• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model-model Evaluasi Kebijakan Publik

Dalam dokumen Kebijakan Publik Konsep dan Aplikasi (Halaman 131-135)

KEBIJAKAN PUBLIK

C. Pendekatan Evaluasi Kebijakan Publik

1. Model-model Evaluasi Kebijakan Publik

Ada banyak model dalam evaluasi, beberapa model yang popular dan banyak dipakai sebagai strategi atau pedoman kerja pelaksanaan evaluasi program, seperti.

1) Model Evaluasi CIPP

Stufflebeam (1969, 1971, 1983, Stufflebeam & Shinkfield, 1985) adalah ahli yang mengusulkan pendekatan yang berorientasi kepada pemegang keputusan (a decision oriented evaluation approach structured) untuk menolong administrator membuat keputusan. Ia merumuskan evaluasi sebagai “Suatu proses menggambarkan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternative keputusan” Stufflebeam, (1973 : 127).87 Dia

87 Stufflebeam, D. L. 1973. Toward A Science of Educational Evaluation. Englewood Cliffs, NJ: Educational Technology Publications.

124

membuat pedoman kerja untuk melayani para manajer dan administrator menghadapi empat macam keputusan pendidikan, membagi evaluasi menjadi empat macam, di antaranya :

a) Contect evaluation to serve planing decision b) Input evaluation, structuring decision

c) Process evaluation, to serve implementing decision d) Product evaluation, to serve recycling decidion Evaluasi Model UCLA

Alkin (1969) 88 menulis tentang kerangka kerja evaluasi yang hampir sama dengan model CIPP. Alkin mendefinisikan evaluasi sebagai suatu proses meyakinkan keputusan, memilih informasi yang tepat, mengumpulkan dan menganalisa dan menginformasi sehingga dapat melaporkan ringkasan data yang berguna bagi pembuat keputusan dalam mamilih beberapa alternatif.

Model Brinkerhoff

Setiap desain informasi umumnya terdiri atas elemen-elemen yang sama, ada banyak cara untuk menggabungkan elemen tersebut, masing-masing ahli atau evaluator mempunyai konsep yang berbeda dalam hal ini. Brinkerhoff & Cs (1983)89 mengemukakan tiga golongan

evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan

elemen-elemen yang sama seperti evaluator-evaluator yang lain.

Menurut Stufflebeam dan Webster (1994), Dunn (1999) dalam Mutrofin (2005:107)90 mengklasifikasikan pendekatan dan orentasi riset evaluasi menjadi tiga

88 Marvin C. Alkin, 1969. Evaluation Theory Development, Evaluation Comment, 2, 2-7.

89 Brinkerhoff, R.O., Brethower, D.M., Hluchyj, T., et al. 1983. Program

evaluation: Apractitioner’s guide for trainers and educators. Boston:

Kluwer-Nijhoff Publishing.

90 Mutrofin. 2005. Pengantar Metode Riset Evaluasi (Kebijakan, Program dan Proyek). Yogyakarta: Laksbang Pressindo.

125

kelompok. Menurut Dunn, pembedaan beberapa

pendekatan dalam evaluasi kebijakan menjadi sangat penting dilakukan mengingatkan kurang jelasnya arti evaluasi di dalam analisis kebijakan.

Pendekatan tersebut, antara lain :

Evaluasi Semu (Peseudo Evaluation). Pendekatan yang mengunakan meode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai hasil kebijakan, tanpa untuk berusaha menanyakan tentang manfaat atau nilai dari hasil-hasi tersebut terhadap individu, kelompok, atau masyarakat secara keseluruhan. Asumsinya bahwa ukuran tentang manfaat atau nilai merupakan sesuatu yang dapat terbukti dengan sendirinya (Self evident) atau tidak kontroversial.

Dalam evaluasi ini secara khusus menerapkan

bermacam-macam metode (desain eksperimental-semu, kuesioner, random sampling, teknik setatistik) untuk menjelaskan variasi hasil kebijakan yang ada (misalnya: jumlah lulusan pelatihan yang dipekerjakan, Unit-unit pelayanan medis yang diberikan, keuntungan bersih yang dihasilkan) diterima begitu saja sebagai tujuan yang tepat.

