• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modal Sosial memperkuat Daya Tawar

Pedagang kaki lima (PKL) merupakan segmen masyarakat yang berada pada lapisan menengah bawah. Mereka tidak memiliki sumber daya kekuasaan seperti halnya kelompok lapisan atas atau elit. Pendidikan mereka rata-rata rendah. Jikalau ada yang tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) ke atas, jumlahnya tidak banyak. Berbeda dengan lapisan elit, baik elit politik maupun ekonomi, rata-rata berpendidikan lebih tinggi, minimal sarjana. Keterampilan yang dimiliki para PKL juga tidak memadai, baik keterampilan yang menunjang usaha, seperti manajemen, keuangan, dan pemasaran maupun keterampilan hidup lainnya. Akses terhadap sumber daya politik dan ekonomi yang dimiliki PKL juga relatif terbatas, bahkan boleh dikata tidak ada. Kapital yang dipunyai PKL pun tidak sebanding dengan modal yang dimiliki elit ekonomi dan politik.

Bagi PKL, lahan untuk beraktivitas ekonomi merupakan persoalan rumit, tetapi bagi elit ekonomi atau pengusaha besar bukan menjadi persoalan yang berarti, karena dengan uang yang dimiliki serta koneksi dengan para pejabat daerah, mereka bisa menyewa atau membeli lahan tanpa ada hambatan. Jaringan sosial yang dimiliki para elit ekonomi dan politik cukup luas dan bisa digunakan untuk memperkokoh status dan kedudukan mereka, sementara PKL hanya memiliki jaringan sosial terbatas, yakni dengan para PKL lainnya. Itulah sebabnya, dalam relasi kuasa antara PKL (yang mewakili golongan menengah bawah) dan elit ekonomi dan politik (yang merupakan representasi golongan atas), tidak seimbang. PKL berada pada posisi subordinat, yakni sebagai pihak yang

dikuasai, sedangkan elit ekonomi dan politik berada posisi

superordinat, yaitu sebagai pihak yang menguasai.

Adanya kepentingan yang lebih besar dalam bingkai pembangunan ekonomi yang berbasis ideologi neoliberal, menjadikan banyak pemerintah daerah (kabupaten dan kota) lebih mengutamakan pembangunan yang menguntungkan pihak investor (Morrell 2008). Tidak heran kiranya jika hotel-hotel berbintang berdiri menjulang langit di tengah kota dan bahkan ada pula yang berada di dekat pusat pemerintahan.

Demikian pula, banyak gedung mall berdiri di tengah hingga pinggiran kota. Perumahan mewah dan perumahan dengan harga cukup tinggi banyak dibangun tidak hanya yang berdekatan dengan pusat kota, tetapi juga di pinggiran kota hingga memasuki wilayah pedesaan. Alfamart dan Indomart, toko kecil serba swalayan banyak dijumpai di kampung-kampung. Tidak sedikit toko Alfamart berdiri berhadapan atau berdampingan dengan toko Indomart dalam jarak yang sangat dekat, di tengah-tengah toko atau warung warga masyarakat setempat. Izin-izin untuk mendirikan bangunan serba modern tersebut tampaknya mudah diperoleh pengusaha besar.

Sementara itu, pelaku ekonomi sektor informal, khususnya pedagang kaki lima (PKL), tidak mudah mencari rezeki di kota. Pendidikan mereka rendah. Keterampilan yang dibutuhkan oleh sektor formal, tidak mereka punyai. Lahan tidak punya. Akses terhadap fasilitas kota juga tidak ada. Mereka tergolong orang yang tidak berdaya. Mereka yang paling terpinggirkan dalam level ekonomi ini cenderung relatif tidak berdaya ketika dihadapkan pada beberapa pengaruh utama yang memengaruhi kehidupan mereka (Giddens 2003). Pengaruh itu misalnya kemauan politik pemerintah yang berpihak kepada investor. Itulah sebabnya, wajar kiranya jika mereka rentan ditertibkan dan digusur oleh aparat represif kota. Ini menunjukkan

perlakuan yang diskriminatif dari pemerintah terhadap golongan masyarakat bawah atau pinggiran.

