• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Mikroorganisme bentik estuari Sungai Cisadane

Organisme bentik memainkan peranan yang vital dalam jejaring makanan serta daur mineral di ekosistem estuari. Di samping itu, keberadaan mikroorganisme bentik estuari juga menggambarkan sumber nitrogen (nutrien) bagi ekosistem. Keberadaan mikroorganisme ini dipengaruhi oleh kekayaan bahan organik yang tersedia pada ekosistem tempet mereka berada (Kennish, 1990). Di bagian estuari, peran mikroorganisme bentik menjadi begitu penting mengingat kekhasan yang dimiliki oleh ekosistem ini. Pencemaran serta proses

pencampuran antara air laut dan air tawar di bagian estuari menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari organisme pengurai ini (Schlegel, 1994).

4.2.1 Kepadatan total meiofauna.

Kepadatan total meiofauna memperlihatkan nilai yang berbeda pada masing- masing stasiun pengamatan. Akan tetapi, perbedaan nilai tersebut bisa dikatakan tidak terlalu jauh, dimana pada stasiun satu memiliki kepadatan sebesar 1.867 inividu/m2 sedangkan pada stasiun dua yaitu sebesar 1.933 individu/m2 (Gambar 8). Hasil analisis stastistik dengan menggunakan uji-t memperlihatkan bahwa nilai kepadatan antara kedua stasiun menjukkan tidak adanya perbedaan yang cukup signifikan dengan nilai P > 0,05 (Lampiran 3).

Meiofauna hidup di substrat dasar perairan sebagai deposit feeder dengan memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Perairan yang kaya akan bahan organik merupakan tempat yang kaya akan makanan bagi meiofauna. Total kepadatan meiofauna dapat mencapai 106 individu/m2 (Day et al., 1987). Jika dibandingkan dengan pernyataan Day et al. (1987) di atas, total kelimpahan meiofauna yang ditemukan pada kedua stasiun pengamatan dapat dikatakan sangat rendah. Hal tersebut diduga karena rendahnya kandungan oksigen di lapisan sedimen sungai. Kandungan oksigen terlarut dan arus merupakan faktor abiotik yang paling penting bagi populasi meiofauna. Sebagian besar kelompok meiofauna yang hidup di perairan mengalir membutuhkan oksigen untuk respirasi, beberapa studi menyebutkan bahwa terdapat suatu hubungan yang nyata antara kandungan oksigen terlarut dengan populasi meiofauna (Rouch, 1991; Boulton et al., 1991 in Hauer dan Lamberti, 1996).

Keberadaan meiofauna pada ekosistem sungai dipengaruhi oleh faktor fisik lingkungan tempat hidupnya, seperti tipe substrat, suhu, dan salinitas. Di kawasan estuari yang sebagian besar memiliki jenis substrat berlumpur dan berpasir, serta dengan salinitas yang cukup tinggi memungkinkan ekosistem ini hanya dihuni oleh beberapa jenis meiofauna tertentu saja (Kennish, 1990).

Stasiun 1 K ep ad at an t o tal ( in d /m l) 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 Stasiun 2

Gambar 8. Kepadatan total meiofauna pada stasiun yang berbeda

Komposisi jenis meiofauna yang ditemukan pada kedua stasiun didominasi oleh kelas Nematoda, yaitu 96% dan 94% masing masing untuk stasiun 1 dan 2. Disamping itu, pada stasiun 1, ditemukan pula meiofauna dari kelas Nemertina dengan persentase 1%. Pada stasiun 2, meiofauna dari kelas Chiliopora dan Tubellaria ditemukan dengan persentase masing-masing sebesar 3% (Tabel 4).

Tabel 4. Persentase jumlah kelompok meiofauna yang ditemukan pada stasiun pengamatan.

