• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. PERUMUSAN MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS

4.1. Spesifikasi Model

4.1.2. Blok Minyak Sawit

Blok minyak sawit Indonesia terdiri dari persamaan produktivitas, produksi, penawaran, dan permintaan minyak sawit domestik, juga ekspor minyak sawit oleh Indonesia, dan persamaan harga. Ekspor minyak sawit Indonesia di pasar dunia menghadapi saingan dari ekspor minyak sawit negara pengekspor lainnya. Dalam penelitian ini negara pesaing ekspor tersebut hanya dibatasi pada Malaysia, sebagai negara penghasil minyak sawit terbesar dunia kedua setelah Indonesia namun merupakan pengekspor minyak sawit terbesar di dunia.

Konsumen minyak sawit domestik adalah industri minyak goreng yang berbahan baku minyak sawit dan industri lainnya, seperti industri oleokimia, margarine, dan sabun. Untuk pasar dunia, konsumen minyak sawit yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Cina sebagai negara pengimpor minyak sawit terbesar di dunia dengan pangsa impor sekitar 20 persen, diikuti India dengan pangsa

impor sekitar 12 persen, dan Pakistan sebagai pengimpor urutan ketiga terbesar di dunia dengan pangsa impor sekitar 6 persen.

4.1.2.1. Produktivitas Minyak Sawit

Pada dasarnya, produktivitas suatu produk pertanian dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas input yang digunakan, teknologi produksi (tren), kondisi agroklimat dan tingkat penerimaan yang diharapkan. Dalam perumusan persamaan produktivitas pada penelitian ini, kualitas dan kuantitas penggunaan input diproksi melalui harga-harga input tersebut (tingkat upah dan harga pupuk) serta luas areal kelapa sawit menghasilkan, sedangkan penerimaan diproksi melalui harga output (harga minyak sawit) dan kondisi agroklimat melalui curah hujan. Pada penelitian ini, harga minyak sawit dengan harga pupuk digabung menjadi rasio harga minyak sawit dengan harga pupuk. Persamaan produktivitas minyak sawit memiliki karakteristik yang sama dengan persamaan luas areal kelapa sawit menghasilkan, yaitu didisagregasi berdasarkan wilayah (Sumatera dan Kalimantan) dan berdasarkan status atau bentuk pengusahaan perkebunan (perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan perkebunan besar swasta). Persamaan produktivitas minyak sawit berdasarkan status dan wilayah pengusahaannya per hektar dirumuskan sebagai berikut.

YMSijt = b0 + b1 RHMSFt + b2 LAKSMijt-1 + b3 UPRBUNt

+ b4 CURAHt + b5TRENt+ b6YMSijt-1 + U2 ...………...(44) dimana :

YMSijt = Produktivitas minyak sawit pada perkebunan i di wilayah j (ton/ha)

RHMSFt = Rasio harga minyak sawit dengan harga pupuk

LAKSMijt-1 = Luas areal kelapa sawit menghasilkan pada perkebunan i (Perkebunan Rakyat = R, Perkebunan Besar Negara = N, dan Perkebunan Besar Swasta = S) di wilayah j (Sumatera

= S dan Kalimantan = K) pada tahun ke-t-1 (000 ha) CURAHt = Curah hujan (hari hujan per tahun)

YMSijt-1 = Lag dari YMSijt (ton/ha) U2 = Variabel pengganggu

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : b1, b2, b5 > 0 ; b3, b4 < 0 ; 0 < b6 < 1

4.1.2.2. Produksi Minyak Sawit (CPO) Indonesia

Jumlah produksi minyak sawit Indonesia merupakan penjumlahan dari hasil perkalian antara luas areal tanaman kelapa sawit yang menghasilkan minyak sawit dengan produktivitas minyak sawit pada masing-masing wilayah dan status pengusahaan perkebunan kelapa sawit, kemudian hasilnya tersebut dijumlahkan dengan produksi minyak sawit di wilayah lain (selain Sumatera dan Kalimantan). Secara matematis persamaan produksi minyak sawit Indonesia, seperti yang terlihat pada persamaan identitas berikut.

QMSIt = ∑ (LAKSMijt * YMSijt) + QMSL ………....….…....(45) dimana :

QMSIt = Produksi minyak sawit Indonesia (000 ton)

QMSL = Produksi minyak sawit di wilayah selain Sumatera dan Kalimantan (000 ton)

4.1.2.3. Ekspor Minyak Sawit Indonesia

Jumlah ekspor minyak sawit Indonesia diduga dipengaruhi oleh harga ekspor minyak sawit Indonesia, jumlah produksi minyak sawit Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dollar, dan jumlah ekspor minyak sawit Indonesia tahun sebelumnya. Persamaan ekspor minyak sawit Indonesia diformulasikan sebagai berikut.