Kota Semarang dalam waktu ke depan hendak dibangun sebagai kota metropolitan yang sejajar dengan perkembangan kota metropolitan lainnya di Indonesia. Hal ini merupakan ungkapan dari visi SETARA atau Semarang Kota Sejahtera dari walikota Semarang, Soemarmo HS. Visi SETARA walikota Soemarmo HS dengan sapta programnya, yang meliputi penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, rob dan banjir, pelayanan publik, tata ruang dan infrastruktur, kesetaraan dan keadilan gender, pendidikan serta kesehatan, mengarahkan program fisik pemerintah kota Semarang yang memengaruhi keberadaan pedagang kaki lima (PKL), khususnya mereka yang melakukan aktivitas ekonomi di Sampangan, Basudewo, dan Kokrosono.

Program besar Pemkot, yang didukung oleh anggaran APBD provinsi Jawa Tengah dan APBN pemerintah pusat, yaitu berupa pembangunan waduk Jatibarang dan normalisasi sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat, membuat Pemkot lebih banyak memusatkan perhatian pada proyek-proyek besar penataan fisik kota Semarang sebagai upaya mewujudkan Semarang sebagai Kota Perdagangan dan Jasa yang Berbudaya menuju Masyarakat Sejahtera. Pembangunan waduk Jatibarang dan normalisasi sungai Kaligarang dan banjir Kanal Barat yang telah diprogramkan sejak lama oleh Pemkot, untuk mengendalikan banjir di kota Semarang, membawa konsekuensi kepada relokasi PKL yang selama ini melakukan aktivitas ekonomi di tepi sungai tersebut.

Upaya menata kota Semarang tidak hanya melulu pada program pembangunan waduk Jatibarang dan normalisasi sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat, sebagai upaya untuk mengendalikan banjir dan rob di Kota Semarang, tetapi juga penataan fisik ruang Kota Semarang secara keseluruhan yang

didasarkan pada RTRW Kota Semarang Tahun 2011-2031. Penataan fisik, seperti penataan infrastruktur jalan-jalan protokol, pembuatan taman-taman kota, dan penciptaan ruang terbuka hijau, semua itu dimaksudkan untuk meraih perhatian investor agar bersedia menanamkan sahamnya untuk pengembangan kota Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa.

Tujuan besar Pemerintah kota Semarang, yakni menjadikan kota Semarang sebagai Kota Perdagangan dan Jasa, membutuhkan dana besar untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Hanya para pemodal (investor) yang mampu memenuhi keinginan Pemkot Semarang, bukan pedagang kaki lima (PKL). Tidak heran jika, kebijakan Pemkot Semarang lebih berpihak kepada investor ketimbang PKL, demi tujuan menjadikan kota Semarang sebagai pusat Perdagangan dan Jasa. Dalam beberapa hal, sikap Pemkot tersebut tidak semuanya salah. Alasannya adalah, pembangunan membutuhkan biaya yang tidak kecil.

Keberpihakan Pemkot Semarang kepada investor, salah satunya tampak dari izin yang diberikan kepada investor untuk membuka usaha perhotelan dan apartemen di kota Semarang. Dalam 15 tahun terakhir, berdiri banyak hotel di kota Semarang, beberapa di antaranya berada di pusat kota. Hotel yang sudah berdiri lama adalah hotel Graha Santika, hotel Santika, hotel Plaza, hotel Grand Candi, hotel Grasia, hotel Muria, hotel Jelita, hotel Patimura, dan hotel Patrajasa. Sementara itu, hotel baru yang telah berdiri, yaitu hotel Ibis, hotel Novotel, hotel Gumaya, hotel Dafam, hotel Olimpic, hotel Pandanaran, hotel Horison, hotel Ciputra, hotel Siliwangi, hotel Amaris, hotel Quest, hotel Belle View, hotel Wizz, dan beberapa hotel kecil lainnya.

Pada akhir tahun 2011, Pemkot memberikan izin kepada pemodal besar untuk mendirikan apartemen Mutiara Garden

dan Star di dekat pusat kota. Demikian pula, Pemkot Semarang mengizinkan berdirinya mall dan pasar modern, seperti Matahari Mall, Citraland Mall, Java Super Mall, E-Plaza, Pasaraya Sri Ratu, Pusat Grosir Makro, ACE Mall, dan “ritel” lainnya, seperti Alfamart dan Indomart yang menyebar hampir di semua kecamatan yang ada di kota Semarang.

