4.2. Profil Resistivitas Tiga Dimensi
4.2.2. Model Bidang Longsoran
Berdasarkan model dua dimensi hasil inversi res2dinv pada gambar 4.2 , 4.3, dan 4.4 menunjukkan bahwa lapisan longsoran pada daerah penelitian merupakan lapisan lempung pasiran hingga pasir lempungan. Lapisan tersebut berpotensi mengalami pergerakan apabila bidang gelincir terlalu licin dan tidak kuat menopang beban di atasnya. Pemodelan tiga dimensi lapisan longsoran bertujuan untuk mengetahui lapisan-lapisan yang berpotensi bergerak.
38
Gambar 4. 7 Model Bidang Longsoran Tiga Dimensi
Gambar 4.7 merupakan model lapisan longsoran yang terdapat pada daerah penelitian. Pemodelan dilakukan dengan melakukan filter dari model 4.6 pada rentang resistivitas 54.8 Ωm sampai dengan 192 Ωm. Hasil pemodelan tersebut memvalidasi hasil inversi dua dimensi, bahwa lapisan longsoran yang berupa lempung pasiran hingga pasir lempungan juga mengalami kemenerusan pada ketiga lintasan penelitian.
Lapisan lempung pasiran dan pasir lempungan sebagai lapisan longsoran, mempunyai porositas yang lebih besar dari lapisan lempung di bawahnya. Hal ini dikarenakan pasir memiliki jarak antar butir yang lebih renggang dibandingkan lempung. Sehingga laju infiltrasi air akan mengalami penurunan ketika sampai pada batas medium dengan lapisan lempung di bawahnya. Artinya penurunan laju infiltrasi air yang terjadi dapat menyebabkan akumulasi air tepat di atas bidang gelincir.
Akumulasi air akan semakin banyak apabila infiltrasi terjadi secara terus-menerus sehingga dapat menyebabkan permukaan bidang gelincir menjadi licin.
Kondisi tersebut diperparah dengan keberadaan pemukiman di atas nya.
Bangunan-bangunan di atas nya menambah beban topang yang diterima oleh batuan dasar. Diiringi curah hujan yang ekstrem potensi pergerakan tanah dapat terjadi.
39
Rekayasa sistem drainase dan pemeliharaan vegetasi lereng dapat dilakukan sebagai tindakan preventif. Penambahan talang sebagai rekayasa sistem drainase bermanfaat dalam menyalurkan limbah cair pemukiman langsung ke sistem drainase tanpa meresap kebawah permukaan yang dapat mengurangi kerigidan tanah. Tindakan preventif lainnya yaitu pemeliharaan vegetasi yang ada pada lereng. Daya absorbansi dari banyak vegetasi sangat berguna untuk menjaga sistem hidrostatik sehingga laju infiltrasi air dapat diredam sebelum terakumulasi di atas bidang gelincir.
40 BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dari penelitian terkait identifikasi bidang gelincir di Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso Kabupaten Karanganyar dapat disimpulkan bahwa :
1. Mengacu pada persebaran nilai resistivitas pada ketiga lintasan, terdapat kemiripan struktur perlapisan bawah tanah antara ketiga nya. Sebaran nilai resistivitas berkisar antara 1 - 600 Ωm. Lapisan dengan resistivitas 1 – 15.82 Ωm diinterpretasikan sebagai lempung, Resistivitas 15.82 – 54.8 Ωm diinterpretasi sebagai lempung pasiran, Resistivitas 54.8 - 192 Ωm diinterpretasi sebagai pasir lempungan, nilai resistivitas antara 192 - 600 Ωm diinterpretasi sebagai pasir kerikilan dan lapisan dengan resistivitas diatas 600 Ωm diinterpretasi sebagai batuan breksi andesit.
2. Terkait bidang gelincir pada lokasi penelitian, Terdapat kemenerusan bidang gelincir pada tiap lintasan uji. Bidang gelincir berarah utara-selatan searah dengan lereng, keberadaan nya terdadpat pada kedalaman sekitar 3 meter. Pembentuknya merupakan satuan lempung yang membentuk suatu Bed rock. Dimana sifat nya yang kedap air dapat membuat air terakumulasi di atas nya sehingga permukaan nya menjadi licin terhadap beban di atas nya. Bidang gelincir tersebut membentuk suatu bidang miring yang dapat berpotensi menyebabkan longsor berjenis translasi.
