b. Konsep Pembelajaran Terpadu dalam IPS
4. Minat Belajar Siswa a. Pengertian Minat Belajar
Minat belajar terdiri dari dua kata yakni minat dan belajar, dua kata ini beda arti, untuk itu penulis akan mendefinisikan satu persatu, sebagai berikut :
a. Minat menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap suatu gairah keinginan.
b. Menurut Alisuf Sabri minat adalah “suatu kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus”.25
c. Minat menurut Crow dan Crow, minat atau interest di artikan sebagai “kekuatan pendorong yang menyebabkan individu memberikan perhatian kepada seseorang, sesuatu, atau kepada aktivitas-aktivitas tertentu”. 26
d. William James (1890) melihat bahwa minat siswa merupakan “faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Jadi, minat
25
Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya 2007), cet. Ke-3, hal. 84
26
merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar”.27
e. Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang akan diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.
f. Minat adalah “suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat”.28
g. Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Berdasarkan Definisi-definisi di atas, bisa disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan jiwa yang relatif menetap kepada diri seseorang terhadap sesuatu dan biasanya disertai dengan perasaan senang. Menurut Berhard "minat" timbul atau muncul tidak secara tiba-tiba, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja, dengan kata lain, minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan. Sedangkan pengertian belajar adalah sebagai berikut :
a. Cronbach berpendapat bahwa “learning is shown by change in behavior
as a result of experience. Belajar adalah suatu aktivitas yang di
tunjukan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman”.29
27
M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 2006), cet. xix, h. 27
28Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta: PT. Rineka Cipta 2003), cet. Ke-IV, h. 180
29
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), cet. Ke-2, hal. 13
b. Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1997) menyatakan bahwa: “ belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”30
c. Dalam pengertian luas, belajar dapat diartikan sebagai “kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian dai kegiatan menuju terbentuknya kepribdian seutuhnya”.31
d. Arief S. Sadiman dkk, menyatakan dalam bukunya bahwa belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak ia masih bayi hingga liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap(afektif).32
e. Ausubel (1968), dalam teori bermaknanya menjelaskan bahwa belajar merupakan proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Dimana kita tahu bagaimana mekanisme memori menyimpan pengetahuan, yang jelas informasi-informasi yang kita dapat tersimpan dalam otak, menurut ahli dalam penyimpanan informasi melibat banyak sel. Dengan berlangsungnya belajar, dihasilkan perubahan-perubahan dalam sel-sel otak, terutama sel-sel yang menyimpan informasi.33
f. Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Belajar mulai dalam masa kecil ketika bayi memperoleh sejumlah kecil keterampilan yang sederhana, seperti
30
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 2007), cet. Ke-5, hal. 84
31
Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2003), cet. Ke-10, hal. 20-21
32
Arief S. Sadirman dkk, Media Pendidikan (Jakarta : PT. Grafindo Persada 2008), cet. Ke-1, hal. 2
33
Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada Press 2003), Cet. 103, h. 103
memegang botol susu dan mengenal ibunya. Selama masa kanak-kanak dan masa remaja, diperoleh sejumlah sikap, nilai dan keterampilan hubungan sosial, demikian pula diperoleh kecakapan dalam berbagai mata pelajaran sekolah.34
g. Bigss (1991) dalam pendahuluan Teaching for Learning The View frin Cognitive Psychology mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu: rumusan kuantitatif; (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sbanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa. Rumusan institusional (tinjauan kelembagaaan), belajar dipandang sebagai proses validasi(pengabsahaan) terhadap pengusaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukan siswa telah belajar dapat diketahui dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar. Rumusan Kualitatif (tinjuan mutu) ialahprose memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.35
Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar itu menimbulkan suatu perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan perubahan itu dilakukan lewat kegiatan, atau usaha yang disengaja dan belajar juga bisa dikatakan sebagai perubahan perilaku seseorang akibat pengalaman yang ia dapat melalui pengamatan, pendengaran, membaca, dan meniru.
Jadi, yang dimaksud dari minat belajar adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa gejala, seperti : Gairah, keinginan, perasaan suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain, minat belajar itu adalah perhatian, rasa suka, ketertarikan seseorang (siswa) terhadap belajar yang ditunjukkan melalui keantusiasan, partisipasi dan keaktifan dalam belajar.
34
Margaret E. Bell Greder, Belajar dan Membelajarkan, (Jakarta, PT. Grafindo Persada 2005), cet. 1, h. 1
35Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu 1999), cet. Ke-2, h. 63
Minat ini besar pengaruhnya terhadap belajar, karena minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan siswa, bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, sebab tidak ada daya tarik baginya. Oleh karena itu, untuk mengatasi siswa yang kurang berminat dalam belajar, guru hendaknya berusaha bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar. Dalam artian menciptakan siswa yang mempunyai minat belajar yang besar, mungkin dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik, salah satunya adalah mengembangkan variasi dalam gaya mengajar. Dengan variasi ini siswa bisa merasa senang dan memperoleh kepuasan terhadap belajar.
