• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Konseptual Pertemuan pemangku kepentingan dilakukan pada Februari

2009 yang dihadiri oleh 36 orang perwakilan dari 4 desa target yaitu Tempurukan, Sei Putri, Tanjung Baik Budi dan Kuala Tolak. Pertemuan dilakukan untuk merumuskan model konseptual kawasan Kompleks Hutan Rawa Gambut (KHRG)

Lingkup proyek adalah KHRG Sungai Putri dengan

pembahasan adalah kegiatan-kegiatan yang dapat menganggu hutan, satwa dan sungai di KHRG Sungai Putri

langsung diidentifikasi, kemudian dituliskan pada kartu yang lalu ditempelkan ke dinding dan dihubungkan dengan sasaran yang sesuai dengan menggunakan tanda panah. Peserta kemudian membahas faktor yang berkontribusi (ancaman tak langsung) yang mengarah kepada, atau memperburuk, faktor langsung.

Model konseptual yang dihasilkan secara lengkap dapat dilihat pada diagram 1 berikut.

II. Model Konseptual

Pertemuan pemangku kepentingan dilakukan pada Februari

orang perwakilan dari 4 desa target yaitu Tempurukan, Sei Putri, Tanjung Baik Budi dan Kuala Tolak. Pertemuan dilakukan untuk merumuskan model konseptual (KHRG) Sungai Putri. adalah KHRG Sungai Putri dengan konteks untuk kegiatan yang dapat menganggu hutan, satwa dan sungai di KHRG Sungai Putri. Ancaman kasi, kemudian dituliskan pada kartu-kartu yang lalu ditempelkan ke dinding dan dihubungkan dengan sesuai dengan menggunakan tanda panah. Peserta kemudian membahas faktor yang berkontribusi (ancaman tak langsung) yang mengarah kepada, atau memperburuk, faktor

Model konseptual yang dihasilkan secara lengkap dapat dilihat

33 Diagram 1. Model Konseptual

34 Berikut adalah gambaran singkat dari ancaman langsung dan faktor yang berpengaruh yang disajikan dalam model konseptual di atas.

Ruang lingkup dan sasaran proyek

Ancaman langsung Faktor yang berpengaruh (termasuk ancaman tak langsung)

Komplek Hutan Rawa Gambut Sungai Putri

• Hutan rawa gambut • Satwa

• Sungai

Penebangan

Kategori ancaman IUCN: 5.3.

Penebangan pohon dan pemanenan kayu)

• Lemahnya penegakan hukum, lemahnya mental penegak

hukum, keinginan memperkaya diri sendiri, upaya perlindungan rendah, tidak ada unit pengelola kawasan

• Alternatif pekerjaan terbatas, keahlian terbatas, modal

usaha tidak tersedia, tingkat pendidikan rendah

• Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang fungsi hutan

gambut, belum ada sosialisasi tentang hutan gambut

• Gagal panen

• Kebutuhan subsisten

• Terbatasnya program pemberdayaan ekonomi masyarakat,

pemerintah kurang mengetahui permasalahan desa

• Permintaan pasar local, pembangunan infrastruktur,

terbatasnya ketersediaan kayu dari kawasan lain

Pembukaan lahan pertanian baru

Kategori ancaman IUCN: 2.1. Hasil panen non kayu per tahun dan bertahun-tahun

• Lahan pertanian terbatas, intrusi air laut, tanggul air asin

rusak, kurangnya rasa memiliki masyarakat terhadap infrastruktur, pembukaan kanal oleh Pemda, kebutuhan ekonomi tinggi, pertambahan penduduk, degradasi hutan mangrove, pemanfaatan kayu untuk cerucuk jermal

• Program pencetakan sawah

Kebakaran

Kategori ancaman IUCN: 7.1. Kebakaran dan pemadam kebakaran)

Pembukaan lahan dengan sistem tebas bakar, pengetahuan mengelola lahan pertanian terbatas

