• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

2. Model Fox

Nilai potensi maksimum lestari (MSY) adalah:

2. Model Fox

Hubungan antara hasil tangkapan(C) dan upaya penangkapan (f) adalah: C = f exp (a + b (f))

Nilai upaya optimum ( f opt) adalah:

Nilai potensi maksimum lestari (MSY) adalah: MSY = - (1/b) exp (a-1)

Keterangan:

C = Jumlah hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (kg/trip) a = Intercept

b = Slope

f = Upaya penangkapan (trip) pada periode ke-i f opt = Upaya penangkapan optimal (trip)

Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan

Pendugaan tingkat pemanfaatan dilakukan dengan cara mempresentasikan jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu dengan nilai potensi maksimum lestari (MSY). Rumus dari tingkat pemanfaatan adalah (Paully, 1983 diacu oleh Astuti, 2005) :

TPc =

�100% Keterangan :

TPc = Tingkat pemanfaatan pada tahun ke-i (%) Ci = Hasil tangkapan ikan pada tahun ke-i (kg) MSY = Maximum Sustainable Yield (kg)

Menurut Wahyudi (2010), pendugaan tingkat pengupayaan dilakukan untuk mengetahui tingkat upaya tangkap sumberdaya ikan. Pendugaan dilakukan dengan mempresentasekan effort standar pada tahun tertentu dengan nilai effort optimum. Rumus dari tingkat pengupayaan adalah:

TPf =

� 100%

Keterangan :

TPf = Tingkat pengupayaan pada tahun ke-i (%) fs = Effort standar pada tahun ke-i (trip) f opt = Upaya penangkapan optimum (kg/thn)

Sementara jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC) adalah 80% dari potensi maksimum lestarinya (FAO (1995) diacu oleh Syakila, 2009). Hal ini berdasarkan prinsip kehati-hatian dalam pendugaan stok sehingga pemanfaatan sumberdaya ikan dapat terus lestari. Rumus jumlah tangkapan yang diperbolehkan adalah:

Keterangan :

TAC = Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (kg/thn) MSY = Maximum Sustainable Yield (kg)

Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian dilakukan dengan metode cluster sampling pada kecamatan yang memiliki jumlah nelayan terbanyak. Menurut Hoddi, dkk (2011), penentuan sampel (Lampiran 2) dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin, yaitu :

n =

Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi e = Tingkat kelonggaran (10%)

Analisis Status Keberlanjutan

Analisis status keberlanjutan sumberdaya ikan sebelah dilakukan dengan pendekatan Flag Model dan dengan metode deskriptif yaitu dengan fakta-fakta yang ada sekarang. Analisis atribut dan kriteria skor pada dimensi ekologi (Tabel 4), atribut dan kriteria skor pada dimensi ekonomi (Tabel 5), atribut dan kriteria skor pada dimensi sosial (Tabel 6), atribut dan kriteria skor pada dimensi ekonomi (Tabel 7), serta atribut dan kriteria skor pada dimensi etika (Tabel 8) merupakan olahan data penelitian Pitcher and Preikshot (2001).

Kuisioner (Lampiran 3) diberikan terhadap responden khususnya nelayan yang tangkapan utamanya ikan demersal di Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai dan selanjutnya diolah dengan Microsoft Excel.

Tingkat keberlanjutannya dilihat dengan menggunakan instrumen skala likert (Tabel 3).

Tabel 3. Instrumen Skala Likert

No Jawaban Skor

1 Berkelanjutan 3

2 Cukup Berkelanjutan 2

3 Tidak Berkelanjutan 1

Sumber : Sugiyono (2006) diacu oleh Karlina, 2011. Tabel 4. Atribut dan Kriteria Skor pada Dimensi Ekologi

Sumber : Pitcher and Preikshot (2001).

Tabel 5. Atribut dan Skor Kriteria pada Dimensi Ekonomi

No. Atribut Skor Kriteria pemberian skor

1. Gaji/upah rata-rata 3; 2; 1 Nelayan terhadap lain pekerja: > (3); = (2); < (1)

2. Pendapatan lain 3; 2; 1 Penangkapan dilakukan: full time (3); partime (2); sambilan (1);

3. Ketenagakerjaan 3; 2; 1 Aktivitas ini terhadap lain perikanan: <10% (3); 10- 20% (2); >20 (1)

4. Kepemilikan 3; 2; 1 Profit perikanan terutama untuk: lokal (3); campuran (2); asing (1)

5. Pasar utama 3; 2; 1 Lokal (3); nasional (2); internasional (1) 6. Subsidi 3; 2; 1 Hampir seluruh (3); beberapa (2); tidak (1) 7. Konsumsi BBM 3; 2; 1 Rendah (3); sedang (2); tinggi (1)

Sumber : Pitcher and Preikshot (2001).

No. Atribut Skor Kriteria pemberian skor

1. Status eksploitasi 3; 2; 1 Skala eksploitasi : under-fully (3); heavy-(2); over-exploited (1); 2. Keragaman rekrutmen 3; 2; 1 Koefisien keragaman:< 40% (3); 40-100% (2); > 100% (1) 3. Perubahan trophic level

3; 2; 1 Penurunan trophic level dalam ekosistem: tidak (3); perlahan (2); cepat (1)

4. Jarak migrasi 3; 2; 1 Jumlah jurisdiksi yang terkait sepanjang daur- hidup: 1-2 (3); 3-4 (2); >4 (1)

5. Tingkatan kolaps 3; 2; 1 Pengurangan lokasi area tangkap: tidak (3); sedikit (2); banyak dan cepat (1)

6. Ukuran tangkapan ikan

3; 2; 1 Didaratkan berubah 5 tahun terakhir?: tidak berubah (3); ya gradual (2); ya cepat (1) 7. Discarded by catch 3; 2; 1 Terhadap target hasil tangkapan: rendah

