• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3. Model Implementasi Kebijakan menurut Merilee S. Grindle

Keberhasilan implementasi kebijakan menurut Merilee S. Grindle dalam Sumarsono (2009:19) dipengaruhi dua variabel besar, yaitu:

a) Variabel isi kebijakan (content of policy), mencakup:

1. Sejauh mana kepentingan kelompok sasaran termuat dalam isi kebijakan; 2. Jenis manfaat yang diterima oleh kelompok sasaran;

3. Sejauh mana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan; 4. Apakah letak program sudah tepat;

5. Apakah sebuah kebijakan telah menyebut implementornya dengan rinci; dan

6. Apakah sebuah program didukung oleh sumber daya yang memadai. b) Variabel lingkungan implementasi (context of implementation), mencakup:

1. Seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan;

3. Tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran. 1.5.3 Beras Untuk Keluarga Miskin (RASKIN)

1.5.3.1 Pengertian Raskin

Program Raskin (Program Penyaluran Beras Untuk Keluarga Miskin) adalah sebuah program pemerintah. Program terebut adalah sebuah upaya untuk mengurangi beban pengeluaran dari rumah tangga miskin sebagai bentuk dukungan dalam meningkatkan ketahanan pangan dengan memberikan perlindungan sosial beras murah dengan jumlah maksimal 15 kg perrumah tangga miskin perbulan dengan masing-masing seharga Rp. 1.600,00 per kg (netto) dititik distribusi. Program ini mencakup di seluruh Provinsi, sementara tanggungjawab pendistribusian beras dari gudang sampai titik distribusi di kelurahan dipegang oleh Perum Bulog.

Istilah-istilah yang digunakan dalam petunjuk teknis antara lain:

1. BAST adalah Berita Acara Serah Terima Beras Raskin berdasarkan SPA dari Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk, yang ditandatangani Satker Raskin dan Pelaksana Distribusi.

2. DPM-1 adalah Model Daftar Penerima Manfaat Raskin di Desa/Kelurahan setelah dilakukan pemutakhiran data RTS-PM yang bersumber dari Basis Data Terpadu untuk Program Raskin 2014 melalui mekanisme Mudes/Muskel.

3. DPM-2 adalah Model Daftar Penyaluran Raskin di Desa/Kelurahan.

4. Kelompok Kerja (Pokja) adalah sekelompok masyarakat yang terdiri dari aparat Desa/Kelurahan dan beberapa orang yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah sebagai Pelaksana Distribusi Raskin.

5. Kelompok Masyarakat (Pokmas) adalah lembaga masyarakat dan/atau kelompok masyarakat di Desa/Kelurahan yang ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah sebagai Pelaksana Distribusi Raskin.

6. Tim Koordinasi Program Raskin tingkat Provinsi adalah tim koordinasi yang ditetapkan berdasarkan keputusan Gubernur dan terdiri dari unsure pemerintah daerah Provinsi (Biro Sarana Perekonomian, Biro Bina Produksi, BPMD, Bappeda, Badan Pusat Statistik (BPS) BKKBN, Prum Bulog, Divisi Regional, Kepolisian¸Kejaksaan, serta Stakeholders yang terkait).

7. Tim Koordinasi Divisi Regional (Divre) Provinsi adalah satuan kerja Perum Bulog Divre Provinsi yang dibentuk Kadivre yang bertugas dan bertanggungjawab mengkoordinasi dalam pelaksanaan Program Raskin di Sub Divre.

8. Satker Raskin adalah satuan kerja Perum Bulog Sub Divre yang dibentuk Kasub Divre yang bertugas dan bertanggungjawab mengangkut beras dari gudang Perum Bulog sampai dengan titik distribusi dan menyerahkan kepada pelaksana distribusi. 9. Tim Koordinasi Raskin Kecamatan adalah tim yang dibentuk ditingkat Kecamatan

yang dipimpin oleh Camat sebagai ketua, yang beranggotakan unsur Kecamatan, Polsek, Pengelola Program KB kecamatan, dan Koordinator Sensus Kecamatan (KSK) yang bertugas mengkoordinir pelaksanaan Program Raskin di Kecamatan. 10. Pelaksana Distribusi adalah Kelompok Kerja (Pokja) dititik distribusi yang

dibentuk berdasarkan musyawarah Desa/Kelurahan yang ditetapkan dengan keputusan Kepala Desa/Lurah, terdiri dari Aparat Desa/Kelurahan, Lembaga Masyarakat, dan unsur-unsur masyarakat yang bertugas dan bertanggungjawab mendistribusikan Raskin kepada penerima manfaat Raskin.

11. Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) adalah panduan pelaksanaan program Raskin di tingkat Provinsi yang disusun sesuai dengan situasi dan kondisi setempat sebagai penajaman dari Pedoman Umum Raskin.

12. Petunjuk Teknis (Juknis) adalah panduan pelaksanaan program Raskin di tingkat Kabupaten/Kota yang disusun sesuai dengan situasi dan kondis setempat sebagai penajaman dari Pedum Raskin dan Juklak Raskin.

13. Titik Bagi adalah fasilitas publik di Desa/Kelurahan yang ditetapkan sebagai tempat atau lokasi penyerahan beras Raskin dari Pelaksana Distribusi Raskin kepada RTS-PM termasuk Warung Desa (Wardes). Fasilitas publik termasuk dan tidak terbatas pada: Kantor Desa/Lurah, Koperasi, Koramil, Sekolah, dan tempat-tempat lain yang disepakati oleh masyarakat.

14. Titik Distribusi adalah tempat atau lokasi penyerahan beras oleh Satuan Kerja (Satker) Raskin Sub Divre kepada pelaksana distribusi di Desa/Kelurahan yang dapat dijangkau penerima manfaat Raskin atau lokasi lain yang ditetapkan atas dasar kesepakatan secara tertulis antara Pemerintah Daerah dan Sub Divre.

15. Rumah Tangga Miskin (RTM) adalah penerima manfaat program Raskin di Desa/Kelurahan sesuai hasil pendataan Sosial Ekonomi dengan kategori sangat miskin, miskin, dan sebagian hampir miskin.

16. Musyawarah Desa/Kelurahan adalah forum komunikasi di tingkat

17. Kualitas Beras Raskin adalah beras medium hasil pengadaan Perum BULOG sesuai dengan Inpres Kebijakan Perberasan yang berlaku dan kemasan Beras Raskin adalah kemasan yang berlogo BULOG dengan kuantum 15 kg/karung dan/atau 50 kg/karung.

18. Unit Pengaduan Masyarakat (UPM) adalah lembaga yang ditetapkan dengan keputusan Gubernur di Provinsi dan Keputusan Bupati/Walikota di Kabupaten/Kota yang berfungsi menerima dan menindaklanjuti pengaduan masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung termasuk media cetak dan elektronik.

1.5.3.2 Tujuan, Sasaran, dan Manfaat Program RASKIN

1. Tujuan

Tujuan dari program Raskin adalah mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Miskin melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras.

2. Sasaran

Sasaran dari program Raskin adalah berkurangnya beban pengeluaran 15.530.897 RTS dalam mencukupi kebutuhan pangan beras melalui penyaluran beras bersubsidi dengan alokasi sebanyak 15 kg per RTS per bulan.

3. Manfaat

Manfaat program Raskin adalah sebagai berikut:

a. Peningkatan ketahanan pangan ditingkat rumah tangga sasaran, sekaligus mekanisme perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan.

b. Pengingkatan akses pangan baik secara fisik (beras tersedia di Titik Distribusi), maupun ekonomi (harga jual yang terjangkau) kepada RTS

c. Sebagai pasar bagi hasil usaha tani padi. d. Stabilisasi harga beras di pasaran.

e. Pengendalian inflasi melalui intervensi pemerintah dengan menetapkan harga beras bersubsidi sebesar Rp.1.600,00 per kg, dan menjaga stok pangan nasional.

1.5.3.3 Penentuan Pagu

Pagu Raskin adalah alokasi jumlah Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat Raskin (RTS-PM) atau jumlah beras yang dialokasikan bagi RTS-PM Raskin untuk tingkat Nasional, Provinsi, atau Kabupaten/Kota pada tahun tertentu.