• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.6. Model Konservasi Daun Sang

Model konservasi Daun Sang dibangun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Model yang dibangun berupa berupa model dinamis, mengingat struktur populasinya yang menurun. Dengan demikian maka titik berat upayanya adalah dengan meningkatkan regenerasi, dalam hal ini pertumbuhan tingkat semai. Dengan adanya jumlah semai yang memadai, akan menjamin keberlangsungan populasi Daun Sang. Alurnya dapat dilihat pada diagram model konservasi Daun Sang pada Gambar 4.18.

Gambar 4.18. Diagram model konservasi Daun Sang

Peningkatan jumlah semai sangat dipengaruhi oleh tersedianya agen penyerbuk dan juga agen pemencar benih, disamping kualitas tutupan lahan juga harus cukup, yang berkorelasi dengan intensitas cahaya yang dibutuhkan. Apabila diasumsikan tingkat pertumbuhan 5%/tahun dan 10%/tahun, maka akan mampu memberikan peningkatan populasi secara keseluruhan, seperti terlihat pada Gambar 4.19 dan 4.20.

Gambar 4.19. Simulasi peningkatan jumlah populasi Daun Sang dengan tingkat pertumbuhan semai 5%/tahun

Gambar 4.20. Simulasi peningkatan jumlah populasi Daun Sang dengan tingkat pertumbuhan semai 10%/tahun

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keberhasilan peningkatan jumlah semai akan berbanding lurus dengan peningkatan jumlah populasi secara keseluruhan. Simulasinya dapat dilihat pada Gambar 4.21.

Gambar 4.21. Simulasi perubahan tingkat pertumbuhan terhadap jumlah populasi Daun Sang

Ancaman kematian Daun Sang selain berasal dari gangguan alam, juga berasal dari besarnya intensitas interaksi masyarakat sekitar terhadap hutan. Interaksi masyarakat terhadap hutan juga dipengaruhi oleh tingkat kesejahteraan mereka. Apabila tingkat kesejahteraan mereka menurun, diindikasikan mereka akan banyak melakukan eksploitasi Daun Sang, karena tidak diperlukan biaya

untuk memanfaatkannya. Di samping itu, dikhawatirkan, masyarakat juga akan melakukan perambahan hutan, akibatnya akan terjadi perubahan tutupan lahan dan hal ini memberikan dampak negatif terhadap habitat Daun Sang. Perubahan habitat akan berakibat pada penurunan populasi Daun Sang. Gambar 4.22 dan 4.23 merupakan simulasi perubahan jumlah populasi Daun Sang pada perubahan tingkat regenerasi dimana diasumsikan tingkat kematian 5%/tahun dan 10%/tahun. Sementara Gambar 4.24, 4.25 dan 4.26 menampilkan simulasi hubungan antara tingkat regenerasi (5%/tahun dan 10%/tahun) dengan tingkat kematian (5%/tahun dan 10%/tahun).

Gambar 4.22. Simulasi perubahan jumlah populasi Daun Sang pada perubahan tingkat regenerasi dengan tingkat kematian 5%/tahun

Gambar 4.23. Simulasi perubahan jumlah populasi Daun Sang pada perubahan tingkat regenerasi dengan tingkat kematian 10%/tahun

Gambar 4.24. Simulasi perubahan jumlah populasi Daun Sang pada tingkat regenerasi 5%/tahun dengan tingkat kematian 5%/tahun

Gambar 4.25. Simulasi perubahan jumlah populasi Daun Sang pada tingkat regenerasi 5%/tahun dengan tingkat kematian 10%/tahun

Gambar 4.26. Simulasi perubahan jumlah populasi Daun Sang pada tingkat regenerasi 10%/tahun dengan tingkat kematian 10%/tahun 4.7. Strategi Konservasi Berdasarkan Pemodelan Daun Sang

