Model Hirarki Pengaruh ”Shoemaker & Reese”
1. Pengaruh individu-individu pekerja media. Diantaranya adalah karakteristik pekerja komunikasi, latar belakang personal dan profesional.
2. Pengaruh rutinitas media. Apa yang dihasilkan oleh media massa dipengaruhi oleh kegiatan seleksi-seleksi yang dilakukan oleh komunikator, termasuk tenggat (deadline) dan rintangan waktu yang lain, keterbatasan tempat (space), struktur piramida terbalik dalam penulisan berita dan kepercayaan reporter pada sumber-sumber resmi dalam berita yang dihasilkan.
Tingkat ideologis Tingkat ekstramedia Tingkat organisasi Tingkat rutinitas media Tingkat individual
19 3. Pengaruh organisasional. Salah satu tujuan yang penting dari media adalah mencari keuntungan materiil. Tujuan-tujuan dari media akan berpengaruh pada isi yang dihasilkan.
4. Pengaruh dari luar organisasi media. Pengaruh ini meliputi lobi dari kelompok kepentingan terhadap isi media, dan pemerintah yang memuat peraturan- peraturan di bidang pers.
5. Pengaruh ideologi. Ideologi merupakan sebuah pengaruh yang paling menyeluruh dari semua pengaruh. Ideologi disini diartikan sebagai mekanisme simbolik yang menyediakan kekuatan kohesif yang mempersatukan di dalam masyarakat.
E.3 Berita
E.3.1 Definisi Berita
Berita menurut Kamus Internasional Baru Grolier Webster (The New Grolier Webster International Dictionary) adalah (1) Informasi hangat tentang sesuatu yang telah terjadi, atau tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya; (2) Berita adalah informasi seperti yang disajikan oleh media semisal surat kabar, radio, atau televisi; (3) Berita adalah sesuatu atau seseorang yang dipandang oleh media merupakan subjek yang layak untuk diberitakan (Kusumaningrat, 2007: 39).
Definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Dja’far H.Assegaf, berita merupakan laporan tentang fakta atau ide yang termasa dan dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang kemudian dapat menarik perhatian pembaca. Entah karena luar biasa, karena penting dari akibatnya, atau karena mencakup segi- segi human interest seperti humor, emosi, dan ketegangan (Djuroto, 2004: 47).
20 Haris Sumadirta dalam bukunya Jurnalistik Indonesia mengartikan berita sebagai laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media online internet. (2005: 65)
Dari semua pengertian diatas jika kita sederhanakan akan kita peroleh definisi, yaitu bahwa berita merupakan suatu informasi tentang fakta dan opini yang dimuat dalam media massa dan menarik perhatian orang.
E.3.2 Nilai Berita
Tidak semua informasi tentang suatu kejadian pantas untuk diberitakan sebuah media. Kejadian seperti pertengkaran suami istri atau pun pekerjaan seorang guru dalam membimbing muridnya merupakan contoh-contoh dari berita yang tidak perlu dilaporkan ke masyarakat. Karena, hal-hal tersebut disamping merupakan peristiwa rutin yang dapat dijumpai setiap hari, peristiwa ini juga tidak memiliki nilai berita.
Terdapat kriteria-kriteria untuk sebuah peristiwa yang memiliki elemen nilai berita. Elemen tersebut adalah: Kesegeraan (immediacy), Kedekatan (proximity),
Konsekuensi (consequence), Konflik (conflict), Tidak biasa (oddity), Seks (sex),
Kesedihan (emotion), Keterkenalan (prominence), Ketegangan (suspense), dan Kemajuan (progress). (Santana, 2005: 18-20)
1. Kesegeraan (immediacy)
Immediacy atau biasa didefinisikan dengan kesegeraan informasi untuk dilaporkan. Berita haruslah sebuah peristiwa yang baru saja terjadi. Bila peristiwa tersebut terjadi dalam jangka waktu yang lama, hal itu dinamakan
21 sebagai sejarah. Dalam hal ini unsur waktu menjadi hal yang penting untuk sebuah berita.