35 Perburuan

Kategori ancaman IUCN: 5.1. perburuan

dan pengambilan hewan darat Tersedianya pasar, pemenuhan kebutuhan

Peracunan ikan

Kategori ancaman IUCN: 5.4. Pencarian ikan dan pemanenan sumber daya akuatik

Pemenuhan kebutuhan hidup, menangkap ikan

Banyak ancaman yang timbul dari kegiatan masyarakat memanfaatkan kayu tanpa ijin di hutan Sungai Putri. Lemahnya penegakan hukum dan ketiadaan alternative pekerjaan merupakan alasan yang paling utama. Karena statusnya yang merupakan hutan produksi dan hutan produksi yang bisa dikonversi, hutan Sungai Putri seolah dianggap sebagai “hutan bebas” oleh masyarakat. Keberadaan HPH pada era 1970an juga turut berkontribusi dalam memicu aktivitas illegal ini. Saat HPH masuk, masyarakat mulai mengenal chainsaw dan mulai merambah hutan sampai sekarang.

36 III. Analisa Ancaman

A. Peringkat Ancaman

Dari 5 ancaman yang berhasil diidentifikasi dalam pertemuan stakeholder, maka kemudian dianalisa menggunakan software Miradi untuk ditentukan peringkat ancamannya. Penebangan, pembukaan lahan pertanian baru dan kebakaran diidentifikasi sebagai ancaman dengan peringkat tinggi. Sementara perburuan dan peracunan ikan diidentifikasi sebagai ancaman dengan peringkat rendah. Dari 3 ancaman yang berperingkat tinggi, ancaman penebangan yang kemudian dipilih sebagai prioritas ancaman yang akan dikurangi dengan metode kampanye pride. Pertimbangan ini diambil karena penebangan juga merupakan bagian dari aktivitas yang mengancam lainnya seperti pembukaan lahan pertanian baru dan kebakaran. Lahan-lahan yang dibuka menjadi lahan pertanian biasanya merupakan areal bekas tebangan. Demikian juga dengan kebakaran yang merupakan dampak ikutan dari aktivitas pembukaan lahan. Dengan mengurangi penebangan, diasumsikan ancaman lainnya juga akan berkurang.

37 B. Rantai Faktor

38 IV. Penelitian Formatif

A. Percakapan Terarah

1. Percakapan terarah dengan peneliti biologi dan pihak swasta mengenai ancaman

Menurut Hanjoyo, peneliti biologi yang bekerja untuk Fauna Flora International , berdasarkan data volume tegakan hutan Sungai Putri dan data jumlah kayu yang keluar dari kompleks hutan Sungai Putri, maka dapat diproyeksikan perkiraan degradasi hutan di Sungai Putri. Istilah deradasi hutan karena dirasa lebih tepat karena para pekerja kayu memilih kayu-kayu jenis tertentu untuk ditebang. Biasanya hanya pohon berdiameter setinggi dada (dbh) 30 cm ke atas yang ditebang. Vegetasi lain yang bukan dari jenis-jenis niagawi dibiarkan.

Dari proyeksi di atas, maka diperkirakan 22,03 tahun ke depan komplek hutan Sungai Putri ini tidak memiliki pohon-pohon niagawi berdiameter lebih dari 30 centimeter. Perkiraan ini akan semakin cepat terjadi jika juga dihitung jumlah kayu yang digunakan untuk membuat jalan kuda-kuda, jalan sepeda dan jalan gerobak yang dapat menggunakan pohon jenis apapun untuk membuatnya.

Saat ini pun sudah sulit mendapatkan jenis-jenis kayu komersil dari hutan Sungai Putri. Industri-industri meubel/furniture di Ketapang yang ditemui sudah sulit untuk mendapatkan kayu cin dari Sungai Putri. Kayu cin adalah jenis kayu yang amat disukai untuk furniture karena tekstur permukaan dan kesan raba yang halus. Beberapa pembuat meubel mengatakan sejak tahun 2005 kayu cin sulit diperoleh, sehingga untuk menggantikannya digunakan kayu keminting (kemiri) hutan.