Berdasarkan semua analisis yang dilakukan terhadap komponen lingkungan biologi, fisik dan sosial ekonomi maka dapat dirumuskan strategi pengelolaan Daun Sang. Strategi ini disusun berdasarkan asas konservasi. Konservasi mencakup tiga aspek utama, yaitu perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan (Alikodra, 2012). Lebih lanjut dijelaskan bahwa strategi dasar pengelolaan kawasan konservasi, meliputi:

a. menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan)

b. menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumberdaya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah), dan

c. mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumberdaya alam hayati sehingga terjamin kelestarian pemanfaatannya

Berdasarkan hal tersebut, maka strategi konservasi Daun Sang di Resort Sei Betung, TNGL disusun sebagai berikut:

1. Perlindungan

Daun Sang merupakan salah satu spesies yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1999 tanggal 27 Januari 1999 Tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Namun demikian, ternyata masih banyak yang tidak mengetahui hal tersebut, bahkan masih banyak yang tidak mengenal Daun Sang. Oleh karenanya perlu adanya sosialisasi tentang flora

ini, apalagi Daun Sang memiliki kekhasan tersendiri dan tumbuh pada habitat yang spesifik.

Tak banyak lokasi yang dikenal menjadi habitat Daun Sang, salah satunya adalah Resort Sei Betung TNGL. Daun Sang merupakan palem understory dan menyukai habitat berhutan, dengan tutupan tajuk yang rapat (hutan primer). Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar lokasi di Resort Sei Betung mempunyai kesesuaian habitat yang tinggi untuk Daun Sang, sehingga cocok untuk pengembangan konservasi in situ. Oleh karenanya perlu segera dilakukan langkah-langkah perlindungan terhadap spesies ini, mengingat struktur populasinya yang terus mengalami penurunan. Sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang peraturan perundangan yang melindungi Daun Sang perlu dilaksanakan, mengingat sebagian besar dari mereka tidak mengetahui hal tersebut.

TNGL merupakan kawasan konservasi alam. Konsep pengelolaannya mencakup pelestarian, pemeliharaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana, serta dilakukan pendekatan secara terintegrasi dan bioregional (MacKinnon et al., 1990 dan Miller, 1996 dalam Alikodra, 2012). Lebih lanjut dijelaskan bahwa konsep ini meliputi tiga aspek:

a. kebutuhan untuk merencanakan pengelolaan sumberdaya alam yang didasarkan atas inventarisasi yang akurat;

b. kebutuhan melakukan tindakan perlindungan untuk menjamin agar sumberdaya tidak habis; dan

c. kemampuan mengembangkan nilai-nilai ekonomi bagi pertumbuhan masyarakatnya, dengan tetap terlindunginya sistem ekologi kawasannya

Berdasarkan konsep pengelolaan tersebut, selayaknya mulai dilakukan inventarisasi Daun Sang secara akurat, dan pembuatan data base posisi Daun Sang di Resort Sei Betung dengan cermat, agar pemantauan populasinya dapat dilakukan dengan lebih mudah. Perlu juga dilakukan kegiatan pengelolaan yang melibatkan masyarakat setempat, agar mereka ikut merasa memiliki sehingga mereka juga ikut menjaga keberadaan Daun Sang di Resort Sei Betung.

2. Pelestarian

Istilah pelestarian mempunyai makna keberadaan sumberdaya alam yang tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi sekarang ataupun generasi yang akan datang dengan tidak berubah fungsinya. Daun Sang merupakan flora yang khas, belum banyak dikenal orang, namun populasinya diduga terus mengalami penurunan, hal ini juga didukung hasil penelitian tentang struktur populasinya yang terus menurun. Apabila tidak ada campur tangan manusia dan hanya diserahkan pada alam saja, tidak diragukan lagi, Daun Sang akan benar-benar punah di alam. Oleh karenanya perlu dilakukan upaya pelestarian baik in situ maupun eks situ.