2. Kedekatan (proximity)
Proximity dapat diartikan dengan kedekatan pembaca terhadap sebuah berita. Kedekatan tersebut adalah yang berhubungan dengan kehidupan pembaca, seperti keluarga, kawan, tempat tinggal, atau pun tempat-tempat yang mereka kenali.
3. Konsekuensi (consequence)
Berita yang mengandung nilai konsekuensi merupakan berita yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari pembaca dan mengandung dampak yang harus mereka hadapi. Contoh sebuah berita kenaikan harga BBM selalu menjadi perhatian masyarakat karena konsekuensinya yang akan mereka rasakan.
4. Konflik (conflict)
Peristiwa perang, demonstrasi, kriminal, perseteruan antar perorangan, perseteruan antar kelompok, bahkan perseteruan antar negara merupakan berita- berita yang mengandung konflik. Peristiwa yang mengandung pertentangan selalu menjadi perhatian masyarakat, karena di dalamnya terkandung unsur konflik dan drama.
5. Tidak biasa (oddity)
Oddity berarti sesuatu yang tidak biasa. Sebuah peristiwa yang tidak lazim dan aneh memiliki daya tarik tersendiri dan akan diperhatikan segera oleh masyarakat. Contoh; kelahiran bayi kembar lima, seorang pedagang kaki lima yang mencalonkan diri menjadi bupati, dan sebagainya.
22 6. Seks (sex)
Sex biasa menjadi sebuah elemen penting dalam pemberitaan. Juga sering kali digunakan untuk menjadi elemen tambahan suatu pemberitaan tertentu, seperti kriminalitas dan selebritas.
7. Kesedihan (emotion)
Emotion atau yang biasa disebut sebagai elemen perhatian manusia (human interest). Elemen ini banyak berhubungan dengan kisah-kisah kesedihan, haru, kemarahan, ambisi, cinta, kebahagiaan, kebencian atau pun humor.
8. Keterkenalan (prominence)
Elemen ini merupakan elemen yang berhubungan dengan keterkenalan suatu tempat, peristiwa, bahkan seseorang. Biasa diistilahkan dengan ”names make news” atau nama membuat berita.
9. Ketegangan (suspense)
Peristiwa yang berhubungan dengan ketegangan selalu ditunggu masyarakat. Namun, elemen ketegangan ini tidak terkait dengan paparan kisah yang berujung pada klimaks kemisterian. Kejelasan fakta harus menjadi suatu yang penting untuk diberitakan kepada masyarakat. Semisal, fakta tentang kejelasan berita seputar ”Mafia Hukum” tentu akan selalu dinanti masyarakat.
10. Kemajuan (progress)
Elemen yang berhubungan dengan kemajuan atau pun perkembangan akan menarik bagi masyarakat. Contoh; kesudahan dari konflik umat beragama di Temanggung, apa yang akan selanjutnya terjadi dari peristiwa tersebut.
23 E.3.3 Unsur Kelayakan Berita
Kusumaningrat menjelaskan dalam bukunya Jurnalistik Teori dan Praktik
(2007: 48-57) bahwa unsur kelayakan berita memiliki tujuh sifat istimewa; yaitu akurat, lengkap, adil dan berimbang, objektif, ringkas, jelas, dan hangat.
1. Berita harus Akurat
Akurat disini berarti berita yang disajikan oleh seorang wartawan haruslah benar berdasar fakta-fakta yang didengar dan dilihatnya. Mulai dari ejaan nama, angka, tanggal dan usia. Tidak hanya itu, akurat juga berarti benar dalam memberikan kesan umum, benar dalam sudut pandang pemberitaan yang dicapai oleh penyajian detail-detail fakta dan oleh tekanan yang diberikan pada fakta- faktanya.
2. Berita harus Lengkap, Adil dan Berimbang
Suatu berita harus disajikan secara lengkap, tanpa menambahkan atau pun mengurangi fakta-fakta yang ada. Sedangkan yang dimaksud dengan adil dan berimbang adalah bahwa seorang wartawan harus melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi, dengan menampilkan informasi baik dari pihak yang mendukung dan juga pihak yang tidak mendukung, baik yang positif dan negatif. 3. Berita harus Objektif
Objektif berarti berita yang dibuat selaras dengan kenyataan, tidak berat sebelah, bebas dari prasangka. Termasuk juga keharusan wartawan menulis dalam konteks peristiwa secara keseluruhan, tidak dipotong-potong oleh kecenderungan subjektif.