Kotak I. Proyeksi Degradasi Hutan Sungai Putri

Rata-rata volume tegakan = (12,91 + 11,28 + 31,50 + 27,19) : 4 = 20,72 m3.

Perkiraan luas areal tutupan hutan berdasarkan citra landsat tahun 2004 = 37.000 hektar.

Volume tegakan komplek hutan Sungai Putri = 20,72 m3 x 37.000 ha = 766.640 m3.

Dengan asumsi 300 hari dalam setahun terjadi pembalakan dan dalam sehari 116 m3 kayu keluar,

39 2. Percakapan terarah dengan Instansi terkait mengenai ancaman

Dalam seminar mengenai gambut yang dilakukan oleh Fauna Flora International, salah seorang pejabat di Dinas Kehutanan Kab. Ketapang mengakui illegal logging memang menjadi pekerjaan rumah bagi instansinya untuk diselesaikan. Namun ditambahkannya, pemangku kepentingan lain juga harus menyadari penegakan hukum juga bukan solusi mutlak untuk menyelesaikan persoalan ini. Jika dilihat, motif utama dari pelaku penebangan adalah motif ekonomi. Pelaku umumnya merupakan masyarakat yang taraf hidupnya rendah. Mereka melakukan penebangan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka perlu juga dicarikan solusi untuk menyediakan alternative pendapatan bagi masyarakat. Jika ini bisa dilakukan, dia yakin masyarakat pelan-pelan akan mulai meninggalkan illegal logging.

3. Percakapan terarah dengan tokoh masyarakat dan khalayak target mengenai ancaman

Tokoh masyarakat dari keempat desa target menyatakan masih banyak petani yang kerja kayu di dalam hutan Sungai Putri selepas musim panen padi. Aktivitas ini masih terus dilakukan karena hasil yang diperoleh dari penjualan kayu cukup menambah pendapatan masyarakat. Selain hasilnya yang cukup menjanjikan, banyak masyarakat yang terus melakukan aktivitas ini karena hasil dapat diterima dengan cepat. Bahkan sebelum masuk hutan, pekerja kayu sudah dimodali oleh cukong. Petani yang sudah dimanjakan dengan fast money biasanya sudah malas untuk menggarap lahan. Salah seorang pekerja kayu yang ditemui menyatakan sejak bekerja kayu, dia sudah tidak menggarap ladangnya lagi. Namun semenjak kayu sulit didapat dan operasi pemberantasan illegal logging gencar dilakukan, banyak pekerja kayu yang kembali bertani.

Khalayak target lain yang ditemui juga menyatakan banyak rekan-rekannya yang dulu bekerja kayu kini kembali ke usaha pertanian dan menjadi nelayan. Mereka pada umumnya mengakui sudah takut untuk kerja kayu. Selain itu juga, mereka menyadari tidak selamanya mereka dapat kerja kayu, terlebih karena factor usia. Kerja kayu adalah pekerjaan yang keras dan memerlukan tenaga yang kuat untuk bisa terus melakukannya. Jika mereka sudah kerja kayu mulai usia SMP atau SMA, maka biasanya saat usia 35, mereka mengaku sudah sulit untuk kerja kayu. Fisik mereka sudah kurang memungkinkan untuk terus-menerus masuk hutan. Usaha pertanian atau peternakan merupakan usaha yang berkelanjutan menurut mereka.

Namun untuk mengembangkan usaha pertanian-pun, petani mengalami kesulitan. Selain kendala ketiadaan prasarana pendukung seperti tanggul air asin dan irigasi, terdapat juga kendala modal. Untuk meminjam modal dari bank, tidak memungkinkan karena tidak mempunyai asset untuk diagunkan.

40 Ketika dikonfirmasi dengan salah satu bank di Kota Ketapang yang mempunyai produk kredit usaha mikro, ternyata memang untuk di wilayah Kalimantan mereka tidak memberikan pinjaman pada petani yang tidak mempunyai usaha lain selain bertani. Profesi petani dianggap beresiko tinggi karena bergantung dengan alam dan berpenghasilan tidak menentu.

