VI. HASIL ESTIMASI MODEL EKONOMI MIGRASI
6.1.1.3. Migrasi Keluar dari Jawa ke Sumatera,
Hasil estimasi persamaan migran keluar dari Jawa ke Sumatera menunjukkan nilai R2 = 0.6723. Artinya 67.23 persen variasi variabel migran keluar dari Jawa ke Sumatera mampu dijelaskan oleh variasi variabel-variabel penjelasnya. Hasil estimasi ini juga memperlihatkan produk domestik regional bruto di Jawa (GRDPJ) berhubungan negatif dan berpengaruh nyata terhadap jumlah migran dari Jawa ke Sumatera. Nilai parameter estimasi untuk variabel GRDPJ menunjukkan peningkatannya sebesar 10 milyar rupiah akan menurunkan jumlah migran dari Jawa ke Sumatera sebesar 14 orang. Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian Dreher dan Poutvaara (2005) yang menyatakan faktor penarik dan pendorong dari migrasi adalah pendapatan (GDP) penduduk antara daerah asal dan daerah tujuan. Jika pendapatan migran di daerah asal lebih besar dibandingkan dengan daerah tujuan, maka penduduk daerah asal memutuskan untuk tidak melakukan migrasi. Hasil estimasi setiap parameter untuk persamaan migran keluar dari Jawa ke Sumatera dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Hasil Estimasi Persamaan Migran Keluar dari Jawa ke Sumatera
Nama Variabel Variabel Estimasi Parameter Elastisitas Jangka Pendek Migran Jawa-Sumatera Intersep
Produk Domestik Regional Bruto di Jawa Permintaan TK di Jawa
Permintaan TK di Sumatera Penduduk di Jawa
Pengeluaran Infrastruktur di Sumatera
MIGJS GRDPJ DTKJ DTKS POPJ GEXIS 1428856.0000 -1.3531a -0.0556c 0.2539b 9.1636 113.3739b -0.1578 -0.7974 1.2014 0.3049 0.0387 R2 = 0.6723 Fhit = 6.1500a DW = 1.5322
Permintaan tenaga kerja di Jawa berpengaruh negatif terhadap jumlah migran dari Jawa ke Sumatera. Permintaan jumlah tenaga kerja di daerah asal merupakan faktor yang menahan seseorang untuk melakukan migrasi. Nilai parameter estimasi menunjukkan peningkatan jumlah permintaan tenaga kerja di daerah asal sebanyak 1000 orang akan menurunkan jumlah migran dari Jawa ke Sumatera sebanyak 56 orang. Respon migran dari Jawa ke Sumatera terhadap permintaan tenaga kerja bersifat elastis dalam jangka pendek.
Sebaliknya permintaan jumlah tenaga kerja di Sumatera berhubungan positif dengan jumlah migran dari Jawa ke Sumatera. Variabel ini merupakan faktor penarik bagi migran dari Jawa untuk migrasi ke Sumatera. Hasil estimasi parameter menunjukkan jika jumlah permintaan tenaga kerja di pulau tersebut meningkat sebanyak 1000 orang akan meningkatkan jumlah migran dari Jawa sebanyak 254 orang. Respon migran dari Jawa ke Sumatera terhadap permintaan tenaga kerja di Jawa bersifat inelastis dalam jangka pendek. Kondisi ini sejalan dengan model migrasi Todaro yang menyatakan para migran selalu mempertimbangkan dan membandingkan pasar kerja di daerah asal dan daerah tujuan. Apabila pasar kerja di daerah tujuan lebih besar dari daerah asal, dan
kemungkinan mendapat keuntungan yang lebih besar di daerah tujuan maka keputusannya adalah melakukan migrasi (Todaro, 1998).
