B. Mahkamah Konstitusi
11. Model-Model Pengujian Konstitusional
Pengujian konstitusioanl (constitusioanl review ) dikembangkan oleh banyak negara di dunia dengan berbagai ragam dan model yang berbeda-beda berdasarkan kepada kebutuhan yang diinginkan oleh
80
suatu negara , dan berdasarkan kepada kebutuhan ketatanegaraan dalam suatu negara.
Ada pelembagaan dalam fungsi Mahkamah Agung dan adapula yang terkait dengan fungsi badan-badan lain yang sudah ada. Ragam bentuk itu sudah menggambarkan bahwa metode dan prosedur pengujian itu sendiri banyak macam dan coraknya. Adapun berbagai contoh terkait dengan model –model yang diterapkan diberbagai negara di dunia dapat kami paparkan sebagai berikut
a. Model Amerika Serikat
Model Judicial review menurut tradisi Amerika Serikat didasarkan atas pengalaman Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam memutus perkara Marbury vs Madison pada tahun 1803.
Dalam model ini pengujian konstitusionalitas (constitusional
review) dilakukan sepenuhnya oleh Mahkamah Agung, dengan status
sebagai the guardian of constitusion di samping itu berdasarkan doktrin
judicial review yang di keluarkan oleh Jhon Marshall judicial review juga
dilakukan atas persoalan – persoalan konstitusioanalitas oleh semua pengadilan biasa oleh prosedur yang disebut pengujian terdesentralisasi atau pegujian tersebar (a desentralized review) di dalam perkara yang diperiksa di pengadilan biasa, artiya pengujian demikian tidak bersifat institusional sebagai perkara yang berdiri sendiri melainkan termasuk di
81
dalam perkara lain yang sedang diperiksa oleh hakim dalam semua lapisan pengadilan.
Pengujian konstitusional yang dilakukan secara tersebar itu bersifat spesifik dan termasuk kategori a Pasteriori review. Sementara Mahkamah Agung dalam sistem tersebut menyediakan mekanisme untuk kesatuan sistem sebagai keseluruhan.
Dalam pengujian yang tersebar putusan –putusan yang diambil hanya mengikat para pihak yang bersengketa dalam perkara yang bersangkutan kecuali dalam kerangka prinsip ststem decisis yang mengharuskan pengadilan dikemudian hari terikart untuk mengikuti putusan semula yang telah diambil oleh para hakim atau dalam kasus lain. Pada pokoknya putusan mengenai inkonstitusionalitas suatu undang- undang bersifat deklaratoir dan rektrospektif yaitu bersifat ext
unc dengan akibat preaterio yang menimbulkan efektif rektroaktif
belakang.
b. Model Penguijan Austria
Model constitusioanl review ala Austria ini dapat disebut sebagai continental model yang didasarkan atas model yang dikembangkan berdasarkan pemikiran Hanz Kelsen yakni pada tahun 1919 -1920. Model menyangkut hubungan hubungan yang saling berkaitan antara prinsip supremasi konstitusi (the principe of supremacy
82
supremacy of the parlemen). Proses pengujian konstitusionalitas dalam
model ini dikehendaki adanya pengadilan konstitusi yang berdiri sendiri dengan hakim-hakimnya yang mempunyai keahlian khusus dibidang ini.
Dalam menjalankan kewenangannya Mahkamah Konstitusi melakukan pengujian konstitusionalitas terutama terhadap norma-norma yang bersifat abstrak (abstrac review) meskipun pengujian atas norma review juga dimungkinkan (concret review).
c. Model Constitusional Council „ Prancis ‟
Model constitucional review di Prancis ini berbeda dengan tradisi yang dikembangkan oleh negara -negara eropa continental lainnya. Model ini didasarkan atas bentuk kelembagaan Dewan Konstitusi (conseil
constitusinnel) untuk menjalankan fungsi pengujian konstitusionalitas.
Sistem pengujian itu tidak dilakukan oleh hakim atau lembaga pengadilan melainkan oleh lembaga non pengadilan, namun dalam perkembangannya di samping oleh Dewan Konstitusi pengujian konstitusional juga dilakukan oleh kamar khsusus (special chamber) dari Mahkamah Agung secara terkonsentrasi di dalam perkara khsusus, hanya saja pengujian konstitusionalitas yang dimaksudkan tersebut terbatas hanya untuk pegujian preventif ataupun pengujian yang bersifat konsultatif.
