BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
3. Modal Intelektual
Modal intelektual merupakan intangible assets yang dimiliki perusahaan. Beberapa ahli telah mendefinisikan modal intelektual sebagai berikut:
a. Modal intelektual adalah material yang disusun, ditangkap, dan digunakan untuk menghasilkan nilai aset yang lebih tinggi (Klein dan Prusak dalam Sawarjuwono dan Kadir, 2003).
b. Modal intelektual adalah informasi dan pengetahuan yang diaplikasikan dalam pekerjaan untuk menciptakan nilai (Williams, 2001).
c. Menurut Stewart (1997), modal intelektual adalah sebuah konsep modal yang merujuk pada modal tidak berwujud yang terkait dengan pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang digunakan.
d. Heng dalam Sangkala (2006) mengartikan modal intelektual sabagai aset berbasis pengetahuan dalam perusahaan yang menjadi basis kompetensi inti perusahaan yang dapat memengaruhi daya tahan dan keunggulan bersaing. e. Brooking (1996) dalam Ulum (2009) menawarkan definisi yang komprehensif dengan menyatakan bahwa istilah intellectual capital diberikan untuk kombinasi intangible assets yang dapat membuat perusahaan untuk berfungsi.
f. Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD, 1999 dalam Ulum, 2009) menjelaskan IC sebagai nilai ekonomi dari dua kategori aset tak berwujud yaitu organisational (structural) capital dan human capital. Organisational (structural) mengacu pada hal seperti sistem software, jaringan distribusi, dan rantai pasokan. Human capital meliputi sumber daya manusia dalam organisasi dan sumber daya eksternal yang berkaitan dengan organisasi.
g. Edvinsson dan Malone (1997) dalam Ulum (2009) mengidentifikasikan intelectual capital sebagai nilai yang tersembunyi atau hidden value dari bisnis.
Perspektif modal intelektual atau intellectual capital (IC) menurut Bontis (1998), menjelaskan intangible assets perusahaan dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori utama yaitu human capital, structural capital, dan customer capital. Lebih lanjut menurut Santoso dan Setiawan (2004) menjelaskan bahwa Intellectual Capital didapat dari tiga sumber, yaitu:
a. Kompetensi karyawan, merupakan kemampuan, keahlian, keterampilan, pengetahuan, dan performa bisnis yang dimiliki oleh karyawan (human capital).
b. Struktur “internal” organisasi, yaitu kemampuan, keahlian, keterampilan, pengetahuan, dan performa bisnis yang dimiliki perusahaan (structural capital).
c. Hubungan “eksternal”/pasar dengan konsumen, supplier, dan pemerintah (customer capital).
Menurut Hubert Saint-Onge dalam Stewart (1997) menjelaskan bahwa modal intelektual dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu:
a. Human Capital (Modal Manusia) yang merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan manusia yang dapat digunakan untuk menghasilkan layanan profesional dan economic rent. Coff (1997) menjelaskan tentang teori human capital ke dalam dua kategori:
1) Firm Specific Human Capital yang merupakan pengetahuan mengenai rutinitas dan prosedur yang berbeda pada masing-masing perusahaan yang membatasi nilai tersebut keluar dari perusahaan tersebut.
2) Industry Specific Human Capital yang merupakan pengetahuan rutinitas yang berbeda pada setiap perusahaan dalam industri yang tidak dapat ditransfer ke industri lain. Kategori ini memungkinkan seorang profesional dapat pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya di seluruh pasar.
Menurut Santoso dan Setiawan (2004), tugas dan proses modal manusia tergantung dari tiga jenis keterampilan:
1) Commodity Skills, merupakan kemampuan tidak spesifik untuk bisnis tertentu, mudah diperoleh, dan sama nilainya bagi setiap bisnis.
2) Leveraged Skills, merupakan pengetahuan yang tidak spesifik untuk perusahaan industri namun berharga bagi suatu perusahaan dari pada perusahaan lain.
