BAB IV ANALISIS KINERJA PEMBANGUNAN WILAYAH
4.1. Pengukuran Indeks Kinerja Pembangunan
4.1.3. Model Linier Aspek Daya Saing Daerah
Pengukuran aspek daya saing daerah (ADSD) mempergunakan data yang tersedia sampai tingkat kabupaten/ kota. Komponen pembentuk ADSD adalah parameter kemampuan ekonomi daerah (KED), parameter fasilitas wilayah/ infrastruktur (FWI), parameter iklim
berinvestasi IKI) dan pelayanan sumberdaya manusia (SDM). Untuk data pengukuran Kemampuan Ekonomi Daerah, cukup lengkap, kecuali untuk data nilai tukar petani tidak tersedia per Kabupaten/ kota. Untuk pengukuran Fasilitas Wilayah dan Infrastruktur data yang tidak tersedia per Kabupaten/ kota yaitu jumlah restoran dan rumah makan
Berdasarkan hasil analisis, maka model pengkuran Aspek Daya Saing Daerah sebagai berikut:
ADSD = 0.193 KED + 0.188 FWI + 0.146 IKI + 0.473 SDM
Dari model terlihat bahwa parameter Sumber Daya Manusia berpengaruh dominan dibanding parameter lainnya dalam pembentukkan Aspek Daya Saing Daerah. Parameter Sumber daya manusia mempunyai pengaruh sebesar 47,3% disusul oleh parameter Kemampuan Ekonomi Daerah sebesar 19,3%, Fasilitas Wilayah dan Infrastruktur sebesar 18,8% dan yang terendah pengaruhnya dalam pembentukan Aspek Daya Saing Daerah yaitu Iklim Investasi dengan angka sebesar 14,6%.
Untuk pengukuran Aspek Daya Saing Daerah digunakan indikator dan sub indikator sebagai berikut:
1. Kemampuan Ekonomi Daerah (KED)
a. Pengeluaran konsumsi per kapita (KONS) b. Tingkat Kemahalan Harga (IKK)
c. Produktifitas Regional (PTD) d. Kemandirian Daerah (DPPAD) 2. Fasilitas Wilayah dan Infrastruktur (FWI)
a. Akses dan mobilitas Daerah (AKD) b. Ketersediaan air bersih (KAB)
c. Ketersediaan Fasilitas Bank (KFBNK) d. Rasio elektrifikasi (ELEKT)
3. Iklim Usaha (IKI)
b. Aglomerasi (AGLM) 4. Sumber Daya Manusia (SDM)
a. Kualitas tenaga kerja (KUTNK)
b. Tingkat ketergantungan penduduk (TKTGT)
Model pengukuran yang terbentuk untuk parameter Kemampuan Ekonomi Daerah (KED)
KED = 0.23025 KONS - 0.40425 IKK + 0.19325 PTD + 0.17225 DPPAD
Indeks Kemahalan Konstruksi terlihat berpengaruh dominan dalam pembentukkan Aspek Kemampuan Ekonomi Daerah yaitu sebesar 40,43%. Berikutnya untuk pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita mempunyai pengaruh sebesar 23,03%, disusul oleh indikator Rasio PDRB per tenaga kerja sebesar 19,33% dan indikator rasio dana perimbangan terhadap PAD sebesar 17,23%.
Model pengukuran yang terbentuk untuk parameter Fasilitas Wilayah dan Infrastruktur (FWI) yaitu:
FWI = 0.5690 AKD + 0.2670 KAB + 0.0560 KFBNK + 0.1080 ELEKT
Dari model tersebut, terlihat bahwa indikator akses dan mobilitas daerah yang menggunakan data rasio panjang jalan terhadap luas wilayah dan rasio panjang jalan terhadap jumlah penduduk terlihat mempunyai pengaruh dominan terhadap Parameter Fasilitas Wilayah dan Infrastruktur (FWI) sebesar 58,90%, sedangkan Ketersediaan Air Bersih (KAB) pengarunya sebesar 26,70% dan untuk indikator ketersediaan Fasilitas Bank (KFBNK) dan Rasio Elektrifikasi (ELEKT) masing-masing sebesar 5,60% dan 10,80%.
IKI = - 0.696 KMTIB + 0.304 AGLM
penduduk dan rasio linmas terhadap jumlah penduduk sebagai pembentuk indikator keamanan dan ketertiban. Untuk indikator aglomerasi, digunakan data kontribusi Kabupaten/kotaterhadap PDRB sebagai penggganti data retribusi dan pajak yang tidak tersedia per Kabupaten/kota. Dari hasil perhitungan terlihat Indikator Keamanan dan Ketertiban yang memiliki pengaruh dominan yaitusebesar 69,6% dan untuk indikator Aglomerasi pengaruhnya sebesar 30,4% dalam pembentukkan parameter iklim investasi.