Minat mengandung unsur-unsur kognisi (mengenal), emosi (perasaan), dan konasi (kehendak). Oleh sebab itu, minat dapat dianggap sebagai respon yang sadar, sebab kalau tidak demikian, minat tidak akan mempunyai arti apa-apa.
Unsur kognisi maksudnya adalah minat itu didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai obyek yang dituju oleh minat tersebut unsur emosi, karena dalam partisipasi atau pengalaman itu disertai oleh perasaan tertentu, seperti rasa senang, sedangkan unsur konasi merupakan kelanjutan dari unsur kognisi. Setelah mengenal suatu obyek maka selanjutnya akan timbul kehendak untuk mengenal atau tidak mau mengenal lebih jauh.
Dari kedua unsur tersebut yaitu yang diwujudkan dalam bentuk kemauan dan hasrat untuk melakukan suatu kegiatan, termasuk kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah seperti pembelajaran ataupun belajar.
Jadi minat sangat erat hubungannya dengan belajar, belajar tanpa minat akan terasa menjemukan, dalam kenyataannya tidak semua belajar siswa didorong oleh faktor minatnya sendiri, ada yang mengembangkan minatnya terhadap materi pelajaran dikarenakan pengaruh dari gurunya, temannya, orang tuanya. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab sekolah untuk
menyediakan situasi dan kondisi yang bisa merangsang minat siswa terhadap belajar.
Membangkitkan minat belajar siswa itu juga merupakan tugas guru yang mana guru harus benar-benar bisa menguasai semua keterampilan yang menyangkut pengajaran, terutama keterampilan dalam bervariasi, keterampilan ini sangat mempengaruhi minat belajar siswa seperti halnya bervariasi dalam gaya mengajar, jika seorang guru tidak menggunakan variasi tersebut, siswa akan cepat bosan dan jenuh terhadap materi pelajaran. Untuk mengatasi hal-hal tersebut guru hendaklah menggunakan variasi dalam gaya mengajar, agar semangat dan minat siswa dalam belajar meningkat, jika sudah begitu, hasil belajarpun sangat memuaskan. Dan tujuan pembelajaran pun akan tercapai dengan maksimal.
Adapun indikator minat belajar pada penelitian ini sesuai dengan penjelasan diatas ialah sebagai berikut :
1. Perasaan Senang
Perasaan ialah “suatu jiwa untuk dapat mempertimbang dan mengukur sesuatu. Dan merupakan pernyataan jiwa yang sedikit banyak bersifat subyektif ”.36 Seorang anak yang berminat akan mempunyai sikap emosional yang tinggi salah satunya ialah perasaan senang. Perasaan senang ini akan memotivasi siswa untuk selalu belajar pelajaran yang diminatinya.
2. Perhatian
Untuk mencapai hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan atau materi
36Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta 1991), cet. 1, h. 36
pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka minat belajarpun rendah, jika begitu akan timbul kebosanan, siswa tidak bergairah belajar, dan bisa jadi siswa tidak lagi suka belajar. Sebaliknya siswa akan memperhatikan setiap penjelasan dari guru apabila dia minat terhadap apa yang di berikan oleh guru tersebut.
3. Kemauan untuk tahu lebih banyak
Kemauan fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu dan merupakan kekuatan dari dalam.37 Siswa yang memiliki minat akan mempunyai kekuatan dari dalam diri mereka untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi siswa yang memiliki minat terhadap suatu mata pelajaran akan mempunyai kemauan untuk lebih mengenal apa yang ingin diketahuinya
4. Partisipasi
Dalam proses pembelajaran, selain perhatian yang menunjukan minat siswa terhadap suatu pelajaran adalah partisipasi siswa pada saat mengikuti jalannya proses belajar mengajar. Siswa yang memiliki minat yang tinggi terhadap apa yang di pelajarinya akan selalu bertanya, mengemukakan pendapat ketika berdiskusi atau menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh guru yang mengajarnya.
Dengan adanya indikator-indikator di atas, bisa diketahui, apakah siswa yang sedang mengikuti pembelajaran itu berminat untuk mempelajari suatu mata pelajarannya, jika siswa tidak berminat terhadap suatu materi pelajaran maka indikator-indikator yang telah di jelaskan diatas tidak akan di tunjukan oleh siswa, dan sebaliknya, bila siswa menunjukan indikator-indikator di atas maka bisa dikatakan bahwa siswa itu memiliki minat terhadap apa yang sedang di pelajarinya.
37Abu Ahmadi & Widodo Supriyono, Psikologi..., (Jakarta: PT. Rineka Cipta 1991), cet. 1, h. 38