• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR, DAN

A. Deskripsi Teoritis

2. Model Pembelajaran Inkuiri

Inkuiri adalah sebuah model pembelajaran yang diambil dari konsep teori kontruktivisme.9 Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya. Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003)10.

Inkuiri adalah sebuah ide kompleks yang mengaitkan berbagai hal pada tiap orang dalam berbagai kondisi.11 Inkuiri adalah istilah dalam bahasa inggris, ini merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar didepan kelas. Adapun pelaksanaannya, guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kemudian mereka mempelajari, meneliti atau membahas tugasnya didalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka

9

Susilo, Inquiry in English For Young Learners Class: Enhancing Children’s Creativity

and Critical Thinking. (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, ISSN 0215 9341, Februari 2004) h. 35

10

Herfis, ”Pembelajaran Inkuiri,” artikel diakses pada tanggal 22 Oktober 2009 dari http://herfis.blogspot.com/2009/07/pembelajaran-inkuiri.html.

11

Alif Noor Hidayati, Upaya Meminimalkan Kesalahan Konsep dalam Pola Interaksi

Organisme pada Siswa Kelas 1F MTsN 1 Semarang Melalui Metode Penemuan Bevisi sets (Widya Tama Vol.1 No 4. Desember 2004)

dalam kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik12.

Inkuiri adalah keyakinan dasar bahwa siswa harus belajar penuh dan aktif dalam proses penyelidikan, pemerosesan, mengumpulkan, memadukan, meyaring dan menyampaikan pengetahuan mereka pada sebuah topik.13 Alberta mendefinisikan inkuiri sebagai suatu proses dimana siswa terlibat dalam pembelajaran mereka, merumuskan pertanyaan, menyelidiki secara luas dan kemudian membangun pemahaman baru, makna dan pengetahuan yang baru bagi siswa dan dapat digunakan untk menjawab pertanyaan, untuk mengembangkan solusi atau untuk mendukung suatu posisi atau sudut pandang.14

National Science Education Standards menggunakan istilah inkuiri dalam dua hal berbeda. Pertama, inkuiri menunjukan pada kemampuan siswa mengembangkan kemampuan merancang dan melakukan investigasi ilmiah serta pemahaman siswa akan hakikat penemuan ilmiah. Kedua, inkuiri menunjukkan pada strategi belajar mengajar yang memungkinkan konsep ilmiah dikuasai melalui investigasi.15 Inkuiri adalah aktivitas beraneka segi yang meliputi observasi, membuat pertanyaan, memeriksa buku-buku atau sumber informasi lain untuk melihat apa yang telah diketahui, merencanakan investigasi, memeriksa kembali apa yang telah diketahui menurut bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisa, dan menginterpretasi data, mengajukan jawaban, penjelasan dan prediksi, serta mengkomunikasikan hasil. Inkuiri memerlukan identifikasi asumsi, berpikir kritis dan logis, dan pertimbangan keterangan atau penjelasan alternatif.

Inkuiri menyediakan siswa beraneka ragam pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam mengembang keterampilan pemecahan

12

Dra. Roestiyah N.K. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Cet. 7,

h. 75

13

Jeni Wilson and kath Murdoch, artikel diakses dari http:// ss.uno.edu//SS/ TeachDevel/ Teachmethods/Inquirymethod. html

14

Alberta, Focus on Inquiry: A Teacher’s Guide to Implementing Inquiry-based Learning. (Alberta learning, Alberta, Canada. 2004) Chapter 1/1

15

Diane Jass Ketelhut, Inquiry Learning in Multi-User Virtual Environments, (Harvard Graduate school of Education) h.1

masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pebelajar sepanjang hayat. Dengan kata lain inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban dan memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan kemampuan berfikir logis dan kritis..

Inkuiri melibatkan komunikasi yang berarti tersedia suatu ruang, peluang, dan tenaga bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pandangan yang logis, obyektif, dan bermakna, dan untuk melaporkan hasil-hasil kerja mereka. Inkuiri memungkinkan guru belajar tentang siapakah siswa mereka, apa yang siswa ketahui, dan bagaimana pikiran siswa mereka bekerja, sehingga guru dapat menjadi fasilitator yang lebih efektif berkat adanya pemahaman guru mengenai siswa mereka.