24 4. Berita harus Ringkas dan Jelas
Penulisan berita yang efektif haruslah dapat dicerna dengan cepat. Ini berati tulisan yang digunakan harus ringkas, jelas, dan sederhana. Tulisan berita harus tidak banyak menggunakan kata-kata, harus langsung dan padu.
5. Berita harus Hangat
Berita dalam bahasa inggris berarti News. Kata News sendiri menunjukkan adanya unsur waktu, yaitu apa yang baru. Isi berita yang diberitakan suatu media haruslah berisi laporan-laporan peristiwa hari ini, atau paling lama tadi malam dan kemarin.
E.3.4 Konsep Berita
George Fox Mott menjelaskan setidaknya terdapat delapan konsep berita: (Sumadirta, 2005: 72-79)
1. Berita sebagai Laporan Tercepat (news as timely report)
Semakin cepat sebuah peristiwa disiarkan, tentu akan lebih baik. Akan tetapi prinsip kecepatan ini harus diimbangi dengan kelengkapan dan ketelitian, kecermatan dan ketepetan. Sehingga berita apa pun yang dilaporkan tetap faktual, benar dan akurat, dan tidak membingungkan khalayak pembaca.
2. Berita sebagai Rekaman (news as record)
Karakter auditif sebagai satu-satunya wujud produk radio memungkinkan untuk menyiarkan informasi melalui dokumentasi berupa rekaman suara dari sebuah peristiwa. Dokumentasi tersebut disajikan dalam berita dengan menyisipkan rekaman suara nara sumber dan peristiwa, atau penyiaran proses peristiwa detik demi detik secara utuh melalui reportase dan siaran langsung sebagai rekaman gambaran peristiwa.
25 Rekaman tidak hanya radio, surat kabar pun juga memiliki sebuah rekaman. Rekaman surat kabar dinyatakan dalam bentuk tulisan dan laporan, foto dan gambar yang disusun secara dalam untaian kata.
3. Berita sebagai Fakta Objektif (news as objective facts)
Berita adalah laporan fakta secara apa adanya, dan bukan laporan tentang fakta yang seharusnya. Keobjektifan fakta menjadi hal yang penting untuk sebuah berita tanpa ditambah-tambah sebuah opini, atau pun keberpihakan kepada sebuah peristiwa.
4. Berita sebagai Interpretasi (news as interpretation)
Tidak semua berita dapat berbicara sendiri. Sering terjadi berita yang diliput dan dilaporkan media, hanya serpihan-serpihan fakta yang belum berbicara. Tugas dari media adalah membuat berita yang seolah membisu itu mampu untuk berbicara sendiri kepada khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa dalam bahasa yang mudah dimengerti, enak dibaca dan mudah dicerna. Oleh karena itu, redaksi menyajikan analisis berita, menyelenggarakan wawancara dengan para ahli, menggelar diskusi, dan memberikan interpretasi terhadap berbagai fenomena dan fakta yang muncul antara lain melalui artikel dan tajuk rencana. 5. Berita sebagai Sensasi (news as sensation)
Berita dalam media massa dapat dipahami dengan sensasi, dimaknai sebagai persepsi, tetapi juga bisa benar-benar sebagai infomasi. Selama ini media massa kerap dipandang lebih banyak menciptakan sensasi yang merupakan bagian dari persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan- hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkannya.
26 6. Berita sebagai Minat Insani (news as human interest)
Dengan peristiwa-peristiwa yang membuat hati dan perasaan luluh lantak, media massa bermaksud membangkitkan atensi serta motivasi masyarakat untuk tetap bersatu, bersaudara serta saling berkomunikasi dan mencintai.
7. Berita sebagai Ramalan (news as prediction)
Berita sesungguhnya tidak sekedar melaporkan sebuah peristiwa dengan kasat mata. Berita juga mengisyaratkan perbuatan atau keadaan dari sebuah peristiwa. Berita sanggup memberikan interpretasi, prediksi dan konklusi.
