KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
4. Model Pembelajaran
Problematika dalam pelaksanaan pembelajaran perlu diatasi dengan model pembelajaran yang dipandang mampu mengatasi kesulitan guru dalam melaksanakan tugas mengajar dan juga kesulitan belajar peserta didik.
Gunter et al (1990) mendefinisikan an iinstructional model is a step by step procedure that lead to spesific learning outcames dimana instruktur model merupakan prosedur secara bertahap yang menuju hasil belajar yang spesifik.
Joyce dan Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan yang dapat dipahami sebagai (1) suatu tipe atau desain; (2) suatu diskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dengan langsung diamati; (3) suatu sistem asumsi-asumsi, data-data dan inferensi-inferensi yang dapat dipakai untuk menggambarkan secara sistematis suatu obyek atau peristiwa; (4) suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja; (5) suatu diskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner dan (6) penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukan bentuk aslinya (Komarudin,2000:152).
b. Model-model pembelajaran
Tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal dengan berbagai macam model pembelajaran. Dalam praktiknya guru harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu
dalam memilih model pembelajaran yang tepat harus memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar dan fasilitas media pendukung.
Joyce dan Weill (1980) mengkategorikan model pembelajaran menjadi lima unsur dasar antara lain:
1) Syntax merupakan langkah-langkah operasional pembelajaran
2) Social system adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran 3) Principles of reaction menggambarkan bagaiman seharusnya guru memandang,
memperlakukan dan merespon siswa
4) Suport system segala sarana, bahan, alat atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran
5) Instructional dan nurturant effects merupakan hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar (instructional effets) dan hasil belajar yang diluar sasaran (nurturant effects)
Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajaranya dapat tercapai. Pada pronsipnya startegi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model pembelajaran dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada siswanya. Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. Keanekaragaman model-model pembelajaran tersebut menurut Suryobroto (1986:93),ada beberapa diantaranya dikenal dengan beberapa pendekatan baru dalam proses belajar mengajar, antara lain:
2). Mengajar dengan menggunakan paket mengajar. 3). Pengajaran dengan pendekatan ketrampilan proses.
4).Pengajaran yang memperhatikan adanya perbedaan individual (Individualized Instruction).
5). Pembelajaran modul
6). Pengajaran sistem maju berkelanjutan (Continuous Progress) 5. Pembelajaran Modul
a. Pengertian Pembelajaran Modul
Vembriarto menuliskan, “ untuk menyingkat penulisan, pengertian “Modul Pengajaran” bisa menulis dengan istilah “modul” saja”, dan istilah tersebut sering dijumpai dalam bidang teknik(1976:19). Awal mula penyebutan istilah “modul” pertama kali muncul di Indonesia pada bulan Februari 1974 (Vembriarto,1976:23), dan kini sudah berkembang pesat dan tersebar di kalangan dunia pendidikan. Menurut buku pedoman penyusunan modul yang dikutip oleh Cece Wijaya (1992: 96) dinyatakan bahwa :
“Modul ialah suatu unit program belajar mengajar terkecil yang secara terperinci menggariskan 1) Tujuan – tujuan instruksional umum. 2) Tujuan – tujuan instruksional khusus. 3) Pokok – pokok materi yang harus dipelajari dan diajarkan. 4) Kedudukan dan fungsi satuan dalam kesatuan program yang lebih luas. 5) Bahan atau materi yang diajarkan. 6) Alat dan sumber yang akan dipakai. 7) Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dan dihayati murid secara berurutan. 8) lembaga – lembaga kerja yang akan dilaksanakan selama berjalannya proses belajar”.
Sejalan dengan itu menurut B. Suryobroto (1986: 172) modul merupakan sumber pelajaran yang berisi tujuan yang harus dicapai, petunjuk kegiatan yang harus dilakukan, materi dan alat-alat yang dibutuhkan serta alat penilaian untuk mengukur keberhasilan. Modul belajar merupakan paket belajar yang lengkap
yang berisi tujuan belajar baik umum maupun khusus, metode belajar maupun metode latihan, evaluasi hasil belajar yang menghendaki peserta didik latihan dalam menyelesaikan soal dan petunjuk untuk mencapai modul beikutnya.