Kebutuhan akan investasi dan obsesi menjadikan Semarang sebagai Kota Perdagangan dan Jasa juga melatarbelakangi Pemkot Semarang memberi izin kepada pengusaha untuk membuka usaha kuliner, seperti MacDonald, Kentucky Fred Chicken (KFC), rumah makan Cianjur, rumah makan Nglaras Roso, rumah makan Lombok Ijo, rumah makan Tan Goei, rumah makan Borobudur, rumah makan Padang Nusantara, rumah makan Sederhana, rumah makan Mak Engking, Festifal Makanan Manggala, Pujasera GAPURA, Kedai Beringin, dan rumah makan besar lainnya.

Dunia hiburan pun berkembang pesat seiring dengan upaya Pemkot dalam menggenjot investasi. Pusat-pusat karaoke berdiri dan menjadi tempat melepas penat bagi warga Kota Semarang pada malam hari. Vina House, Star Quin, Family Fun Karaoke, Happy Puppy, dan tempat-tempat hiburan lainnya, menjanjikan kegembiraan bagi warga kota yang ingin melepas lelah setelah seharian bekerja di kantor. Perkembangan hotel, rumah makan, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat hiburan, menjadikan kota Semarang seakan tak pernah tidur, karena sepanjang hari hingga malam selalu hidup dan beraktivitas. Semua itu karena didasarkan pada upaya pemrintah kota Semarang untuk menarik investor agar menanamkan sahamnya di kota Semarang guna mengakselerasi terwujudnya visi Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa.

Dalam rangka mewujudkan cita-cita Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa, para investor diuntungkan oleh Pemkot karena karena kebijakan pro-investasi Pemkot; sedangkan

kelompok masyarakat marginal, seperti pedagang kaki lima (PKL), menjadi korban dari kebijakan pembangunan yang pro-neoliberal.

Kebijakan Pemkot Semarang terhadap eksistensi kelompok masyarakat kecil tidak semuanya merugikan mereka. Sebagai upaya mempercantik wilayah Simpang Lima dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, Pemkot membuat

shelter-shelter yang diperuntukkan bagi para pedagang kaki lima. Fasilitas tersebut hanya diberikan kepada para pedagang yang telah lama berjualan di tepi bundaran Simpang Lima, seperti pedagang nasi dan minuman. Pedagang lain tentu tidak bisa menempati shelter di Simpang Lima, karena selain tempatnya terbatas, juga hanya diberikan kepada pedagang nasi dan minuman yang lama menjalankan aktivitas ekonomi di sekitar bundaran Simpang Lima.

Demikian juga, shelter-shelter yang dibangun di sekitar Taman KB atau jalan Menteri Soepeno, hanya diperuntukkan bagi para pedagang makanan dan minuman yang telah lama berdagang di jalan Menteri Soepeno, termasuk pedagang jagung bakar dan pedagang nasi dan minuman, pindahan dari jalan Pahlawan (yang memang harus bersih dari pedagang, demi menciptakan citra bersih, rapi, dan indah kota Semarang). Fasilitas yang diterima para pedagang di bundaran Simpang Lima dan jalan Menteri Soepeno tidak gratis, tanpa adanya usaha dan negosiasi. Mereka mendapatkan fasilitas dan diperbolehkan berdagang berkat dukungan dan bantuan dari PPKLS dan organisasi mereka yang hingga kini masih aktif.

Perlakuan Pemkot terhadap PKL Simpang Lima dan Menteri Soepeno tidak sama terhadap PKL liar yang beraktivitas di tepi sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat. Para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada di sekitar bundaran Simpang Lima, di jalan Pahlawan, dan di jalan Menteri Soepeno bernasib baik, karena masih bisa berdagang,

bahkan mendapatkan fasilitas yang memadai dari Pemkot, tidak demikian halnya bagi PKL liar yang menempati lokasi di tepi sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat.

Pedagang Kaki Lima (PKL) liar yang berdagang di pinggir jalan dekat tepian sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat ini dipandang sebagai komunitas yang mengganggu pelaksanaan program-program pembangunan dan peraihan Adipura. Jika PKL yang beraktivitas ekonomi di pinggir jalan dekat tepian sungai tersebut tidak ditertibkan dan digusur, maka akan mengganggu pelaksanaan proyek normalisasi sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat.