Stasiun Chiliopora Nematoda Nemertina Tubellaria

1 0 11 0 0 0 10 0 0 0 6 1 0 Rataan 0 9 0,333 0 Persentase 0% 96% 4% 0% 2 0 10 0 0 0 6 0 1 1 11 0 0 Rataan 0,333 9 0 0,333 Persentase 3% 94% 0% 3%

Jenis meiofauna yang ditemukan pada kedua stasiun pengamatan merupakan jenis meiofauna dari kelompok cacing. Menurut Bortone (1995), meiofauna kelompok cacing, adalah kelompok meiofauna yang mampu hidup pada kondisi lingkungan yang tercemar sekalipun. Di samping itu, kelompok meiofauna ini hidup meliang pada substrat yang halus seperti lumpur atau liat, seperti yang ditemukan pada stasiun pengamatan 1 dan 2.

Higgins dan Thiel (1988) memberikan penjelasan bahwa meiofauna dari kelompok Nematoda merupakan meiofauna yang dapat hidup pada berbagai jenis substrat. Kemampuannya untuk mampu hidup pada salinitas yang sangat tinggi membuat Nematoda menjadi kelompok meiofauna yang kosmopolit. Disamping itu meiofauna kelompok ini juga mampu hidup pada perairan dengan rentang suhu yang sangat lebar. Nematoda juga dapat hidup pada kondisi oksigen yang rendah sekalipun, bahkan pada kondisi anoksik.

4.2.2 Kelimpahan total koloni bakteri

Mikroorganisme akuatik, khususnya di sedimen perairan berpengaruh penting terhadap kandungan oksigen yang ada di lapisan atas sedimen. Sebagai dekomposer, bakteri membutuhkan oksigen dalam proses penguraian bahan organik di sedimen (Wetzel, 1983). Jumlah total koloni bakteri yang ditemukan pada kedua stasiun tidak terlalu memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan. Jumlah total koloni bakteri yang ditemukan pada stasiun 1 adalah 5,15x1010 CFU/ml. Sedangkan pada stasiun 2 adalah 3,0x1010 CFU/ml (Gambar 9). Nilai tersebut sesuai dengan pernyataan Kennish (1990) yang mengatakan bahwa konsentrasi bakteri di estuari bisa mencapai 106 sampai 107cell/ml bahkan lebih. Kennish (1990) juga menjelaskan bahwa tingginya jumlah bakteri di perairan memiliki korelasi positif dengan kandungan bahan organik yang terdapat di perairan tersebut.

Hauer dan Lamberti (1996) menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah bahan organik di perairan akan berpengaruh pula pada meningkatnya oksigen yang dibutuhkan untuk mendekomposisi bahan organik tersebut. Akan tetapi, jumlah total mikroorganisme yang menguraikannya juga berpengaruh terhadap

penurunan kandungan oksigen terlarut di bagian dasar perairan, karena semakin banyak jumlah bakteri yang menguraikan bahan organik di sedimen perairan, maka akan semakin banyak pula oksigen yang dibutuhkan untuk proses dekomposisi. Hal itu pula yang mempercepat proses penurunan oksigen di lapisan dasar perairan.

Stasiun 1 Stasiun 2 Ko lo n i b a k te ri ( CF U / m l) 0 1e+10 2e+10 3e+10 4e+10 5e+10 6e+10 7e+10

Gambar 9. Kelimpahan total bakteri pada stasiun yang berbeda

Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji-t menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara jumlah koloni bakteri yang ditemukan di kedua stasiun dengan nilai P < 0,05 (Lampiran 2). Tingginya total kelimpahan bakteri di stasiun 1 diduga karena kandungan bahan organik di stasiun 1 juga lebih besar dibanding stasiun 2. Menurut Kennish (1990) kelimpahan total bakteri di perairan memiliki korelasi positif terhadap kandungan bahan organik di perairan tersebut. Selain itu, perbedaan tekstur di kedua stasiun juga diduga menyebabkan perbedaan kelimpahan bakteri yang ditemukan pada stasiun pengamatan. Menurut Rublee (1985) in Kennish (1990), perbedaan ukuran partikel sedimen memiliki korelasi yang kuat dengan kelimpahan bakteri. Dimana sedimen dengan partikel yang lebih halus akan memiliki kelimpahan bakteri yang lebih besar dibanding sedimen yang lebih kasar.

Dokumen terkait