5.2. Saran
Pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan pengukuran dengan lintasan yang lebih panjang. Hal ini diperlukan untuk mengetahui bagaimana kemenerusan bidang gelincir ke arah utara.
41
DAFTAR PUSTAKA
Apriyono, A. (2009). Analisis penyebab tanah longsor di Kalitlaga Banjarnegara. Dinamika Rekayasa, 5(1), 14-18.
Bappeda Kabupaten Karanganyar. 2015. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Karanganyar 2005-2025. Bappeda Kabupaten Karanganyar. Karanganyar.
Bencana, B. N. P. (2013). Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Dipetik April, 20, 2017.
BNPB Kabupaten Karangnayar. (2016). “Tanah Longsor Beruntun di Kecamatan
Jatiyoso, Jumapolo, Kerjo dan Tawangmangu”,
https://bpbd.karanganyarkab.go.id/?p=362, diakses pada Agustus 2021.
Darsono, D. (2016). Identifikasi Akuifer Dangkal dan Akuifer Dalam dengan Metode Geolistrik (Kasus: Di Kecamatan Masaran). Indonesian Journal of Applied Physics, 6(01), 40-49.
Datun, M., Sukandarrumidi, Hermanto, B., & Suwarna, N. (1996). PETA GEOLOGI LEMBAR NGAWI, JAWA. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Faizana, F., Nugraha, A. L., & Yuwono, B. D. (2015). Pemetaan risiko bencana tanah longsor Kota Semarang. Jurnal Geodesi Undip, 4(1), 223-234.
Grandis, H. (2009). Pengantar Pemodelan Inversi Geofisika. Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Jakarta.
Hapsari, S. B. (2013). Interpretasi Data Geolistrik Untuk Memetakan Potensi Air Tanah Dalam Menunjang Pengembangan Data Hidrogeologi Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Handayani, S. S. (2021). “Bencana Alam Melanda Jatiyoso Karanganyar, Rumah Ketiban Longsor Saat Ditinggal Tarawih”, https://www.solopos.com/bencana- alam-melanda-jatiyoso-karanganyar-rumah-ketiban-longsor-saat-ditinggal-tarawih-1118940, diakses pada Agustus 2021.
Kalbus, E., Reinstorf, F., & Schirmer, M. (2006). Measuring methods for groundwater–
surface water interactions: a review. Hydrology and Earth System Sciences, 10(6), 873-887.
Ling, C., Xu, Q., Zhang, Q., Ran, J., & Lv, H. (2016). Application of electrical resistivity tomography for investigating the internal structure of a translational landslide and characterizing its groundwater circulation (Kualiangzi landslide, Southwest China). Journal of Applied Geophysics, 131, 154-162.
Milsom, J. (2003). Field geophysics (Vol. 25). John Wiley and sons.
42
Muallifah, F. (2009). Perancangan dan Pembuatan Alat Ukur Resistivitas Tanah. Jurnal Neutrino: Jurnal Fisika dan Aplikasinya.
Omosuyi, G. O., Adeyemo, A., & Adegoke, A. O. (2007). Investigation of groundwater prospect using electromagnetic and geoelectric sounding at Afunbiowo, near Akure, Southwestern Nigeria. The pacific journal of science and technology, 8(2), 172-182.
Ottowitz, D., Jochum, B., Pfeiler, S., Gruber, S., Supper, R., & Kim, J. H. (2017, May).
Pechgraben Landslide: Evaluation of Geophysical/Geotechnical Methods in Terms of Remediation Support. In Workshop on World Landslide Forum (pp.
289-300). Springer, Cham.
Pratiwi, E. S., & Sartohadi, J. (2019, June). Geoelectrical Prediction for Sliding Plane Layers of Rotational Landslide at the Volcanic Transitional Landscapes in Indonesia. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol.
286, No. 1, p. 012028). IOP Publishing.
