer dengan software
MATLAB versi 2008a, Minitab versi 15,
SPSS versi 16.0, Microsoft excel dan
Microsoft word 2007. Sedangkan data yang
digunakan adalah sebagai berikut:
a. Data Wind Profiler Radar (WPR) daerah
Pontianak, Manado, dan Biak berupa data kecepatan angin zonal harian periode 1 Januari 2007 – 31 Desember 2010 yang diperoleh dari website http://www.rish.kyoto-u.ac.jp/radar-group/blr/pontianak/data/
b. Data harian Real Time Multivariate MJO
(RMM1 dan RMM2) periode 1 Januari 2007 – 31 Desember 2010 yang diperoleh dari website http://cawcr.gov.au/staff/mwheeler/mapr
oom/RMM/RMM1RMM2.74toRealtime. txt.
c. Data curah hujan bulanan Pontianak
(0,00°LS; 109,37°BT), Manado (1,55°LU; 124,93°BT), dan Biak (1,18°LS; 136,10°BT) periode Januari 2007–Desember 2010 berbasis observasi
satelit TRMM (Tropical Rainfall
Measuring Mission) jenis 3B43.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini terdiri atas tiga tahap analisis yaitu:
3.3.1 Analisis Spektral
Analisis spektral yang digunakan yaitu
teknik Fast Fourier Transform (FFT) dan
transformasi wavelet. Analisis spektral pada penelitian ini digunakan untuk melihat periode osilasi dominan dari setiap gelombang yang
tersembunyi dari sebuah data time series.
3.3.2 Metode Korelasi dan Regresi Linear
Metode korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yaitu kecepatan angin zonal dengan RMM1 dan RMM2. Tahap ini dilakukan untuk melihat hubungan secara statistik antara dua variabel tersebut. Jika terdapat korelasi yang nyata dan signifikan maka data kecepatan angin zonal dapat digunakan untuk analisis selanjutnya, yaitu mengidentifikasi kejadian MJO di Indonesia.
3.3.3 Pemodelaan Berbasis ARIMA 3.3.3.1 Stasioneritas
Kestasioneran data merupakan kondisi yang diperlukan dalam analisis regresi deret waktu karena dapat memperkecil kekeliruan model. Jika data tidak stasioner maka harus dilakukan transformasi stasioneritas melalui proses diferensi. Ketidakstasioneran data diklasifikasikan atas tiga bentuk, yaitu:
1. Tidak stasioner dalam rata-rata hitung,
jika trend tidak datar (tidak sejajar sumbu waktu), dan data tersebar
2. Tidak stasioner dalam varians, jika trend
datar atau hampir datar tapi data tersebar membangun pola menyebar atau menyempit yang meliput secara seimbang trendnya (pola terompet).
3. Tidak stasioner dalam rata-rata hitung
dan varians, jika trend tidak datar dan data membangun pola terompet.
Untuk menelaah ketidakstasioneran data secara visual, tahap pertama dapat dilihat pada plot data atas waktu. Jika belum mendapatkan kejelasan, maka tahap berikutnya dapat dilakukan dengan melihat gambar plot ACF.
Pada gambar ACF, jika datanya tidak stasioner maka gambarnya akan membangun pola:
a. Menurun, jika data tidak stasioner dalam
rata-rata hitung (tren naik atau turun)
b. Alternating, jika data tidak stasioner
dalam varians
c. Gelombang, jika data tidak stasioner
dalam rata-rata hitung dan varians (Mulyana, 2004).
3.3.3.2 Fungsi Autokorelasi (ACF) dan Fungsi Autokorelasi Parsial (PACF)
Koefisien autokorelasi menunjukkan keeratan hubungan nilai peubah yang sama dalam periode waktu yang berbeda (Makridakis, 1999). Fungsi autokorelasi contoh (r) untuk lag atau beda waktu k yaitu:
∑ Z Z Z Z
∑ Z – Z , k , , , …
Seperti halnya autokorelasi yang merupakan fungsi atas lagnya, yang hubungannya dinamakan fungsi autokorelasi (ACF), autokorelasi parsial juga merupakan fungsi atas lagnya, dan hubungannya dinamakan Fungsi Autokorelasi Parsial
(partial autocorrelation function, PACF).