SDM = 0.724 KUTNK + 0.276 TKTGT
Dari model pengukuran untuk parameter Sumber Daya Manusia, terlihat bahwa indikator Kualitas Tenaga Kerja (KUTNK) berpengaruh dominan dalam pembentukkan Sumber daya Manusia yaitu sebesar 72,4%, dan tingkat ketergantungan Tenaga Kerja (TKTGT) terlihat sebesar 27,6%.
Dengan menggabungkan setiap indikator kedalam masing-masing aspek dalam indeks kinerja pembangunan, maka didapat model pengukuran IKP sebagai berikut:
Tabel 4.3. Model Linier II Kinerja Pembangunan Provinsi Papua
Sumber Data: Data diolah, 2016
Dalam model Aspek Kesejahteraan Masyarakat, terlihat bahwa Ketimpangan mempunyai pengaruh dominan yaitu sebesar 17,38%, Tingkat kesehatan terlihat menempati posisi kedua dalam memberikan
AKM = LPE - 0.1087 INF + 0.1135 KAP - 0.1738 TMP + 0.1229 PEND + 0.1630 KESH - 0.1121 KMSK + 0.0730 KSKRJ
APU= URPEN + 0.2611 URKES + 0.1510 URSRN + 0.1552 URLHD + 0.0444 URTNG + 0.0344 URKBKS+ 0.0373 URPMD + 0.0369 URPERMP
ADSD = KONS - 0.0780 IKK + 0.0373 PTD + 0.0332 DPPAD + 0.1070 AKD + 0.0502 KAB + 0.0105 KFBNK + 0.0203 ELEKT + 0.1016 KMTIB + 0.0444 AGLM + 0.3425 KUTNK - 0.1305 TKTGT
0.1330
0.2797
pengaruh bagi Aspek Kesejahteraan Masyarakat dengan angka sebesar 16,30% yang jika dirata-ratakan berdasarkan sub indikator yang digunakan maka pengaruh masing-masing sub indikator sebesar 8,15% disusul kemudian oleh Laju Pertumbuhan Ekonomi sebesar 13,30%, Tingkat Pendidikan sebesar 12,29% dengan kontribusi masing-masing sub indikator sebesar 1,54%, Pendapatan Perkapita sebesar 11,35%, tingkat Kemiskinan sebesar 11,21%, inflasi sebesar 10,87% dan Kesempatan Kerja sebesar 7,30% mempengaruhi Aspek Kesejahteraan Masyarakat.
Sedangkan untuk Aspek Pelayanan Umum, terlihat bahwa urusan pendidikan mempunyai pengaruh dominan yaitu sebesar 27,92%, namum jika dirata-ratakan berdasarkan 9 sub indikator yang digunakan maka pengaruh dari masing-masing sub indikator sebesar 3,11%. Urusan kesehatan terlihat menempati posisi kedua dalam memberikan pengaruh bagi Aspek Pelayanan Umum dengan angka sebesar 26,1% yang jika dirata-ratakan berdasarkan sub indikator yang digunakan maka pengaruh masing-masing sub indikator sebesar 6,5%. Urusan lingkungan Hidup, memberikan pengaruh sebesar 15,5% dengan rata-rata pengaruh sub indikator sebesar 7,8%, sedangkan untuk urusan sarana prasana, terlihat sebesar 15,1% dengan kontribusi masin-masing sub indikator sebesar 7,5%. Urusan tenaga Kerja, mempengaruhi Aspek pelayanan Umum sebesar 4,44% sedangkan urusan KB dan Keluarga Sejahtera sebesar 3,4% dengan pengaruh masing-masing sun indikator sebesar 1,7%.
Terakhir, pada Aspek Daya saing Daerah, terlihat bahwa indikator kualitas Tenaga Kerja mempunyai pengaruh dominan yaitu sebesar 34,2%, disusul berturut-turut oleh ketergantungan tenaga kerja sebesar 13,1%, Angka Kemandirian daerah sebesar 10,69%, angka keamanan dan ketertiban sebesar 10,16%, indeks Kemahalan Konstruksi sebesar 7,8%, Ketersediaan Air Bersih sebesar 5%, Pengeluaran konsumsi per kapita dan Aglomerasi masing-masing sebesar 4,44%, produktifitas daerah sebesar
Setelah diketahui seluruh sub-model IKP yang mencakup model AKM, APU dan ADSD secara lengkap di atas, maka tahap berikutnya indikator-indikator yang telah ditetapkan sebagai ukuran variabel-variabel sosial ekonomi sebelumnya dimasukan dalam masing-masing model yang terbentuk. Hal ini dilakukan dari tahun 2013 sampai dengan 2015, sesuai dengan time horizon data yang dimiliki, sehingga dapat dihitung perkembangan indeks AKM, APU, ADSD dan IKP setiap tahun untuk masing-masing kabupaten/kota dan provinsi yang dijelaskan pada pembahasan berikut ini.