Tabel 18 juga memperlihatkan jumlah penduduk di Jawa berhubungan positif tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah migran dari Jawa ke Sumatera. Hasil estimasi memperlihatkan nilai parameter estimasi untuk jumlah penduduk di Jawa adalah 9.1636, artinya peningkatan jumlah penduduk di Jawa sebanyak 1000 orang, hanya meningkatkan jumlah migran dari Jawa ke Sumatera sebesar 9 orang. Kondisi ini menunjukkan sulitnya mendorong penduduk Jawa untuk migrasi keluar Jawa. Tingginya tingkat kepadatan penduduk, tidak menjadi hambatan bagi penduduk di pulau tersebut untuk terus bertahan. Oleh karena itu diperlukan suatu usaha keras untuk meningkatkan distribusi penduduk baik melalui program transmigrasi maupun program lain yang mampu merangsang dan mengarahkan migrasi swakarsa agar persebaran penduduk lebih merata antara Jawa dan luar Jawa. Banyak hal positif yang diperoleh dengan adanya distribusi penduduk, khusus dalam bidang ekonomi. Distribusi penduduk merupakan salah satu faktor yang mendorong pembangunan, dimana distribusi penduduk berarti menyediakan tenaga kerja serta keterampilan baik untuk perluasan produksi di daerah-daerah maupun pembukaan lapangan kerja baru. Di samping itu, akan timbul integrasi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi, baik nasional maupun daerah.
Pengeluaran infrastruktur di Sumatera berhubungan positif terhadap jumlah migran keluar dari Jawa ke Sumatera. Sejalan dengan permintaan tenaga kerja, maka peningkatan pengeluaran infrastruktur akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat maupun daerah lain, sehingga dapat mendorong terjadinya migrasi. Hasil estimasi (Tabel 18) menunjukkan
peningkatan pengeluaran infrastruktur sebesar 1 milyar rupiah akan meningkatkan jumlah migran dari Jawa ke Sumatera sebanyak 113 orang. Respon migran dari Jawa ke Sumatera terhadap pengeluaran infrastruktur bersifat inelastis.
Kalimantan merupakan pulau yang mempunyai daya tarik bagi migran dari pulau yang penduduknya lebih padat. Umumnya para migran yang migrasi ke Kalimantan tidak mengikutsertakan anggota keluarganya. Jika migran tersebut sudah merasa cocok dan kesempatan untuk keberhasilannya di masa depan baik, maka seluruh keluarganya akan mengikuti migran tersebut. Dalam kondisi lain umumnya migrasi ke Kalimantan karena terkait dengan adanya kontrak kerja di perkebunan. Pada keadaan ini mereka akan mengikutsertakan keluarganya.
Hasil estimasi persamaan migran keluar dari Jawa ke Kalimantan (Tabel 19) menunjukkan secara parsial lag migran dari Jawa ke Kalimantan, upah di Jawa dan perubahan pengeluaran infrastruktur di Kalimantan berpengaruh nyata terhadap jumlah migran dari Jawa ke Kalimantan. Kondisi ini menunjukkan migran dari Jawa bersedia migrasi ke Kalimantan jika ada kesempatan kerja di pulau tersebut. Lag migran menunjukkan generasi migran terdahulu berperan sebagai sumber informasi dan motivasi, serta membantu memberikan bimbingan bagi migran yang baru dalam menyesuaikan diri di daerah tujuan. Sehingga mendorong terjadinya peningkatan migran dari Jawa ke Kalimantan setiap tahun.
