V. HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Modal Alam (Natural Capital)
Modal Alam dalam hal ini adalah penggunaan persediaan Sumber Daya Alam untuk penghidupan individu. Baik yang digunakan secara publik, seperti udara dan air maupun yang dimiliki secara individu. Modal Alam sangat penting bagi individu yang melakukan aktivitas dengan dasar Sumber Daya Alam seperti pertanian, perikanan, kehutanan dan lainnya. Tidak ada yang dapat bertahan tanpa bantuan lingkungan dan makanan yang diproduksi oleh alam. Pemanfaatan ketersediaan Modal Alam yang baik dapat memberikan tambahan penghasilan dan dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan bagi individu. Ketersediaan Modal Alam petani SOBUJO berada pada status Sedang (2,12). Adapun rincian skor tiap indikator dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Ketersediaan Modal Alam petani padi Komunitas Soko Bumi Jowo
No Indikator Modal Alam Skor Status
1. Kondisi lahan 2,00 Sedang
2. Kondisi udara 2,33 Sedang
3. Kondisi biodiversitas 2,00 Sedang
4. Kondisi lingkungan 2,00 Sedang
5. Kepemilikan TOGA 1,60 Rendah
6. Diversifikasi usahatani 1,20 Rendah
7. Pemanfaatan pekarangan 1,80 Sedang
8. Pemanfaatan jerami 2,00 Sedang
9. Pemeliharaan drainase 2,00 Sedang
10. Kepemilikan tanaman umur panjang 2,00 Sedang
11. Penguasaan lahan 2,47 Tinggi
12. Konflik pemanfaatan Sumber Daya Alam 3,00 Tinggi
13. Ketersediaan air 3,00 Tinggi
Total 27,60
Rata-rata 2,12 Sedang
Sumber: Data Primer diolah, (2017)
Kondisi lahan yang dimiliki petani SOBUJO berstatus Sedang (2,00).
Lahan yang dimiliki petani memiliki pH netral yakni sebesar 6 - 6,5. Lahan sawah, tegal, maupun pekarangan yang dimiliki tidak pernah terkena kekeringan ataupun banjir. Untuk segi unsur hara tanah, unsur K dan P masih tergolong kurang di area ini. Penambahan jerami ke lahan dapat menambah kandungan unsur hara, maka dari itu SOBUJO selalu mengaplikasikan jerami ke lahan anggotanya. Maka, indikator pemanfaatan jerami juga berstatus Sedang (2,00). Semua anggota SOBUJO mengaplikasikan jerami ke lahannya untuk memperbaiki kualitas lahan. Adapun status penguasaan lahan adalah Tinggi (2,47). Petani memiliki lahan baik dengan cara membelinya maupun dari pemberian atau warisan orang tua mereka. Kondisi lahan petani dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Lahan sawah petani SOBUJO (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017)
63 Modal alam yang bersifat publik atau dimanfaatkan bersama seperti kondisi udara (2,33), kondisi biodiversitas (2,00), dan kondisi lingkungan (2,00) mempunyai status Sedang. Lingkungan di Desa Sragi masih merupakan lereng Gunung Raung dan memiliki kawasan hutan pinus yang baik. Hal ini mengakibatkan udara di daerah tersebut belum tercemar terlalu banyak oleh polutan. Sedangkan biodiversitas pada ekosistem sawah masih banyak dijumpai belut dan ikan kecil di pengairan sawah, ular, dan burung hantu.
Bahkan SOBUJO saat ini mengupayakan pemeliharaan burung hantu untuk penanggulangan hama tikus di sawah.
