• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODAL SOSIAL MENYAMBUNG ( BRIDGING SOCIAL CAPITAL ) NELAYAN KARIMUNJAWA DAN NELAYAN JEPARA

7.1. Modal Sosial Menyambung Nelayan Karimunjawa

7.1.1. Jaringan Kerja di Luar Komunitas Nelayan Karimunjawa

Jaringan kerja di luar komunitas Nelayan Karimunjawa merupakan ikatan baik formal maupun non formal yang terbentuk antara Nelayan Karimunjawa dengan nelayan luar seperti Nelayan Jepara. Berdasarkan data Tabel 16, tingkat koneksi dan jaringan kerja Nelayan Karimunjawa tergolong rendah.

Tabel 16. Jumlah dan Persentase berdasarkan Jaringan Kerja di Luar Komunitas Nelayan Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa Tahun 2012

Jaringan kerja di luar komunitas Responden

Jumlah Persentase

Tinggi 10 33%

Rendah 20 67%

Total 30 100%

Tingkat jaringan kerja di luar komunitas yang rendah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Nelayan Karimunjawa hanya memiliki saudara dan teman dari Karimunjawa. Nelayan Karimunjawa adalah nelayan pendatang yang datang dari Jepara, Sulawesi dan berbagai tempat lain kemudian menetap dan menjadi warga Karimunjawa. Setelah bertahun-tahun berada di Karimunjawa akhirnya nelayan tersebut semakin bertambah banyak dan membentuk perkampungan di Karimunjawa. Anak-anak yang dilahirkan dan bertumbuh di Karimunjawa akhirnya memiliki keluarga dan kerabat yang berada di Karimunjawa juga seperti yang diungkapkan YA (28 tahun).

“saya tidak memliki keluarga atau saudara di Jepara karena seluruh keluarga ada di Karimunjawa.. ”

2. Kekayaan sumberdaya alam perikanan di Karimunjawa yang melimpah yang menyebabkan Nelayan Karimunjawa selalu berkecukupan walaupun hanya melakukan penangkapan ikan di sekitar Karimunjawa. Hal ini mengakibatkan Nelayan Karimunjawa hanya melaut di sekitar TNKJ. Nelayan Karimunjawa memiliki kenalan nelayan dari Jepara karena pernah bertemu ketika nelayan dari Jepara melaut atau berlabuh di Karimunjawa seperti yang diungkapkan oleh MP (52 tahun).

“dulu, ikannya masih banyak di Karimunjawa, bahkan boleh dikatakan kita yang dikejar-kejar ikan. jadi, mancing di pinggir- pinggir sini biasane sudah dapat banyak ikan..”

3. Kapal yang digunakan Nelayan Karimunjawa masih sederhana hanya berupa motor tempel atau sampan. Jenis kapal yang sederhana mengakibatkan jarak wilayah tangkap nelayan hanya beberapa mil dalam TNKJ. Hal ini mengakibatkan mobilisasi Nelayan Karimunjawa tidak begitu luas, hanya berada di sekitar TNKJ.

7.1.2. Tingkat Partisipasi dan Keanggotan Kelompok di Luar Komunitas Nelayan Karimunjawa

Kegiatan keorganisasian yang dapat menghubungkan Nelayan Karimunjawa dengan Ujungbatu terdiri dari organisasi keagamaan, politik, dan nelayan. Organisasi keagamaan yang terdapat di Karimunjawa yaitu NU (Nadlotul Ulama), Muhammadiyah, dan Alitma. Organisasi politik yang terdapat di Karimunjawa terdiri dari organisasi partai politik seperti PPP (Partai Persatuan Pembangunan), PDI (Partai Demokrasi Indonesia), PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), PKS (Partai Keadilan Sejahtera), PAN (Partai Amanat Nasional), dan Demokrat. Organisasi

nelayan di Karimunjawa yaitu berupa HNSI (Himpunan Nelayan Indonesia). Tingkat keanggotaan nelayan pada organisasi yang menghubungkan dengan Nelayan Jepara dapat dikatakan rendah. Tabel 17 menyajikan data Partisipasi dan keanggotaam kelompok di luar komunitas.

