Wakil Ketua MK Hamdan Zoelva didampingi Sekretaris Jenderal MK Janedjri M. Gaffar gelar Konferensi Pers terkait pembentukan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi di Ruang Media Center Gedung MK.
Humas mK/Ganie
kehormatan, ujar Hamdan, diputuskan dalam rapat pleno hakim konstitusi dini hari itu juga. Dalam hal ini, Pleno Hakim konstitusi telah memutuskan lima nama dari lima unsur sebagaimana diatur dalam perundang-undangan. kelima nama tersebut adalah Hakim konstitusi Dr. Harjono (dari unsur hakim konstitusi), Wakil ketua kY Dr. Abbas Said (dari unsur pimpinan komisi Yudisial), mantan ketua Mahkamah Agung Prof. Dr. bagir Manan (dari unsur mantan ketua lembaga negara), mantan ketua Mk Prof. Dr. Moh Mahfud MD (dari unsur mantan hakim konstitusi), dan Prof. Dr. Hikmahanto Juwana (dari unsur guru besar senior dan pakar ilmu hukum).
Hamdan menjelaskan, Majelis kehormatan dibentuk Mk agar para hakim konstitusi dapat fokus menangani tugas-tugas konstitusionalnya. Lebih lanjut Hamdan menerangkan Majelis kehormatan memiliki tugas untuk menangani masalah etika hakim konstitusi, sementara terhadap penanganan persoalan pidana yang dihadapi Akil Mochtar, Mk menyerahkan sepenuhnya kepada kPk.
Hamdan menyatakan, segala
kebutuhan yang diperlukan dalam mendukung kerja Majelis kehormatan akan difasilitasi oleh Mk. Adapun terkait susunan organisasi, sistem kerja, jadwal pemeriksaan, hingga mekanisme pemeriksaan, seluruhnya diserahkan kepada Majelis kehormatan untuk memutuskannya. rencananya, pertemuan pertama para anggota Majelis kehormatan tersebut akan digelar pada Jumat (4/10) di Gedung Mk pada pukul 14.00 WIb.
“Sekarang kita bentuk dulu, apapun perkembangan yang terjadi, kita serahkan sepenuhnya kepada Majelis kehormatan. Jadi, kami Hakim konstitusi ingin fokus dalam tanggung jawab menjalankan penyelesaian perkara-perkara yang harus tetap berjalan,” ujar Hamdan. “Masalah internal Mahkamah konstitusi kami serahkan sepenuhnya kepada Majelis kehormatan, dan masalah hukumnya kami serahkan sepenuhnya kepada kPk.”
MK Beri Akses Seluas-luasnya kepada KPK
Hamdan menegaskan, Mk mempersilakan kPk menjalankan tugasnya menegakkan hukum dan keadilan dengan profesional dan bebas tanpa intervensi dari pihak manapun. “kami memberikan akses seluas-luasnya kepada kPk untuk menjalankan tugasnya. tidak ada saling mengganggu,” ujarnya.
Ditanya apakah Mk akan melakukan review terhadap putusan- putusan yang telah dijatuhkan, Hamdan menegaskan, hal itu tidak akan dilakukan
karena sifat putusan MK adalah inal
dan mengikat. Selain itu, patut diketahui bahwa putusan-putusan Mk diambil tidak hanya oleh seorang ketua atau beberapa hakim saja, melainkan oleh seluruh hakim konstitusi dalam rapat Permusyawaratan Hakim.
“Seluruh perkara yang sudah diputus
oleh MK itu sudah inal, karena putusan-
putusan Mahkamah konstitusi yang terkait sengketa Pemilukada bukan hanya diputus oleh Panel, itu diputus oleh pleno hakim konstitusi yang berjumlah sembilan
orang. Jadi putusan-putusan yang sudah
dikeluarkan adalah inal, selesai, tidak ada
lagi yang dipersoalkan,” tegasnya.
Tugas Konstitusional Tetap Berjalan
Selanjutnya, delapan orang Hakim konstitusi menggelar rapat tertutup pada Sabtu (5/10) malam menyikapi perkembangan terkait kasus yang menimpa ketua Mk non-aktif, M Akil Mochtar. Usai rapat yang berlangsung hingga Minggu (6/10) dini hari di gedung Mk tersebut, Wakil ketua Mk Hamdan Zoelva kepada para media dalam konferensi pers bersama 7 hakim konstitusi lainnya menyampaikan bahwa M. Akil Mochtar, telah mengajukan surat pengunduran diri sebagai hakim konstitusi. Pada kesempatan tersebut, Hamdan juga menyampaikan hasil kesepakatan rapat Pleno Hakim konstitusi yang digelar maraton selama hampir 6 jam tersebut.
Dalam pernyataan resmi Mk yang dibacakan Hamdan Zoelva, Mk memahami respon dan niat baik Presiden Susilo bambang Yudhoyono yang telah mengumpulkan para pimpinan lembaga negara untuk mencari solusi atas peristiwa yang terjadi pada M. Akil Mochtar yang berpengaruh pada citra dan wibawa Mk.
Namun Hamdan menyatakan, seyogianya Pimpinan Mk diundang dalam pertemuan tersebut untuk juga menyampaikan pandangan dan ikut bersama-sama para ketua Lembaga Negara lainnya dalam rangka mencari solusi yang terbaik. Hamdan mengungkapkan, delapan hakim konstitusi yang ada saat ini merasa seolah-olah turut bersalah dalam kasus Akil Mochtar, sehingga menyebabkan Presiden tidak mengundang unsur pimpinan Mk. Dengan perlakuan tersebut, Mk merasa diperlakukan sebagai obyek, padahal Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan Mk sebagai lembaga negara juga.