Kegiatan pembelajaran selama menggunakan model inkuiri ditentukan oleh keseluruhan aspek pengajaran di kelas, proses keterbukaan dan peran siswa aktif. Pada prinsipnya, keseluruhan proses pembelajaran membantu siswa menjadi mandiri, percaya diri dan yakin pada kemampuan intelektualnya sendiri untuk terlibat secara aktif. Peran guru bukan hanya membagikan pengetahuan dan kebenaran, namun juga berperan sebagai penuntun dan pemandu

Peran guru adalah menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran. Bukan memberikan informasi atau ceramah kepada siswa. Guru juga harus memfokuskan pada tujuan pembelajaran, yaitu mengembangkan tingkat berpikir yang lebih tinggi dan keterampilan berpikir kritis siswa. Setiap pertanyaan yang diajukan siswa sebaiknya tidak langsung dijawab oleh guru, namun siswa diarahkan untuk berpikir tentang jawaban dari pertanyaan tersebut.

Trowbridge dan Bybee dalam I Made Wirtha dan Ni Ketut Rapi menyatakan bahwa, dalam inkuiri pembelajaran menjadi lebih berpusat pada anak, proses belajar melalui inkuiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri pada diri siswa, tingkat pengharapan bertambah, pendekatan inkuiri dapat mengembangkan bakat pendekatan inkuiri, dapat menghindari siswa dari cara-cara belajar dengan menghafal, dan pendekatan inkuiri memberikan waktu pada

siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. 16 pada perinsipnya proses inkuiri ini adalah identifikasi dan pernyataan masalah, pengembangan hipotesis, pengumpulan data, pengujian hipotesis dan perumusan keterampilan.17

b. Pembagian Inkuiri

Sunand dan Trownbridge (1973) dalam E. Mulyasa, mengemukakan bahwa Pelaksanaan model inkuiri ini mempunyai tiga macam cara, yaitu:

1) Inkuiri terpimpin (guide inquiry); yaitu peserta didik memperoleh pedoman sesuai yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Dalam pelaksanaannya, sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru, peserta didik tidak merumuskan permasalahan. Petunjuk mengenai cara penyusunan dan mencatat data dibuat oleh guru.

2) Inkuiri bebas (free inquiry); Dalam hal ini peserta didik melakukan penelitian bebas sebagaimana seorang ilmuan, metodenya adalah setiap peserta didik dilibatkan dalam kelompok tertentu, setiap kelompok mempunyai tugas yang sesuai. Misalnya ada koordinator kelompok, pembimbing tekhnis, pencatat dan pengevaluasi data.

3) Inkuiri bebas yang dimodipikasi (modified free inquiry); pada inkuiry jenis ini guru hanya sebagai pemberi masalah atau peroblem, kemudian peserta didikdiminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.18

16

I Made Wirtha dan Ni Ketut Rapi, Pengaruh Model pembelajaran dan Penalaran

Formal terhadap Penguasaan konsep Fisika dan Sikap Imiah siswa SMA Negeri 4 Singaraja

(Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan) h.19

17

Budi Eko Soetjipto, Penggunaan pengajaran Inkuiri di Sebuah Sekolah Dasar di

Victoria, Australia, (Jurnal Pendidikan MIPA, Vol 6 No 2 th 2005) hal. 107

18

E. Mulyasa, Menjadi Guru Professional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005).

c. Langkah-Langkah Pelaksanaan Inkuiri

Menurut Gulo sebagai mana yang dikutip Trianto menyatakan bahwa kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran inkuiry adalah sebagai berikut19.

a) Mengajukan Pertanyaan atau Permasalahan.

Kegiatan inkuiri dilaksanakan ketika pertanyaan atau permaslahan diajukan. Untuk meyakinkan pertanyaan sudah jelas, pertanyaan tersebut dituliskan dipapan tulis, kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesis.

b) Merumuskan hipotesis.

Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahakan proses ini, guru menanyakan kepada siswa gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasan yang ada, dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang diberikan.

c) Mengumpulkan Data

Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa tabel, matrik, atau grafik.

d) Analisis Data

Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran ‘benar’ atau ‘salah’. Setelah memperoleh kesimpulan, dari data percobaan, siswa dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan.Bila ternyata hipotesis itu salah atau ditolak, siswa dapat menjelaskan sesuai dengan proses inkuiri yang telah dilakukannya.

e) Membuat Kesimpulan

Langkah penutup dari pembelajaran inkuiry adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang dieroleh siswa.

19

Tahapan-tahapan yang harus dilakukan pada model inkuiri ditunjukkan pada Tabel 2.1 berikut ini.20

Tabel 2.1 Tahapan Pembelajaran Berbasis Masalah

Tahap Tingkah Laku Guru

Tahap 1

Menyajikan pertanyaan atau masalah

Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah, dan masalah dituliskan di papan tulis. Guru membagi siswa dalam kelompok

Tahap 2

Membuat hipotesis

Guru memberikan kesempatan pada siswauntuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memperioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan

Tahap 3

Merancang percobaan

Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan.

Tahap 4

Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi

Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan.

Tahap 5

Mengumpulkan dan menganalisis data

Guru memberikan kesempatan pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.

Tahap 6

Membuat kesimpulan

Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan

Agar penerapan strategi inkuiri dapat berhasil dengan baik, maka guru perlu memahami beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan dalam merancang inkuiri seperti disarankan oleh Keffer (2000) sebagaimna yang dikutif herfis antara lain sebagai berikut:21

1) Siswa harus dihadapkan dengan masalah-masalah yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan dan sumbernya bisa dari siswa sendiri maupun dari guru. Pada tahap awal, masalah yang akan dipecahkan sebaiknya terstruktur, tidak open-ended (ujung terbuka) dan jawabannya tidak bias.

20

Trianto Op. Cit, h. 141

21

2) Siswa harus diberi keyakinan bahwa mereka dapat menyelesaikan masa-lahnya. Dalam hal ini guru harus dapat menjadi fasilitator dan motivator bagi siswa. Siswa mungkin akan merasa kesulitan dan berputus asa pada saat mengalami hambatan jika tidak dibantu oleh guru.

3) Siswa harus memiliki informasi awal tentang masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, guru harus berperan dalam memberikan informasi pendukung baik dengan cara melibatkan siswa bekerja bersama guru atau diberikan saran tentang sumber-sumber dan wujud informasi yang dibutuhkan dan dapat dicari dan diperolehnya sendiri.

4) Siswa harus diberikan kesempatan melakukan sendiri dan mengevaluasi hasil kegiatannya. Guru memonitor kegiatan siswa dan memberi bantuan jika siswa betul-betul sudah tidak mampu memecahkan masalahnya.

5) Siswa diberikan waktu cukup untuk bekerja berdasarkan pendekatan baru secara individual maupun berkelompok dan perlu diberikan contoh yang tepat dan agar dapat membedakan contoh salah yang berkaitan dengan masalah.

Untuk meningkatkan teknik inkuiri dapat ditimbulkan dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut22:

1) Membimbing kegiatan laboratorium.

Guru menyediakan petunjuk yang cukup luas kepada siswa, dan sebagian besar perencanaannya dibuat oleh guru. Dimana siswa melakukan kegiatan percobaan/ penyelidikan untuk menemukan konsep-konsep atau perinsip-prinsip yang telah ditetapkan guru.

2) Modifikasi inkuiri

Dalam hal ini guru hanya menyediakan masalah-masalah, dan menyediakan bahan / alat yang diperlukan untuk memecahkan masalah secara perseorangan atau kelompok. Bantuan yang diberikan harus berupa pertanyaan-pertanyaan, yang memungkinkan siswa dapat berpikir dan menemukan cara-cara penelitian yang tepat.

