• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Analisis Prakiraan Permintaan Benang Sutera Mentah

DIAGRAM/ERD)

A. MODEL PERENCANAAN PENDIRIAN AGROINDUSTRI SUTERA ALAM ALAM

1. Model Analisis Prakiraan Permintaan Benang Sutera Mentah

Model analisis prakiraan permintaan benang sutera mentah digunakan untuk mengetahui tingkat permintaan benang sutera mentah khususnya pada pasar domestik atau dalam negeri. Untuk melakukan analisis prakiraan permintaan ini dibutuhkan data impor benang sutera mentah dari negara lain ke Indonesia dan data ekspor benang sutera mentah dari Indonesia ke negara lain. Data impor dan ekspor tersebut digunakan untuk mengetahui nilai net impor dari benang produk sutera mentah di Indonesia. Penghitungan nilai net impor benang sutera mentah dilakukan dengan cara mencari selisih nilai impor dan ekspor benang sutera mentah pada periode waktu tertentu. Net impor tersebut digunakan sebagai gambaran kebutuhan benang sutera mentah di Indonesia. Pada program aplikasi Sidi-Kuu data impor dan ekspor benang sutera mentah tersebut dikelompokkan per bulan, dan prakiraan permintaan yang dianalisis dari nilai net impor juga dibuat per bulan. Data impor ekspor benang sutera mentah tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Data impor ekspor benang sutera mentah Bulan

Tahun

2008 2009

Impor Ekspor Impor Ekspor

JANUARI 719 0 329 0 FEBRUARI 3392 0 300 0 MARET 6490 0 33 0 APRIL 121 0 8511 0 MEI 2930 0 3872 0 JUNI 1183 0 3545 0 JULI 4700 0 9115 0 AGUSTUS 11 0 6212 0 SEPTEMBER 185 0 OKTOBER 716 0 NOVEMBER 50 0 DESEMBER 23 0 Sumber : BPS (2009)

46 a. Masukan model

Data yang digunakan pada model ini adalah data impor dan ekspor benang sutera mentah per bulan. Data impor dan ekspor tersebut dimulai pada bulan Januari 2008 hingga Agustus 2009 . Data-data tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data-Data-data impor dan ekspor tersebut berfungsi sebagai data aktual yang harus dipenuhi sebelum dapat memprakirakan nilai net impor pada periode berikutnya. Selain data-data aktual tersebut, untuk dapat memprakirakan nilai net impor pada periode berikutnya diperlukan masukan inisiasi awal diantaranya periode peramalan yang diinginkan, parameter untuk perhitungan metode MA (Moving Average), nilai alpha, dan nilai beta. Nilai inisasi yang digunakan pada program aplikasi Sidi-Kuu terdiri dari nilai periode peramalan sebesar empat periode, parameter MA = 4, nilai alpha dan nilai beta masing-masing sebesar 0,1.

Nilai inisasi yang telah diisi akan dimasukkan ke dalam perhitungan peramalan yang menggunakan lima metode time series untuk menghasilkan nilai prakiraan net impor pada periode berikutnya. Lima metode peramalan yang digunakan yaitu MA, DMA (Double Moving Average), SES (Single Exponential Smoothing),

Brown’s Method, dan Holt’s Method.

b. Keluaran Model

Hasil dari perhitungan pada model prakiraan permintaan adalah nilai MAPE dari lima metode prakiraan/peramalan yang digunakan. Kemudian kelima nilai MAPE tersebut dibandingkan untuk menentukan metode terbaik yang digunakan untuk melakukan prakiraan net impor yang menggambarkan prakiraan permintaan pada periode berikutnya. Metode yang dipilih adalah metode yang menghasilkan nilai MAPE terkecil. Nilai MAPE yang dihasilkan dari perhitungan nilai prakiraan permintaan benang sutera mentah oleh masing-masing metode prakiraan dapat dilihat pada Tabel 5.