Ditemukan banyak faktor penyebab ancaman terhadap kelestarian Daun Sang di alam. Berdasarkan hasil penelitian, ancaman tersebut dapat dikategorikan menjadi ancaman intrinsik dan ekstrinsik, sebagai berikut:

a. Ancaman intrinsik: berupa ancaman yang berasal dari proses-proses biologi Daun Sang sendiri, yaitu rendahnya tingkat reproduksi dan juga adanya penurunan populasi.

b. Ancaman ekstrinsik: berupa terganggunya habitat, pemanfaatan yang berlebihan dan faktor alam.

Hal ini sejalan dengan penelitian Budiharta et al. (2011), yang menyatakan bahwa ancaman terbesar palem meliputi kehilangan habitat (penurunan ukuran dan kualitas habitat), eksploitasi berlebihan, faktor biologi (karakter intrinsik biologi yang rentan terhadap penurunan populasi) dan faktor alam.

Adanya pemahaman tentang ancaman terhadap Daun Sang dengan baik, akan dapat digunakan sebagai dasar pemikiran untuk mengambil langkah-langkah terbaik dalam usaha pelestariannya. Habitat Daun Sang dapat dilihat dari aspek biologi, fisik dan sosekbud. Dari aspek biologi, Daun Sang menyukai tutupan lahan yang didominasi oleh hutan primer, sehingga apabila kita menjaga kelestarian hutannya, secara tidak langsung kita juga menjaga eksistensi Daun Sang pada komunitas tersebut. Sementara apabila dilihat dari asosiasi dengan tumbuhan lain, tidak ada asosiasi yang kuat, nilainya masih dibawah 0,5, sehingga bisa dikatakan bahwa tidak harus tumbuh berdampingan dengan spesies tertentu, namun yang paling penting harus mendapat naungan untuk kelangsungan hidupnya. Apabila ditanam di luar sebaran alaminya, kondisi naungan harus menjadi prioritas utama (intensitas cahaya ≤ 50 lux), disamping persyaratan kondisi yang lain.

Komponen fisik habitat Daun Sang yang dianalisis pada penelitian ini tidak secara signifikan berhubungan dengan jumlah ditemukannya Daun Sang,

walaupun secara kumulatif/simultan, mampu menjelaskan sebesar 56,4%. Namun dari sisi struktur populasinya kelerengan dan ketinggian tempat mempunyai signifikansi dan hubungan yang erat. Semakin menurun ketinggian tempat semakin banyak dijumpai Daun Sang dewasa, demikian juga dengan semakin meningkatnya kelerengan. Kondisi optimum Daun Sang berada pada ketinggian 49-100 m dpl dan kelerengan 8% - 90% dan pada intensitas cahaya antara 10 – 100 lux. Dari aspek tanah, Daun Sang dapat tumbuh dengan baik pada tanah marginal. Kandungan P merupakan faktor yang signifikan berpengaruh dan berkorelasi positif dengan kandungan pasir dan berkorelasi negatif dengan kandungan debu dan liat. Hal ini juga harus diperhatikan dalam upaya pelestarian Daun Sang. Mogea, et al (2001) menambahkan bahwa ada kemungkinan akar semai Daun Sang mempunyai simbiosis dengan jamur mikoriza, sehingga upaya budidaya di luar sebaran alaminya perlu menambahkan jamur mikoriza tersebut. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang jenis-jenis jamur mikoriza yang dimaksud, sehingga bisa dikembangbiakkan, dan akan sangat membantu pada kegiatan budidaya Daun Sang di luar sebaran aslinya. Aspek suhu dan kelembaban tidak berpengaruh signifikan, karena dengan adanya tutupan lahan berupa hutan dan ketinggian < 100 m dpl, biasanya kondisi suhu dan kelembaban tidak jauh berbeda, suhu cukup tinggi dengan kelembaban yang tinggi pula.