Ditinjau dari nilai estimasi parameter, terlihat bahwa permintaan tenaga kerja di Kalimantan berhubungan positif terhadap migran keluar dari Jawa ke Kalimantan. Nilai parameter estimasi untuk variabel ini adalah 0.0141, artinya peningkatan permintaan tenaga kerja di Kalimantan sebanyak 1000 orang akan meningkatkan jumlah migran dari Jawa ke Kalimantan sebanyak 14 orang. Variabel ini merupakan faktor yang menarik migran dari Jawa untuk migrasi ke
Kalimantan. Respon migran dari Jawa ke Kalimantan terhadap permintaan tenaga kerja di Kalimantan bersifat inelastis dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Tabel 19 memperlihatkan nilai estimasi parameter untuk upah di Jawa menunjukkan peningkatan upah di Jawa sebesar 10 ribu rupiah akan menurunkan jumlah migran dari Jawa ke Kalimantan sebanyak 752 orang. Variabel ini merupakan faktor penahan migran dari Jawa untuk migrasi ke Kalimantan. Respon migran dari Jawa ke Kalimantan terhadap variabel ini bersifat inelastis dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Tabel 19. Hasil Estimasi Persamaan Migran Keluar dari Jawa ke Kalimantan
Elastisitas Nama Variabel Variabel Estimasi
Parameter Jangka Pendek Jangka Panjang Migran Jawa-Kalimantan Intersep Permintaan TK di Kalimantan Upah di Jawa Penduduk di Jawa
Perubahan Pengeluaran Infrastuktur di Kalimantan
Lag Migran Jawa-Kalimantan
MIGJK DTKK WJ POPJ PGEXIK LMIGJK -4441.7400 0.0141 -0.0752b 1.3431 38.0197b 0.8346a 0.0636 -0.0202 0.1577 0.3846 -0.1222 0.9535 R2 = 0.9975 Fhit = 1207.2200a DW= 1.5073
Jika penduduk di Jawa bertambah 1000 orang, hanya akan meningkatkan satu orang migran dari Jawa ke Kalimantan. Variabel ini seharusnya menjadi faktor pendorong bagi penduduk Jawa (supply push factor) untuk melakukan migrasi. Demikian juga dengan variabel perubahan pengeluaran infrastruktur, dimana variabel ini juga merupakan faktor pendorong migran dari Jawa untuk migrasi ke Kalimantan. Pengeluaran infrastruktur di Kalimantan tujuannya adalah untuk memperbaiki kondisi infrastruktur di pulau tersebut. Semakin baik kondisi infrastruktur maka semakin tinggi minat migran untuk migrasi ke pulau tersebut.
Selain itu dalam memperbaiki infrastruktur dibutuhkan tenaga kerja, maka peningkatan pengeluaran infrastruktur dapat meningkatkan permintaan tenaga kerja. Kondisi ini dapat menarik migran dari luar wilayah tersebut. Tabel 19 memperlihatkan nilai parameter estimasi perubahan pengeluaran infrastruktur adalah 38.0197, artinya setiap peningkatan pengeluaran pembangunan bidang infrastruktur sebesar 1 milyar rupiah, akan meningkatkan jumlah migran dari Jawa ke Kalimantan sebanyak 38 orang.
Persamaan migran keluar dari Jawa ke Sulawesi (Tabel 20) juga memiliki daya penjelas yang tinggi, ditinjau dari nilai R2= 7906. Artinya 79.06 variasi variabel migran keluar dari Jawa ke Sulawesi mampu dijelaskan oleh variabel-variabel penjelasnya. Hasil estimasi parameter dugaan untuk variabel-variabel permintaan tenaga kerja di Sulawesi berhubungan positif dengan migran keluar dari Jawa ke Sulawesi. Nilai parameter estimasi memperlihatkan peningkatan jumlah permintaan tenaga kerja di Sulawesi sebanyak 1000 orang akan meningkatkan jumlah migran dari Jawa ke Sulawesi sebanyak 39 orang. Respon migran dari Jawa ke Sulawesi terhadap permintaan tenaga kerja di Sulawesi bersifat inelastis dalam jangka pendek.