47 Tabel 5. Nilai MAPE yang dihasilkan dari perhitungan nilai prakiraan

permintaan benang sutera mentah Kriteria

Metode Peramalan MA DMA SES Brown’s

Method

Holt’s Method

MAPE 1622,3 1769,7 1628,3 2087,6 8270,3

Berdasarkan hasil perhitungan, metode yang paling cocok digunakan pada model analisis prakiraan permintaan benang sutera mentah adalah MA. Metode ini menghasilkan nilai MAPE terkecil dibandingkan keempat metode prakiraan/peramalan lainnya. Hasil prakiraan net impor yang didapatkan dengan menggunakan metode MA untuk empat bulan ke depan (September-Desember 2009) sebesar 5.686 kg benang sutera mentah.

c. Tampilan Model Analisis Prakiraan Permintaan Benang Sutera Mentah

Tampilan model analisis prakiraan permintaan benang sutera mentah dapat dilihat pada Gambar 14. Tampilan model analisis prakiraan permintaan benang sutera mentah pada program aplikasi Sidi-Kuu menampilkan grafik yang menggambarkan data aktual net impor benang sutera mentah pada bulan Januari 2008 hingga bulan Agustus 2009, serta grafik yang menggambarkan prakiraan dalam net impor yang digunakan sebagai gambaran permintaan benang sutera mentah. Selain itu, dari tampilan model analisis prakiraan permintaan benang sutera mentah akan diketahui nilai rata-rata net impor per bulannya. Nilai rata-rata net impor tersebut didapatkan dengan cara membagi total nilai net impor dengan jumlah data net impor yang ada. Nilai rata-rata net impor yang dihasilkan nantinya akan diolah untuk selanjutnya dipakai dalam menentukan kapasitas produksi pada model analisis kelayakan finansial budiaya dan agroindustri sutera alam.

48 Gambar 14. Tampilan model analisis prakiraan permintaan benang

sutera mentah

2. Model Pemilihan Lokasi Alternatif Budidaya dan Agroindustri Sutera Alam

Model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam merupakan model yang digunakan untuk menentukan urutan lokasi terbaik budidaya dan agroindustri sutera alam dari sejumlah alternatif lokasi yang ada. Model ini terdiri dari kriteria-kriteria penilaian yang mempengaruhi kelangsungan budidaya dan agroindustri sutera alam. Kedua kegiatan ini dibuat terintegrasi dalam satu kegiatan, sehingga kriteria-kriteria yang dibuat dalam model ini dibuat untuk memenuhi persyaratan lokasi untuk budidaya ulat sutera dan juga agroindustri sutera alam.

a. Masukan Model

Lokasi yang dijadikan alternatif pada program aplikasi Sidi-Kuu adalah 30 kecamatan yang berada di Kabupaten Bogor. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk menentukan pilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam terdiri dari ketinggian tempat, suhu, kelembaban relatif, curah hujan rata-rata, lama penyinaran, kecepatan angin, kemiringan lahan, jenis tanah, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan air, ketersediaan listrik, keadaan jalan, ketersediaan lahan, dan akses pemasaran.

49 1) Kriteria Pembobotan Nilai

Lokasi terbaik ditentukan dengan menggunakan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) yang di dalamnya terdapat perhitungan dari bobot setiap alternatif dengan bobot kriteria yang ada. Penentuan lokasi yang paling cocok untuk dijadikan tempat budidaya dan agroindustri sutera alam dilakukan dengan cara pengisian nilai untuk masing-masing alternatif lokasi berdasarkan kriteria yang ada dengan skala 1-5. Nilai 1 merupakan skala terkecil yang diberikan, sedangkan nilai 5 merupakan skala terbesar dari alternatif yang ada. Penjelasan mengenai kriteria dan bobot kriteria alternatif dari masing-masing lokasi adalah sebagai berikut.

Ø Ketinggian tempat

Ketinggian tempat merupakan faktor terpenting yang harus dipertimbangkan dalam penentuan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam. Hal ini dikarenakan ketinggian tempat akan berpengaruh langsung terhadap suhu suatu tempat. Ketinggian tempat akan berpengaruh pada kualitas pemeliharaan ulat sutera dan pertumbuhan tanaman murbei. Ketinggian optimum untuk melakukan budidaya ulat sutera adalah 500-700 meter di atas permukaan air laut. Tabel 6 menyajikan pemberian nilai terhadap ketinggian tempat pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 6. Kriteria ketinggian tempat Ketinggian Tempat

(m.dpl)

Nilai Bobot Kriteria Alternatif 500-700 5 400-500 4 200-400 3 650-1000 2 1000-1400 1

50 Ø Suhu

Suhu udara suatu tempat dipengaruhi ketinggian tempat tersebut. Semakin tinggi letak suatu lokasi dari permukaan air laut, maka suhu udara di lokasi tersebut akan cenderung lebih rendah. Suhu udara optimum untuk melakukan pemeliharaan ulat sutera dan tanaman murbei adalah berkisar antara 23-27 o