XMSIt = c0 + c1 HRXMSIt + c2 QMSIt + c3 NTERIt

+ c4 XMSIt-1 + U3……...…. (46) dimana :

XMSIt = Ekspor minyak sawit Indonesia (000 ton)

HRXMSIt = Harga riil ekspor minyak sawit Indonesia (US.$/ton) NTERIt = Nilai tukar efektif riil rupiah terhadap dollar (Rp/US.$) XMSIt-1 = Lag ekspor minyak sawit Indonesia (000 ton)

U3 = Variabel pengganggu

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : c1, c2, c3 > 0 ; 0 < c4 < 1

4.1.2.4. Permintaan Minyak Sawit Domestik

Produksi minyak sawit Indonesia sebagian dialokasikan untuk konsumsi domestik dan sebagian lagi untuk tujuan ekspor. Konsumsi domestik sebagian besar diserap oleh industri minyak goreng, sedangkan sebagian lagi dikonsumsi oleh industri lain seperti industri oleokimia, industri margarine dan shortening, industri kosmetika, industri sabun serta industri biodiesel. Dengan demikian, permintaan minyak sawit domestik dapat dituliskan sebagai berikut :

DMSDt = DMSIMGt + DMSILt ….…..….……....………...… (47) dimana :

DMSDt = Permintaan minyak sawit domestik (000 ton)

DMSIMGt = Permintaan minyak sawit oleh industri minyak goreng (000 ton) DMSILt = Permintaan minyak sawit oleh industri lainnya (000 ton)

4.1.2.5. Permintaan Minyak Sawit oleh Industri Minyak Goreng

Pada penelitian ini, permintaan minyak sawit oleh industri minyak goreng diduga dipengaruhi oleh harga input (harga minyak sawit domestik), harga input substitusinya (harga minyak kelapa domestik), harga output (harga minyak goreng

sawit domestik), tren yang merupakan proksi dari teknologi, dan lag dari permintaan minyak sawit oleh industri minyak goreng.

DMSIMGt = d0 + d1 HRMSDt + d2 HRMKDt + d3 HRMGSDt

+ d4 TRENt + d5 DMSIMGt-1 + U4 ….……...…………...(48) dimana :

HRMSDt = Harga riil minyak sawit domestik (Rp/kg) HRMKDt = Harga riil minyak kelapa domestik (Rp/kg) HRMGSDt = Harga riil minyak goreng sawit domestik (Rp/kg)

DMSIMGt-1 = Lag permintaan minyak sawit oleh industri minyak goreng (000 ton)

U4 = Variabel pengganggu

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : d1 < 0 ; d2, d3, d4 > 0 ; 0 < d5 < 1

4.1.2.6. Permintaan Minyak Sawit oleh Industri Lain

Penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku industri lain bersubstitusi dengan minyak kelapa. Harga minyak mentah dunia yang fluktuatif diduga juga berpengaruh terhadap penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku industri lain seperti industri biodiesel. Disamping itu, upah pada sektor industri, suku bunga BI, dan tren (proksi dari teknologi) juga berpengaruh terhadap permintaan minyak sawit oleh industri lain. Oleh karena itu persamaan permintaan minyak sawit oleh industri lain dituliskan sebagai berikut :

DMSILt = e0 + e1 HRMSDt + e2 HRMKDt + e3 HRMMWt + e4 UPRINt + e5 SBRt + e6 TREN

+ e7 DMSILt-1 + U5….………...(49) dimana :

HRMMWt = Harga riil minyak mentah dunia (US.$/barrel) UPRINt = Upah riil pada sektor industri (Rp/hari)

DMSILt-1 = Lag permintaan minyak sawit oleh industri lainnya (000 ton) U5 = Variabel pengganggu

e1, e4, e5 < 0 ; 0 < e7 < 1

4.1.2.7. Penawaran Minyak Sawit Domestik

Peningkatan harga minyak sawit dunia yang semakin cepat, menstimulus produsen minyak sawit domestik untuk mengekspor minyak sawit yang dihasilkannya. Akibatnya, ketersediaan (penawaran) minyak sawit domestik akan bersifat residual, yaitu sisa produksi setelah dikurangi ekspor. Indonesia juga mengimpor minyak sawit dan sebagian penawaran juga berasal dari stok tahun lalu, sehingga persamaan penawaran domestik dapat dituliskan sebagai berikut :

SMSDt = QMSIt - XMSIt + MMSIt + STKMSt-1 ………...…...…..(50) dimana :

SMSDt = Penawaran minyak sawit domestik (000 ton) MMSIt = Impor minyak sawit Indonesia (000 ton) STKMSt-1 = Lag stok minyak sawit domestik (000 ton)

4.1.2.8. Harga Minyak Sawit Domestik

Sebagaimana dikemukakan bahwa minyak sawit diproduksi berorientasi ekspor, sehingga perilaku harga minyak sawit domestik disamping dipengaruhi oleh kekuatan penawaran, permintaan dan kebijakan tataniaga di pasar domestik, juga dipengaruhi oleh perubahan harga minyak sawit dunia yang ditransmisikan melalui harga ekspor minyak sawit Indonesia. Persamaan harga minyak sawit domestik dirumuskan sebagai berikut.

