TEMUAN DAN INTERPRETASI DATA
3. Sarana Perumahan
4.8. Mobilitas Status Sosial dan Ekomoni Antar Generasi 1. Mobilitas Pendidikan Antara Orang Tua dan Anak
Tidak dapat diragukan lagi bahwa sejak manusia lahir kedunia, telah dilakukan usaha-usaha pendidikan. Manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya kendatipun dalam cara yang sangat sederhana. Demikian pula semenjak manusia bergaul, telah ada usaha-usaha dari orang-orang yang lebih mampu dalam hal-hal tetentu untuk mempengaruhi orang-orang lain seperti teman-teman bergaul mereka. Pendapat Pak Ngatirin tentang biaya pendidikan anak, ia tuturkan dalam wawancara berikut ini :
“ ...ya kalau untuk biaya pendidikan anak sekarang ini masin cukup tapi kalau nanti untuk kuliah gak cukup kalau hanya mengandalkan gaji sebagai PNS saja, sekarang ini saja biaya kuliah istri saya sudah mahal apa lagi zaman-zaman anak saya nanti. Maka kalau tidak usaha dari sekarang tidak akan terkumpul biaya untuk pendidikan anak-anak nantinya...”
Orang-orang yang paling semangat memperdebatkan pendidikan cenderung berpendirian bahwa tujuan pendidikan dasar adalah mempersiapkan generasi muda (anak) untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Pendidikan tinggi maksudnya untuk mempersiapkan anak untuk dapat memperoleh kesuksesan dalam pekerjaan, kehidupan pribadi, serta mampu berpartisipasi didalam pembangunan masyarakat. Semua ini kemudian untuk menjadikan negara lebih maju dari pada negara-negara lain (Istiana 2010:1)
Tinggal di perdesaan bukan berarti cara pemikiran mereka tertinggal dengan pemikiran orang-orang kota. Bagi mereka bukan hanya materi saja yang dapat meningkatkan status sosial seseorang tetapi dengan pendidikan yang lebih tinggi, membuat seseorang juga akan naik tingkat sosialnya. Pendidikan yang tinggi dapat membuat kita memiliki peningkatan status sosial dan ekonomi.
Dengan melakukan diversifikasi okupasi PNS dapat melanjutkan tingkat pendidikannya apabila ia tidak puas dengan pendidikan yang ia peroleh sebelum menjadi PNS. Penghasilan dari diversifikasi okupasi yang dilakukan bisa untuk membiayai pendidikan, contohnya melanjutkan S1, S2, bahkan Dr atau Profesor sekalipun. PNS banyak melakukan ini bukan hanya untuk mencari pengetahuan yang lebih luas lagi tetapi untuk kepentingan dinas yaitu agar cepat naik golongan. Seperti data yang di hasilkan oleh peneliti bahwa banyak Pegawai Negeri Sipil yang sekarang ini melanjutkan pendidikannya guna mencari pengetahuan yang lebih dalam dalam bidang yang ia tekuni. Pegawai Negeri Sipil yang melanjutkan pendidikannya ada yang mendapatkan beasiswa dan ada yang menggunakan gajinya sebagai PNS.
Kebanyakan dari mereka menggunakan gajinya sendiri dibandingkan mendapatkan bantuan dari beasiswa.
Namun karena gaji yang di peroleh sebagai PNS tidak mencukupi untuk biasa semuanya (rumah tangga, pendidikan anak, biaya transportasi) maka jalan yang di pilih PNS untuk dapat memenuhi kebutuhan yang lainnya (melanjutkan pendidikan). Seperti yang dituturkan oleh Pak Sarin dalam wawancara :
“ ...Gaji hanya untuk kebutuhan sehari-hari, itu pun cukup menurut tingkat Desa saja kalau untuk pendidikan anak-anak yang tidak cukup...”
Wawancara September 2010.