Hamdan menjelaskan, Mk me nya- dari kemarahan dan kekecewaan masyarakat atas peristiwa yang terjadi pada diri M. Akil Mochtar, dan Mk menyampaikan permohonnan maaf sebesar-besarnya pada masyarakat atas peristiwa itu. Mk menyerahkan sepenuhnya masalah tersebut pada proses hukum.
Lebih lanjut Hamdan bersama hakim konstitusi lainnya menegaskan Mk akan tetap bekerja sebagaimana mestinya sesuai dengan amanat konstitusi dan tidak akan menunda pelaksanaan tugas-tugasnya. Hamdan beralasan, apabila Mk berhenti
menjalankan tugas-tugas konstitusionalnya maka akan akan ada banyak perkara konstitusional yang terbengkalai dan itu berarti akan menciderai hak-hak konstitusional warga Negara yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Adapun terhadap pendapat dan tanggapan masyarakat terkait kasus yang menimpa Akil Mochtar, Hamdan menegaskan, peristiwa yang terjadi pada diri Akil Mochtar sama sekali tidak mengganggu keabsahan putusan Mahkamah konstitusi. Menurut Mk, persoalan yang dihadapi Akil Mochtar adalah persitiwa hukum yang bersifat personal yang merupakan tanggung jawab pribadi, bukan menjadi persoalan Mk sebagai lembaga.
Pernyataan tersebut ditandatangani oleh delapan hakim konstitusi yakni Hamdan Zoelva sebagai Wakil ketua merangkap anggota, Ahmad Fadlil Sumadi, Anwar Usman, Arief Hidayat, Harjono, Maria Farida Indrati, Muhammad Alim, dan Patrialis Akbar masing-masing sebagai anggota.
Dukungan Pembersihan di Tubuh MK
Marwah Mahkamah konstitusi harus tetap dijaga. Semangat menegakkan
keadilan dan melindungi hak warga negara yang selama ini melekat dengan baik pada Mk jangan sampai terkikis oleh fakta yang membuat miris. bagaimanapun, masih ada delapan pilar pengawal konstitusi yang harus tetap dijaga dan berdiri tegak untuk membawa harapan yang baik dalam penegakan hukum di Indonesia.
Pada kamis (3/10) malam, telah dilakukan pertemuan antara delapan hakim konstitusi dengan para mantan hakim konstitusi di Gedung Mk. Pada kesempatan ini, hadir Wakil ketua Mk Hamdan Zoelva, Harjono, Arief Hidayat, Maria Farida Indrati, Muhammad Alim, Ahmad Fadlil Sumadi, Anwar Usman, dan Patrialis Akbar. Selain itu hadir mantan ketua Mk Mahfud MD, para mantan Wakil ketua Mk yakni M. Laica Marzuki, A. Mukthie Fadjar, dan Achmad Sodiki, serta mantan hakim konstitusi HAS Natabaya, Achmad roestandi, dan Soedarsono.
Dalam pertemuan tersebut, para hakim membicarakan berbagai hal terkait kasus dugaan suap yang menimpa ketua Mk M. Akil Mochtar. Para hakim dan
mantan hakim pada prinsipnya ingin membangun kesepakatan bersama bahwa Mk tidak mentoleransi korupsi atau pelanggaran hukum apapun yang dilakukan oleh siapapun di tubuh Mk. oleh karenanya, Mk sangat mendukung apa yang dilakukan oleh komisi Pemberantasan korupsi untuk membersihkan Mk dari sikap yang menciderai integritas dan moralitas hakim konstitusi.
“Pada saat seperti ini biasanya kami mengundang para senior ini untuk urun rembuk, untuk meminta saran- saran dan pandangan terhadap masalah yang kami hadapi. tadi dari seluruh pandangan, memiliki suara yang sama bahwa Mahkamah konstitusi mendukung penuh dan memberikan akses yang seluas- luasnya kepada kPk untuk memproses secara hukum, secara profesional, kasus yang dihadapi oleh Pak Akil Mochtar. Ini merupakan salah satu langkah kita membersihkan Mahkamah konstitusi,” ujar Hamdan Zoelva usai pertemuan.
Hal kedua yang disepakati, ungkap Hamdan, adalah terkait pembentukan Majelis kehormatan Mk. “Majelis
kehormatan Mahkamah ini adalah penyelesaian secara internal dari sisi administrasi,” tuturnya.
Dalam prosesnya nanti, sambung Hamdan, bisa saja Majelis kehormatan memutuskan untuk memberhentikan Akil Mochtar sebagai hakim konstitusi. “Ini proses yang lebih cepat,” paparnya. Sebab, pemberhentian tetap dapat pula dilakukan dengan menunggu putusan kasus yang menimpa Akil Mochtar hingga berkekuatan hukum tetap. Namun konsekuensinya, pemberhentian Akil sebagai hakim konstitusi akan memakan waktu yang relatif lebih lama.
tindakan Mk atas ditetapkannya Akil sebagai tersangka oleh kPk, kata Hamdan, adalah dengan melayangkan surat pemberhentian sementara atas Akil Mochtar kepada Presiden. “besok (Jumat, 4 oktober) kami segera akan mengirimkan surat pemberhentian sementara ke Presiden, dan dalam waktu sekian hari, menurut undang-undang Presiden akan memberikan Sk pemberhentian sementara,” tegas Hamdan.
Dodi/Ilham