BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Model Prediksi Kebangkrutan
2.2.6 Model Altman Z Score
2.2.6.1 Model Altman Z Score Original (1968)
Model prediksi kebangkrutan secara umum dikenal sebagai pengukuran atas kesulitan keuangan. Altman (1968) berpendapat bahwa pengukuran rasio profitabilitas, likuiditas, dan solvency merupakan rasio yang paling signifikan dari beberapa rasio keuangan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, Altman (1968) mengembangkan model prediksi kebangkrutan dengan menggunakan metode Multiple Discriminant Analysis pada lima jenis rasio keuangan yaitu working capital to total assets, retained earning to total assets, earning before interest and taxes to total assets, market value of equity to book value of total debts, dan sales to total assets. Model ini dikenal dengan Altman Z Score. Z-Score adalah skor yang ditentukan dari hitungan standar kali nisbah-nisbah keuangan yang menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan (Supardi, 2003:73), formulanya adalah sebagai berikut:
Z-Score = 1,2T1 + 1,4T2 + 3,3T3 + 0,6T4 + 0,999T5 Keterangan:
T1 = working capital / total assets T2 = retained earnings / total assets
T4 = Market Value of Equity to Total Liability T5 = sales / total assets
Nilai Z adalah indeks keseluruhan fungsi multiple discriminant analysis. MenurutAltman, terdapat angka-angka cut off nilai z yang dapat menjelaskan apakahperusahaan akan mengalami kegagalan atau tidak pada masa mendatang dan ia membaginya ke dalam empat kategori, yaitu:
a. Jika nilai Z < 1,8 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.
b. Jika nilai 1,8 < Z < 2,70maka ada kemungkinan perusahaan akan mengalami kebangkrutan dalam 2 tahun ke depan
c. Jika nilai 2,70 < Z < 2,99 terdapat kondisi di suatu bagian yang membutuhkan perhatian khusus
d. Jika nilai Z > 2,99 maka termasuk perusahaan yang tidak bangkrut. Tabel 2.1
Titik Cut-Off Model Altman Original
Kategori Nilai
Sehat jika Z > 2,99
Perlu Perhatian Khusus jika Z 2,70 – 2,99 Daerah Rawan (Grey area) jika Z 1,8 – 2,70
Bangkrut jika Z < 1,8
Sumber : Altman (1968)
Rasio-rasio yang digunakan dalam model Altman original (1968) adalah sebagai berikut :
a. Working Capital / Total Assets (T1)
Modal kerja yang dimaksud dalam T1 adalah selisih antara aset lancar dengan hutang lancar, sedangkan Total Aset adalah merupakan keseluruhan aset yang dimiliki perusahaan terdiri dari aset lancar, aset tetap dan aset lain-lain. Rasio T1 pada dasarnya merupakan salah satu rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Hasil rasio tersebut negatif apabila aset lancar lebih kecil dari kewajiban lancar.
b. Retained Earnings / Total Assets (T2)
Laba ditahan merupakan jumlah atau bagian dari laba yang tidak dibagikan dalam bentuk dividen selama periode tertentu. Laba ditahan biasanya digunakan untuk perluasan usaha. Rasio ini mengukur akumulasi laba selama perusahaan beroperasi. Umur perusahaan berpengaruh terhadap rasio tersebut karena semakin lama perusahaan beroperasi memungkinkan untuk memperlancar akumulasi laba ditahan.
c. Earnings Before Interest and Taxes / Total Assets (T3)
Laba sebelum bunga dan pajak merupakan laba yang dihasilkan oleh perusahaan yang diperoleh dari laba kotor dikurangi total biaya yang digunakan oleh perusahaan namun belum dikurangi dengan beban bunga dan pajak. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset yang digunakan.
d. Market Value of Equity / Book Value of Debt (T4)
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban- kewajibandari nilai pasar modal sendiri (saham biasa). Nilai pasar ekuitas sendiridiperoleh dengan mengalikan jumlah lembar saham biasa yang beredar denganhargapasar per lembar saham biasa. Nilai buku hutang diperoleh dengan menjumlahkankewajiban lancar dengan kewajiban jangka panjang.
e. Sales / Total Assets (T5)
Rasio ini merupakan rasio yang mendeteksi kemampuan dana perusahaan yang tertanam dalam keseluruhan aset berputar dalam 1 periode. Rasio ini dapat pula dikatakan sebagai rasio yang mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan oleh perusahan untuk menghasilkan pendapatan.
2.2.6.2 Model Altman Z Score Modifikasi (1995)
Model yang dikembangkan oleh Altman ini mengalami suatu revisi. Revisi yang dilakukan oleh Altman merupakan penyesuaian yang dilakukan agar model prediksi kebangkrutan ini tidak hanya untuk perusahaan manufaktur yang go public melainkan juga dapat diaplikasikan untuk perusahaan-perusahaan di sektor swasta (private firm) (Syamsul Hadi dan Atika Anggraeni, 2008). Model tersebut mengalami perubahan pada satu variabel yaitu T4 dimana sebelumnya kapitalisasi pasar dirubah menjadi nilai buku modal.