Penerapan pembelajaran dengan sistem modul bertujuan untuk membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar menurut kecepatan dan caranyanya masing-masing. Karena di dalam modul terdapat instruksi yang bisa dibaca oleh siswa, sehingga siswa mampu untuk menguasai modul sesuai denga kemapuan yang ia miliki. Karena melibatkan alat dan sumber yang akan dipakai maka modul juga menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran, seperti membaca buku pelajaran, buku perpustakaan, majalah, karangan, gambar, foto, diagram, film, slide, mendengarkan audio-tape, mempelajari alat-alat demonstrasi serta turut serta dalam proyek atau percobaan. Selain itu modul dapat memberikan pilihan dari sejumlah besar topik dalam rangka suatu pelajaran, serta memberi kesempatan kepada siswa untuk mengenal kelebihan dan kekurangannya serta memperbaiki kelemahan-kelemahannya
Jadi pengajaran modul adalah satuan paket program pembelajaran yang dapat dipelajari oleh peserta didik dengan bantuan yang minimal dari instruktur. Suatu modul adalah suatu konsep dari pada bahan pelajaran. Modul merupakan satuan paket usaha penyelenggaraan pengajaran individual yang memungkinkan peserta didik menguasai satu unit kompetensi ke unit kompetensi berikutnya. Modul disajikan dalam bentuk yang bersifat self – instructional. Modul belajar disusun berdasarkan materi pembelajaran yang dikemas secara sistematis sehingga siap dipelajari oleh peserta didik untuk mencapai kompetensi atau sub kompetensi (tujuan). Penyusunan modul mengacu pada kompetensi yang terdapat
dalam Garis – Garis Besar Program Pendidikan dan Pelatihan (GBPP) kurikulum, atau unit kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja yang telah dikembangkan dalam format GBPP (Vembriarto, 1976 :22).
Keuntungan yang bisa diperoleh melalui pembelajaran dengan sistem modul antara lain; (i)memberi motivasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, (ii)memberikan kesempatan siswa belajar menurut irama kecepatanya masing-masing, (iii)melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar, (iv)siswa lebih banyak mendapatkan pertolongan dari guru secara individual, (v)siswa dapat mengetrapkan pada situasi kehidupan nyata, (vi) siswa memperoleh informasi yang berulang-ulang tentang kemajuan belajar yang telah dicapai, (vii)guru memperoleh petunjuk mengenai metode-metode belajar yang paling efisien(Vembriarto.1976:41-42).
Pendapat di atas menjelaskan bahwa pengajaran modul adalah satuan paket program pembelajaran yang dapat dipelajari oleh peserta didik dengan bantuan yang minim dari instruktur. Suatu modul adalah suatu konsep dari pada bahan pelajaran yang merupakan satuan paket usaha penyelenggaraan pengajaran individual yang memungkinkan peserta didik menguasai satu unit kompetensi ke unit kompetensi berikutnya. Modul disajikan dalam bentuk yang bersifat self – instructional dan disusun berdasarkan materi pembelajaran yang dikemas secara sistematis sehingga siap dipelajari oleh peserta didik untuk mencapai kompetensi atau sub kompetensi tertentu. Penyusunan modul mengacu pada kompetensi yang terdapat dalam Garis – Garis Besar Program Pendidikan dan Pelatihan (GBPP) kurikulum, atau unit kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja.
b. Pengembangan penyusunan modul
Modul belajar disusun dan dikembangakan mencakup pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dipersyaratkan untuk menguasai suatu kompetensi. Dalam satu kompetensi akan lebih baik jika dikembangkan menjadi satu modul. Namun mengingat karakteristik khusus, keluasan dan kompleksitas kompetensi, dimungkinkan satu kompetensi dikembangakan lebih dari satu modul. Karakteristik khas modul menurut Suryobroto(1986:154) yaitu:
1) Modul merupakan unit pengajaran terkecil dan lengkap.
2) Modul memuat rangkaian kegiatan belajar yang direncanakan dan sistematik.
3) Modul memuat tujuan belajar yang dirumuskan secara jelas dan spesifik (khusus).
4) Modul memungkinkan siswa belajar sendiri (independent).
5) Modul merupakan realisasi pengakuan perbedaan individual dan merupakan salah satu perwujudan pengajaran individual.
Prosedur pengembangan modul berdasakan kurikulum berbasis kompetensi diawali dengan pengkajian kurikulum yang mencakup: level kualifikasi pekerjaan, unit kompetensi (mata diklat), sub kompetensi ,kriteria unjuk kerja, dan durasi waktu pencapaian kompetensi. Tahap kedua adalah analisa kebutuhan modul yang mengkaji materi pembelajaran yang diperlukan untuk mencapai kompetensi sesuai dengan kriteria unjuk kerja yang dipersyaratkan. Analisa kebutuhan modul ditujukan untuk mencapai kompetensi tersebut. Judul modul dipilih dan ditetapkan berdasarkan kompetensi yang terdapat dalam GBPP. Jika satu kompetensi akan disusun menjadi lebih dari satu judul modul mengingat banyaknya sub-sub kompetensi, maka pemisahannya harus dilakukan secara komprehensif.