HRMSDt = f0 + f1 SMSDt + f2 DMSDt + f3 HRXMSIt

+ f4 HRMSDt-1 + U6………...……..(51) dimana :

HRMSDt-1 = Lag harga riil minyak sawit domestik (Rp/kg)

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : f2, f3 > 0 ; f1 < 0 ; 0 < f4 < 1

4.1.2.9. Harga Ekspor Minyak Sawit Indonesia

Dalam upaya menjaga kecukupan pasokan bahan baku untuk industri minyak goreng, pemerintah menggunakan berbagai instrumen kebijakan diantaranya adalah pajak ekspor. Sesuai dengan kerangka teori, pemberlakuan pajak ekspor akan menyebabkan harga yang diterima produsen menjadi lebih rendah dari harga dunia. Disamping dipengaruhi oleh pajak ekspor, harga ekspor minyak sawit Indonesia dipengaruhi pula oleh harga minyak sawit dunia, harga minyak mentah dunia, jumlah ekspor minyak sawit Indonesia, dan harga ekspor minyak sawit Indonesia tahun sebelumnya. Perilaku harga ekspor minyak sawit Indonesia dirumuskan sebagai berikut.

HRXMSIt = g0 + g1 HRMSWt + g2 HRMMWt + g3 XMSIt +

g4 PXMSIt + g5 HRXMSIt-1 + U7 ……… (52) dimana :

HRMSWt = Harga riil minyak sawit dunia (US.$/ton) PXMSIt = Pajak Ekspor minyak sawit Indonesia (%)

HRXMSIt-1 = Lag harga riil ekspor minyak sawit Indonesia (US.$/ton) U7 = Variabel pengganggu

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : g1, g2 > 0 ; g3, g4 < 0 ; 0 < g5 < 1

4.1.2.10. Ekspor Minyak Sawit Malaysia

Persamaan ekspor minyak sawit Malaysia adalah fungsi dari harga ekspor minyak sawit Malaysia, harga substitusi dari minyak sawit (harga minyak kelapa dunia), produksi minyak sawit Malaysia, nilai tukar efektif kurs Malaysia terhadap US.$, dan lag dari ekspor minyak sawit Malaysia.

XMSMt = h0 + h1 HRXMSMt + h2 HRMKWt + h3 QMSMt +

h4 NTERMt + h5 XMSMt-1 + U8……..………...…….(53) dimana :

XMSMt = Ekspor minyak sawit Malaysia (000 ton)

HRXMSMt = Harga riil ekspor minyak sawit Malaysia (US.$/ton) HRMKWt = Harga riil minyak kelapa dunia (US.$/ton)

QMSMt = Produksi minyak sawit Malaysia (000 ton)

NTERMt = Nilai tukar efektif riil kurs Malaysia terhadap US.$ (Ringgit/US.$)

XMSMt-1 = Lag ekspor minyak sawit Malaysia (000 ton) U8 = Variabel pengganggu

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : h1, h2, h3, h4 > 0 ; 0 < h5 < 1

4.1.2.11. Ekspor Minyak Sawit Dunia

Ekspor minyak sawit dunia merupakan penjumlahan dari semua ekspor minyak sawit Indonesia dan Malaysia, ditambah dengan ekspor minyak sawit negara-negara lain yang tidak termasuk ke dalam model.

XMSWt = XMSIt + XMSMt + XMSRWt ……..…...………..……..(54) dimana :

XMSWt = Ekspor minyak sawit dunia (000 ton)

XMSRWt = Total ekspor minyak sawit sisa dunia selain Indonesia dan Malaysia (000 ton)