Di Sampangan dan Basudewo, sebagian PKL mendirikan bangunan semi permanen, seperti rumah-rumah kios yang berlantaikan keramik atau plester dan dindingnya juga tembok beton, sehingga menyulitkan kendaraan dan alat-alat proyek masuk untuk mengeruk tanah endapan yang ada di sungai. Mereka sudah diperingatkan Pemkot, tetapi PKL tidak menggubrisnya, sehingga untuk memudahkan pengerjaan proyek normalisasi sungai, Pemkot melakukan penertiban dan penggusuran, termasuk meratakan bangunan dan lapak-lapak PKL yang ada di Sampangan dan Basudewo.

Tidak seperti halnya PKL Sampangan dan PKL Basudewo yang memberikan perlawanan disertai kekerasan ketika ditertibkan, Pemkot Semarang lebih mudah melakukan penertiban terhadap PKL Kokrosono karena di Kokrosono tidak ada lagi bangunan permanen dan semi permanen yang digunakan PKL untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Namun demikian, PKL Kokrosono tetap nekat berdagang, meskipun berkali-kali mereka diperingatkan dan ditertibkan Pemkot.

Akibat dari penggusuran terhadap PKL Sampangan dan PKL Basudewo, maka PKL Sampangan menepi dan mengalah berdagang di sebelah selatan proyek atau tepatnya di sebelah selatan kantor PSDA dan Proyek Normalisasi Sungai Kaligarang

dan Banjir Kanal Barat. Itu pun atas negosiasi yang dilakukan oleh PPKLS. Pihak PSDA percaya kepada para pedagang dan membiarkan pedagang berjualan di sekitar proyek, karena sudah ada kesepakatan ketika nanti lahan sudah dirapikan PKL bersedia pindah ke tempat lain. Kepercayaan (trust) inilah yang menjadikan PKL Sampangan masih dapat berjualan di lokasi dekat kantor PSDA. PKL Basudewo yang sudah tidak memiliki alat-alat produksi di Basudewo, karena lokasi mereka sudah rata dengan tanah, akhirnya pindah ke tempat lain. Sebagian pindah ke gedung PKL Kokrosono yang telah disediakan Pemkot, dan sebagian lagi pindah kemana tidak diketahui lagi nasibnya.

Tidak seperti PKL Sampangan dan PKL Basudewo, PKL Kokrosono liar masih tetap menjalankan aktivitasnya, meskipun lokasinya digunakan untuk keluar masuk kendaraan dan alat-alat berat proyek normalisasi sungai. Komunikasi yang baik antara pedagang dengan pihak proyek membuat mereka masih diizinkan berdagang di tengah pengerjaan bangunan talut dan perapian jalan di sisi kiri dan kanan sungai Banjir Kanal Barat. Para PKL pun menyadari, ketika proyek normalisasi sungai selesai, mereka juga akan pindah ke tempat lain atau berdagang di gedung PKL Kokrosono.

Interaksi yang masih berlangsung dengan baik di antara para pedagang, maupun komunikasi yang mereka bangun dengan pihak proyek, merupakan modal sosial yang menjadi daya tawar sekaligus memberikan kekuatan kepada pedagang kaki lima untuk bertahan di lokasi guna menjalankan aktivitas ekonomi yang bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi PKL dan keluarganya.

E. Rangkuman

Pemerintah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya memiliki landasan, di antaranya adalah prinsip-prinsip atau

asas-asas pemerintahan yang baik. Semua azas dan prinsip tersebut dijadikan sebagai acuan bagi pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan meningkatkan kesejahteraannya. Dalam realitasnya, pemerintah kota Semarang (terutama pada masa kepemimpinan Soekawi Soetarip) tidak mampu menghasilkan kebijakan yang memberikan perlindungan dan keamanan sosial serta peningkatan kesejahteraan rakyat, terutama masyarakat kelas bawah, seperti pengemis, gelandangan, anak-anak jalanan, dan para pedagang kecil, termasuk pedagang kaki lima liar atau yang tidak terorganisasi.