22

Drs. Isjoni, M.Si, dkk. Pembelajaran Visioner: Perpaduan Indonesia Malaysia,

3) Kebebasan inkuiri

Setelah siswa mempelajari dan mengerti tentang bagaimana memecahkan suatu problema dan memperoleh pengetahuan cukup tentang mata pelajaran tertentu; serta telah melakukan ”modifikasi inkuiri”, maka siswa telah siap untuk melakukan kegiatan kebebasan inkuiri. Dimana guru dapat mengundang siswa untuk melibatkan diri dalam kegiatan ”kebebasan inkuiri”, dan siswa dapat mengidentifikasi dan merumuskan macam-macam masalah yang akan dipelajari.

4) Inkuiri pendekatan peranan

Siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah, yang cara-caranya serupa dengan cara-cara yang biasanya diikuti oleh para ”ilmiawan”. Suatu undangan memberikan suatu masalah kepada siswa, dan dengan pertanyaan yang telah direncanakan dengan teliti, mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan seperti: merancang eksperimen, merumuskan hipotesa, menetapkan pengawasan dan seterusnya.

5) Mengundang kedalam inkuiri

Merupakan kegiatan proses belajar yang melibatkan siswa dalam tim-tim yang masing terdiri dari 4 anggota untuk memecahkan masalah, masing-masing anggota diberi tugas suatu peranan yang berbeda-beda seperti: koordinator tim, penasehat teknis, mereka data, proses penilaian. Anggota tim menggambarkan peranan-peranan diatas, bekerjasama untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan topik yang akan dipelajari.

6) Teka-teki bergambar

Adalah salah satu teknik untuk mengembangkan motivasi dan perhatian siswa didalam diskusi kelompok kecil/besar. Gambar, peragaan atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berpikir kritis dan kreatif siswa.

7) Synectics leson

Pendekatan ini untuk menstimulir bakat-bakat kreatif siswa. Misalnya science dan ilmu-ilmu sastra lebih lanjut dikatakan bahwa emosi, efektif, dan komponen-komponen arasional kreatif pada permulaannya adalah lebih

penting dibandingkan dengan pikiran-pikiran rasional. Pada dasarnya ”synectics” memusatkan pada keterlibatan siswa untuk membuat berbagai macam bentuk kiasan agar supaya dapat membukainteligensinya dan mengembangkan daya kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena ”kiasan” dapat membantu dalam melepaskan ”ikatan struktur mental” yang melekat kuat dalam memandang suatu masalah sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif.

8) Kejelasan nilai-nilai

Perlu diadakan evaluasi lebih lanjur tentang keuntungan-keuntungan pendekatan ini, terutama yang menyangkut sikap, nilai-nilai dan pembentukan ”self-concept” siswa. Ternyata dengan teknik inkuiri siswa melakukan tugas-tugas kognitif lebih baik.

d. Keunggulan dan Kelemahan Inkuiri

Menurut Amin (1987) sebagaimana yang dikutip Herfis, inkuiri sebagai model pembelajaran memiliki beberapa keuntungan seperti:23

(a) mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri,

(b) menciptakan suasana akademik yang mendukung berlang-sungnya pembelajaran yang berpusat pada siswa,

(c) membantu siswa mengembangkan konsep diri yang positif,

(d) meningkatkan pengharapan sehingga siswa mengembangkan ide untuk menyelesaikan tugas dengan caranya sendiri,

(e) mengembangkan bakat individual secara optimal, (f) menghindarikan siswa dari cara belajar menghafal.

Model pembelajaran inkuiri memiliki keunggulan sebagai berikut24:

a) Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik. b) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses

belajar yang seru.

23

Herfis, op. cit.

24

Dra. Roestiyah N.K. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), Cet. 7,

c) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atau inisiatifnya sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka.

d) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.

e) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. f) Situasi proses belajar menjadi merangsang.

g) Dapat mengembangakan bakat atau kecakapan individu. h) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.

i) Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar yang tradisional.

j) Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Adapun kelemahan dari metode pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut a) Metode inkuiri memerlukan waktu yang banyak sehingga tidak cocok

digunakan di sekolah dengan jadwal yang kaku.

b) Metode inkuiri tidak bisa digunakan pada semua bidang mata pelajaran. c) Siswa lebih suka dengan metode tradisional.

d) Siswa tidak ingin terlibat dalam proses berpikir.

3. Metode Pembelajaran Konvensional

Dokumen terkait