4.1.2.12. Impor Minyak Sawit Cina

Sejalan dengan perkembangan ekspor minyak sawit dunia, permintaan impor minyak sawit dunia juga menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Negara pengimpor minyak sawit terbesar di dunia adalah Cina. Pada umumnya, hampir di semua negara importir minyak sawit, minyak kedele telah digunakan sebagai komoditi substitusi minyak sawit. Di samping itu, minyak nabati lainnya seperti minyak kelapa, minyak lobak, dan minyak bunga matahari dianggap sebagai komoditi alternatif. Oleh karena itu, dalam persamaan impor minyak

sawit Cina perlu dimasukkan variabel yang dapat menangkap perubahan-perubahan pada pasar minyak nabati tersebut yang direfleksikan melalui perubahan harga. Faktor lain yang dianggap juga mempengaruhi impor minyak sawit Cina adalah pendapatan per kapita, nilai tukar, dan impor minyak sawit Cina tahun sebelumnya. Adapun perilaku impor minyak sawit Cina yaitu :

MMSCt = i0 + i1 HRMSWt + i2 HRMKDWt + i3 INCRCt

+ i4 NTERCt + i5 MMSCt-1 + U9………..…….(55) dimana :

MMSCt = Impor minyak sawit Cina (000 ton) HRMSWt = Harga riil minyak sawit dunia (US.$/ton) HRMKDWt = Harga riil minyak kedele dunia (US.$/ton) INCRCt = Pendapatan riil per kapita Cina (US.$)

NTERCt = Nilai tukar efektif riil Cina terhadap US.$ (Yuan/US.$) MMSCt-1 = Lag impor minyak sawit Cina (000 ton)

U9 = Variabel pengganggu

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : i2, i3, > 0 ; i1, i4 < 0 ; 0 < i5 < 1

4.1.2.13. Impor Minyak Sawit India

Pangsa impor minyak sawit (CPO) India terhadap impor minyak sawit dunia sekitar 12 persen, yaitu sebagai negara urutan kedua pengimpor minyak sawit terbesar di dunia. Perilaku impor minyak sawit India dihipotesiskan dipengaruhi oleh harga minyak sawit dunia, harga minyak kedele dunia (sebagai substitusi minyak sawit), pendapatan per kapita, dan impor minyak sawit India tahun sebelumnya.

MMSINDt = j0 + j1 HRMSWt + j2 HRMKDWt + j3 INCRINDt

+ j4 MMSINDt-1 + U10…………...……...(56) dimana :

INCRINDt = Pendapatan riil per kapita India (US.$) MMSINDt-1 = Lag impor minyak sawit India (000 ton)

U10 = Variabel pengganggu

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : j2, j3, > 0 ; j1 < 0 ; 0 < j4 < 1

4.1.2.14. Impor Minyak Sawit Pakistan

Pangsa impor minyak sawit Pakistan terhadap impor minyak sawit dunia sekitar 6 persen, yaitu sebagai negara urutan ketiga pengimpor minyak sawit terbesar di dunia. Perilaku impor minyak sawit Pakistan dihipotesiskan dipengaruhi oleh harga minyak sawit dunia, harga minyak kedele dunia (sebagai substitusi minyak sawit), pendapatan per kapita, nilai tukar, dan impor minyak sawit Pakistan tahun sebelumnya.

MMSPt = k0 + k1 HRMSWt + k2 HRMKDWt + k3 INCRPt

+ k4 NTERPt + k5 MMSPt-1 + U11……….(57) dimana :

MMSPt = Impor minyak sawit Pakistan (000 ton) INCRPt = Pendapatan riil per kapita Pakistan (US.$) NTERPt = Nilai tukar efektif riil Pakistan terhadap US.$ MMSPt-1 = Lag impor minyak sawit Pakistan (000 ton)

U11 = Variabel pengganggu

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : k2, k3, > 0 ; k1, k4 < 0 ; 0 < k5 < 1

4.1.2.15. Impor Minyak Sawit Dunia

Impor minyak sawit dunia merupakan penjumlahan dari semua impor minyak sawit Cina, India, Pakistan, dan Indonesia ditambah dengan impor minyak sawit negara-negara lain yang tidak termasuk ke dalam model.

MMSWt = MMSCt + MMSINDt + MMSPt + MMSIt + MMSRWt ……...(58) dimana :

MMSWt = Impor minyak sawit dunia (000 ton)

MMSRWt = Total impor sisa dunia selain Cina, India, dan Pakistan (000 ton) 4.1.2.16. Harga Minyak Sawit Dunia

Fluktuasi harga minyak sawit di pasar dunia pada dasarnya disebabkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada total ekspor dan total impor minyak sawit dunia. Dalam persamaan matematis dirumuskan sebagai berikut :

HRMSWt = l0 + l1 XMSWt + l2 MMSWt + l3 HRMSWt-1 + U12 …..…(59) dimana :

HRMSWt-1 = Lag harga riil minyak sawit dunia (US.$/ton)

Tanda dan besaran parameter dugaan yang diharapkan adalah : l2 > 0 ; l1 < 0 ; 0 < l3 < 1

Dokumen terkait