C. Pemeliharaan ulat sutera dan tanaman murbei dapat dilakukan pada tempat yang memiliki suhu udara berbeda dari suhu udara optimum tersebut, namun perlu mendapat beberapa perlakukan dalam pemeliharaan ulat sutera agar tetap bisa mendapatkan hasil panen terbaik. Tabel 7 menyajikan pemberian nilai terhadap suhu pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 7. Kriteria suhu udara Suhu udara

(oC)

Nilai Bobot Kriteria Alternatif 23-27 5 20-23 4 17-19 3 15-17 2 27-30 1 Ø Kelembaban Relatif

Kelembaban relatif suatu lokasi alternatif akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ulat sutera dan tanaman murbei. Kelembaban yang tidak sesuai akan mengakibatkan tumbuhnya jamur atau timbulnya penyakit pada ulat sutera maupun tanaman murbei, hal ini akan mengakibatkan menurunnya produktivitas panen kokon. Sehingga akan menyebabkan kerugian bagi petani dan pelaku agroindustri benang. Kelembaban relatif suatu lokasi yang terbaik untuk pertumbuhan ulat sutera dan tanaman murbei adalah berkisar antara 75-85%. Tabel 8 menyajikan pemberian nilai terhadap

51 kelembaban relatif pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 8. Kriteria kelembaban relatif Kelembaban Relatif

(%)

Nilai Bobot Kriteria Alternatif 75-85 5 70-75 4 65-70 3 60-65 2 85-95 1 Ø Curah hujan

Curah hujan akan berpengaruh pada kualitas daun murbei yang digunakan sebagai pakan ulat sutera. Curah hujan yang optimum membuat kualitas daun murbei menjadi baik, sehingga kualitas kokon yang diperoleh dari ulat sutera juga akan baik. Curah hujan optimum yang baik untuk pemeliharaan ulat sutera dan tanaman murbei adalah berkisar antara 2.000-2.200 mm/tahun. Tabel 9 menyajikan pemberian nilai terhadap curah hujan pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 9. Kriteria curah hujan Curah Hujan

(mm/tahun)

Nilai Bobot Kriteria Alternatif 2.000-2.200 5 1.500-2.000 4 800-1.500 3 2.200-3.000 2 3000-3500 1 Ø Lama penyinaran

Lama penyinaran suatu lokasi alternatif akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman murbei dan ulat

52 sutera. Lama penyinaran yang optimum akan membuat tanaman murbei dapat cukup mendapatkan waktu untuk terkena sinar matahari sehingga daun yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Sedangkan untuk pemeliharaan ulat sutera, penyinaran yang optimal pada suatu lokasi akan membuat ulat beraktifitas dengan baik sehingga kualitas kokon yang dihasilkan nantinya juga baik. Lama penyinaran optimum untuk pemeliharaan tanaman murbei dan ulat sutera adalah 10-11 jam per hari. Tabel 10 menyajikan pemberian nilai terhadap lama penyinaran pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 10. Kriteria lama penyinaran Lama Penyinaran

(jam/hari)

Nilai Bobot Kriteria Alternatif 10-11 5 9-10 4 8-9 3 6-8 2 5-6 1 Ø Kecepatan angin

Kecepatan angin mempengaruhi pertumbuhan tanaman murbei, khususnya pada awal pertumbuhan tanaman. Kecepatan angin yang tidak baik akan membuat pertumbuhan tanaman murbei terganggu, sehingga daun yang dihasilkan untuk pakan ulat sutera akan berpengaruh dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Kecepatan angin optimum untuk pemeliharaan tanaman murbei dan ulat sutera adalah 0,8-1,1 meter per detik. Tabel 11 menyajikan pemberian nilai terhadap kecepatan angin pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

53 Tabel 11. Kriteria kecepatan angin

Kecepatan Angin (m/s)

Nilai Bobot Kriteria Alternatif 0,8-1,1 5 0,5-0,8 4 0,2-0,5 3 1,1-1,6 2 1,6-2,0 1 Ø Kemiringan lahan

