• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

3. Menganalisis ( Analyze ) --- Memecah-mecah materi menjadi bagian-bagian penyusunnya dan menentukan hubungan-hubungan antarbagian itu dan

2.1.4 Model Pembelajaran Inkuiri

Schmidt sebagaimana dikutip oleh Najib (2015) menyatakan inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. W Gulo sebagaimana dikutip oleh Putra (2013: 86) menyatakan, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis, sehingga dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan percaya diri.

Strategi pembelajaran inkuiri banyak dipengaruhi aliran belajar kognitif (Sanjaya, 2007). Belajar pada hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Belajar lebih dari sekedar proses menghafal menumpuk ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan yang diperolehnya bermakna untuk siswa melalui keterampilan berpikir. Pieget (Sanjaya, 2007) menyatakan pengetahuan itu akan bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa.

Pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pembelajaran itu sendiri.

Herdian sebagaimana dikutip oleh Putra (2013: 96) menyatakan, pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan guru, yaitu: inkuiri terbimbing

(guided inquiry), inkuiri bebas (free inquiry) dan inkuiri bebas yang dimodifikasi

(modified free inquiry).

Dalam penelitian ini, proses pembelajaran yang dilaksanakan adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centerered learning), dimana kelompok siswa dilibatkan dalam suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digariskan secara jelas.

2.1.5 Inkuiri Terbimbing

Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran dimana siswa dibimbing untuk memperoleh pengetahuan sendiri. Proses penemuan pengetahuan secara mandiri dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan pemahaman konsep siswa sehingga dapat diingat lebih lama (Ulya, 2013). Roestiyah dalam Agustin & Supardi (2014) juga menyatakan bahwa

pembelajaran inkuiri terbimbing dapat membentuk dan mengembangkan “Self

Concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide yang lebih baik, membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru, mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur, dan terbuka, situasi proses belajar menjadi lebih terangsang, dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu. Inkuiri terbimbing ini dicirikan dengan permasalahan yang telah diidentifikasikan oleh guru dan berbagai pertanyaan-pertanyaan arahan yang menunjukkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran (Wenning 2005: 7)

Putra (2013) menyatakan bahwa pendekatan inkuiri terbimbing adalah pendekatan saat guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Selama proses belajar, siswa akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan. Kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multiarah yang menggiring siswa agar bisa memahami konsep pelajaran. Bimbingan juga diberikan melalui Lembar Kerja Siswa yang terstruktur. Penggunaan LKS membantu siswa dalam melakukan penyeldikan karena langkah-langkah penyelidikan tersusun dengan rapi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Asmawati (2014) menunjukan bahwa pengembangan LKS menggunakan model inkuiri terbimbing sangat membantu dalam peningkatan penguasaan konsep. Oleh karena itu penggunaan LKS dalam model pembelajaran

inkuiri terbimbing sangat diperlukan agar siswa menguasai konsep yang dipelajari (Suryanah, 2015).

Trianti sebagaimana dikutip oleh Oktafiana (2015) menyebutkan, tahapan-tahapan (sintaks) pembelajaran inkuiri terbimbing adalah seperti terdapat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2Tahapan-Tahapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

No Fase Perilaku Guru

1 Menyajikan pertanyaan atau masalah

Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan tulis. Guru membagi siswa dalam kelompok.

2 Membuat hipotesis

Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam memberikan hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.

3 Merancang percobaan

Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan. 4 Melakukan

percobaan untuk memperoleh

Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan.

informasi 5 Mengumpulkan

dan analisis data

Guru memberikan kesempatan pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.

6 Membuat kesimpulan

Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.

Penelitian ini menggunakan metode inkuiri terbimbing dengan alasan pada pembelajaran ini guru tidak melepaskan begitu saja kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Guru masih memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa dalam melaksanakan kegiatan sehingga siswa yang berpikir lambat atau siswa yang mempunyai intelegensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan dan siswa yang mempunyai kemampuan berpikir tinggi tidak mendominasi kegiatan. Selain itu melalui inkuiri terbimbing akan membawa siswa untuk berpikir tingkat tinggi dan belajar dengan fokus pada instruktif intervensi pada setiap proses penyidikan (Khulthau, 2007).

2.1.6 LKS Interaktif

Depdiknas dalam Prastowo menyatakan LKS (Lembar Kerja Siswa) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk atau langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Tugas tersebut harus jelas kompetensi dasar yang akan dipenuhi. Dalam LKS siswa akan mendapatkan materi, ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi. Siswa juga dapat menemukan arahan yang terstruktur untuk memahami materi yang diberikan. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa LKS merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembaran-lembaran kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh peserta didik, yang mengacu pada kompetensi dasar yang telah ditetapkan (Prastowo, 2011: 204). Melalui LKS guru dapat memancing peserta didik agar terlibat secara aktif dengan materi yang dibahas.

Prastowo (2011) menyatakan dalam kegiatan pembelajaran LKS memiliki setidaknya empat fungsi sebagai berikut.

a. Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik, namun lebih mengaktifkan peserta didik;

b. Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan;

c. Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih; d. Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik.

LKS interaktif merupakan LKS yang disajikan dengan dilengkapi program komputer seperti flash dan animasi video dan didesain mampu memberikan umpan balik berdasarkan respon yang diberikan siswa. Program komputer dan animasi video tersebut dikemas dalam sebuah CD. CD yang berisi program komputer seperti flash dan animasi video tersebut diharapkan dapat merangsang siswa agar dapat berpikir tingkat tinggi dalam memahami materi teori kinetik gas. LKS interktif ini dirancang untuk membimbing peserta didik dalam melaksanakan suatu kegiatan yang telah dilengkapi dengan petunjuk dan pengarahannya. LKS

interaktif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lembar kegiatan siswa yang disertai CD yang berisi animasi/program komputer yang interaktif.

Dokumen terkait