Evaluasi Formal (Formal Evaluation). Pendekatan yang mengunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan cepat dipercaya mengenai hasil-hasil kebijakan tetapi mengevaluasi hasil tersebut atas dasar tujuan program kebijakan yang telah diumumkan secara formal oleh pembuat kebijakan dan administrator program. Asumsinya bahwa tujuan dan target diumumkan secara formal adalah merupakan ukuran yang tepat untuk manfaat atau nilai kebijakan program. Dalam evaluasi formal mengunakan berbagai macam metode yang seperti dipakai dalam evaluasi semu dan tujuannya identik untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai variasi-variasi hasi kebijakan dan dampak yang dapat dilacak dari masukan dan proses kebijakan.

Evaluasi formal mengunakan undang-undang,

126

pembuat kebijakan dan administrator untuk

mengidentifikasi, mendefinisikan dan menspesialisasikan tujuan dan target kebijakan. Kelayakan atau ketepatan dari tujuan dan target yang diumumkan secara formal tersebut tidak ditanyakan. Dalam evaluasi formal tipe-tipe kriteria evaluatif yang paling sering digunakan adalah efektifitas dan efisiensi.

Salah satu tipe evaluasi formal adalah evaluasi sumatif yang meliputi usaha yang memantau pencapaian tujuan dan target formal setelah suatu kebijakan atau program diterapkan untuk jangka waktu tertentu. Sedangkan evaluasi formatif meliputi usaha-usaha untuk secara terus menerus memantau, pencapaian tujuan-tujuan dan target formal.

Evaluasi Keputusan Teoritis (Decision Theoretic Evaluation). Pendekatan yang mengunakan metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang dapat dipertangung jawabkan dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagai macam pelaku kebijakan. Asumsinya evaluasi keputusan teoritis berusaha untuk memunculkan dan membuat eksplisit tujuan dan target dari pelaku kebijakan baik dari yang tersembunyi atau dinyatakan. Ini berarti bahwa tujuan dan target dari para pembuat kebijakan dan administrator merupakan salah satu sumber nilai, karena semua pihak yang mempunyai andil dalam memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan (sebagai contoh: staf tingkat menengah dan bawahan, pegawai pada badan-badan lainya, kelompok klien) dilibatkan dalam merumuskan tujuan dan target dimana kinerja nantinya akan diukur.

Pendekatan Dalam Evaluasi Kebijakan Publik

Evaluasi memiliki beberapa fungsi utama dalam analisis kebijakan publik. Pertama dan yang paling penting, evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kriteria kebijakan yaitu, seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan yang telah dapat dicapai melalui tindakan publik. Dalam hal ini, evaluasi mengungkapkan seberapa jauh tujuan

127 dan target tertentu telah dicapai. Kedua, evaluasi memberikan sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target. Nilai diperjelas dengan mendefinisikan dan mengoperasikan tujuan dan target. Nilai juga dikritik dengan menanyakan secara sistematis kepantasan tujuan dan target dalam hubungan dengan masalah yang dituju.

Ketiga, evaluasi membari sumbangan pada aplikasi

metode-metode analisis kebijakan lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi. Informasi tentang tidak memadainya kinerja kebijakan dapat memberi sumbangan pada perumusan ulang masalah kebijakan. Evaluasi dapat juga menyumbang pada definisi alternatif kebijakan yang baru atau revisi kebijakan dengan menunjukkan bahwa alternatif kebijakan yang diunggulkan sebelumnya perlu dihapus dan diganti dengan yang lain.

Evaluasi mempunyai dua aspek yang saling berhubungan; penggunaan berbagai macam metode untuk memantau hasil kebijakan publik, program, dan aplikasi seangkaian nilai untuk menentukan kegunaan hasil ini terhadap beberapa orang, kelompok, atau masyarakat secara keseluruhan. Perhatikan bahwa aspek yang saling berhubungan ini menunjukkan kehadiran fakta dan premis-premis nilai di dalam setiap tuntutan evaluative.

Namun banyak aktivitas yang diterangkan sebagai “evaluasi” dalam analisis kebijakan pada dasarnya bersifat non-evaluatif – yaitu aktivitas-aktivitas tersebut terutama ditekankan pada produksi tuntutan designative (faktual) ketimbang tuntutan evaluatif. Sehingga dibutuhkan suatu pendekatan untuk “penelitian evaluasi” atau “evaluasi kebijakan”.

Dalam dokumen Kebijakan Publik Konsep dan Aplikasi (Halaman 131-135)