• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modal Sosial

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 37-47)

Konsep moda sosial (sosial capital) diperkenalkan Robert Putnam (1993) sewaktu meneliti Negara Italia pada tahun 1985. Masyarakat Italia, khususnya Italia Utara memiliki kesadaran politik yang sangat tinggi karena tiap individu punya minat besar untuk terlibat dalam masalah publik. Hubungan antar masyarakat lebih bersifat horizontal karena semua masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Sementara itu, Putnam prihatin atas atas kecenderungan runtuhnya jalinan sosial masyarakat Amerika. Adanya televisi memberikan kontribusi bagi terciptanya “couch potato syndrome”. Kebiasaan orang Amerika “nongkrong” di depan layar televisi berjam-jam sebagai cerminan hidup yang sangat individualistik.

Pengertian modal sosial dalam kajian ilmu-ilmu sosial kontemporer, terkait dengan perilaku kooperatif yang terorganisasikan secara horizontal, meski sering kali tidak formal, yang bisa mendorong pada adanya keteraturan dan peningkatan kesejehteraan ekonomi masyarakat. Di samping itu, dalam modal sosial ini terkandung pula hubungan saling mempercayai di antara warga masyarakat dan antara masyarakat dengan Negara, bukan hubungan-hubungan dominasi dan otoritarianisme.

Dalam rumusan Tjondronegoro (2005), modal sosial menunjuk pada ciri-ciri organisasi sosial yang berbentuk jaringan-jaringan horizontal yang di dalamnya berisi norma-norma yang memfasilitasi koordinasi, kerjasama, dan saling mengendalikan yang manfaatnya bisa dirasakan bersama anggota organisasi. Dalam konteks ekonomi, jaringan horizontal yang terkoordinasi dan kooperatif itu akan menyumbang pada kemakmuran dan pada gilirannya diperkuat oleh kemakmuran tersebut.

Modal sosial dalam bentuk asosiasi-asosiasi horizontal ini umpamanya berperan penting dalam mendukung kemajuan ekonomi pada komunitas. Cina perantauan (overseas Chinese) melalui apa yang disebut dengan network capitalism. Organisasi informal Cina perantauan di Asia Tenggara, misalnya di Singapura dan Malaysia, mendorong pada kemampuan kompetitif mereka dalam kegiatan bisnis. Keunggulan bersaing tersebut bukan hanya karena mereka memiliki bakat kewiraswastaan, tapi juga berasal dari perkumpulan dan lembaga dagangnya. Pendirian perkumpulan satu dialek bahasa dan jaringan keluarganya disebut siang hwe (kamar dagang), siang hwe ini memungkinkan mereka bisa

saling membantu dan mempercayai satu sama laindalam transaksi ekonomi modern tanpa harus melalui lembaga ekonomi formal yang birokratis.

Putnam juga mengajukan contoh mengenai kuatnya modal sosial masyarakat Italia Utara yang sejak berabad-abad lalu memiliki jaringan horizontal di antara kelompok-kelompok masyarakatnya, yang mengembangkan budaya politik yang menekankan pada otonomi, kerjasama, toleransi, dan penghormatan pada hukum, sehingga memugkinkan berkembangnya demokrasi partisipatif dan ketertiban. Sebaliknya, organisasi sosial di Italia Selatan sangat hierarkis, dengan dominasi dan hegemoni kelompok elite, budaya politiknya berpola atasan-bawahan (clientelistic) dan otoriter, yang dilambangkan dengan penguasaan mafia yang mencolok.

James S. Coleman (1990) melihat modal sosial dari sisi fungsinya. Dia menunjukkan bahwa struktur sosial dalam bentuk jaringan yang sifatnya lebih ketat dan relatif tertutup cenderung lebih efektif daripada yang terbuka. Jaringan komunitas yang dikembangkan kelompok-kelompok perantau di berbagai daerah lazimnya disebut eksklusif, yang keanggotaannya didasari relasi kekerabatan dan kesamaan daerah, bahasa, etnis dan agama, dan mungkin karena ketertutupannya itulah mereka bisa survive dan bisa menguasai jaringan perdagangan komoditas dan keterampilan tertentu di daerah perantauan.