Tabel 17. Jumlah dan Persentase berdasarkan Tingkat Partisipasi dan Keanggotaan Kelompok di Luar Komunitas Nelayan Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa Tahun 2012

Tingkat partisipasi dan keanggotaan kelompok di luar komunitas Responden Jumlah Persentase Tinggi 2 7% Rendah 28 93% Total 30 100%

Sebagian besar masyarakat tidak menjadi anggota organisasi yang menghubungkan mereka dengan Nelayan Jepara. Hal ini ditunjukkan oleh data pada Tabel 17. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kondisi tersebut, yaitu:

1. Nelayan Karimunjawa pada umumnya hampir setiap hari melaut kecuali pada waktu-waktu tertentu seperti hari jumat, gelombang besar dan terang bulan. Banyak persiapan yang harus dilakukan oleh nelayan sebelum melakukan operasi penangkapan ikan. Apabila nelayan tersebut memancing pada pagi hari maka pada waktu subuh nelayan sudah memeriksa kapal, mengisi bahan bakar dan mempersiapkan alat tangkap yang dibutuhkan. Penangkapan ikan selesai dilakukan pada sore hari. Malam hari nelayan akan beristirahat untuk melakukan kegiatan yang sama lagi dengan hari sebelumnya. Sangat sedikit waktu yang dimiliki untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan pertemuan atau keorganisasian.

2. Keanggotaan dalam organisasi di Karimunjawa belum terdistribusi secara merata. Ketua organisasi umunya lebih memprioritaskan anggota keluarga atau teman-teman yang terdekat dengannya untuk ikut serta dalam bergabung

dalam organisasi. Informasi untuk keikutsertaan organisasi tidak terbuka secara umum dan dipilih orang-orangnya seperti yang diungkapkan SI (32 tahun).

“saya ndak tau mbak organisasinya, biasane yang diajak yah keluarganya saja mbak sama orang-orang yang dekat dengan ketuane..”

3. Organisasi Perhimpunan Nelayan atau HNSI yang sudah tidak berjalan. Banyak nelayan yang menjadi anggota HNSI tetapi tidak pernah ikut kegiatan kelompok nelayan karena tidak ada kegiatan organisasi yang dilakukan bahkan tidak pernah ada pertemuan antar nelayan. Sisem pengelolaan organisasi yang buruk menyebabkan partisipasi dan keanggotaan masyarakat menjadi tidak jelas.

7.1.3. Tingkat Kepercayaan Nelayan Karimunjawa

Tingkat kepercayaan adalah keyakinan bahwa orang lain tidak akan berlaku atau berniat buruk kepada kita. Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 18, tingkat kepercayaan Nelayan Karimunjawa kepada Nelayan Jepara tergolong rendah.

Tabel 18. Jumlah dan Persentase berdasarkan Tingkat Kepercayaan Nelayan Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa Tahun 2012

Tingkat kepercayaan Responden

Jumlah Persentase

Tinggi 2 7%

Rendah 28 93%

Total 30 100%

Rendahnya tingkat kepercayaan Nelayan Karimunjawa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Perbedaan alat tangkap antara Nelayan Karimunjawa dan Nelayan Jepara mengakibatkan Nelayan Karimunjawa menganggap bahwa Nelayan Jepara sebagai saingan dalam melakukan penangkapan ikan di TNKJ. Alat tangkap yang

digunakan Nelayan Jepara lebih modern dibandingkan dengan Nelayan Karimunjawa. Nelayan Jepara dapat menangkap ikan jauh lebih banyak dari pada Nelayan Karimunjawa seperti yang diungkapkan MA (43 tahun).

“yah kita sih gak masalah itu mbak kalau Nelayan Jepara itu datang, tapi kalau alat tangkapnya itu udah beda, ya jadi masalah buat kita..”

Nelayan Karimunjawa tidak keberatan apabila nelayan dari luar memanfaatkan sumberdaya perikanan di Karimunjawa asalkan alat tangkap yang digunakan sama.

2. Pengalaman Nelayan Karimunjawa yang kurang baik dengan nelayan luar komunitas lain mengakibatkan Nelayan Karimunjawa lebih berhati-hati terhadap nelayan lain. Alat tangkap seperti cantrang yang pernah digunakan Nelayan Jepara telah merusak karang. Nelayan Karimunjawa akhirnya memiliki pandangan bahwa alat tangkap nelayan luar baik Nelayan Jepara dinilai merusak alam.

Nelayan Karimunjawa tidak begitu menyukai nelayan dari luar komunitasnya karena dianggap sebagai ancaman apalagi dengan alat dan kapal yang jauh lebih canggih. Akan tetapi, Nelayan Karimunjawa tetap memiliki keinginan untuk menolong nelayan dari luar komunitas apabila mereka membutuhkan pertolongan. Nelayan Karimunjawa tidak pernah mempermasalahkan apabila ada kapal-kapal dari daerah luar baik dari Jepara maupun di luar Jepara yang datang untuk berlabuh.