Kemiringan lahan akan mempengaruhi keefektifan penanaman tanaman murbei pada awal ingin melakukan budidaya ulat sutera dan juga mempengaruhi keefektifan kerja pada waktu akan memanen daun untuk pakan ulat sutera. Untuk meningkatkan efektifitas kerja pada budidaya ulat sutera dipilih tempat yang memiliki kemiringan lahan yang sesuai. Kemiringan lahan optimum untuk pemeliharaan tanaman murbei dan ulat sutera adalah 0-10o. Tabel 12 menyajikan pemberian nilai terhadap lama penyinaran pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 12. Kriteria kemiringan lahan Kemiringan Lahan

(derajat)

Nilai Bobot Kriteria Alternatif 0-10 5 10-15 4 15-20 3 20-30 2 30-40 1 Ø Jenis Tanah

Jenis tanah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman murbei. Sebenarnya tanaman murbei cocok tumbuh pada hampir semua jenis tanah. Akan tetapi, jenis tanah paling baik untuk dijadikan tempat pembudidayaan tanaman murbei adalah latosol. Tabel 13

54 menyajikan pemberian nilai terhadap jenis tanah pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 13. Kriteria jenis tanah

Jenis Tanah Nilai Bobot Kriteria Alternatif Latosol 5 Podsol 4 Mediteran 3 Grumosol 2 Andosol 1

Ø Ketersediaan tenaga kerja

Ketersediaan tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi budidaya dan agroidustri sutera alam. Lokasi pengembangan budidaya dan agroindustri sutera alam sebaiknya memiliki ketersediaan tenaga kerja yang mencukupi untuk dapat bekerja pada usaha pembudidayaan maupun agroindustri sutera alam. Ketersediaan jumlah tenaga kerja yang banyak pada suatu lokasi alternatif akan membuat adanya pertumbuhan ekonomi pada daerah tersebut dan juga berpengaruh positif terhadap perusahaan. Tabel 14 menyajikan pemberian nilai terhadap ketersediaan tenaga kerja pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 14. Kriteria ketersediaan tenaga kerja Jumlah Pencari Kerja

(tenaga kerja menganggur)

Nilai Bobot Kriteria Alternatif Sangat banyak 5 Banyak 4 Cukup 3 Sedikit 2 Sangat sedikit 1

55 Ø Ketersediaan air

Ketersediaan air menggambarkan banyaknya suplai air pada lokasi alternatif. Tanaman murbei memerlukan pasokan air yang cukup untuk dapat menjaga pertumbuhannya dan kualitas daun yang dihasilkannya. Pada agroindustri sutera alam, yaitu industri pembuatan benang sutera mentah memerlukan pasokan air yang cukup banyak pada proses produksinya. Karena kedua hal tersebut maka lokasi yang menjadi alternatif pemilihan harus memiliki pasokan air yang sangat baik sehingga kualitas dari kokon dan benang yang dihasilkan juga baik. Penilaian ketersediaan air dapat dilihat dari saluran irigasi dan daerah aliran sungai (DAS) yang terdapat pada lokasi alternatif. Tabel 15 menyajikan pemberian nilai terhadap ketersediaan air pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 15. Kriteria ketersediaan air

Ketersediaan Air Nilai Bobot Kriteria Alternatif Sangat baik 5 Baik 4 Cukup 3 Kurang 2 Buruk 1 Ø Ketersediaan listrik

Ketersediaan listrik pada daerah yang akan dijadikan lokasi alternatif perlu mendapat perhatian sebelum memutuskan membuat kegiatan budidaya dan agroindustri sutera alam pada lokasi tersebut. Adanya jaminan ketersediaan listrik yang baik merupakan salah satu aspek yang harus dipenuhi karena akan mempengaruhi keberlanjutan proses produksi. Tabel 16 menyajikan pemberian nilai terhadap ketersediaan listrik pada model pemilihan lokasi alternatif

56 budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 16. Kriteria ketersediaan listrik

Ketersediaan Listrik Nilai Bobot Kriteria Alternatif Sangat baik 5 Baik 4 Cukup 3 Kurang 2 Buruk 1 Ø Keadaan jalan

Keadaan jalan menggambarkan kemudahan akses memasuki lokasi yang menjadi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam. Keadaan jalan yang kurang baik akan membawa dampak pada saat penetasan telur ulat sutera. Dalam pendistribusian telur ulat sutera diusahakan untuk meminimumkan adanya goncangan yang terjadi. Adanya goncangan selama pendistribusian telur ulat akan mempengaruhi persentase keberhasilan penetasan dan persentase jumlah ulat yang mengokon. Selain dalam hal pendistribusian telur ulat, keadaan jalan juga berpengaruh pada saat pendistribusian ulat instar III kepada petani. Pada saat pendistribusian ulat kepada petani juga diusahakan agar goncangan yang terjadi tidak terlalu banyak sehingga tidak mengganggu pertumbuhan ulat sutera tersebut. Tabel 17 menyajikan pemberian nilai terhadap keadaan jalan pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