Adanya kemauan yang besar untuk dapat mengujudkan cita-citanya maka diversifikasi okupasilah yang menjadi salah satu membantu pengeluaran rumah tangga Pegawai Negeri Sipil selain gaji yang diterima. Adanya pengetahuan yang lebih maju lagi, maka pola pikir Pegawai Negeri Sipil memandang masa depan yang akan datang lebih teliti lagi dengan orang yang tidak memiliki pengetahuan. Dimana mereka memiliki pola pikir bahwa dari tahun ke tahun kehidupan semakin lama-semakin maju dalam bidang apapun maka kita harus menyiapakn diri kita untuk dapat bersaing di dalamnya. Untuk dapat bersaing di dalamnya maka kita memerlukan skill atau pengetahuan yang luas juga dan memeiliki pendidikan yang tinggi. Maka Pegawai Negeri Sipil-Pegawai Negeri Sipil tersebut cenderung ke pendidikan anak-anak mereka. Nantinya anak-anak-anak-anak ini akan membutuhkan pendidikan yang lebih tinggi untuk dapat bersaing di dunia kerja.
Di desa biasanya cara berpikir masyarakat ada yang masih tertinggal, ada orang yang hanya memikirkan hartanya atau sawahnya saja untuk lebih memperbanyak lagi lahannya. Karena pemikiran mereka anak petani maka akan
menjadi petani juga, maka tidak ada peningkatan vertikal secara status sosial (pendidikan). Tetapi ada juga yang berpikiran bahwa dia tidak mau melihat anaknya menjadi petani seperti dirinya, maka anaknya disekolahkan dengan sebaik-baiknya.
Seperti itu juga yang dilakukan oleh PNS, mereka ingin anak-anak mereka memiliki pengetahuan yang lebih tinggi dari segi pendidikan dan nantinya akan mendapatkan posisi kerja yang lebih bagus lagi jabatannya di banding orang tuanya. Tetapi terkadang semua yang di cita-citakan orang tua terhadap anaknya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan anaknya. Ada anak yang sifatnya menuruti kemauan orang tuanya, ada anak yang ingin meniru keberhasilan yang telah diperoleh orang tuanya secara status sosial dan ekonomi, dan ada juga anak yang ingin menjadi dirinya sendiri tidak mau mengikuti kata-kata orang tuanya. Namun seperti yang dituturkan Pak Bugiman dalam wawancara :
“...Hasil dari kerja keras saya hanya sia-sia saja tidak ada gunanya kalau
hanya bisa memenuhi kebutuhan keluarga tetapi pendidikan anak-anak saya hanya selesai SMA saja...”. (wawancara September 2010)
Pelakuan seperti ini yang diterapkan oleh orang tua, merupakan tindakan pola sosialisai yang mengarah pada penekanan non verbal dan berisi perintah. Dimana orang tua menekankan keinginan orang tua terhadap anaknya. Seperti yang dikemukakan oleh Jaeger mengenai pola sosialisai yaitu sosialisasi represif mempunyai ciri lain sperti penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan anak pada orang tua, penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, non verbal dan berisi perintah. Penekanan titk berat sosialisasi pada orang tua dan pada keinginan orang tua dan peran keluarga sebagai significant other (Sunarto 2000:33).
Agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai pendidikan atau cara mendidik anak agar sesuai dengan keinginan orang tua dan anak tidak merasa tertekan dalam pendidikan yang ia jalankan. Maka sebagai orang tua harus mengetahui bakat yang dimiliki anaknya sejak awal, karena dari sanalah orang tua dapat mengarahkan pendidikan yang bagaimana yang sesuai dengan bakat atau kemampuan anak kita.
Dalam psikologi pendidikan tentang bakat masalanya sudah sama tuanya dengan manusia sendiri. Sejak dahulu kala orang sudah berusaha menggap masalah ini, walapun tentu saja kalau dipandang dari kaca mata ilmu pengetahuan dewasa ini hasilnya masih sangat jauh dari memuaskan. Urgensi untuk menggarap masalah ini masih tetap ada sampai sekarang, terlebih-lebih dalam hubungan dengan usaha pendidikan dan pemilihan lapangan kerja nantinya. Suatu yang dipandang self-evident ialah bahwa seseorang akan lebih berhasil kalau dia belajar dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya. Demikian pula dalam lapangan kerja, seseorang akan lebih berhasil kalau dia bekerja dalam lapangan yang sesuai dengan bakatnya (Istiana 2010:78)
Dari penjelasan di atas bahwa sebagai orang tua harus mengetahui keinginan anak dan apa yang anak tersebut cita-citakan. Sebagai orang tua kita hanya memberi fasilitas yang di butuhkan untuk mengembangkan bakatnya dan memberi sport atau dukungan yang penuh terhadap anak kita, agar nantinya ia dapat mengembangkan bakatnya dan dari bakat yang ia miliki nantinya dapat menghasilakan pendapatan anak tersebut (status ekonomi).