B. Opsi-opsi Pengelolaan (BRAVO)

1. Pilihan Strategi

Ada 4 pilihan strategi yang sebelumnya akan dilakukan untuk mengatasi ancaman penebangan di Kompleks Hutan Rawa Gambut Sungai Putri yaitu:

• Membentuk unit pengelola HPH restorasi: untuk mengatasi tidak adanya pengelola kawasan.

Pilihan ini sedang dalam tahap persiapan dan diharapkan dapat segera diimplementasikan di tahun depan. Pilihan ini akan difasilitasi oleh Fauna Flora International. Pilihan ini merupakan strategi agar ekosistem hutan Sungai Putri dapat terjaga dan masyarakat tetap akan mendapat manfaat ekonomi dengan menjaga hutan. Pilihan strategi ini mendapat respon yang baik dari pemerintah maupun masyarakat.

• Advokasi: untuk mengatasi lemahnya penegakan hukum terhadap kejahatan kehutanan yang terjadi di Sungai Putri

Pilihan ini tidak dipilih karena dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan dengan masyarakat setempat. Meskipun demikian, akan disiasati dengan mendorong masyarakat untuk membentuk community patrol yang akan berperan menjaga kawasan. Upaya ini akan dilakukan di masa depan, namun tidak dalam kerangka waktu kampanye pride.

• Peningkatan kapasitas: untuk mengatasi keahlian petani yang terbatas

Pilihan ini akan jadi satu rangkaian dengan pilihan pertama dan tidak akan dilakukan dalam kerangka waktu kampanye pride.

• Kampanye penyadaran: untuk mengatasi belum adanya sosialisasi mengenai hutan rawa gambut

Pilihan ini akan dilakukan dalam waktu dekat, terutama untuk menyampaikan informasi nilai ekologi kawasan dan rencana proyek perdagangan karbon yang akan dilakukan.

41 Pilihan strategi ini dipilih karena menjawab kebutuhan masyarakat dan dapat dimanfaatkan sebagai alat pengorganisiran masyarakat terkait isu konservasi hutan dan perdagangan karbon. Waktu yang diperlukan untuk fasilitasi juga sesuai dengan kerangka waktu kampanye pride.

2. Analisis Dampak Kelayakan

Pilihan strategi Credit Union kemudian dibuat analisa kelayakannya sebagai mana berikut.

Tabel 5. Analisis Dampak Kelayakan

Kategori Sub-kategori Nilai Rata-rata

Nilai Kategori K e la y a ka n Ekonomi  Biaya-biaya 4 2.33  Pendapatan 2  Penggantian Pendapatan 1 Teknik  Teknologi 4 4  Kapasitas / Kemampuan Organisasional 4  Mitra Lainnya 4 Budaya / Politik  Kepemimpinan Masyarakat 3 3.6  Lingkungan Politik 4  Norma-norma Budaya 4

42 Nilai Kelayakan 3.1 D a m p a

k Dampak dan Metrik-metrik

 Dampak Konservasi 4 3.42  Titik-titik Ungkit 3.3  Metrik-metrik 3 Nilai Dampak 3.42 3. Faktor Resiko

Faktor-faktor resiko yang diidentifikasi dari pilihan strategi Credit Union tersaji dalam tabel 6 berikut:

Tabel 7. Faktor Resiko

Faktor-faktor Resiko Konsekuensi Strategi-strategi Mitigasi

Penggalangan dana masyarakat tidak mencapai 10% dari dana yang

dibutuhkan untuk pembentukan CU

Membiayai keseluruhan kebutuhan dana pembentukan CU

Mendorong masyarakat untuk merasa memiliki terhadap proses pembentukan CU, dan merasa pembentukan CU merupakan kebutuhan masyarakat untuk menjawab persoalan akses terhadap modal

RARE tidak bisa membiayai fasilitasi pembentukan CU

CU tidak bisa berdiri sendiri, tapi menjadi cabang existed CU

Bekerja sama dengan CU Pancur

Solidaritas atau CU Muare Pesisir untuk memfasilitasi pembentukan tempat

43 pelayanan (TP)