Langkah ketiga adalah penyusunan draft modul yang merupakan proses penyusunan dan pengorganisasian materi pembelajaran dari suatu kompetensi
atau sub kompetensi menjadi satu kesatuan yang sistematis. langkah selanjutnya adalah validasi, revisi dan produksi.
c. Langkah –langkah yang dilalui murid waktu belajar dengan modul adalah sebagai berikut:
1) . Mempelajari Lembar Kegiatan Siswa
Siswa mempelajari/membaca sendiri Lembar Kegiatan Siswa sehingga siswa akan mengetahui inti pelajaran sesuai dengan topik yang di sebutkan pada modul. Dengan cara ini murid bisa menyesuaikan kemampuan mereka dalam menyerap materi yang diberikan tanpa terganggu dengan teman yang mempunyai kemampuan dan cara belajar yang berbeda.
2). Mengerjakan tugas – tugas pada lembar kerja
Tugas – tugas yang dikerjakan murid dalam Lembaran Kerja bisa bermacam-macam. Mungkin membaca suatu bab dari buku sumber, mengadakan percobaan-percobaan atau mengerjakan soal-soal. Tetapi sebenarnya kegiatan mempelajari Buku Lembar Kegiatan dan bekerja pada Lembaran Kerja berlangsung dalam waktu yang serentak, artinya kedua kegiatan itu merupakan satu proses yang integral.
3). Mencocokan Dengan Kunci Lembaran Kerja
Murid yang telah mengerjakan tugas-tugas yang ada pada Lembaran kerja berarti ia sudah selesai mempelajari Lembar Kegiatan. Kemudian kepada murid yang bersangkutan diberikan Kunci Lembaran Kerja agar digunakan untuk koreksi terhadap hasil pekerjaanya. Untuk pekerjaan yang salah murid harus mempelajarinya lagi. Dengan cara ini murid tahu letak kesalahan mereka dimana dan akan dapat segera memperbaiki kesalahanya tersebut.
4). Mengerjakan Lembaran Tes
Lembar kerja telah dikerjakan dengan betul oleh murid, maka ia selanjutnya mengerjakan Lembaran Tes. Sebagai realisasi dari prinsip maju berkelanjutan (Continuous Progress), pelaksanaan tes ini secara perseorangan. Perlu ditambahkan bahwa tes ini disebut tes formatif.
5). Mencocokan Hasil Test Dengan Kunci Lembaran Tes
Murid yang telah selesai mengerjakan Lembaran Tes dengan sepengetahuan guru maka kepadanya diberikan Kunci Lembaran Tes untuk mencocokan pekerjaanya. Jika ternyata ia telah memperoleh 75% dari seluruhnya skor yang ditetapkan maka dapat dikatakan bahwa ia telah selesai mempelajari modul tersebut. Akan tetapi jika ia belum memperoleh 75% dari skor yang ditetapkan, maka harus mengulang belajar lagi modul yang bersangkutan.
Ketentuan yang diambil oleh Proyek Perintis Sekolah Pembangunan pada tahap sekarang telah disebutkan bahwa sebuah kelas boleh bergerak ke modul selanjutnya apabila 85% dari populasi (jumlah murid) dalam kelas itu telah memperoleh 75% dari skor yang ditetapkan.
Konsekuensi dari adanya perbedaan individu dalam suatu kelas maka ada anak yang dengan cepat menyelesaikan pelajaran dalam suatu modul. Dalam keadaan seperti ini maka ia berhak mendapatkan kegiatan pengayaan (enrichment program). Kegiatan pengayaan ini dapat berupa : soal-soal yang disediakan oleh guru, modul pengayaan, membaca buku di perpustakan, membantu teman yang lambat, mencatat risalah modul dan sebagainya.
Apabila di gambarkan dalam diagram, maka perbedaan kecepatan murid dalam suatu kelas akan terlihat sebagai berikut:
b c b
anak cepat anak sedang anak lambat Gambar 1. Ilustrasi Kemampuan Menyerap Pelajaran (Suryobroto,1986:161)
Diagram di atas menunjukan garis mendatar (atas) merupakan waktu yang disediakan, sedang garis tegak merupakan bahan yang harus dipelajari, maka anak sedang dapat menguasai bahan pelajaran sesuai waktu yang ditentukan. Anak cepat mempunyai sisa waktu (a), yang dalam sistem klasikal biasanya merupakan waktu terbuang. Sedangkan anak lambat tidak dapat menyelesaikan pelajaranya selama waktu yang telah ditentukankan. Dalam sistem klasikal kurangnya bahan yang belum menjadi miliknya (b) ini merupakan learning gap, yang apabila tidak mendapatkan perlakuan khusus akan menjadi hambatan yang menumpuk.