3) Propietary Skills, merupakan pengetahuan spesifik yang dapat menjadi nilai jual bagi suatu perusahaan.
b. Structural Capital (Modal Struktural) merupakan suatu kesadaran dari pemimpin untuk memaksimalkan kegunaan dari modal manusia yang mereka miliki. Hal ini dilakukan karena adanya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan, untuk mempersingkat waktu suatu pekerjaan, dan untuk memperbanyak manusia yang produktif. Hal penting
dalam modal intelektual bukan teknologi melainkan usaha yang tegas dan jelas agar dapat menemukan ilmu pengetahuan yang berguna.
c. Customer Capital (Modal Pelanggan) adalah hubungan organisasi dengan orang-orang yang berbisnis dengan organisasi tersebut. Saint-Onge dalam Stewart (1997) memberi definisi customer capital sebagai kedalaman (penetrasi), kelebaran (cakupan), dan keterkaitan (loyalti) dari perusahaan. Edvinsson menambahkan customer capital adalah kecenderungan pelanggan suatu perusahaan untuk tetap melakukan bisnis dengan perusahaan tersebut (Stewart, 1997). Modal Pelanggan adalah yang paling nyata dari ketiga jenis modal intelektual karena berfungsi dalam menjembatani modal manusia agar mampu menciptakan hubungan yang positif dengan konsumen, pasar, dan lembaga-lembaga tertentu.
Berbagai penelitian yang sebelumnya menyimpulkan dua kelompok pengukuran IC. Kedua pengukuran tersebut menggunakan penilaian moneter dan non motener. Menurut Tan et al., (2007), pengukuran IC dengan penilaian non moneter adalah dengan Skandia IC (intellectual capital) Report method, Brooking’s Technology Broker, Balanced Scorecard oleh Kaplan dan Norton, dan IC (intellectual capital)-index. Sedangkan pengukuran dengan penilaian moneter adalah dengan model Economic Value Added, model Market-to-Book Value, metode Tobin’s q, model Pulic’s VAIC™, dan menghitung intangibles value.
Hartono (2001) dalam Ulum (2009) menyatakan beberapa keunggulan menggunakan pengukuran non moneter dalam mengukur intangible assets sebagai berikut:
a. Pengukuran secara non moneter akan mudah dalam menunjukkan unsur- unsur yang membangun intellectual capital perusahaan yang secara moneter hal tersebut sulit dilakukan.
b. Pengaruh intellectual development dalam pembentukan intellectual capital tidak dapat diukur dengan pengukuran atribut moneter.
c. Aplikasi biaya menjadi aset akan berakibat pada manipulasi terhadap laba. Sveiby (2001) dalam Ulum (2009) mengklasifikasikan berbagai macam metode pengukuran modal intelektual yang ada ke dalam empat kelompok, yaitu:
a. Direct Intellectual Capital Methods (DIC), merupakan estimasi dari harga aset tidak berwujud yang dilakukan dengan mengidentifikasi komponen- komponen yang bervariasi.
b. Market Capitalization Methods (MCM), merupakan perhitungan terhadap perbedaan kapitalisasi pasar perusahaan dengan ekuitas pemegang saham sebagai nilai intellectual capital.
c. Return On Assets (ROA), merupakan rata-rata laba sebelum pajak dalam suatu periode yang dibagi dengan nilai dari aset berwujud.
d. Scorecards Methods (SC), merupakan komponen-komponen aset tidak berwujud yang diidentifikasikan serta indikator-indikator yang dilaporkan ke dalam bentuk scorecards atau grafik.
Dalam kenyataannya, tidak ada satupun metode yang memenuhi tujuan yang diinginkan. Hal ini berimbas pada pemilihan salah satu metode yang dipilih untuk satu tujuan dengan satu situasi dan audience yang berbeda (Ulum, 2009).