Cukup penting juga untuk mengetengahkan konsep modal sosial yang diajukan Francis Fukuyama (1999), yang tulisan-tulisannya dianggap kontroversial, tetapi popular, yang menekankan bahwa modal sosial memiliki kontribusi cukup besar atas terbentuk dan berkembangnya ketertiban dan

dinamika ekonomi. Dalam konsep Fukuyama, modal sosial adalah serangkaian nilai dan norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalin kerjasama di antara mereka.

Fukuyama (1999) menyebutkan, bahwa modal sosial menunjuk pada seperangkat sumber daya yang melekat dalam hubungan keluarga dan dalam organisasi sosial komunitas serta sangat berguna bagi pengembangan kognitif dan sosial anak. Kerjasama dalam keluarga itu dimungkinkan karena adanya fakta biologis yang kodrati dan hal itu tidak hanya memperlancar dan memudahkan jenis-jenis aktivitas sosial lainnya, seperti menjalankan bisnis. Sekarang ini pun banyak perusahaan besar yang impersonal dan birokratis sebagian besar dijalankan oleh keluarga. Tetapi ketergantungan berlebihan atas ikatan kekerabatan itu bisa menimbulkan konsukensi negatif atas masyarakat luas. Dalam penglihatan fukuyama, banyak kebudayaan, mulai dari Cina, Eropa Selatan, hingga Amerika Latin yang mempromosikan familisme, yakni peningkatan ikatan kekerabatan, tetapi hal itu mengakibatkan kewajiban moral atas otoritas publik dalam segala bentuknya menjadi lemah.

Konsep modal sosial muncul dari pemikiran bahwa anggota masyarakat tidak mungkin dapat secara individu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Diperlukan adanya kebersamaan dan kerjasama yang baik dari segenap anggota masyarakat yang berkepentingan untuk mengatasi masalah tersebut. Pemikiran seperti inilah yang yang pada awal abad ke-20 mengilhami seorang pendidik di Amerika Serikat bernama Lyda Judson Hanifan untuk memperkenalkan konsep modal sosial pertama kalinya. Dalam tulisannya berjudul The Rural School

Community Centre tahun 1916 mengatakan modal sosial, bukanlah modal dalam arti biasa seperti kekayaan atau uang, tetapi lebih mengandung arti kiasan, namun merupakan aset atau modal nyata yang penting dalam hidup bermasyarakat.

Bourdieu (dalam Sybra, 2003) menjelaskan perbedaan antara modal ekonomi, modal budaya dan modal sosial, dan menggambarkan bagaimana ketiganya dapat dibedakan antara satu sama lain dilihat dari tingkat kemudahannya untuk dikonversikan. Modal ekonomi, menurut Bourdieu memang dapat dengan mudah dikonversikan ke dalam bentuk uang, dan dapat dilembagakan dalam bentuk hak kepemilikan. Dalam kondisi tertentu modal budaya juga dapat dikonversikan menjasi modal yang yang memiliki nilai ekonomi, dan dapat dilembagakan, seperti kualifikasi pendidikan. Demikian pula dengan modal sosial dalam kondisi terentu dapat dikonversikan ke dalam modal ekonomi dan bahkan dapat dilembagakan dalam bentuk gelar kesarjanaan.

Modal sosial merupakan wujud nyata dari suatu institusi kelompok yang merupakan jaringan koneksi yang bersifat dinamis dan bukan alami. Oleh karena itu modal sosial dapat menghasilkan hubungan sosial secara langsung dan tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hubungan ini dapat dilakukan dalam hubungan antar keluarga, tetangga, teman kerja, maupun masyarakat dalam arti luas. Modal sosial merupakan kumpulan sumberdaya yang dimiliki setiap anggota dalam suatu kelompok yang digunakan secara bersama-sama.

Oleh karena itu mengenai pengertian atau definisi modal sosial sangat beragam tapi tidak lepas dari dua objek penekanan, pertama penekanan pada

karateristik yang melekat pada individu (norma-norma, saling percaya, saling pengertian, kepedulian, dll) dan kedua penekanan pada jaringan hubungan sosial (kerjasam, pertukaran informasi, dll).