0-10% (3); sedang (10 - 40%) (2); > 40% (1) 8. Spesies tangkapan 3; 2; 1 Termasuk by-catch: 1 - 10 (3); 10 - 100 (2);

Tabel 6. Atribut dan Kriteria Skor pada Dimensi Sosial

No. Atribut Skor Kriteria pemberian skor 1. Sosialisasi

penangkapan

3; 2; 1 Nelayan bekerja: kelompok (3); keluarga (2); individu pada suatu perusahaan (1)

2. Pendatang baru 3; 2; 1 Selama 5 tahun terakhir:< 10% (3); 10 - 20% (2); > 20% (1) 3. Sektor penangkapan 3; 2; 1 RTP dalam komunitas: < 10% (3); 10 - 30% (2); >30 (1) 4. Pengetahuan lingkungan

3; 2; 1 Terhadap sumberdaya ikan & lingkungan: banyak (3) ; beberapa (2); dan kosong (1) 5. Tingkat pendidikan 3; 2; 1 Terhadap rata-rata tingkat pendidikan

penduduk: diatas (3);sama (2); rendah (1) 6. Status konflik 3; 2; 1 Konflik dengan perikanan/sektor lain: tidak

(3); beberapa (2); banyak (1)

7. Pengaruh nelayan 3; 2; 1 Terhadap regulasi aktual: banyak (3) beberapa (2); hampir tidak (1)

8. Pendapatan Penangkapan

3; 2; 1 Terhadap total pendapatan keluarga: > 80% (3); 50 - 80% (2); < 50% (1)

9. Pastisipasi keluarga 3; 2; 1 Anggota keluarga menjual/memproses hasil tangkapan: ya (3); kadang-kadang (2); tidak (1)

Sumber : Pitcher and Preikshot (2001).

Tabel 7. Atribut dan Kriteria Skor pada Dimensi Teknologi

No. Atribut Skor Kriteria pemberian skor

1. Lama trip 3; 2; 1 Rata-rata hari setiap trip: < 1 hari (3); 1 hari (2); > 1 hari (1)

2. Tempat pendaratan 3; 2; 1 Tersebar (3); agak terpusat (2); terpusat (1); 3. Pengolahan

pra-jual

3; 2; 1 Banyak (3); beberapa (2); Tidak (1) 4. Penanganan di

kapal

3; 2; 1 Penggunaan tangki hidup (3); canggih (2); tidak (1)

5. Selektivitas alat tangkap

3; 2; 1 Banyak (3) ; beberapa (2); sedikit (1) 6. Ukuran kapal 3; 2; 1 Rata-rata panjang kapal: <8m (3);8 – 17 m

(2); > 18m (1) 7. Perubahan daya

tangkap

3; 2; 1 Dalam 5 tahun terakhir meningkat: tidak (3); sedikit (2); banyak/cepat (1)

8. Efek samping alat tangkap

3; 2; 1 Tidak ada (3); beberapa (2); banyak (1) Sumber : Pitcher and Preikshot (2001).

Tabel 8. Atribut dan Kriteria Skor pada Dimensi Etika

No. Atribut Skor Kriteria pemberian skor

1. Pilihan perikanan 3; 2; 1 Pilihan perikanan: banyak (3); beberapa (2); tidak ada (1)

2. Kesetaraan berkegiatan

3; 2; 1 Mempertimbangkan basis tradisi/sejarah: perikanan tradisional (3); ya (2); tidak (1) 3. Keadilan

pengelolaan

3; 2; 1 Pola pengelolaan:co-management/leader pemerintah (1); co-management/leader masy. (2); murni co-management yg setara (3)

4. Mitigasi-Destruksi habitat

3; 2; 1 Kerusakan dan mitigasinya terhadap habitat ikan: tidak ada kerusakan atau mitigasi (3); beberapa kerusakan (2); banyak kerusakan (1)

5. Mitigasi-deplesi ekosistem

3; 2; 1 Kerusakan dan mitigasinya yang berdampak pada ekosistem: tidak ada kerusakan atau mitigasi (3); beberapa kerusakan (2); banyak kerusakan (1)

6. Penangkapan yang melanggar aturan

3; 2; 1 Tidak ada (3); beberapa (2); banyak (1) 7. Buangan dan

limbah

3; 2; 1 Tidak ada (3); beberapa (2); banyak (1) Sumber : Pitcher and Preikshot (2001).

Keberlanjutan ikan sebelah dianalisis berdasarkan frekuensi bendera yang merupakan syarat dalam menentukan keberlanjutan. Selanjutnya hasil koresponden tersebut diolah dengan metode rating scale yaitu jumlah hasil jawaban responden yang telah diskoring dibagi total jumlah responden dan dikalikan 100 sebagai persentasinya. Metode ini digunakan untuk menetapkan seperangkat kondisi ambang batas kritis (Critical Threshold Value/CTV) yang kemudian digunakan sebagai indikator keberlanjutan perikanan. Rentang nilai CTV Berdasarkan Warna Bendera (Nijkamp dan Ouwersloot, 1997) dapat dilihat pada Gambar 8 sebagai berikut :

CTV =

Kondisi ambang batas kritis (Critical Threshold Value/CTV) dapat dibagi kedalam kelas warna sebagai berikut:

Gambar 8. Rentang nilai CTV Berdasarkan Warna Bendera (Nijkamp dan Ouwersloot, 1997)

Keterangan :

Hijau = Berkelanjutan Merah = Tidak Berkelanjutan

Kuning = Sedang

Dokumen terkait