BAB II: MIGRASI DAN FILANTROPI ISLAM; SUATU PERTUKARAN
A. Migrasi dan Diaspora …
1. Migrasi; Sebuah Definisi …
Secara umum, istilah migrasi didefinisikan sebagai bentuk perpindahan seseorang atau kelompok orang dari satu unit wilayah geografis menyeberangi perbatasan politik atau administrasi dengan keinginan untuk tinggal dalam tempo waktu tak terbatas atau hanya untuk sementara waktu di suatu tempat yang bukan
1
Wahyu Indah Pusputasari & Sri Kusreni, “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Migrasi Tenaga Kerja ke Luar Negeri Berdasarkan Provinsi di Indonesia”, dalam Jurnal Ekonomi Terapan, Vol. 02, No. 2 (Juni 2017), 50.
43
daerah asalnya atau tempat kelahirannya. Saat ini, terdapat sekitar 200 juta orang
di seluruh dunia yang tinggal di luar negara kelahiran atau kebangsaannya.3
Menurut Everett S. Lee, migrasi adalah perpindahan tempat tinggal secara permanen atau semi permanen. Tidak ada batasan pada jarak perpindahan maupun sifatnya, yaitu apakah perpindahan itu dekat atau jauh, ada unsur keterpaksaan atau sukarela, baik migrasi internal maupun eksternal, bahkan hanya berpindah
dari satu apartemen ke apartemen lain sudah bisa disebut migrasi.4
Menurut Leake, migrasi bisa terjadi dalam bentuk dan skala yang beracam-macam, di antaranya adalah; intercontinental, yaitu migrasi antar benua yang berbeda, intracontinental, yaitu migrasi di dalam satu benua, dan interregional,
yaitu migrasi di dalam satu kawasan atau negara.5
Hugo membagi migrasi menjadi dua macam, yaitu migrasi permanen dan migrasi non permanen. Perbedaan antara dua macam migrasi tersebut adalah terletak pada tujuan migrasi tersebut. Jika seorang migran bertujuan untuk pindah tempat tinggal ke daerah tujuan secara tetap, migran tersebut dikatagorikan sebagai migran permanen, sebaliknya jika tidak ada niat untuk menetap selamanya
di tempat tujuan maka dikategorikan sebagai migran sirkuler.6
Lea Jellinek mengatakan migran sirkuler adalah migran yang meninggalkan daerah asal hanya untuk mencari nafkah, tetapi mereka menganggap dan merasa
3
International Organization for Migration, Migrasi Tenaga Kerja Dari Indonesia (2010), 3.
4
Everett S. Lee, “a Theory of Migration”, dalam Demography, Vol. 3, No. 1, (1966), 49.
5
Leake, Pulau Puteri, 1.
6
Graeme J. Hugo, “Migrasi Sirkuler”, dalam Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Kemiskinan di Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1986), 59-83.
44
tempat tinggal permanen mereka di tempat asal, karena di tempat asal itulah
mereka meninggalkan istri dan anak-anaknya serta seluruh kekayaannya.7
Di sisi lain, migrasi juga dibedakan dalam 2 kelompok besar, yaitu; migrasi antarnegara (dari satu negara ke negara lain) dan migrasi dalam negeri. Migrasi antarnegara memiliki beberapa jenis; yaitu imigrasi, emigrasi dan remigrasi. Yang dimaksud dengan imigrasi adalah masuknya penduduk dari suatu negara menuju negara lain. Sedangkan emigrasi kebalikannya, yaitu keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain. Sementara yang dimaksud remigrasi adalah kembalinya penduduk ke negara asalnya dari negara lain yang sebelumnya ditinggali sementara.