Koefisien autokorelasi parsial mengukur
keeratan hubungan antara Zt dan Zt-k dengan
menghilangkan pengaruh dari Zt-1, Zt-2,..., Z
t-k+1. Gambar dari ACF dan PACF dinamakan
korelogram (correlogram) dan dapat
digunakan untuk menelaah signifikansi autokorelasi dan kestasioneran data. Fungsi autokorelasi parsial pada lag ke-k dinotasikan oleh:
Økk = Corr (Z1, Zt-k | Zt-1, Zt-2,..., Zt-k+1)
kk
φ
adalah koefisien korelasi dalam distribusibivariat
Z Z
t,
t k− yang tergantung pada1
,
2,...,
1t t t k
Z
−Z
−Z
− + . Dengan kata lain,menentukan korelasi antara dua peubah
dan
t t k
Z Z
− dengan mengontrol peubahlainnya (
Z
t−1,Z
t−2,...,Z
t k− +1). Secara umumbentuk fungsi autokorelasi adalah
1 1 2 2
... , 1,2,...,
j k j k j kk j k
j k
ρ φ ρ=
=+φ ρ
=+ +φ ρ
−=
atau dapat ditulis
1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 ... 1 ... ... 1 k k k k k k kk k ρ ρ φ ρ ρ ρ φ ρ ρ ρ φ ρ − − − − ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜= ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ M M M M M
Fungsi autokorelasi digunakan untuk menentukan apakah secara statistik nilainya berbeda signifikan dari nol apa tidak. Untuk itu perlu dihitung simpangan bakunya dengan rumus sebagai berikut:
√
Nilai ordo dari proses autoregressive dan
moving average dapat diduga secara visual
dari plot ACF dan PACF dari data. Plot tersebut menampilkan distribusi koefisien autokorelasi dan koefisien autokorelasi parsial (Cryer, 1986).
¾ Model Autoregressive (AR)
Proses Autoregresif seperti namanya, adalah regresi pada dirinya sendiri. Proses
autoregresif
{ }Z
t orde p disingkat AR (p)memenuhi persamaan,
1 1 2 2
...
t t t p t p t
Z =φ Z
−+φ Z
−+ +φ Z
−+a
(2.5)Dimana,
Zt = deret waktu stasioner
Ø1, ..., Øp = koefisien atau parameter dari
model autoregressive
Zt-1, ..., Zt-p = Nilai masa lalu yang
berhubungan
at = residual pada waktu t
Model Autoregressive Orde Pertama AR (1)
Model AR (1) memenuhi,
1
t t t
Z =φZ
−+a
(2.6)(Cryer, 1986).
¾ Model Moving Average (MA)
Pada model moving average, nilai
Z
tbergantung error orde q sebelumnya. Moving
average orde q atau disingkat MA (q)
memenuhi persamaan,
1 1 2 2
...
t t t t q t q
Z = −a θa
−−θa
−− −θa
− (2.7)Dimana,
Zt = deret waktu stasioner
θ1, ..., θp = koefisien atau parameter dari
model moving average
at-q = residual lampau yang digunakan oleh
model
Model Moving Average Orde Pertama MA(1) Model MA (1) memenuhi, 1 1 t t t
Z = −a θa
− (2.8) (Cryer, 1986). ¾ 2.5.6 ModelAutoregressive-Moving Average (ARMA)
Jika diasumsikan deret waktu merupakan campuran dari autoregresif dan moving average maka modelnya menjadi,
1 1 2 2
...
1 1 2 2...
t t t p t p t t t q t q
Z=φZ
−+φZ
−+ +φZ
−+ −a θa
−−θa
−− −θa
−(2.9)
(Cryer, 1986).
Dimana Zt dan at sama seperti sebelumnya, Zt
adalah konstanta, Ø dan θ adalah koefisien
model.
{ }Z
t dikatakan proses campuranautoregressive moving average orde p dan q,
disingkat ARMA (p,q).
¾ Model
Autoregressive-Integrated-Moving Average (ARIMA)
Model ARIMA didapatkan apabila data yang dianalisis merupakan data yang tidak stasioner sehingga perlu dilakukan proses differensi (pembedaan).
Tinjau model AR(1):
1
t t t
Z =φZ
−+a
(2.10)Terlihat dari persamaan (2.10) bahwa
a
ttidak berkolerasi dengan
Z
t−1,Z
t−2,...
. Agarsolusinya stasioner memenuhi persamaan
(2.10) haruslah
− < <11 φ
. Jika φ=1
,maka persamaan (2.10) menjadi
1
t t t
Z =Z
−+a
(2.11)atau
∇ =Z
ta
t (2.12)dimana
∇ =Z
tZ
t−Z
t−1 adalah pembedaanpertama dari
Z
.Proses stasioner dapat diperoleh dari hasil pembedaan data yang tidak stasioner. Variabel
acak
{ }Z
t dikatakan model integrasiautoregresif-moving average jika dibedakan sebanyak d kali dan merupakan proses ARMA yang stasioner. Disingkat ARIMA (p,d,q). Secara umum persamaan untuk model ARIMA (p,1,q), 1 1 2 2
...