Komponen sosial ekonomi masyarakat setempat diduga berhubungan dengan ada dan tidaknya interaksi mereka dengan Daun Sang. Asumsinya dengan semakin intens interaksinya, akan semakin banyak ditemukan gangguan terhadap Daun Sang. Berdasarkan wawancara juga diketahui bahwa masyarakat

mempunyai kearifan dalam cara pengambilan Daun Sang, yaitu dengan menyisakan 3-4 helai per individu, agar kelak di kemudian hari dapat mereka panen kembali. Mereka juga menyadari bahwa Daun Sang akan punah seiring dengan kerusakan hutan. Saat ini masyarakat juga sudah jarang menggunakan Daun Sang, sehingga interaksinya tidak intens lagi.

Ancaman dari faktor alam berupa robohnya pohon-pohon yang sudah tua, dan patahnya dahan dan ranting pohon besar di atasnya juga menyebabkan kerusakan pada Daun Sang, walaupun tidak terlalu banyak. Selain itu juga adanya serangan ulat daun dan serangga-serangga lain, menyebabkan banyak terjadi kerusakan pada daunnya, padahal pertumbuhan daunnya memerlukan waktu yang lama. Di samping itu, daun juga sebagai penopang utama terjadinya pertumbuhan. Menurut Rozainah dan Sinniah (2005) siklus pertumbuhan daun pada Daun Sang meliputi: pemunculan kuncup daun (tombak), pemanjangan kuncup daun, pembukaan kuncup daun dan pemunculan kuncup daun berikutnya. Pada fase dewasa daun tombak bisa muncul 1-3 daun secara bersamaan, pada fase juvenil 1-2 daun secara bersamaan dan fase semai hanya 1 daun tombak saja. Selanjutnya dijelaskan bahwa plastochrone (interval antara produksi 2 suksesi daun) pada dewasa paling cepat, yaitu 4,5 bulan; juvenil 9 bulan dan pada semai tidak terdeteksi selama pengamatan 19 bulan. Hal ini mengindikasikan diperlukan waktu yang sangat lama untuk produksi semai, lebih dari 19 bulan.

Selain pertumbuhan yang lambat, ancaman yang perlu diperhatikan adalah kemampuan reproduksinya yang rendah. Perlu adanya penelitian tentang pembungaan, pembuahan dan perkecambahan Daun Sang, selain juga perlu

dipelajari agen penyerbuk serta agen pemencar buah, karena tanpa agen pemencar buah, buah tidak akan terlepas dengan sendirinya dari tangkainya.

3. Pemanfaatan

Selama ini, Daun sang hanya dimanfaatkan daunnya saja oleh masyarakat sekitar, yang artinya tidak memberikan kontribusi yang begitu besar pada kesejahteraan masyarakat sekitar. Padahal keindahan flora ini sangat digemari untuk digunakan sebagai tanaman hias. Banyak situs-situs pertamanan di luar negeri yang membahas dan menjual biji dan bibit Daun Sang dengan harga yang cukup mahal. Apabila Daun Sang mampu dikembangbiakkan dengan baik dan jumlahnya di alam sudah cukup memadai, tidak menutup kemungkinan masyarakat dapat memanfaatkanya dengan lebih optimal.

Ada beberapa alternatif pemanfaatan yang dapat memberikan dampak lebih bagi kesejahteraan masyarakat. Alternatif tersebut adalah:

a. Pertama: membuat skema ecotourisme untuk melihat keindahan Daun Sang di habitat alaminya. Hal ini sejalan dengan Alikodra (2012) yang menyatakan upaya pemanfaatan yang dianggap mampu menjamin kelestarian, serta mampu pula meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakatnya bahkan sebagai sumber devisa negara adalah melalui bioprospecting dan ecotourism. Diperlukan perangkat peraturan yang disepakati antara TNGL selaku pemangku wilayah, LSM dalam hal ini Yayasan Leuser Internasional (YLI) dan masyarakat sekitar (Dusun Aras Napal Kanan dan Dusun Aras Napal Kiri). Cara ini juga sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar, baik dari pembukaan lapangan kerja maupun peluang kerja. Pembukaan lapangan kerja karena akan dibutuhkan pemandu dan juga pekerja yang bertugas untuk