8. Berita sebagai Gambar (news as picture)
Dalam dunia jurnalistik dikenal aksioma: satu gambar seribu kata (one picture one thousand word). Jadi betap dahsyatnya efek dari sebuah gambar dibanding dengan kata-kata. Gambar, foto, dan karikatur merupakan pesan yang hidup sekaligus menghidupkan deskripsi verbal. Karena itu, surat kabar dan majalah hanya akan menjadi lembaran-lembaran mati yang membosankan jika tanpa kehadiran foto dan gambar.
E.4 Framing
E.4.1 Analisis Framing
Analisis framing merupakan salah satu metode terbaru dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Gagasan tentang framing
ini pertama kali dilontarkan oleh Beterson pada tahun 1995. Awal mulanya, frame
dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Kemudian terus berkembang, dan saat ini dalam ranah komunikasi digunakan untuk menggambarkan proses
27 penseleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media (Sobur, 2006: 162).
Ada beberapa definisi dari framing. William A.Gamson (dalam Eriyanto, 2009) menjelaskan bahwa framing merupakan cara bercerita atau gagasan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa- peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana. Cara bercerita itu terbentuk dalam sebuah kemasan (package). Kemasan itu semacam skema atau struktur pemahaman yang digunakan individu untuk mengkonstruksi makna pesan-pesan yang disampaikan, serta untuk menafsirkan makna pesan-pesan yang ia terima.
David E.Snow dan Robert Benford menyatakan bahwa framing merupakan pemberian makna untuk menafsirkan peristiwa dan kondisi yang relevan. Frame
mengorganisasikan sistem kepercayaan dan diwujudkan dalam kata kunci tertentu, anak kalimat, citra tertentu, sumber informasi, dan kalimat tertentu. Sedangkan Pan dan Kosicki mengartikan framing sebagai strategi konstruksi dan memproses berita. Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa, dan dihubungkan dengan rutinitas dari konvensi pembentukan berita (Eriyanto, 2009:68).
Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa inti dari
framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menseleksi isu dan menulis berita. Cara pandang tersebut yang akan menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihubungkan, dan hendak dibawa kemana berita tersebut (Eriyanto, 2009: 68)
28 Terdapat dua aspek dalam framing. Pertama, memiliki fakta/realitas. Proses ini didasarkan atas asumsi, bahwa wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam pemilihan fakta ini akan selalu terdapat dua kemungkinan; apa yang dipilih (included) dan apa yang akan dibuang (excluded). Bagian mana yang harus ditekankan? Bagian mana yang harus diberitakan dan yang tidak perlu diberitakan?. Penekanan aspek-aspek tersebut dilakukan dengan memilih angel
tertentu, fakta tertentu, melupakan fakta yang lain, memberitakan aspek tertentu dan melupakan aspek lainnya. Intinya adalah peristiwa dari sisi tertentu.
Kedua, menuliskan fakta. Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih itu disajikan kepada khalayak. Gagasan tersebut dijelaskan oleh kata, kalimat dan proposisi apa, dengan bantuan foto, gambar dan sebagainya. Elemen fakta ini berhubungan dengan penonjolan realitas. Pemakaian kata, kalimat atau foto merupakan implikasi dari memilih aspek tertetu dari realitas (Eriyanto,2009: 69-71). E.4.2 Teknik Framing
Menurut Entman (dalam Sobur, 2006), framing dalam berita dapat dilakukan dengan empat cara. Pertama, pada identifikasi masalah, yaitu peristiwa dilihat sebagai apa dan dengan nilai positif atau negatif apa. Kedua, pada identifikasi penyebab masalah, yaitu siapa yang dianggap penyebab masalah. Ketiga, pada evaluasi moral, yaitu penilaian atas penyebab masalah. Keempat, saran
penanggulangan masalah, yaitu menawarkan suatu cara penanganan masalah dan kadang kala memprediksikan hasilnya. Lebih jelasnya, keempat cara tersebut dapat
29 (Sobur, 2009 : 173)