Priambodo, I. C., Purnomo, H., Rukmana, N., dan Juanda. 2011. Aplikasi Metode Geolistrik Konfigurasi Wenner-Schlumberger pada Survey Gerakan Tanah di Bajawa, NTT. Buletin Vulkanologi dan Bencana Geologi. 6:1-10.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2015, Perkiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah / tanah longsor dan banjir bandang di seluruh Indonesia.
Bandung. ESDM, Kementrian.
Reynolds, J.M., 1997. An Introduction to Applied and Environmental Geophysics.
Rochmadi, W. A., Firdaus, H. S., & Wahyuddin, Y. (2020). ANALISIS DAN VISUALISASI PEMETAAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DI
KABUPATEN KARANGANYAR MENGGUNAKAN SISTEM
INFORMASI GEOGRAFIS DENGAN METODE PERMEN PU DAN FUZZY AHP. Jurnal Geodesi Undip, 10(1), 40-49.
Samoedra, H., & Sampurno. (1997). PETA GEOLOGI LEMBAR PONOROGO, JAWA. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Serway, R. A., & Jewett, J. W. (2004). Capacitance and dielectrics. Physics for scientists and engineers, 796-820.
Soenarmo, S. H., Sadisun, I. A., & Saptohartono, E. (2008). Kajian awal pengaruh intensitas curah hujan terhadap pendugaan potensi tanah longsor berbasis spasial di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Jurnal Geoaplika, 3(3), 133-141.
Sugito, S., Irayani, Z., & Permana Jati, I. (2010). Investigasi bidang gelincir tanah longsor menggunakan metode geolistrik tahanan jenis di Desa Kebarongan Kec. Kemranjen Kab. Banyumas. Berkala Fisika, 13(2), 49-54.
43
Sulystyaningrum, E. (2014). APLIKASI METODE SEISMIK REFRAKSI UNTUK IDENTIFIKASI PERGERAKAN TANAH DI PERUMAHAN BUKIT MANYARAN PERMAI (BMP) SEMARANG. Unnes Physics Journal, 3(2).
Susilawati., Rahmatsyah., dan Hasibun, F. 2015. Studi Intrusi Air Laut dengan Metode Resistivitas Listrik Konfigurasi Wenner - Schlumberger di Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Medan. pp. 1-5.
Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E., dan Keys, D.A., 1976. Applied Geophysiscs,1st Edition. Cambridge: Cambridge University Press.
Telford, W. M., Geldart, L. P., dan Sheriff, R. E. (1990). Applied geophysics.
Cambridge university press.
Tezkan, B., Israil, M., Singhal, D. C., & Rai, J. (2010). Geoelectrical mapping of aquifer contamination: a case study from Roorkee, India. Near Surface Geophysics, 8(1), 33-42.
44
45
46
47
titik elev(m) lat(S) Long(E)