Fukuyama (1999) mengungkapkan ada tiga manfaat modal sosial (sosial capital), yaitu :

1. partisipasi individu dan jaringan kerja sosial akan meningkatkan ketersediaan informasi dengan biaya rendah

2. partisipasi dan jaringan kerja lokal serta sikap saling percaya akan membuat lebih mudah untuk mencapai keputusan bersama dan mengimplementasikan dalam kegiatan bersama

3. memperbaiki jaringan kerja dan sikap mengurangi perilaku tidak baik dari anggota.

Jika disimak, titik simpul kekuatan modal sosial (sosial capital) itu bertumpu pada dua hal yaitu jaringan dan sumber daya. Itulah yang dapat dibaca dalam karya-karya para pemikir seperti Pierre Bourdieu, Robert Putnam, James Coleman, Fukuyama dan lain-lain. Mereka mengenalkan konsep modal sosial itu menunjuk pada dua komponen penting yaitu jaringan sosial yang beroperasi di masyarakat yang memberi manfaat mutualistik bagi para warganya dan berbagai jenis sumber daya yang tersedia di masyarakat bersangkutan yang dapat di dayagunakan bagi kepentingan publik.

2.7.1. Saling Percaya (Trust)

Sikap saling percaya (trust) sebagai salah satu elemen dari modal sosial

adalah merupakan sikap salah satu dasar bagi lahirnya sikap saling percaya yang terbangun antar beberapa golongan komunitas dan merupakan dasar bagi munculnya keinginan untuk membentuk jaringan sosial (networks) yang akhirnya di mapankan dalam wujud pranata (institution) saling percaya meliputi adanya kejujuran (honesty), kewajaran (fairness), sikap egaliter (egali-tarianism), toleransi (tolerance), dan kemurahan hati (generosity). Salah satu elemen-elemen pokok modal sosial tersebut bukanlah sesuatu yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, melainkan harus dikreasikan dan ditransmisikan melalui mekanisme-mekanisme sosial budaya di dalam sebuah unit sosial seperti keluarga, komunitas, asosiasi suka rela, Negara, dan sebagainya. Mereka percaya satu sama lain untuk berlaku fair dan mematuhi hukum para pimpinan di dalam komunitas-komunitas ini relatif jujur dan komit terhadap kesetaraan, jaringan-jaringan sosial dan politik do organisasi secara horizontal, bukan hiraikal.

Banyak peneliti merujuk ke jaringan sebagai sumber penting tumbuh dan hilangnya trust. Coleman menyatakan bahwa pada tingkat individual, trust berasal dari adanya nilai-nilai yang bersumber dari kepercayaan agama yang dianut, kompetisi seseorang dan keterbukaan yang telah menjadi norma di masyarakat. Pada tingkat komunitas, Sumber trust berasal dari norma sosial yang memang melekat pada struktur sosial setempat (Coleman, 1988)

Fukuyama mengkaji bidang ekonomi menyebutkan bahwa modal sosial yang berintikan kepercayaan (trust) merupakan dimensi budaya dari kehidupan

ekonomi yang sangat menentukan dalam keberhasilan pembangunan ekonomi. Hilangnya sikap saling percaya antar warga masyarakat, maupun antar warga dengan pemerintah, merupakan contoh hilangnya potensi modal sosial dalam kehidupan masyarakat. Dalam keempat potensi modal sosial yang ditemukannya tersebut diketahui bahwa kepercayaan (trust) adalah unsur utama yang membentuk petensi-potensi tersebut.

Fukuyama (1999) berpendapat bahwa kepercayaan adalah pengharapan yang muncul dalam sebuah komunitas yang berperilaku normal, jujur, dan kooperatif berdasarkan norma-norma yang dimiliki bersama, demi kepentingan anggota yang lain dari komunitas itu. Ada tiga jenis perilaku dalam komunitas yang mendukung kepercayaan ini, yaitu perilaku normal, jujur dan kooperatif. Perilaku normal yaitu perilaku yang sesuai asaa dan norma-norma yang dianut bersama, jika dalam komunitas terdapat perilaku deviant (menyimpang) dari beberapa anggotanya maka akan sulit mendapatkan adanya kejujuran dan sifat kooperatif. Adanya jaminan tentang kejujuran dalam komunitas dapat memperkuat rasa solidaritas dan sifat kooperatif dalam komunitas.