Sedangkan migrasi dalam negeri juga dibagi dalam beberapa jenis; pertama, “transmigrasi” yaitu perpindahan penduduk dari suatu daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya. Kedua, “urbanisasi” yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota. Ketiga, “ruralisasi”, kebalikan dari urbanisasi, yaitu perpindahan dari kota ke desa. Keempat, ada lagi yang disebut “evakuasi” yaitu perpindahan akibat ancaman keamanan atau bencana. Kelima, “forensen” yaitu aktivitas pulang pergi ke kota. Keenam, “turisme” yaitu perjalanan ke daerah wisata dengan tujuan menetap sementara.
Istilah migrasi juga disebut “merantau”. Menurut Vredenbregt, kata “merantau” mengandung pengertian perpindahan ke daerah lain yang hanya bersifat sementara. Kata “merantau” inilah yang biasa digunakan oleh masyarakat
Bawean bagi mereka yang keluar dari Pulau Bawean, baik mereka pergi ke
7
Tri Joko S. Haryono, “Jaringan Sosial Migran Sirkuler; Analisis Tentang Bentuk dan Fungsi” dalam Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Jurusan Antropologi FISIP Universitas
45
kepulauan nusantara maupun ke luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya mereka keluar dari Pulau Bawean dan pindah ke daerah lain hanya berniat sementara, namun terkadang kata sementara tersebut hanya merupakan keinginan yang tidak dapat dipenuhi, sebab keadaan sebenarnya yang dihadapi
oleh Orang Boyan di Singapura sebagai akibat dari faktor sentripental.8
Kata “merantau” sama dengan “bermigrasi”, namun kata “merantau” merupakan salah satu tipe khusus dari migrasi yang memiliki konotasi budaya tersendiri yang tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa barat manapun. Kata “merantau” adalah istilah Melayu, Minangkabau, dan Bawean. “merantau” berasal dari kata “rantau” yang berarti pantai sepanjang teluk (sungai), pesisir (lawan darat), daerah (negara) di luar daerah (negara) sendiri. Sedangkan merantau artinya berlayar mencari penghidupan di sepanjang rantau (dari satu sungai ke sungai lain), pergi ke pesisir, pergi ke negara lain untuk
mencari penghidupan, ilmu, dan sebagainya.9
Menurut Muchtar Naim, dilihat dari sudut sosiologi, istilah “merantau”
mengandung enam unsur pokok berikut:10
a. Meninggalkan kampung halaman b. Dengan kemauan sendiri
c. Untuk jangka waktu lama
d. Dengan tujuan mencari penghidupan, menuntut ilmu atau mencari pengalaman
8
Vredenbregt, Bawean dan Islam, 85.
9
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta; Pusat Bahasa, 2008), 1264.
10
Muchtar Naim, Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau (Jakarta; PT. Radja Grafindo Persada, 2013), 3-6.
46
e. Biasanya dengan maksud kembali pulang
f. Merantau ialah lembaga sosial yang membudaya
Kriteria pertama (merantau dengan meninggalkan kampung halaman) memberi ruang gerak untuk menafsirkan pengertian “jarak” menurut perkembangan waktu. Pulau Bawean merupakan pulau kecil yang terpisah dari pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya, sehingga mudah sekali untuk menetapkan batas merantau bagi warga Bawean. Jika sudah keluar dari Pulau Bawean maka sudah dipandang “merantau”. Meskipun hanya ke daratan Gresik yang masih satu kabupaten dengan Bawean sudah dikatakan merantau. Begitu juga, istilah “berlayar” bagi warga Bawean berarti keluar dari Pulau Bawean menuju ke daerah lain meskipun tidak menggunakan perahu layar seperti zaman dahulu, namun menggunakan kapal cepat atau bahkan menggunakan pesawat terbang.