83
Meskipun demikian dalam beberapa kasus yang berhubungan dengan pemilihan umum sifat pengujian konstitusional oleh special
chamber di Mahkamah Agung itu dapat pula bersifat refresif.
d. Model Campuran Amerika dan kontinental
Di dalam sistem campuran ini meskipun pengujian konstitusional dilakukan secara secara terpusat (terkonsentrasi di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung atau bahkan terpusat pada kamar tertentu dalam badan peradilan yang ada semua tingkatan pengadilan pun dapat mengesampingkan berlaku suatu undang-undang yang dinilai bertentangan dengan konstitusi.
Para hakim diberi kewenangan yang luas menurut keyakinannya untuk tidak menerapkan suatu aturan hukum yang dinilainya bertentangan dengan konstitusi. Di negara -negara tertentu sistem campuran yang semacam inilah yang berlaku dalam praktek. e. Model Pengujian Oleh Spesial Chamber
Banyak negara -negara yang menganut sistem melembagakan pengujian konstitusional di luar lingkungan peradilan atau berada dilingkungan di luar Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi salah satu negara yang menganut pola demikian adalah Yaman dengan mekanisme pengujian konstitusional oleh kamar khusus ( special
chamber ) di pengadilan tinggi.
84
Fungsi pengujian konstitusional diberikan oleh Undang-Undang Dasar Belgia kepada badan peradilan tertinggi dibidang arbitrase yang disebut sebagi court of arbitration salah satu jalan pikiran yang dikembangkan dibalik semua itu adalah bahwa persolan konstitusional dilihat sebagai sengketa atau perselisilhan konstitusional antara lembaga – lembaga negara oleh karena itu lembaga pengujian konstitusional yang ada di negara eropa continental lainnya biasanya dinamakan Mahkamah Konstitusi atau di Perancis disebut Dewan Konstitusi maka di Belgia diberi nama Mahkamah arbitarse pengujian konstitusional itu sendiri dilihat sebagai sengketa arbitarse konstitusional, sehingga lembaga yang melakukan pengujian ini dapat pula sebagai
court of constitusional arbitration.
g. Model Tanpa Pengujian Konstitusional Review
Di eropa terdapat kerajaan Inggris dan kerajaan Belanda yang keduanya sama-sama berpendirian yang mirip bahwa pengujian konstitusional (judicial review) tidak seharusnya dilakukan sehingga sampai sekarang mereka tidak megadopsi prosedur pengujian ini kedalam sisten hukum nasional mereka, demkian pula negara -negara yang menganut paham-paham komunisme di eropa timur dan asia.
85
Kalaupun judicial review diterapkan, maka pengujian semacam itu hanya terbatas dalam kerangka pengujian yang dikenal dalam hukum administrasi negara , yaitu pengujian atas administratif action, artinya pengujian dalam arti hukum administrasi diterima tetapi ide pengujian atas konstitusional undang-undang (constitusional review) baik di Inggris maupun di Belanda ditolak dengan tegas.
h. Model Legislatif Review
Negara -negara yang tidak memiliki sistem judicial review seperti yang telah disebutkan di atas belum tentu tidak memiliki
constitucional review. Bisa saja dalam suatu negara tidak dikenal adanya judicial review dalam arti pengujian konstitusional oleh hakim tetapi justru
menerapkan mekanisme pengujian oleh lembaga legislatif atau bahkan oleh lembaga eksekutif.
i. Model Executive Review
Model ini pada dasarnya tidak mesti terkait dengan persoalan
constitusional review ia dapat saja terkait atau dikaitkan dan dapat pula
tidak terkait sama sekali. Model executive review pada dasarnya merupakan konsep pengujian yang dilakukan oleh lembaga eksekutif terhadap suatu norma yang kemudian bertentangan terhadap norma
86
yang lain, biasanya hanya digunakan dalam konteks norma yang telah dibuat sendiri oleh internal eksekutif. 39
12. Pembentukan Hukum Oleh Hakim dan Factor-Faktor Yang