Kepercayaan timbal balik hanya muncul didalam konteks sosial, kata fukuyama. Kepercayaan sosial, termasuk kejujuran, keteladanan, kerjasama, dan rasa tanggung jawab terhadap orang lain sangat pentinf untuk menumbuhkan kebajikan-kebajikan individual. Hal itulah yang menjadi argumen sentral dari max weber tentang etika protestan yang menunjukkan bahwa kaum puritan memperoleh kekayaan material sebagai hasil dari kepercayaan religiusnya, dan

telah mengembangkan kebajikan-kebajikan tertentu seperti kejujuran yang sangat menbantu bagi akumulasi modal.

2.7.2. Jaringan Sosial ( networks )

Aspek vital dari modal sosial adalah keterkaitan (connectedness), jaringan (networks) dan kelompok (groups). Keterkaitan terwujud didalam beragam tipe kelompok pada tingkat lokal maupun di tingkat yang lebih tinggi. Adanya jaringan hubungan antar individu, norma-norma dan kepercayaan, sebagai bagian dari modal sosial memberikan manfaat dalam konteks terbebtuknya kerjasama kolektif dalam menghadapi dan memecahkan persoalan bersama komunitas masyarakat kecil secara kolektif yang akan memperkuat posisi tawar mereka terhadap kekuatan-kekuatan sruktural, seperti pasar dan nelayan pemilik yang senantiasa berupaya mengeksploitasikan mereka melalui penentuan harga secara sepihak dan sistem bagi hasil yang tidak setara dan adil.

Adanya sikap saling percaya yang terbangun antar beberapa golongan komunitas nelayan merupakan dasar bagi munculnya keinginan untuk membentuk jaringan sosial (networks). Adanya saling percaya diantara beberapa golongan komunitas nelayan tersebut membuat mereka mampu membentuk jaringan sosial. Jaringan sosial tersebut terbentuk antar golongan nelayan yang berperan sebagai ‘klien’. Jaringan sosial juga tidak terbentuk antar sesama golongan “klien”. Menurut Putnam, kerjasama sukarela lebih mudah terjadi didalam suatu komunitas yang telah mewarisi sejumlah modal sosial yang substansial dalam bentuk aturan-aturan yang telah mewarisi sejumlah modal sosial yang substansial

dalam bentuk aturan-aturan, pertukaran timbal balik (reciprocity), solidaritas (solidarity), kerjasama (collaboration/cooperation), dan keadilan (equity). Elemen-elemen pokok modal sosial ini tersebut bukanlah suatu yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, melainkan harus dikreasikan dan ditransmisikan melalui mekanisme-mekanisme sosial budaya didalam sebuah unit sosial seperti keluarga, komunitas, asosiasi sukarela, Negara dan sebagainya.

Dalam penelitian Putnam di Italia, Putnam menemukan bahwa warga negara bagian Emilia Romagna dan Tuscany misalnya, memiliki banyaknya organisasi-organisasi komunitas yang aktif, dan mereka ditautkan oleh isu-isu politik, bukan melalui pola patronasme. Mereka percaya satu sama lain untuk berlaku fair dalam mematuhi hukum. Para pemimpin di dalam komunitas-komunitas ini relatif jujur dan komit terhadap kesetaraan, jaringan-jaringan sosial dan politik diorganisasi secara horizontal, bukan hikarial. Komunitas seperti ini menurut Putnam menilai penting solidarits, partisipasi warga (civic participations) dan integritas. Di dalam komunitas seperti ini demokrasi berjalan (democracy work). Sikap saling percaya itu terbangun karena adanya dua unsur yang paling terkait yaitu norma-norma resiprositas (norm of reciprocity). Salah satu elemen pokok modal sosial adalah adanya jaringan sosial yang meliputi adanya partisipasi.

Solidaritas adalah faktor utama dalam merekatkan hubungan sosial dalam sebuah komunitas. Karena rasa solidaritaslah masyarakat bisa menyatukan persepsinya tentang hal yang ingin mereka perjuangkan. Salah satu unsur dalam jaringan sosial adalah kerjasama. Kerjasama adalah suatu usaha bersama antara

orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Hampir pada semua kelompok manusia dapat ditemui adanya pola-pola kerjasama. Kerjasama muncul karena individu memiliki orientasi terhadap kelompoknya atau terhadap kelompok lain.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 37-47)

Dokumen terkait