1 1 2 2...
t t t p t p t t t q t qW=φW
−+φW
−+ +φW
−+ −a θa
−−θa
−− −θa
− (2.13) dimanaW
t=Z
t−Z
t−1, sehingga( ) ( )
1 1 1 2 2 2 3...
t t t t t tZ Z−
−=φ Z
−−Z
−+φ Z
−−Z
−+
(
1)
1 1 2 2 ... p Zt p Zt p at at at q t qaφ
− − −θ
−θ
−θ
− + − + − − − −Sehingga model ARIMA (1,1,1) memenuhi persamaan:
(2.14) (Cryer, 1986).
Nilai ordo dari proses autoregressive dan
moving average diduga secara visual dari plot
PACF dan ACF dari data. Plot tersebut menampilkan distribusi koefisien autokorelasi dan koefisien autokorelasi parsial.
Tahapan utama yang diperlukan dalam metode Box-Jenkins adalah:
Gambar 7 Skema pendekatan Box-Jenkins.
• Tahap 1: Identifikasi Model
Tahap identifikasi model meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Membuat plot data (time plot) yang
bermanfaat untuk melihat secara kasat mata apakah data stasioner atau tidak.
b.Memeriksa plot dari fungsi autokorelasi
(ACF) dan fungsi autokorelasi parsial (PACF) untuk melihat model dari data.
Apabila ACF signifikan pada lag (lead
time) q dan PACF menurun secara
eksponensial, maka data dapat dimodelkan dengan model moving average derajat q (MA (q)) dan jika ACF turun secara eksponensial dan PACF signifikan pada lag p, maka data dapat dimodelkan dengan model autoregresif derajat p (AR (p)). Apabila kedua hal tersebut tidak diperoleh, ada kemungkinan model merupakan proses gabungan AR dan MA atau ARMA (p,q). Jadi untuk menentukan orde dari proses AR adalah dengan melihat PACF. Sementara proses MA untuk menentukan orde dari model ini digunakan ACF. Namun baik ACF maupun PACF dari masing-masing model harus tetap diperhatikan karena bisa saja model yang diperoleh adalah model
ARMA. Oleh karena itu untuk mengidentifikasi model deret waktu lebih baik digunakan kedua-duanya yaitu ACF dan PACF.
Tabel 3 Identifikasi p dan q melalui nila ACF dan PACF
ACF PACF Model Tentatif
Cut – off pada lag ke- q
Tails off MA(q)
Tails off Cut off
pada lag ke- p AR(p) Cut off pada lag ke- q Cut off pada lag ke- p
MA(q) atau AR(p), pilih model terbaik
Tails off Tails off ARMA(p, q)
Cek pada berbagai
kombinasi p dan q. Misal ARMA(1, 1), ARMA(1, 2), dsb. Kemudian pilih model terbaik. Tails off (slowly) Model tidak stasioner.Perlu proses pembedaan (differencing) terlebih dahulu hingga data menjadi stasioner.
Sumber: Mulyono (2000)
• Tahap 2: Pendugaan Parameter Model
Untuk membantu memilih model tentative
(sementara), menggunakan hasil analisis autokorelasi dan autokorelasi parsial dengan panjang lag tertentu. Cara yang dapat dilakukan pada tahap ini yaitu:
1. Dengan cara mencoba-coba (trial and
error) yaitu menguji beberapa nilai yang
berbeda dan memilih satu nilai tersebut (atau sekumpulan nilai, apabila terdapat lebih dari satu parameter yang akan ditaksir) yang meminimumkan jumlah
kuadrat nilai sisa/ nilai galat (sum of
squared residuals).
2. Perbaikan secara iteratif yaitu memilih
taksiran awal dan kemudian membiarkan program komputer memperhatikan penaksiran tersebut secara iteratif. (Makridakis, 1999)
• Tahap 3: Pengujian atau Validasi Model
Setelah model ARIMA sementara ditentukan, tahap berikutnya adalah melakukan pemeriksaan diagnostik untuk
Ya Tidak Tahap 1: Identifikasi Tahap 2: Penaksiran dan Pengujian Tahap 3: Penerapan Rumuskan kelompok model-model yang umum
Pemeriksaan diagnostik Penaksir parameter pada
model sementara Penetapan model untuk
sementara
Gunakan model untuk peramalan
menguji kelayakan model sehingga model sementara tersebut cukup memadai. Salah satu caranya adalah dengan menganalisis galat (residual). Galat merupakan selisih antara data observasi dengan data hasil keluaran model.
• Tahap 4: Prakiraan
Langkah ini merupakan langkah terakhir dimana kita bisa membuat prakiraan
(forecasting) dari model yang telah kita buat.