Prinsip-prinsip transparansi, kesetaraan, daya tangkap, wawasan ke depan, efisiensi dan efektivitas, serta profesionalisme yang seharusnya dijadikan sebagai pedoman bagi pemerintah kota untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dalam realitasnya tidak digunkan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Banyak upaya dan program yang telah ditetapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik yang dipayungi Perda maupun yang dinaungi Peraturan Walikota dan kebijakan-kebijakan lainnya, tetapi dalam realitasnya, tidak banyak dinikmati oleh kelompok marginal di jalanan seperti pengemis, gelandangan, anak jalanan, dan PKL.

Dalam rangka mengejar visi Semarang sebagai Kota Perdagangan dan Jasa, disadari atau tidak Pemkot telah melakukan kekerasan simbolik dan langsung kepada PKL. Kekerasan simbolis yang dilakukan Pemkot Semarang tersembunyi dalam penggunaan kata-kata di dalam Perda Nomor 11 Tahun 2000, yang lebih banyak mengedepankan pengaturan kepada PKL ketimbang pemberdayaan terhadap PKL. Kekerasan simbolis yang dilakukan Pemkot berlanjut dengan kekerasan langsung atau yang berkaitan dengan fisik terhadap PKL yang dinilai bandel dan membangkang.

Kekerasan langsung mengacu pada tindakan yang menyerang fisik atau psikologis seseorang secara langsung.

Penertiban dan penggusuran terhadap sejumlah PKL di kota Semarang, sebagai representasi dari kekerasan langsung merupakan bukti bahwa kekerasan simbolis tidak cukup untuk memberi sanksi kepada PKL yang bandel. Beberapa aktivitas penertiban dan penggusuran yang dilakukan Pemkot Semarang terhadap PKL Sampangan, Basudewo, dan Kokrosono, sebagai wujud kekerasan langsung, tidak hanya dilakukan pada tahun 2009 dan 2010, tetapi berlanjut terus hingga tahun 2011.

Pembangunan waduk Jatibarang dan normalisasi sungai Kaligarang dan Banjir Kanal Barat tidak akan terlaksana dengan baik jika Pemkot tidak melakukan kekerasan langsung, berupa penggusuran dan pengusiran secara paksa kepada PKL yang berlokasi di pinggir jalan dekat tepian sungai tersebut. Mesin-mesin penggusur milik kapitalis didukung oleh aparatus represif pro-kapitalis neoliberalis, telah menghancurkan bangunan dan lapak yang digunakan PKL untuk berdagang.

Tidak adanya alat-alat produksi untuk berdagang membuat individu-individu PKL terpecah kesatuannya, terutama mereka yang berjualan di Basudewo. Sebagian, karena telah diberi uang tali asih bersedia pindah, lainnya pindah ke gedung PKL Kokrosono, dan lainnya lagi pindah entah ke mana tidak diketahui nasibnya. Demikian pula, PKL Sampangan tidak berdaya menghadapi kekuatan kapitalis, sehingga mereka menepi berjualan di sebelah selatan proyek. Meskipun para PKL telah tercerai berai, namun kekuatan mereka yaitu modal sosial yang mereka miliki tidaklah runtuh. Bonding social capital masih ada meskipun kadarnya tidak sekuat ketika PKL masih bersatu di lokasi masing-masing. Demikian pula bridging social capital masih tetap dibangun, meskipun anggota jejaring berkurang junmlahnya. Pindahnya PKL ke tempat lain, seperti halnya yang diperlihatkan PKL Basudewo di gedung PKL

Kokrosono, hingga kini masih menjalankan aktivitas ekonomi dan sosial, bahkan pak Achmad dan teman-teman mendapat kawan-kawan baru di lokasinya yang baru. Demikian pula, PKL Sampangan hingga kini masih menjalankan aktivitas ekonomi dan sosial, meskipun lokasi lama telah digusur dan berpindahnya pasar Sampangan ke lokasi baru juga tidak memengaruhi aktivitas ekonomi dan sosial mereka.

Modal sosial PKL, seperti trust, norma reprositas, dan jaringan sosial masih ada meskipun mereka telah ditertibkan dan digusur. Sepanjang masih ada interaksi sosial di antara PKL, modal sosial tersebut tidak akan hilang.

Dokumen terkait