memelihara jalur-jalur ekowisata yang akan dituju, sedangkan pembukaan peluang kerja karena dengan datangnya wisatawan akan membutuhkan penginapan, warung makan, dll untuk memenuhi kebutuhannya selama berada di lokasi tersebut. Atraksi lain yang dapat menjadi unggulan adalah adanya camp Unit Patroli Gajah (UPG), dimana wisatawan juga dapat berinteraksi dengan gajah-gajah yang ada, serta adanya kuburan keramat di dalam hutan. Untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut, tentu saja perlu adanya pembenahan baik dari sisi aksesibilitas, sarana prasarana, juga sumberdaya manusia yang memadai. Salah satu ancaman yang dapat diprediksi adalah adanya konflik kepemilikan lahan. Hal ini berkaitan dengan isu yang mengatakan di dekat kuburan keramat ada lokasi yang mengandung emas dan minyak bumi, dimana dulu pernah dilakukan kegiatan penambangan, dan lahan tersebut milik salah seorang Datuk, sehingga keturunan-keturunannya yang membentuk aliansi masyarakat adat sering datang ke camp UPG untuk mencoba mengklaim lahan tersebut. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kepastian lahan menjadi prioritas utama, dan diperlukan kerja sama antara TNGL, pemerintah daerah setempat, dan masyarakat adat.

b. Kedua: membina kelompok tani untuk membuat persemaian Daun Sang. Untuk menuju arah tersebut cara budidaya Daun Sang sepertinya menjadi kunci yang penting, karena selama ini tingkat keberhasilan budidaya ini sangat rendah. Hasil penelitian ini sudah menunjukkan beberapa faktor fisik yang harus dipenuhi, namun dari aspek intrinsik biologi Daun Sang masih perlu digali lagi informasinya. Keterlibatan pihak akademisi dan peneliti dapat dilakukan di sini. Setelah berhasil dengan persemaian, harus dibuat regulasi

yang bagus oleh pihak berwenang dalam hal ini TNGL, dalam hal jual beli biji ataupun bibit Daun Sang.

Diharapkan dengan adanya dua alternatif pemanfaatan tadi, masyarakat ikut merasakan dan menikmati keberadaan Daun Sang bagi kesejahteraannya, sehingga mereka ikut merasa memiliki dan menjaga kelestarian Daun Sang yang ada. Hal ini perlu dipikirkan mengingat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar Resort Sei Betung (Dusun Aras Napal Kanan dan Dusun Aras Napal Kiri), masih rendah. Saat ini juga serbuan investor kelapa sawit sangat besar dan menggiurkan, sehingga dikhawatirkan akan membuat masyarakat tergoda untuk melakukan perambahan dan pembukaan lahan di Resort Sei Betung untuk ditanami sawit dan hal ini berarti membahayakan habitat Daun Sang yang akhirnya akan berujung pada kepunahannya. Di samping serbuan investor kelapa sawit, perkebunan jeruk juga sudah mulai menggeliat lagi. Dahulu, jeruk merupakan komoditi andalan Dusun Aras Napal Kanan dan Kiri, dikenal dengan Jeruk Pantai Buaya, namun perkebunan mereka hancur akibat serangan hama dan penyakit. Yang juga tidak kalah penting adalah tingginya erosi di kanan kiri Sungai Besitang, yang terus mengikis daratan. Hal ini mungkin juga akibat adanya pendangkalan sungai dan rusaknya kondisi hutan di hulu, yang menyebabkan siklus hidro-orologis terganggu, sehingga membuat lebar sungai tak mampu lagi menampung debit air pada musim penghujan, sehingga terjadi penggerusan kanan kiri sungai yang semakin melebar.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait