• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.2. Model Ekonomi Rumahtangga Nelayan

Model adalah representasi dari fenomena aktual, karena itu model merupakan abstraksi dan simplifikasi dari suatu kondisi dunia nyata. Model adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk menyederhanakan dunia nyata, agar hubungan-hubungan antara kekuatan ekonomi dapat dimengerti. Model ekonometrika adalah suatu tipe khusus dari model aljabar yang bersifat stokastik yang mencakup satu atau lebih variabel acak (Intriligator, 1978). Model ekonometrika menggambarkan hubungan masing-masing variabel penjelas terhadap variabel tidak bebas (endogen) khususnya mengenai besaran dan tanda dari koefisien dugaan parameter fungsi yang diduga secara apriori berdasarkan teori-teori ekonomi (Koutsoyianis, 1979).

Memahami peranan kredit bagi rumahtangga miskin baik yang telah mencapai tingkat keberlanjutan atau belum, tentu terkait dengan pemahaman tentang perilaku rumahtangga pengguna kredit. Pada penelitian ini dianalisis perilaku rumahtangga peserta kredit dengan menggunakan model ekonomi rumahtangga. Dalam ekonomi rumahtangga alokasi waktu dan konsumsi barang

dapat dibeli di pasar atau dapat juga dihasilkan rumahtangga. Ciri utama yang membedakan perilaku individu dan perilaku rumahtangga sebagai konsumen adalah bahwa perilaku ekonomi rumahtangga pada saat yang sama juga sebagai produsen sebagaimana suatu perusahaan. Rumahtangga dalam hal ini sebagai pengambil keputusan dalam kegiatan produksi dan konsumsi serta hubungannya dengan alokasi waktu dan pendapatan, sehingga rumahtangga dianalisis secara simultan. Keputusan produksi mempengaruhi pendapatan rumahtangga, demikian juga sebaliknya keputusan konsumsi mempengaruhi keputusan produksi (Singh et al., 1986 dan Sadoulet, 1995). Oleh karena itu dalam menganalisis keputusan produksi dan konsumsi rumahtangga pertanian harus dilakukan secara simultan (Skoufias, 1993).

Singh et al., (1986), kemudian mengembangkan model simultan yang digunakan untuk menganalisis rumahtangga pertanian yang dikenal sebagai

agricultural household model atau farm household model, yang mengasumsikan bahwa rumahtangga petani sebagai konsumen akan memaksimumkan kepuasan. Bentuk umum agricultural household model tersebut dapat dimodifikasi dan dikembangkan ke dalam berbagai model sesuai latar belakang, permasalahan, tujuan serta kondisi daerah penelitian. Pada penelitian ini dilakukan di sub sektor perikanan yaitu rumahtangga nelayan yang juga bercirikan subsistem, maka beberapa variabel yang mencirikan kondisi usaha perikanan di desa pantai seperti teknologi penangkapan, aset kapal, frekuensi melaut, musim, dapat diikutsertakan dalam model.

Struktur model untuk rumahtangga nelayan di Kabupaten Tojo Una-una dapat dimodifikasi sebagai berikut, bahwa rumahtangga akan memaksimumkan

kepuasannya dari kegiatan konsumsi output usaha perikanan, kegiatan konsumsi barang-barang yang dibeli di pasar, kegiatan konsumsi waktu senggang (leisure) yang dapat dituliskan sebagai berikut :

U = U(Xl, Xm, L,) ………..…... (3.1)

dimana :

U = Kepuasan (utility)

Xl = Konsumsi hasil usaha perikanan

Xm = Konsumsi barang-barang yang dibeli di pasar L = Waktu senggang (leisure)

Apabila rumahtangga hendak memaksimumkan kepuasan dari ketiga jenis kegiatan tersebut, maka rumahtangga akan dihadapkan pada berbagai kendala, dan

seringkali rumahtangga dihadapkan pada kendala likuiditas. Setelah

mempertimbangkan akibat kegagalan dan ketidakpastian (risk and uncertainties),

maka rumahtangga dapat menilai kelayakan mengambil pinjaman atau kredit. Kendala yang dihadapi untuk memaksimumkan U dapat dilihat sebagai berikut :

1. Kendala Produksi

Q = Q(D, Sp, A, F, T) .……….…. (3.2)

dimana :

Q = Produk total usaha perikanan nelayan D = Penggunaan tenaga kerja rumahtangga Sp = Input variabel selain tenaga kerja

A = Aset perahu

F = Frekuensi melaut

T = Teknologi penangkapan ikan

Dalam hal ini setiap input dibayar sesuai dengan produktivitasnya serta biaya alternatif masing-masing input. Kendala produksi bagi nelayan yang menggunakan kredit adalah sebagai berikut :

2. Kendala waktu dirumuskan dalam persamaan berikut :

T = L + Dh …………..………..…. (3.4)

dimana :

T = Total ketersediaan tenaga kerja keluarga

L = Waktu senggang (leisure)

Dh = Total input tenaga kerja rumahtangga yang dicurahkan 3. Kendala pendapatan dirumuskan dalam persamaan berikut :

PmXm = Pl(Q-Xl) - w (D – Dh)- h.Sp- rK ………... (3.5)

dimana :

Pm = Harga barang dan jasa yang dibeli di pasar

Xm = Konsumsi barang dan jasa yang dibeli di pasar

Pl = Harga barang yang dihasilkan oleh rumahtangga

Xl = Konsumsi hasil usaha perikanan

(Q-Xl) = Surplus produksi untuk dipasarkan

w = upah

D = Total input tenaga kerja rumahtangga

Dh = Total input tenaga kerja rumahtangga yang dicurahkan

h = Harga input selain tenaga kerja Sp = Input variabel selain tenaga kerja

Kendala-kendala yang dihadapi rumahtangga nelayan tersebut dapat disatukan dengan mensubtitusikan kendala produksi dan kendala waktu ke dalam kendala pendapatan, sehingga akan menghasilkan bentuk kendala tunggal yaitu :

PmXm + PlXl + wL + h Sp + rK = wT + π ………..……..… (3.6)

dimana :

π = PlQ(D, Sp, A, F, T, K) – w(D-Dh)- h.Sp - rK

(π merupakan ukuran dari keuntungan produksi)

Dalam memaksimumkan kepuasan rumahtangga dapat memilih tingkat konsumsi dari barang (Xm, Xl), waktu luang (L), input tenaga kerja (D), input

variabel lain selain tenaga kerja (Sp), serta penggunaan kredit (K) dalam kegiatan produksi. Syarat turunan pertama untuk mengoptimalkan tenaga kerja (D), input

variabel lain selain tenaga kerja (Sp), dan kredit (K) adalah :

Pl(∂Q/∂Sp)= h …………..………..…………... (3.8)

Pl(∂Q/∂K) = r ………..………..………….……(3.9)

Rumahtangga akan menyamakan penerimaan produk marjinal dari tenaga kerja, input variabel lain selain tenaga kerja dan kredit, sama dengan masing- masing harganya yaitu, dengan upah pasar, harga masing-masing input variabel selain tenaga kerja dan tingkat bunga. Sehingga dari persamaan tersebut, dapat diturunkan permintaan terhadap tenaga kerja (D), input variabel lain selain tenaga kerja (Sp) dan Kredit (K), seperti persamaan berikut ini :

D = f(w, Pl, h, A, F, T, r) …………..……….……… (3.10)

Sp = f(h, w, Pl, A, F, T, r) ..……….…….. …….……… (3.11)

K = f(r,w, Pl, h,A, F, T) ..……….……….. (3.12)

dimana :

w = Tingkat upah

h = Harga input variabel lain selain tenaga kerja r = Tingkat bunga pinjaman

Pl = Harga barang yang dihasilkan oleh rumahtangga

A = Aset perahu

F = Frekuensi melaut

T = Teknologi penangkapan ikan

Apabila persamaan (3.10), (3.11)dan (3.12) disubtitusikan ke sisi kanan persamaan (3.6) maka akan diperoleh suatu persamaan sebagai berikut :

PmXm + PhXh + wL+ hSp = Y* ……….. (3.13)

Dimana Y* adalah pendapatan penuh pada saat keuntungan maksimum. Maksimisasi kepuasan dengan menggunakan kendala yang ada berdasarkan pada syarat turunan pertama sebagai berikut :

Pm Xm U =λ ∂ ∂ ………..……….. (3.14) Pl Xl U λ = ∂ ∂ ………...…... (3.15)

w L U λ = ∂ ∂ ………..….. (3.16) h Sp U =λ ∂ ∂ ………..……….. (3.17) PmXm + PlXl + wL + h Sp = Y* ………...…(3.18)

Solusi dari persamaan (3.16) sampai (3.18) menghasilkan permintaan standar (perilaku konsumsi dalam permintaan) sebagai berikut :

Xi = Xi (Pm, Pl, w, h,r, Y*) ………..………. (3.19)

Dari persamaan (3.20) permintaan Xm, Xl, L, Sp, K, tergantung pada harga

dan pendapatan. Untuk kasus rumahtangga nelayan pendapatan ditentukan oleh aktivitas produksi rumahtangga. Selanjutnya perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi akan mempengaruhi Y* dan tingkah laku konsumsi.

Nelayan membutuhkan kredit untuk menambah modal dalam kegiatan perikanan. Kebutuhan modal nelayan dalam hal ini disediakan pemerintah dalam bentuk kredit. Terhadap fasilitas kredit, keputusan terhadap permintaan dan penyaluran kredit dipengaruhi oleh perilaku rumahtangga nelayan. Perilaku rumahtangga sebagai penyedia tenaga kerja, produsen sekaligus konsumen, akan mempengaruhi keputusannya dalam mengambil dan mengembalikan kredit, dimana kredit akan mempengaruhi produksi, curahan waktu kerja dan pendapatan yang akhirnya akan mempengaruhi konsumsi rumahtangga. Hal ini selanjutnya akan berdampak terhadap besarnya permintaaan dan nilai kredit yang diterima nelayan, sehingga model operasional yang menunjukan keterkaitan antar peubah- peubah yang diduga mempengaruhi nilai kredit yang diterima dan ekonomi rumahtangga nelayan akan dianalisis secara simultan. Selengkapnya bagan kerangka pemikiran operasional ditunjukan oleh Gambar 2.

Pembangunan Nasional

Kondisi Masyarakat Pesisir Nelayan Tradisional

Pembangunan Sektor “MASIH MISKIN“

Kelautan & perikanan

Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

PROGRAM PEMP

Dampak Kredit terhadap :

• Produksi&Pendapatan

Nelayan Tradisional Kelayakan Finansial

• Ekonomi Rumahtangga

NelayanTradisional

Analisis secara simultan Analisis Biaya Manfaat : =Î Pendekatan Ekonomterika ● NPV ● B/C Ratio ● IRR KESIMPULAN

Dokumen terkait