Kriteria kedua (karena kemauan sendiri) merupakan ciri yang membedakan antara merantau dengan migrasi jenis lain. Dalam definisi migrasi tidak ada pembatasan apakah migrasi itu dilakukan atas dasar keinginan migran itu sendiri atau tidak. Ada beberapa penulis yang menggarisbawahi perlunya unsur “volition”
(kemauan sendiri) dan memasukkannya ke dalam definisi migrasi mereka. Misalnya, Brinley Thomas yang memandang migrasi sebagai “gerakan perpindahan (termasuk perubahan tempat tinggal tetap) dari satu negeri ke negeri yang lain yang terjadi disebabkan kemauan sendiri dari yang bersangkutan, baik secara perorangan maupun kelompok”. Namun, tidak disebutkan apakah perorangan atau kelompok tersebut merencanakan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakannya di tempat kerja yang baru. Ciri “kemauan sendiri” dari merantau ini
47
juga membedakannya dari jenis migrasi yan “non-voluntair” yang secara umum diasosiasikan dengan transmigrasi orang Jawa ke luar Jawa. Transmigrasi ialah perpindahan penduduk yang direncanakan dan dirangsang dari Pulau Jawa yang padat ke pulau-pulau di luar Jawa yang jarang penduduknya dan diatur oleh pemerintah.
Dalam definisi migrasi tidak ditemukan perbedaan jangka waktu tertentu sehingga tidak dapat dibedakan antara migrasi dengan kunjungan biasa, sekalipun terkadang, ada perbedaan antara migrasi sementara dengan migrasi permanen. Bagaimanapun juga, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memberikan saran mengenai migrasi internasional, yaitu: kepergian selama setahun atau lebih harus dipandang sebagai migrasi, sedangkan menetap dalam jangka waktu yang lebih pendek harus digolongkan sebagai kunjungan.
Masalah “merantau” bukan lamanya menetap di rantau itu sendiri yang membedakannya dengan kunjungan biasa, melainkan adanya tujuan dan pengertian bahwa merantau adalah migrasi temporer, sekalipun ia mungkin berakhir dengan menetap selamanya.
Kesimpulannya adalah migrasi merupakan istilah yang umum atau common denomination untuk segala jenis perpindahan tempat tinggal, dekat atau jauh, dengan kemauan sendiri atau tidak, untuk sementara atau untuk selamanya, ada tujuan yang pasti atau tidak, ada maksud untuk kembali pulang atau tidak, melembaga secara sosial dan kultural atau tidak. Akan tetapi, “merantau” adalah
48
Migrasi tenaga kerja internasional biasanya didefinisikan sebagai perpindahan manusia yang melintasi perbatasan negara untuk tujuan mendapatkan pekerjaan di negara lain, baik melalui cara yang resmi atau tidak resmi, baik difasilitasi negara atau tidak. Adanya migrasi tenaga kerja internasional telah meningkatkan jumlah angkatan kerja di negara tujuan dan dapat membantu
pembangunan di negara asalnya melalui pengiriman dana remitansi.11
Banyak negara di dunia yang terkena imbas, baik sebagai negara pengirim maupun negara tujuan. Beberapa negara mengalami fenomena tersebut secara serempak. Ada tren pencarian pekerjaan yang semakin meningkat di antara tenaga kerja dari negara-negara Asia, seperti Indonesia, India, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Bangladesh, Kamboja, Republik Laos, dan Vietnam untuk mencari kerja di negara asia lainnya, seperti Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunai Darussalam, Hongkong, dan lainnya sebagai negara tujuan utama. Sejak tiga dekade yang lalu banyak tenaga kerja dari Asia bermigrasi ke Timur Tengah
untuk mencari pekerjaan.12
Fenomena migrasi yang cukup mendapat perhatian pada dua dasawarsa terakhir ini adalah fenomena brain drain, yaitu pindahnya tenaga ahli, pemikir, intelektual potensial ke negara lain dengana alsan minimnya lapangan kerja di negara asal. Fenomena ini ditanggapi secara bebeda oleh kepentingan yang berbeda. Bagi negara yang warga terbaiknya bermigrasi ke luar negeri, brain drain dianggap sebagai kehilangan sumber daya manusia berharga. Di sisi lain,
11
49
negara yang mendapat keuntungan dari hadirnya sumber daya migran terdidik brain drain ditangapi sebagai brain gain.13