Indikator ketersediaan air termasuk pada air untuk irigasi dan air untuk keperluan rumah tangga. Kondisi air bersih untuk keperluan sehari-hari maupun air irigasi melimpah (3,00) dan berstatus Tinggi di Desa Sragi. Irigasi dilakukan dari air yang berasal dari sumber air atau sungai di sekitar Desa Sragi. Tidak ada konflik dalam pemanfaatan sumber air untuk irigasi ataupun untuk kebutuhan sehari-hari. Air untuk kebutuhan sehari-hari juga dapat dengan mudah digunakan dan tidak pernah mengalami kekurangan air. Sungai-sungai yang mengalir di Kecamatan Songgon adalah Sungai Badeng, Sungai Binau, Sungai Mangaran, dan Sungai Kumbo.
Berdasarkan wawasan individu tentang pemeliharaan Modal Alam, indikator kepemilikan TOGA masih berstatus Rendah (1,60). Hal ini dikarenakan TOGA yang digunakan masih sederhana seperti sirih, kunyit dan jahe. Selain itu, tanaman obat yang tumbuh liar juga masih tersedia, sehingga petani hanya menanam yang sekiranya sering dibutuhkan. Diversifikasi usahatani berkaitan dengan pengetahuan individu tentang pemanfaatan modal alam yang dimilikinya. Diversifikasi usahatani pada petani Komunitas SOBUJO masih Rendah (1,20). Hal ini dikarenakan petani menyesuaikan luasan lahan yang dimilikinya untuk berusahatani. Diversifikasi hanya dilakukan oleh 3 petani di SOBUJO, yakni melakukan usahatani Pepaya Kalifornia yang dikemas dan dipasarkan sendiri (Gambar 9). Pepaya ini juga diolah menjadi keripik pepaya. Selain itu, diversifikasi berupa usahatani cabe jamu dan buah naga juga dilakukan petani agar tidak tergantung pada hasil panen padi saja.
Gambar 10. Usahatani buah pepaya salah satu responden (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017)
Pemanfaatan pekarangan (1,80) dan Pemeliharaan drainase (2,00) berstatus Sedang. Pekarangan yang dimiliki petani dimanfaatkan untuk menanam tanaman umur panjang seperti cengkeh, manggis dan durian serta tanaman cabai dan daun bawang. Mereka belum berinisiatif memanfaatkan pekarangan untuk usaha pembibitan atau usaha komersil lainnya. Sedangkan kepemilikan tanaman umur panjang (2,00) juga berstatus Sedang. Hanya 4 petani yang memiliki tanaman umur panjang lebih dari 3 jenis. Kepemilikan ini penting untuk berjaga-jaga bila sedang tidak ada dana. Pohon tanaman dapat dijual berupa kayu mauapun buah. Begitu pula dengan kelebihan hasil produksi cabai yang dapat diberikan kepada tetangga sekitar ataupun dijual. Bapak Gunawan menyatakan bahwa:
―Cabai mahal kita tidak terkena imbasnya. Kita punya meski tidak banyak di pekarangan rumah. Dapat membantu kebutuhan tetangga dan juga menghasilkan bila dijual. Dapat 3 Kg sudah Rp300.000 kalau lebih ya Alhamdulillah, Mbak.” (Wawancara, Mei 2017)
Kepemilikan tanaman pekarangan juga mampu membangun Modal Sosial seseorang. Rasa saling membantu satu sama lain kerap diwujudkan melalui hasil tanaman yang dimiliki. Baik berupa bumbu dapur, buah-buahan, sayuran hijau seperti bayam, kemangi, kenikir, atau ubi-ubian. Hal ini juga berpengaruh dalam hal berjaga-jaga untuk kekurangan pangan. Masyarakat desa yang terbiasa hidup sederhana dapat memenuhi kebutuhan pangannya hanya dengan tanaman di sekitar rumahnya.
Untuk konflik pemanfaatan Sumber Daya Alam (3,00) berstatus Tinggi.
Artinya tidak ada konflik pemanfaatan SDA selama satu tahun terakhir baik antar warga maupun dengan warga desa lainnya. Tingginya Modal Sosial
65 memunculkan rasa toleransi yang tinggi pula antar warga. Kebiasaan untuk saling berbagi dan menjaga SDA (Modal Alam) diterapkan dengan baik oleh warga.