57 Tabel 17. Kriteria keadaan jalan

Keadaan Jalan Nilai Bobot Kriteria Alternatif Sangat baik 5 Baik 4 Cukup 3 Kurang 2 Buruk 1 Ø Ketersediaan lahan

Ketersediaan lahan menggambarkan lahan yang masih tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk pendirian kegiatan budidaya dan agroindustri sutera alam. Ketersediaan lahan juga biasanya akan berpengaruh terhadap harga lahan, sehingga kondisi terbaik untuk lokasi budidaya dan agroindustri sutera alam adalah daerah yang memiliki ketersediaan lahan yang sangat banyak. Tabel 18 menyajikan pemberian nilai terhadap ketersediaan lahan pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 18. Kriteria ketersediaan lahan

Ketersediaan Lahan Nilai Bobot Kriteria Alternatif Sangat luas 5 Luas 4 Sedang 3 Sempit 2 Sangat sempit 1 Ø Akses pemasaran

Akses pemasaran menggambarkan kemudahan menjual produk hasil agroindustri sutera alam, yaitu benang sutera mentah dari lokasi agroindustri tersebut. Akses pemasaran ini juga berkaitan dengan akses komunikasi yang akan memperlancar pemasaran produk. Tabel 19 menyajikan pemberian nilai terhadap akses pemasaran pada model

58 pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam pada program aplikasi Sidi-Kuu.

Tabel 19. Kriteria akses pemasaran

Ketersediaan Air Nilai Bobot Kriteria Alternatif Sangat baik 5 Baik 4 Cukup 3 Kurang 2 Buruk 1 2) Pembobotan Kriteria

Pembobotan untuk masing-masing kriteria model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam ditentukan berdasarkan penilaian pakar (expert judment). Narasumber yang dijadikan pakar adalah Ibu Lincah yang merupakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Skala kepentingan dari bobot kriteria mulai dari satu hingga sembilan. Semakin tinggi nilai yang diberikan, maka semakin penting kriteria tersebut dalam penentuan lokasi pendirian budidaya dan agroindustri sutera alam. Hasil pembobotan kriteria yang dilakukan oleh pakar diperlihatkan pada Tabel 20.

Ketinggian tempat merupakan kriteria yang kriteria yang paling penting untuk dipenuhi lokasi yang akan dijadikan alternatif pendirian budidaya dan agroindustri sutera alam. Kriteria ketinggian tempat akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pemeliharaan dan pertumbuhan ulat sutera. Kriteria ketinggian tempat ini juga akan mempengaruhi suhu udara pada suatu tempat, sehingga pemenuhan kriteria ketinggian tempat untuk dapat mendirikan atau mengembangkan budidaya dan agroindustri sutera alam mutlak untuk dipenuhi. Kriteria selanjutnya yang juga memiliki tertinggi setelah kriteria ketinggian tempat adalah kriteria suhu, ketersediaan air,

59 ketersediaan listrik. Akses pemasaran menjadi kriteria yang memiliki tingkat kepentingan yang tidak terlalu tinggi, hal tersebut dikarenakan karena produk sutera alam ini masih memiliki minat pasar yang tinggi, sehingga pada umumnya tidak sulit untuk mencari calon konsumennya.

Tabel 20. Bobot penilaian kriteria lokasi budidaya dan agroindustri sutera alam

No. Kriteria Bobot kriteria

1 Ketinggian tempat 9 2 Suhu 8 3 Kelembaban Relatif 8 4 Curah hujan 8 5 Lama penyinaran 8 6 Kecepatan angin 7 7 Kemiringan lahan 7 8 Jenis Tanah 7

9 Ketersediaan tenaga kerja 8

10 Ketersediaan air 8 11 Ketersediaan listrik 8 12 Keadaan jalan 6 13 Ketersediaan lahan 7 14 Akses pemasaran 7 b. Keluaran Model