Alat penyingkir hambatan yang digunakan adalah memfasilitasi pembentukan Credit Union (CU). CU merupakan kumpulan orang yang saling percaya dalam 1 ikatan pemersatu yang bersepakat menabungkan uang untuk menciptakan modal bersama untuk dipinjamkan kepada anggota dengan tujuan produktif dan kesejahteraan. Melalui CU di Sungai Putri, masyarakat dapat berdaya dan menolong dirinya sendiri. Dengan usaha bersama, masyarakat akan memiliki wadah untuk perputaran modal dan lebih mudah mengakses modal usaha, sehingga masyarakat akan terdorong untuk mengembangkan usahanya sendiri (yang sudah eksis), ataupun menciptakan peluang usaha baru sesuai dengan minat dan potensinya masing-masing. Keberadaan CU akan menjawab kebutuhan modal masyarakat untuk beralih dari aktivitas pembalakan liar. CU juga merupakan alat pengorganisiran yang efektif. Melalui pendidikan CU, pesan-pesan konservasi dapat disisipkan. Kedepan dengan adanya keberadaan CU diharapkan dapat mengurangi ancaman di Sungai Putri.

Dengan adanya modal, masyarakat bisa mengembangkan berbagai usaha. Salah satunya usaha peternakan. Peternakan ayam pedaging misalnya. Untuk awal diperlukan modal sebesar Rp 3.900.000 untuk 1 kotak bibit ayam (100 ekor); pembuatan kandang dan pakan. Dalam waktu 40 hari, ayam sudah bisa dipanen dengan berat per ekor +/- 1,5 kg. Dengan harga per kilo Rp 18.000, maka 1 ekor ayam dihargai Rp 27.000. Dengan resiko kematian bibit antara 10 – 20%, maka hasil penjualan pertama ayam pedaging menghasikan Rp 2.160.000 – Rp 2.430.000. BEP akan diperoleh setelah 4 kali penjualan.

Peluang lain adalah beternak ayam kampung. Untuk awal diperlukan modal sebesar Rp 950.000 untuk pembelian induk ayam (1 ekor jantan dan 5 ekor ayam betina); kandang; pakan. Investasi untuk kandang ayam kampung tidak seperti ayam pedaging, karena ayam kampung biasanya dibiarkan lepas dan hanya dibuatkan kandang seadanya. Demikian juga untuk pakan, ayam kampung biasa mencari pakan sendiri namun bisa juga ditambahkan dedak dan sisa nasi. Setelah 2 bulan dipelihara, induk ayam akan bertelur dan telur akan menetas pada bulan ke 3. Dengan asumsi 1 induk ayam akan menghasilkan 10 anak, maka dari 5 induk akan diperoleh 50 anak ayam. 3 bulan berikutnya, turunan kedua induk ayam akan menetas dan demikian seterusnya. Setelah berumur 6 bulan, turunan pertama sudah bisa dijual dengan berat rata-rata 1,5 kg. Harga 1 kg Rp 27.000, maka 1 ekor ayam dihargai Rp 40.000. Dengan asumsi tidak ada kematian anak ayam dan ayam langsung dibeli di tempat oleh peraih (midlle man), maka dari penjualan pertama akan diperoleh hasil Rp 2.000.000. Dari usaha ternak ayam kampung, peternak akan mencapai BEP pada bulan ke 8 pemeliharaan dan mendapat keuntungan bersih (dipotong biaya pakan untuk 6 bulan berikutnya)

44 Rp 600.000. Setelah 3 bulan dari penjualan pertama, peternak bisa menjual 50 ekor ayam turunan kedua dengan nilai total Rp 2.000.000, demikian seterusnya. Dengan asumsi ini, maka pada penjualan turunan kedua (bulan ke 11 dari pemeliharaan) akan mendapat keuntungan bersih Rp 2.000.000. atau +/- Rp 666.000, lebih besar dari pendapatan bulanan kerja kayu. Pasar ayam kampung di Ketapang cukup baik dan harga per kilo ayam kampung terus naik.

