A. Kajian Teori
2. Model-model Strategi Pembelajaran
b. Aktivasi, strategi pembelajaran yang dilakukan harus dapat mendorong aktivitas peserta didik. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental.
c. Individualitas, artinya mengajar adalah usaha untuk mengembangkan setiap individu peserta didik. Meskipun mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin dicapai oleh pendidik adalah perubahan perilaku setiap peserta didik.
d. Integritas, mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, akan tetapi juga meliputi pengembangan aspek afektif dan psikomotor. Sehingga strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik secara terintegrasi.
c. Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa.
d. Pertimbangan lainnya yang bersifat nonteknis, seperti penerapan model pembelajaran lain atau kombinasi dari beberapa model.
Ada banyak model dalam strategi pembelajaran, tetapi secara umum, strategi pembelajaran yang sering digunakan guru dalam proses belajar-mengajar antara lain:
a. Pembelajaran Ekspositori (Penyampaian)
Wina Sanjaya menjelaskan bahwa strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy Killen kemudian menamakan strategi ekspositori ini dengan istilah strategi pembelajaran langsung (direct instruction), mengapa demikian? karena dalam strategi ini materi pelajaran disampaikan langsung oleh guru.
Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu. Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi. Oleh karena strategi ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan istilah ”chalk and talk”.
Menurut Kardi dan Nur, pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati dipihak guru. Agar efektif, pembelajaran langsung mensyaratkan tiap detail keterampilan atau isi didefinisikan secara seksama dan
demonstrasi serta jadwal pelatihan direncanakan dan dilaksanakan secara seksama (Suprihatiningrum, 2016, pp. 215-216).
b. Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakannya. Proses berfikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa (Sanjawa, 2006, p. 196).
Wina Sanjaya menjelaskan lebih lanjut bahwa SPI ini berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan sekitarnya merupakan kodrat manusia baik melalui indra pengecapan, pendengaran, penglihatan, dan indra-indra lainnya. Keingintahuan itu berkembang dengan menggunakan otak dan pikiran seiring manusia tumbuh dewasa. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna manakala didasari oleh keingintahuan itu. Dalam rangka itulah strategi inkuiri dikembangkan.
c. Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Elaine B Johnson mengatakan pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola- pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut, Elaine mengatakan
bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. Jadi, pembelajaran kontekstual adalah usaha untuk membuat siswa aktif dalam memompa kemampuan diri tanpa merugi dari segala manfaat, sebab siswa berusaha mempelajari konsep sekaligus menerapkan dan mengaitkannya dengan dunia nyata.
Sejauh ini, pembelajaran masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai fakta untuk dihapal. Pembelajaran tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis saja, akan tetapi bagaimana agar pengalaman belajar yang dimiliki siswa itu senantiasa terkait dengan permasalahan-permasalahan aktual yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian, inti dari pendekatan CTL (contextual teaching and learning) adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata. Untuk mengaitkannya bisa dilakukan berbagai cara, selain karena memang materi yang dipelajari secara langsung terkait dengan kondisi faktual, juga bisa disiasati dengan pemberian ilustrasi atau contoh, sumber belajar, media dan lain sebagainya, yang memang baik secara langsung maupun tidak diupayakan terkait atau ada hubungan dengan pengalaman hidup nyata. Dengan demikian,
pembelajaran selain akan lebih menarik, juga akan dirasakan sangat dibutuhkan oleh setiap siswa karena apa yang dipelajari dirasakan langsung manfaatnya (Rusman, 2013, p. 189).
d. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM)
Menurut Arends (1997), pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran, yang mana siswa mengerjakan permasalahannya yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berfikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran, yang mana siswa sejak awal dihadapkan pada suatu masalah, kemudian diikuti oleh proses pencarian informasi yang bersifat student centered (Suprihatiningrum, 2016, pp. 215-216).
Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM bersandarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya. Melalui proses ini sedikit demi sedikit siswa akan berkembang secara utuh. Artinya, perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek kognitif, tetapi
juga aspek afektif dan psikomotor melalui penghayatan secara internal akan problem yang dihadapi (Sanjawa, 2006, p. 213).
e. Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Pembelajaran kooperatif memanfaatkan kecenderungan siswa untuk berinteraksi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dalam setting kelas kooperatif, siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman lainnya di antara sesama siswa bila dibandingkan dengan belajar dari gurunya. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. Manfaat pembelajaran kooperatif untuk siswa dengan hasil belajar, retensi atau penyampaian materi pelajaran lebih lama (Suprihatiningrum, 2016, p. 194).
Pada hakikatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam cooperative learning karena mereka beranggapan telah bisa melakukan pembelajaran cooperative learning dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya
tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning, seperti dijelaskan Abdulhak bahwa “pembelajaran cooperative dilaksanakan melalui sharing proses antara proses belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama di antara peserta belajar itu sendiri” (Rusman, 2013, pp. 202-203).
f. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir (SPPKB) SPPKB merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berfikir siswa. Joyce dan Well (1980) menempatkan model pembelajaran ini ke dalam bagian model pembelajaran Cognitive Growth: Increasing the Capacity to Think.
Dalam SPPKB, materi pembelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa. Akan tetapi, siswa dibimbing untuk menemukan sendiri konsep yang telah dikuasai melalui proses dialogis yang terus-menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa.
Walaupun tujuan SPPKB sama dengan strategi pembelajaran inquiri (SPI), akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut terletak pada pola pembelajaran yang digunakan. Dalam pola pembelajaran SPPKB, guru memanfaatkan pengalaman siswa sebagai titik tolak berfikir, bukan teka-teki yang harus dicari jawabannya seperti dalam pola inquiri (Sanjawa, 2006, p. 225).
g. Strategi Pembelajaran Afektif
Strategi pembelajaran afektif memang berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan. Afektif berhubungan dengan nilai (value), yang sulit diukur, oleh karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Dalam batas tertentu memang afektif dapat muncul dalam kejadian behavioral, akan tetapi penilaiannya untuk sampai pada kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan membutuhkan ketelitian dan observasi yang terus-menerus, dan hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan, apabila menilai perubahan sikap sebagai aibat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah. Kita bisa menyimpulkan sikap anak itu baik, misalnya dilihat dari kebiasaan berbahasa atau sopan santun yang bersangkutan, sebagai akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru. Mungkin sikap itu terbentuk oleh kebiasaan dalam keluarga dan lingkungan sekitar (Sanjawa, 2006, p. 274). Strategi dalam pembentukan sikap seseorang bisa dilakukan melalui pola pembiasaan atau modeling (mencontoh).