BAB II KAJIAN TEORI
E. Konsep Evaluasi Program
5. Model-Model Evaluasi Program
Model evaluasi ialah model desain evaluasi yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar-pakar evaluasi yang biasanya dinamakan sama dengan pembuatnya atau tahap pembuatya. Model-model ini dianggap model standar atau dapat dikatakan merek standar dari pembuatnya Farida Yusuf T, (2000: 13). Evaluasi juga dibedakan berdasarkan waktu pelaksanaannya, kapan evaluasi dilakukan, dan acuan serta paham yang dianut oleh evaluator.
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin (2004: 24) mengemukakan ada 8 model evaluasi yang meliputi model evauasi goal oriented, model evaluasi goal free, model evaluasi formatif-summatif, model evaluasi countenance, model evaluasi responsive, model evaluasi UCLA, model evaluasi CIPP, dan model evaluasidiscrepancy.
a. Model EvaluasiGoal Oriented
Model evaluasigoal orientedmerupakan model evaluasi yang muncul paling awal. Sasaran pengamatan dari model evaluasi ini adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan jauh sebelum program dimulai. Evaluasi dilakukan secara
terus menerus dan berkesiambunga, mencek seberapa jauh tujuan tersebut sudah terlaksana di dalam proses pelaksanaan program.
b. Model EvaluasiGoal Free
Model evaluasi goal free dikembangkan oleh Michael Scriven yang mana dapat dikatakan bahwa model ini sangat berlawanan dengan model-model goal oriented, evaluator terus menerus memantau tujuan, yaitu sejak awal proses terus melihat sejauh mana tujuan tersebut sudah dapat di capai, sedangkan dalam model goal free justru menoleh dari tujuan. Michael Scriven, ketika melakukan program evaluator tidak perlu memerhatikan tujuan program tersebut akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kerjanay program tersebut. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kerjanya program dengan cara mengidentifikasi penampilan-penampilan yang terjadi, baik itu hal yang positif maupun yang negatif (Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin, 2004: 25)
Model evaluasi goal free tidak memperhatikan tujuan program dikarenakan ada kemungkinan evaluator terlalu rinci mengamati tiap-tiap tujuan khusus. Jika masing-masing tujuan khusus tercapai, artinya terpenuhi dalam penampilan, tetapi evaluator lupa memerhatikan seberapa jauh masing-masing penampilan tersebut mendukung penampilan akhir yag diharapkan oleh tujuan umum maka akibatnya jumlah peampilan khusus ini tidak banyak manfaat. Sehigga dalam model ini bukannya lepas sama sekali dari tujuan, akan tetapi hanya lepas dari tujuan khusus.
c. Model EvaluasiFormatif Sumatif
Michael Scriven juga mengembangan model evaluasi lain yaitu model formatif-sumatif. Model ini menunjuk adanya tahapan dan lingkup obyek yang dievaluasi, yaitu evaluasi yang dilakukan pada waktu program masih berjalan dan ketika program sudah selesai (Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin, 2004: 25). Pada prinsipnya evaluasi formatif dilaksanankan pada saat program masih berlangsung atau ketika program masih dekat dengan pemulaan kegiatan dengan tujua mengetahui seberapa jauh program yang dirancang dapat berlangsung, sekaligus mengidentifikasikan hambatan. Dengan kata lain, evaluasi sumatif dilakukan setelah program berakhir dengan tujuan untuk mengukur ketercapaian program.
d. Model EvaluasiCountenace
Model evaluasi countenance dikembangkan oleh Stake. Dalam model ini menekankan, yaitu dua hal pokok, yaitu (1) deskripsi, dan (2) pertimbangan ; serta membedakan adanya tiga tahap dalam evaluasi program, yaitu (1) ateseden, (2) trasaksi, dan (3) keluaran.
e. Model EvaluasiUCLA
Evaluasi model UCLA diperkenalkan oleh Alkin yang hampir sama degan evaluasi model CIPP. Nama UCLA diambil dari tempat dimana nama tersebut di bangun yaitu University of California Los Angeles. Seperti model CIPP model evaluasi UCLA juga dibagi menjadi beberapa tahap, yang meliputi perecaaan, pengembangan, implementasi, hasil, dan dampak ( Farida Yusuf , 2000: 13)
f. Model EvaluasiCIPP
Model CIPP adalah model evaluasi yang dikembangkan oleh Stufflebeam & Shienkfield. CIPP yang merupaka sebuah singkatan dari huruf awal empat buah kata yaitu :context evaluation(evaluasi tahap konteks), input evaluation(evaluasi terhadap masukan), process evaluation ( evaluasi terhadap proses), dan product evaluation(evaluasi terhadap hasil).