Melaiui Credit Union juga diharapkan dapat merubah pola pikir masyarakat yang terbiasa serba instan. Dengan pola lembaga keuangan konvensional, masyarakat terbiasa langsung mendapat pinjaman dengan modal agunan. Dengan CU, masyarakat dibiasakan menciptakan modal dengan menabung, baru kemudian memanfaatkannya dengan cara meminjam.

Di Kalbar, sudah banyak bukti keberhasilan CU dalam membantu menyediakan modal bagi masyarakat. Keberhasilan CU dalam membantu memberdayakan masyarakat sudah banyak dirasakan di berbagai daerah di Kalimantan Barat. Untuk di Ketapang sendiri, ada 2 CU yang sudah cukup mapan dan terbukti membantu usaha masyarakat, yaitu CU Pancur Solidaritas dan CU Gemalak Kemisik.

Kelompok yang disasar adalah masyarakat petani di desa Tempurukan, Sei Putri, Tanjung Baik Budi dan Kuala Tolak. Target anggota yang akan direkrut untuk tahun pertama sedikitnya 200 orang. Mitra lembaga untuk mengembangkan CU adalah Lembaga Gemawan - Pontianak dan CU Pancur Solidaritas – Ketapang. Lembaga Gemawan telah bersedia untuk memfasilitasi masyarakat mengembangkan CU dan membantu membangun kapasitas calon pengurus CU dari 4 desa tersebut. Di bulan Januari 2009, Lembaga Gemawan sudah pernah mensosialisasikan CU di salah satu desa target.

Fasilitasi pembentukan CU akan dimulai pada Juli 2009 yang akan dimulai dengan proses sosialisasi. Sosialisasi mengenai CU akan dilakukan paralel dengan sosialisasi mengenai fungsi hutan rawa gambut Sungai Putri untuk mencegah intrusi air laut dan mekanisme karbon kredit. Dalam masa sosialisasi, perwakilan masyarakat petani juga akan dibawa untuk melihat CU terdekat yang sudah berhasil. Setelah proses sosialisasi dilakukan di 4 desa, bersama-sama akan disepakati perwakilan masyarakat yang akan menjadi pengurus CU. Perwakilan masyarakat ini selanjutnya akan dimagangkan di CU yang sudah berjalan selama 1 bulan. Baru kemudian setelah magang, dilakukan strategic planning untuk menetapkan dasar bagi CU tersebut.

Dana yang diperlukan untuk mengembangkan CU kurang lebih sebesar Rp 109,770,000. Sumber dana berasal dari Titian, kontribusi masyarakat dan support dari RARE. Penggalangan dana dari masyarakat diupayakan semaksimal mungkin, karena pengembangan CU harus didorong dari kebutuhan bersama: dari masyarakat untuk masyarakat. Sehingga dalam proses fasilitasinya, akan dibarengi dengan pendidikan kritis dalam konteks sosial, ekonomi dan sumber daya alam.

45 Keberadaan CU selain dapat memudahkan masyarakat dalam mengakses modal, secara tidak langsung juga dapat menekan aktivitas pembalakan liar di Sungai Putri. Dalam aturannya, CU tidak akan memberikan pinjaman modal untuk aktivitas illegal. Sehingga untuk dapat maju dan mengembangkan usahanya, masyarakat harus mau meninggalkan aktivitas penebangan.

46 Berdasarkan rantai hasil, maka ditetapkan sasaran awal untuk kampanye untuk petani yang menjadi khalayak:

• Pengetahuan mengenai fungsi lahan gambut meningkat

• Sikap ketergantungan berlebihan pada hutan menjadi berkurang

• Dukungan untuk penyelamatan kawasan hutan Sungai Putri juga meningkat • Komunikasi mengenai hutan Sungai Putri dan upaya penyelamatannya terbentuk • Pengetahuan mengenai kemampuan mandiri dan modal usaha tumbuh

• Sikap kemandirian dan kemampuan memperbaiki hidup secara mandiri tumbuh • Komunikasi mengenai pengembangan modal mandiri terbentuk di dalam masyarakat

• Terbentuk CU dengan kecukupan modal untuk memberikan pinjaman dan sistem berjalan baik dan memasukkan aspek perlindungan hutan Sungai Putri dalam sistemnya.