Disinilah dapat dilihat berhasil atau tidaknya seseorang yang sudah memiliki status ekonomi meningkat tetapi belum tentu secara status sosial juga meningkat. Dari hasil penelitian di Desa Tandem Hilir II ada PNS yang berhasil menyekolahkan anaknya, sekarang anaknya dua-duanya menjadi bidan dan yang paling kecil anaknya sekarang juga sudah menjadi PNS. Disini dapat dilihat bahwa terjadinya pengingkatan status sosial antar generasi.
4.8.2. Mobilitas Pengahasilan Antar Generasi
Peningkatan status ekonomi dapat kita lihat apabila kita mampu membeli barang-barang yang kita inginkan, walapun harga barang tersebut mahal. Peningkatan status ekonomi bisa kita lihat juga dari mampu tidaknya seseorang dalam membiayai pendidikan anak-anaknya. Peningkatan status ekonomi dipengaruhi oleh status sosial yang kita miliki, peningkatan ini terjadi apabila kita benar-benar melakukan dengan kesabaran dan memiliki kemampuan secara pendidikan.
Karena pendidikan yang kita miliki sedikit banyaknya menentukan status ekonomi yang kita miliki, peningkatan status ekonomi bukan merupakan turunan dari orang tua kita. Status ekonomi yang kita miliki kita dapatkan dari diri kita sendiri dengan giat belajar, agar mendapatkan pekerjaan yang bagus nantinya dan status ekonomi yang bagus juga.
Apabila memiliki usaha turun menurun tetapi kita tidak memiliki kemampuan di dalamnya sama saja kita tidak bisa mengelolanya dengan baik. Maka pendidikan/pengetahuan kunci dari keberhasilan suatu individu tersebut. Pada zaman dahulu mungkin untuk menjadi PNS tidaklah susah, tamatan SLTA sudah bisa menjadi PNS.
Namun di zaman sekarang ini untuk menjadi PNS setidak-tidaknya harus memiliki tamatan D3 dan S1 dengan golongan atau jabatan sesuai dengan pendidikan terakhir yang kita miliki dan saingan yang kita hadapi juga besar. Misalnya zaman dahulu kalau orang tuanya kerja di salah satu perusahaan BUMN, maka salah satu kerabatnya/anaknya akan menggantikan posisi orang tuanya.
Zaman sekarang peraturan tersebut tidak berlaku lagi, apabila anak tidak memiliki pendidikan yang tinggi sesuai syarat yang di tentukan dan tidak lulus dari test maka anak itu tidak bisa bekerja di perusahaan BUMN tersebut. Dari hasil penelitian yang di lakukan peneliti, ada salah satu responden yang orang tuanya adalah PNS dan anaknya hanya seorang buruk serabutan. Kejadian seperti ini banyak sekali terjadi di tengah-tengah keluarga yang kurangnya pemahaman apa yang diinginkan anak dan apa yang inginkan orang tua dari anak tersebut. Ini dikarenakan anak tersebut tidak mengikuti kata-kata orang tuanya. Orang tuanya menginginkan ia kuliah dan kelak anak menjadi anak yang dapat di banggakan orang tuanya dan memiliki status ekonomi yang lebih bagus dibandingkan orang tuanya sekarang.
Namun kenyataannya berbeda anaknya hanya buruh serabutan dan sekarang ini masih meminta bantuan secara ekonomi ke orang tuanya. Dari hasil paparan di atas, bahwa peningkatan status ekonomi tidak bisa kita tentukan orang tuanya yang secara ekonomi bagus saja, tetapi dari keinginan anaknya sendiri ada keinginan untuk lebih secara ekonomi dibandingan orang tuanya. Semua itu tergantung dari individunya sendiri dalam berusaha untuk meningkatkan status ekonominya. Penjelasan di atas dapat kita lihat melalui tabel berikut ini:
TABEL 11