Keluaran dari model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam adalah prioritas lokasi untuk pendirian atau pengembangan budidaya dan agroindustri sutera alam. Setelah melakukan proses penilaian pada masing-masing lokasi berdasarkan kriteria yang ada selanjutnya masing-masing lokasi yang dijadikan alternatif tersebut akan mendapatkan total nilai berdasarkan perhitungan menggunakan MPE. Alternatif lokasi yang ada kemudian diurutkan mulai dari lokasi yang memiliki total nilai tertinggi hingga lokasi yang memiliki total nilai terendah. Semakin tinggi total nilai yang diperoleh suatu lokasi maka semakin baik lokasi tersebut untuk dijadikan lokasi pendirian atau pengembangan budidaya dan agroindustri sutera alam. Hasil perhitungan total nilai menggunakan MPE pada semua lokasi alternatif yang dijadikan contoh atau sampel

60 dapat dilihat pada Lampiran 1. Beberapa hasil penilaian lokasi alternatif dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Hasil penilaian beberapa lokasi alternatif

Nama Lokasi Provinsi Total Nilai

Megamendung Jawa Barat 3049271

Parung Panjang Jawa Barat 2593794

Tenjo Jawa Barat 2529822

c. Tampilan Model Pemilihan Lokasi Alternatif Budidaya dan Agroindustri Sutera Alam

Tampilan model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam dapat dilihat pada Gambar 15. Data lokasi alternatif pada program aplikasi Sidi-Kuu dapat ditambah, dan dikurangi oleh pengguna program aplikasi ini.

Gambar 15. Tampilan model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam

Pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam juga terdapat tampilan report untuk memudahkan pengguna dalam melihat urutan prioritas lokasi alternatif

61 yang menjadi masukan. Tampilan report pada model pemilihan lokasi alternatif disajikan pada Gambar 16.

Gambar 16. Tampilan report pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam

3. Model Teknologi Proses

Model teknologi proses merupakan model yang menjabarkan hal-hal yang berkaitan dengan proses produksi dan peralatan yang termasuk di dalam proses produksi tersebut. Penjabaran mengenai proses produksi perlu dilakukan karena pembuatan suatu produk pasti memiliki urutan proses tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Apple (1990) yang mengatakan bahwa pembuatan setiap produk, pemberian jasa atau pelaksanaan setiap kegiatan mandiri, orang yang mengerjakannya mengikuti satu urutan langkah tertentu yang telah ditentukan. Langkah-langkah yang telah ditentukan untuk membuat produk atau jasa secara lebih seragam biasanya disebut operasi. Satu urutan operasi dan peralatan

62 yang dibutuhkan disebut rancangan proses (Apple, 1990). Proses produksi pada agroindustri benang sutera mentah dijabarkan pada Gambar 17.

Gambar 17. Proses produksi pembuatan benang sutera mentah

Kokon segar merupakan kokon yang baru dipanen oleh para petani kokon. Setelah kokon segar ini dipanen, maka akan dilakukan proses pembersihan kokon dari kapas-kapas yang melekat pada kulit kokon. Proses pembersihan ini dinamakan flossing, sedangkan kapas-kapas yang melekat pada kulit kokon dinamakan flossom (Ryu, 2000). Proses ini perlu dilakukan karena kapas-kapas yang melekat pada kokon akan membuat kokon tidak dapat dipintal menjadi benang. Gambar kokon yang belum dipanen dapat dilihat pada Gambar 18, dan gambar kokon yang belum melalui tahap flossing dapat dilihat pada Gambar 19.

FRESH COCOON FLOSSING DRYING SELECTION COOKING REELING RE-REELING INSPECTION RAW SILK SELECTION

63 Gambar 18. Kokon yang belum dipanen

Gambar 19. Kokon yang belum diflossing

Setelah proses flossing selesai dilakukan, maka perlu dilakukan seleksi terhadap kokon-kokon tersebut. Selain menyeleksi hasil proses pembersihan kokon yang sudah dilakukan pada proses sebelumnya, seleksi juga dilakukan terhadap kualitas kokon. Seleksi terhadap kualitas kokon dimaksudkan untuk memisahkan antara kokon yang berkualitas baik (layak dipintal) dengan kokon cacat. Untuk membedakan kualitas kokon ini dilakukan secara manual. Orang yang melakukan seleksi ini harus mampu membedakan kokon yang dapat dipintal dan yang tidak dapat dipintal. Indikator kokon berkualitas baik menurut Ryu (2000) adalah kokon dalam keadaan bersih, bagian dalam kokon (pupa) tidak rusak atau

Dokumen terkait