D. Membangun Baseline Data

Guna mendapatkan data dasar untuk mengembangkan strategi kampanye, maka dilakukan survey kuantitatif dengan menggunakan kuisioner. Survey kuantitatif ini bertujuan untuk:

• Mengetahui sumber informasi yang dipercaya kelompok target dan saluran komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan • Mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman kelompok target terhadap isu konservasi hutan rawa gambut Sungai Putri • Mengetahui tahapan perilaku kelompok target

• Mengetahui respon kelompok target terhadap strategi penyingkir halangan yang akan dikembangkan.

1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Survey

Survey dilakukan di 4 desa target yaitu Tempurukan, Sungai Putri, Tanjung Baik Budi dan Kuala Tolak Kec. Muara Pawan Kab Ketapang. Pemilihanan keempat desa ini dilakukan dengan pertimbangan ancaman lebih banyak dilakukan oleh masyarakat ke 4 desa ini, selain itu akses lebih dekat dan mudah dijangkau. Masyarakat di keempat desa ini juga memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap kawasan terutama untuk tata air dan sumber kayu untuk bahan bangunan. Sedang sebagai pembanding juga dilakukan survey di desa Kuala Satong Kec. Matan Hilir Utara Kab. Ketapang. Survey berlangsung selama 1 minggu sejak 18 – 25 April 2009.

47 Survey dilakukan oleh 11 enumerator yang berasal dari daerah setempat. Sebelum survey sebenarnya dimulai, enumerator dibekali dengan pengetahuan mengenai teknik wawancara selama 1 hari. Kuisioner juga diujicobakan bersama enumerator untuk mengetahui jika ada hal-hal yang perlu diperbaiki dalam kuisioner.

2. Alat dan Responden Survey

Peralatan yang digunakan dalam survey ini adalah: • Kuisioner sebagai alat pengumpul data (terlampir) • Alat tulis

• Software Survey Pro untuk merancang dan menganalisis survey

Pemilihan responden dilakukan secara acak dengan menggunakan metode simple random sampling. Jumlah responden yang diwawancarai 339 untuk desa target dan 226 untuk desa pembanding. Responden merupakan kepala keluarga yang tinggal pada rumah dengan interval 5. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan bantuan surveysampel.com. Distribusi sampel di tiap desa target ditentukan berdasarkan persentase jumlah kepala keluarga.

Setiap rumah tangga kelima akan dikunjungi untuk diwawancarai kepala keluarganya. Jika Kepala keluarga tidak berada di tempat, maka enumerator akan mengunjungi kembali rumah tersebut di lain waktu. Sedang jika kepala keluarga tidak bersedia diwawancarai, enumerator akan melewati rumah tersebut dan mencacah rumah tangga kelima berikutnya sampai kuota terpenuhi.

48 Tabel 8. Distribusi Responden Secara Geografis

Kecamatan Desa Jumlah KK2 Persentase

Distribusi (%)

Jumlah

Sampel Enumerator

Muara Pawan Tempurukan 488 17.00 58 Syamsumin, Asri

Sungai Putri 605 21.00 71 Ruslan, Hamdan

Tanjung Baik Budi 814 28.30 96 Sauni, Sabran

Kuala Tolak 970 33.70 114 Roli Marjoko, Edi

Total 2877 100.00 556

Sementara untuk control, akan dilakukan di desa Kuala Satong Kec. Matan Hilir Utara Kab. Ketapang. Jumlah sampel kontrol 226, yaitu 2/3 dari jumlah responden di desa target. Sehingga total sampel yang diambil dalam survey ini adalah 556 KK.

Dokumen terkait