Untuk mengantisipasi kelemahan dari formula asli Altman Z Score, ada beberapa solusi yang ditawarkan. Untuk perusahaan pribadi, kita tidak bisa
menghitung market value of equity. Oleh karena itu dilakukan perbaikan formula sebagai berikut:
Z-Score = 0,717T1 + 0,847T2 + 3,107T3 + 0,420T4 + 0,998T5 Keterangan:
T1 = working capital / total assets T2 = retained earnings / total assets
T3 = earnings before interest and taxes / total assets T4 = book value of equity / book value of debt T5 = sales / total assets
a. Working Capital / Total Assets (T1)
Modal kerja yang dimaksud dalam T1 adalah selisih antara aset lancar dengan hutang lancar, sedangkan Total Aset adalah merupakan keseluruhan aset yang dimiliki perusahaan terdiri dari aset lancar, aset tetap dan aset lain-lain. Rasio T1 pada dasarnya merupakan salah satu rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Hasil rasio tersebut negatif apabila aset lancar lebih kecil dari kewajiban lancar.
b. Retained Earnings / Total Assets (T2)
Laba ditahan merupakan jumlah atau bagian dari laba yang tidak dibagikan dalam bentuk dividen selama periode tertentu. Laba ditahan biasanya digunakan untuk perluasan usaha. Rasio ini mengukur akumulasi laba selama perusahaan beroperasi. Umur perusahaan berpengaruh terhadap rasio tersebut karena semakin
lama perusahaan beroperasi memungkinkan untuk memperlancar akumulasi laba ditahan.
c. Earnings Before Interest and Taxes / Total Assets (T3)
Laba sebelum bunga dan pajak merupakan laba yang dihasilkan oleh perusahaan yang diperoleh dari laba kotor dikurangi total biaya yang digunakan oleh perusahaan namun belum dikurangi dengan beban bunga dan pajak. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset yang digunakan.
d. Book Value of Equity / Book Value of Debt (T4)
Modal yang dimaksud adalah gabungan nilai modal dan saham, sedangkan hutang mencakup hutang lancar dan hutang jangka panjang. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap hutangnya melalui modalnya sendiri.
e. Sales / Total Assets (T5)
Rasio ini merupakan rasio yang mendeteksi kemampuan dana perusahaan yang tertanam dalam keseluruhan aset berputar dalam 1 periode. Rasio ini dapat pula dikatakan sebagai rasio yang mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan oleh perusahan untuk menghasilkan pendapatan.
Dari hasil analisa Model Altman, akan diperoleh nilai Z-Score yang dibagi dalam tiga tingkatan atau kategori, yaitu sebagai berikut:
a) Z-Score > 2,90 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga tidak mengalami kesulitan keuangan.
b) 1,23<Z-Score < 2,90 berada di daerah abu-abu sehingga dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan, namun kemungkinan terselamatkan dan kemungkinan bangkrut sama besarnya tergantung dari keputusan kebijaksanaan manajemen perusahaan sebagai pengambil keputusan.
c) Z-Score < 1,23 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi sehingga kemungkinan bangkrutnya sangat besar.
Tabel 2.2
Titik Cut-Off Model Altman Modifikasi (Private Firm)
Kategori Nilai
Sehat jika Z > 2,99
Bangkrut jika Z < 1,18
Daerah Rawan (Grey area) jika Z 1,18 – 2,99
Sumber : Altman (1995)
Untuk perusahaan non manufaktur, formulanya dimodifikasi untuk menghilangkan bias assets turnover, karena sales to total assets pada perusahaan non manufaktur secara normal jauh lebih besar daripada perusahaan manufaktur sehingga T5 dihilangkan pada formula ini. Formula Z Score untuk non manufaktur adalah:
Z-Score = 6,56T1 + 3,26T2 + 6,72T3 + 1,05T4 Keterangan:
T1 = working capital / total assets T2 = retained earnings / total assets
T4 = book value of equity / book value of debt
Dari hasil analisa Model Altman, akan diperoleh nilai Z-Score yang dibagi dalam tiga tingkatan atau kategori, yaitu sebagai berikut:
a) Z-Score > 2,60 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga tidak mengalami kesulitan keuangan.
b) 1,1<Z-Score < 2,60 berada di daerah abu-abu sehingga dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan, namun kemungkinan terselamatkan dan kemungkinan bangkrut sama besarnya tergantung dari keputusan kebijaksanaan manajemen perusahaan sebagai pengambil keputusan.
c) Z-Score < 1,1 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi sehingga kemungkinan bangkrutnya sangat besar.
Tabel 2.3
Titik Cut-Off Model Altman Modifikasi (Perusahaan non manufaktur)
Kategori Nilai
Sehat jika Z > 2,90
Bangkrut jika Z < 1,1
Daerah Rawan (Grey area) jika Z 1,1 – 2,90
Sumber : Altman (1995)
Analisis diskriminan dilakukan untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan dengan menganalisis laporan keuangan perusahaan dua sampai lima tahun sebelum perusahaan tersebut diprediksi bangkrut. Kebangkrutan biasanya dihubungkan dengan kesulitan keuangan. Analisis diskriminan bermanfaat bagi
perusahaan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan dan kelanjutan usahanya. Semakin awal suatu perusahaan memperoleh peringatan kebangkrutan, semakin baik bagi pihak manajemen karena pihak manajemen bisa melakukan perbaikan-perbaikan dan dapat memberikan gambaran dan harapan yang mantap terhadap nilai masa depan perusahaan tersebut.
Menurut BAPEPAM (2005), kelebihan dari hasil Z-Score antara lain: a) Menggabungkan berbagai resiko keuangan secara bersama-sama.
b) Menyediakan koefisien yang sesuai untuk mengkombinasikan variabel-variabel independen.
c) Mudah dalam penerapan.
Sedangkan kelemahan dari hasil Z-Score antara lain:
a) Nilai Z-Score bisa direkayasa atau dibiaskan melalui prinsip akuntansi yang salah atau rekayasa keuangan lainnya.
b) Formula Z-Score kurang tepat untuk perusahaan baru yang labanya masih rendah atau bahkan masih merugi. Nilai Z-Score biasanya akan rendah.
c) Perhitungan Z-Score secara triwulan pada suatu perusahaan dapat memberikan hasil yang tidak konsisten jika perusahaan tersebut mempunyai kebijakan untuk menghapus piutang diakhir tahun secara sekaligus.