0 1156.01 7°42'5.40"S 111° 7'49.90"E 2 1156.42 7°42'5.32"S 111° 7'49.88"E 4 1156.53 7°42'5.25"S 111° 7'49.88"E 6 1156.75 7°42'5.19"S 111° 7'49.88"E 8 1157.07 7°42'5.12"S 111° 7'49.89"E 10 1157.41 7°42'5.06"S 111° 7'49.89"E 12 1157.63 7°42'5.00"S 111° 7'49.86"E 14 1157.84 7°42'4.94"S 111° 7'49.84"E 16 1158.11 7°42'4.88"S 111° 7'49.83"E 18 1158.55 7°42'4.82"S 111° 7'49.81"E 20 1159.13 7°42'4.77"S 111° 7'49.78"E 22 1159.68 7°42'4.71"S 111° 7'49.77"E 24 1160.05 7°42'4.65"S 111° 7'49.75"E 26 1160.62 7°42'4.58"S 111° 7'49.75"E 28 1161.51 7°42'4.52"S 111° 7'49.72"E 30 1162.47 7°42'4.46"S 111° 7'49.71"E 32 1163.41 7°42'4.40"S 111° 7'49.70"E 34 1164.37 7°42'4.33"S 111° 7'49.70"E 36 1165.42 7°42'4.27"S 111° 7'49.68"E 38 1166.58 7°42'4.22"S 111° 7'49.67"E 40 1167.73 7°42'4.15"S 111° 7'49.67"E 42 1169.62 7°42'4.09"S 111° 7'49.67"E 44 1171.53 7°42'4.04"S 111° 7'49.66"E 46 1173.42 7°42'3.97"S 111° 7'49.66"E 48 1175.54 7°42'3.90"S 111° 7'49.65"E 50 1178.31 7°42'3.84"S 111° 7'49.65"E
48
49
50
51
titik elev(m) lat(S) Long(E) 0 1159.15 7°42'5.04"S 111° 7'51.74"E 2 1159.46 7°42'5.00"S 111° 7'51.69"E 4 1159.68 7°42'4.94"S 111° 7'51.66"E 6 1159.71 7°42'4.88"S 111° 7'51.64"E 8 1159.75 7°42'4.81"S 111° 7'51.62"E 10 1159.75 7°42'4.75"S 111° 7'51.59"E 12 1160.07 7°42'4.68"S 111° 7'51.56"E 14 1160.37 7°42'4.62"S 111° 7'51.55"E 16 1160.67 7°42'4.56"S 111° 7'51.53"E 18 1161.02 7°42'4.49"S 111° 7'51.52"E 20 1161.59 7°42'4.43"S 111° 7'51.51"E 22 1162.5 7°42'4.36"S 111° 7'51.50"E 24 1163.73 7°42'4.28"S 111° 7'51.48"E 26 1164.64 7°42'4.21"S 111° 7'51.47"E 28 1165.55 7°42'4.15"S 111° 7'51.45"E 30 1166.77 7°42'4.08"S 111° 7'51.43"E 32 1167.38 7°42'4.02"S 111° 7'51.42"E 34 1168.3 7°42'3.95"S 111° 7'51.40"E 36 1169.52 7°42'3.88"S 111° 7'51.39"E 38 1171.04 7°42'3.81"S 111° 7'51.38"E 40 1172.56 7°42'3.74"S 111° 7'51.37"E 42 1174.22 7°42'3.67"S 111° 7'51.35"E 44 1176.22 7°42'3.61"S 111° 7'51.33"E 46 1178.36 7°42'3.55"S 111° 7'51.32"E 48 1180.79 7°42'3.48"S 111° 7'51.31"E 50 1183.28 7°42'3.40"S 111° 7'51.30"E
52
53
54
55
titik elev(m) lat(S) Long(E)
0 1165.25 7°42'4.78"S 111° 7'52.68"E 2 1165.55 7°42'4.69"S 111° 7'52.63"E 4 1165.88 7°42'4.60"S 111° 7'52.61"E 6 1166.65 7°42'4.53"S 111° 7'52.60"E 8 1166.77 7°42'4.43"S 111° 7'52.57"E 10 1167.38 7°42'4.36"S 111° 7'52.56"E 12 1167.69 7°42'4.30"S 111° 7'52.54"E 14 1168.30 7°42'4.23"S 111° 7'52.52"E 16 1168.91 7°42'4.16"S 111° 7'52.50"E 18 1169.21 7°42'4.10"S 111° 7'52.48"E 20 1169.52 7°42'4.04"S 111° 7'52.47"E 22 1170.13 7°42'3.98"S 111° 7'52.46"E 24 1171.35 7°42'3.91"S 111° 7'52.45"E 26 1171.96 7°42'3.84"S 111° 7'52.45"E 28 1172.16 7°42'3.78"S 111° 7'52.43"E 30 1172.87 7°42'3.72"S 111° 7'52.42"E 32 1173.80 7°42'3.65"S 111° 7'52.40"E 34 1175.00 7°42'3.59"S 111° 7'52.37"E 36 1176.22 7°42'3.53"S 111° 7'52.36"E 38 1176.94 7°42'3.47"S 111° 7'52.34"E 40 1177.44 7°42'3.41"S 111° 7'52.33"E 42 1180.22 7°42'3.35"S 111° 7'52.32"E 44 1182.01 7°42'3.29"S 111° 7'52.28"E 46 1185.15 7°42'3.22"S 111° 7'52.26"E 48 1186.02 7°42'3.16"S 111° 7'52.23"E 50 1187.81 7°42'3.10"S 111° 7'52.20"E
56 Dokumentasi
57