1) Context Evaluation( evaluasi konteks)
Sax (1980: 595) mendefinisikan evaluasi konteks sebagai berikut :
“The delineating and specification of the project environnment, it’s unmet needs,the population and sample of individuals to be served, and the project objectives. Context evaluation provides a rationale for justifying a particulary type of program intervention”. Evaluasi konteks merupakan penggambaran dari spesifikasi tentang lingkungan program, kebutuhan yang belum terpenuhi, karakteristik populasi da sampel dari individu yang dilayani dan tujuan dari program. Pada dasarnya evaluasi konteks membatu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program dan merumuskan tujuan program. Evaluasi konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, dan tujuan proyek.
Evaluasi konteks menurut Suharsimi & Cepi Safruddin (2004: 29) dilakukan untuk menjawab pertanyaan :
a. Kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi oleh kegiatan program? b. Tujuan pengembangan manakah yang belum dapat tercapai? c. Tujuan manakah yang paling mudah dicapai?
2) Input evaluation(evaluasi masukan)
Farida Yusuf (2000: 14) bahwa evaluasi masukan menolong mengatur keputusan, menentukan sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana
dan strategi untuk mencapai tujuan, bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya. Komponen input mencakup indikator :
a. Sumber daya manusia
b. Materi program dan rancangan aplikasi c. Sasaran dan peralatan pendukung d. Dana/anggaran
e. Berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan. 3) Prosess Evaluation(evaluasi proses)
Worthen&Sanders (1973: 137) menyatakan, evaluasi proses menekankan pada tiga tujuan yaitu : a).to detect or prodict defect in the procedural design or its implementation during implementation stage ;b) to provide information for programmed decision; andc)to maintain a record of the procedural as it accurs. Tiga tujuan tersebut yaitu : a) untuk mendeteksi atau memprediksii cacat dalam racangan prosedural atau implementasinya selama tahapan-tahapan implementasi tersebut; b) untuk memberikan informasi terhadap keputusan yang telah diprogramnya; dan c) untuk memelihara cacatan tentang hal-hal yang terjadi selama pelaksanaan evaluasi.
Evaluasi proses dalam model CIPP menunjuk pada “apa”(what) kegiatan yang dilakukan dalam program, “siapa” (who) orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab, “kapan” (when) kegiatan akan selesai. Kemudian dalam model CIPP, evaluasi proses juga diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan di dalam program yang sudah terlaksana sesuai dengan recana. Komponen proses mencakup indikator berikut :
(1) Proses pembelajaran dan pelaksanaan program (2) Proses pengelolaan program
4) Product Evaluation ( Evaluasi Produk)
Evaluasi hasil merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Data yang dihasilkan akan sagat menentukan apakah program diteruskan, dimodifikasi atau dihentikan. Evaluasi produk berperan dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan penilaian yaitu :
a) Tujuan manakah yang sudah dicapai?
b) Apakah yang dapat di perbuat untuk memungkinkan antara spesifikasi prosedur dengan hasil nyata dari kegiatan program?
c) Kebutuhan peserta manakah yang telah terpennuhi sebagai akibat dari kegiatan program?
d) Apakah hasil yang diperoleh sebagai akibat dari kegiatan program?
Dalam penelitian Rockwell, Furgeason & Mark (2000: 1), model CIPP digunakan untuk memperoleh data tentang : Context Focused on planning decisions, input on structuring decisions, process on implementasion process and product on out come atteinment. Dengan demikian evaluasi model CIPP berguna dalam pengambilan empat macam keputusan yaitu: pertimbangan dalam perencanaan program, pengorganisasian/pengelolaan, implementasi/pelaksanaan & pencapaian hasil program.
g. Model EvaluasiDiscrepancy
Model evaluasi Discrepancy dikembangkanoleh Malcolm Prous. Model ini menekankan pada pandangan adanya kesenjangan didalam pelaksanaan program. Evaluasi program yang dilakukan oleh evaluator mengukur besarnya kesenjangan yang ada di setiap komponen.