Sistem pembelajaran modul, anak lambat mendapat kesempatan untuk menambah waktu belajar (c) sehingga sempat menguasai seluruh bahan walaupun lebih lama dibandingkan dengan anak lain. Selagi ia berusaha menguasai bahan itu, anak cepat diberi kesempatan menambah pengetahuanya dengan kegiatan pengayan seperti yang telah disebutkan (mengisi sisa waktu a). Dalam pelaksanaan continuous progress, anak cepat diperbolehkan meneruskan ke modul berikutnya tanpa mengambil kegiatan pengayaan.
d. Peran Guru Dalam Pembelajaran Modul
Peran guru dalam sistem ini bukanya sebagai penyampaian informasi tetapi sebagai pengelola kelas yang ditinjau dari langkah-langkah belajar modul sebagai berikut:
1). Pada Saat akan Dimulaianya Pembelajaran Modul
Sebelum modul digunakan dikelas, guru harus mempelajari Pedoman Guru dan bahan modul yang digunkan oleh murid. Di samping itu Guru harus mempelajari alat-alat dan sumber apakah yang harus disediakan atau dimiliki oleh para siswa agar modul tersebut dapat digunakan secara maksimal.
2). Pada Saat Berlangsungnya Proses Belajar
Pedoman guru tidak memberikan petunjuk secara jelas dan terperinci mengenai peranan guru dari waktu ke waktu pada saat perjalananya proses belajar dengan modul. Dalam hubungan ini guru kreatif sesuai dengan hakekat proses belajar denagn modul. Namun demikian ada garis besar ketentuan yang merupakan beberapa petunjuk yaitu:
a). Guru hendak melaksanakan tugas yang digariskan dalam pedoman guru. b).Guru harus menegaskan kepada murid hal-hal yang khusus terdapat
dalam modul tertentu.
c). Guru hendaknya menegaskan kepada para siswa agar tidak perlu tergesa-gesa dalam menyelesaikan modul, tetapi secepatnya menguasai bahan modul itu (tidak banyak waktu terbuang).
d). Guru hendaknya menekankan kepada siswa bahwa mereka boleh bertanya baik kepada guru maupun kepada teman yang di angggap lebih tahu tentang hal-hal yang belum jelas.
e). Guru hendaknya mengadakan pengecekan keliling unutk mengetahui : - seberapa jauh para siswa memahami petunjuk-petunjuk yang tertulis dalam modul, seperti terlihat dalam kemampuanya mengisi Lembaran Kerja.
- seberapa jauh para siswa mengerjakan tugas-tugas seperti yang telah digariskan dalam modul.
- kesulitan-kesulitan yang secara umum dihadapi oleh siswa
f). Guru boleh berperan menghentikan pelajaran di kelas dan secara khusus menjelaskan hal yang sulit bila ternyata semua siswa dalam kelas menghadapi kesulitan yang sama.
3). Pada Saat Siswa Selesai Mengerjakan Seluruh Lembaran Kegiatan Siswa dan Lembaran Kerja.
Secara umum dapat dikemukakan bahwa seorang siswa baru boleh mengambil tes apabila dia sudah benar-benar menguasai modul yang dipelajarinya seperti terbukti dari Lembaran Kerja yang telah disinya.Atas dasar ini seorang guru hendaknya :
a) Mengecek sampai seberapa jauh siswa telah benar-benar menguasai modul tersebut dengan jalan memeriksa Lembaran Kerjanya.
b) Segera memberikan tes kalau ternyata seorang siswa benar-benar telah menyelesaikan Lembaran Kegiatan dan Lembaran Kerja dengan baik, secara kualitatif maupun kuantitatif.
4). Pada Saat Siswa Telah Menyelesaiakan Lembaran Tes
a). Bagi siswa yang telah mencapai skor 75% guru harus segera: (1). memberikan tugas-tugas pengayan
(2). memberikan modul baru sebagai kelanjutan modul yang diteskan b). Bagi siswa yang belum mencapai skor 75% guru harus segera
mengadakan identifikasi terhadap item-item yang masih dibuat salah serta menunjukan bagian-bagian yang relevan dengan item tersebut. Terhadap siswa yang perlu mendapatkan bimbingan khusus maka : (1). guru memberikan bimbingan khusus kepada yang bersangkutan (2).berdiskusi kepada pihak Bimbingan dan Penyuluhan untuk mempelajari latar belakang kesulitan siswa tersebut sebelum mengambil keputusan.