Tabel 20. Hasil Estimasi Persamaan Migran Keluar dari Jawa ke Sulawesi
Nama Variabel Variabel Estimasi Parameter Elastisitas Jangka Pendek Migran Jawa-Sulawesi Intersep Permintaan TK di Sulawesi Penawaran TK di Jawa Pengeluaran Infrastuktur di Sulawesi MIGJSL DTKSL STKJ GEXISL 87702.2300 0.0390 b 0.0003 30.4832 0.6531 0.0453 0.0318 R2 = 0.7906 Fhit = 21.3900a DW = 0.4875
Penawaran tenaga kerja di Jawa dan pengeluaran infrastruktur di Sulawesi juga berhubungan positif tetapi tidak mempengaruhi jumlah migran dari Jawa ke Sulawesi. Tabel 20 memperlihatkan juga bahwa migran keluar dari Jawa ke Sulawesi akan terjadi jika adanya kesempatan kerja di Sulawesi. Tetapi jika tidak ada kesempatan kerja di Sulawesi, meskipun jumlah penawaran tenaga kerja di Jawa semakin meningkat, hanya sedikit migran yang berkeinginan untuk migrasi ke Sulawesi.
Hasil estimasi parameter untuk migran keluar dari Jawa ke Pulau Lain (Tabel 21) juga menunjukkan daya penjelas yang tinggi, ditandai dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0.7327. Artinya 73.27 persen variasi variabel migran keluar dari Jawa ke Pulau lain mampu dijelaskan oleh variabel-variabel penjelas dalam persamaan tersebut. Hasil analisis uji t memperlihatkan semua variabel penjelas berpengaruh nyata terhadap migran keluar dari Jawa ke Pulau Lain. Tabel 21. Hasil Estimasi Persamaan Migran Keluar dari Jawa ke Pulau
Lain
Nama Variabel Variabel Estimasi Parameter
Elastisitas Jangka Pendek Migran Jawa - P.lain
Intersep
Lag Upah di Jawa
Perubahan Upah di P.Lain Pengangguran di Jawa
Pengeluaran Infrastuktur di P.Lain
MIGJP LWJ PWP UJ GEXIP 330586.5000 -0.5431b 0.7616b 0.0381b 172.2293b 0.2907 0.2021 R2 = 0.7327 Fhit = 10.9600a DW= 0.6285
Nilai estimasi parameter untuk variabel lag upah di Jawa dan upah di Pulau Lain memperlihatkan jika terjadi peningkatan upah di Jawa pada periode lalu sebesar 10 ribu rupiah per bulan, akan menurunkan jumlah migran dari Jawa ke Pulau Lain sebanyak 5431 orang. Sebaliknya jika upah di Pulau Lain
meningkat 10 ribu rupiah perbulan, maka akan meningkatkan jumlah migran dari Jawa ke Pulau Lain sebanyak 7616 orang.
Sementara itu peningkatan pengeluaran infrastruktur sebesar satu milyar rupiah, akan meningkatkan jumlah migran dari Jawa ke Pulau Lain sebanyak 172 orang. Jika ditinjau dari nilai estimasi parameter variabel pengangguran di Jawa, terlihat bahwa variabel ini berhubungan positif dengan jumlah migran dari Jawa ke Pulau Lain. Nilai estimasi parameternya adalah 0.0381, artinya peningkatan jumlah pengangguran di Jawa sebanyak 1000 orang, akan meningkatkan jumlah migran dari Jawa ke Pulau Lain sebanyak 38 orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa migrasi dari Jawa ke Pulau Lain akan terjadi jika ada perbedaan upah yang diharapkan antara daerah asal dan daerah tujuan migran, serta adanya peluang untuk memperoleh pekerjaan di daerah tujuan. Jika peluang kerja daerah tujuan lebih besar dibandingkan dengan daerah asal maka keputusannya adalah migrasi. Hasil estimasi ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Darmawan (2007) yang menyatakan indikator ekonomi, yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita Atas Dasar Harga Konstan, Upah Minimum Provinsi (UMP) dan pengangguran menunjukkan hasil cukup signifikan, artinya tingkat migrasi yang terjadi akibat pengaruh daya tarik ekonomi yang dimasukkan ke dalam model. Respon migran dari Jawa ke Pulau Lain terhadap kedua variabel penjelas ini bersifat inelastis dalam jangka pendek.