• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Landasan Teori

2. Model Pembelajaran Kontekstual

Secara umum model diartikan kerangka yang digunakan sebagai pedoman untuk suatu kegiatan. Dalam istilah model digunakan untuk menunjukan sebuah pengertian yang pertama sebagai kerangka. Pembelajaran yang dilakukan tentang gambaran.

Menurut Juni (2017) mengatakan, “Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Model dapat dipahami juga sebagai gambaran tentang keadaan sesungguhnya.” (h. 188). Model kerangka yang digunakan untuk melakukan suatu gambaran kegiatan yang dilakukan untuk pembelajaran.

18 Menurut Yamin (2013) mengatakan, “Model merupakan contoh yang dipergunakan para ahli dalam menyusun langkah-langkah dalam melaksanakan pembelajaran, maka dari itu strategi merupakan bagian dari langkah yang digunakan model untuk melaksanakan pembelajaran.” (h.17). Model pembelajaran yang harus dilakukan setiap guru untuk menyusun langkah-langkah dalam strategi yang digunakan dalam pembelajaran.

Menurut Hermawan (2018) mengatakan, “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu.” (h.3). Model landasan sebuah praktik pendidikan dan teori dalam proses belajar yang diterapkan dalam implementasi pada operasional kelas.

Berdasarkan kesimpulan model pembelajaran kontekstual menyusun langkah-langkah dalam melaksanakan pembelajaran dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasi.

b. Model Pembelajaran Kontekstual

Menurut Shoimin (2017) mengatakan, “Pembelajaran Kontekstual (contextual teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa serta mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam

19 kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni konstruktivisme (Contructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assesment). (h.44). Pembelajaran ini mendorong peserta didik dan penerapannya dalam sehari-hari peserta didik harus mengkaitkan materinya. Terdapat komponen-komponen yang berkaitan dengan kehidupan peserta didik.

Menurut Suprijono (2017) “Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and learning (CTL) merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. (h.98). Konsep pembelajaran dengan mengkaitkan dunia nyata peserta didik membuat pengetahuan yang dimiliki.

Menurut Johson (2007) mengatakan bahwa, “ Kontekstual adalah pendidikan yang berbeda, melakukan lebih dari menuntun para peserta didik dalam menggabungkan subjek-subjek akademik dan konteks dalam keadaan sendiri.” (Juni,2017, h.274). Kontekstual merupakan pendidikan yang melibatkan peserta didik dalam konteks atau keadaan siswa dalam keadaan sendiri.

20 Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran yaitu sebagai pembelajaran membantu guru untuk mengkaitkan materi dengan dunia nyata dan mendorong peserta didik untuk memahami pengetahuan yang dimilikinya.

1) Tujuan Pembelajaran Kontekstual

Menurut Juni (2017) Model pembelajaran kontekstual mendorong pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan sehingga peserta didik mampu melaksanakan kerja sama, belajar secara aktif, berbagi sumber pengetahuan, mendorong pemikiran kritis dan kreatif. Tiga hal penting yang berkaitan dengan uraian tersebut adalah sebagai berikut:

a) Pembelajaran kontekstual menekankan pada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi, artinya proses belajar pada pengalaman secara langsung.

b) Pembelajaran kontekstual mendorong agar peserta didik menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dan situasi kehidupan nyata.

c) Pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik agar mampu menerapkan hal-hal yang dipelajari di sekolah ke dalam kehidupan nyata sehari-hari. (275)

21 Menurut Johnson (2007) menaytakan bahwa pembelajaran kontekstual minimal memiliki tiga prinsip seperti disajikan dalam tabel.

Tabel 2.1

No. Prinsip Penjelasan

1. Saling

Ketergantungan

Pendidikan dan pembelajaran merupakan sistem kehidupan, yang terkait dalam kehidupan di rumah, tempat kerja, dan masyarakat. Dalam kehidupan sekolah peserta didik saling berhubungan dan bergantung pada guru, kepala sekolah, tata usaha dan orang tua peserta didik.

2. Prinsip Diferensiasi

Menunjukan sifat alam yang secara terus menerus menimbulkan perbedaan, keragaman, keunikan.

3. Prinsip Organisasi Setiap individu atau kesatuan dalam alam semesta ini mempunyai potensi yang melekat, yaitu kesadaran sebagai kesatuan utuh yang berbeda dari yang lain

22 (Juni, 2017, h.282).

3) Langkah-langkkah Pembelajaran Kontekstual

Menurut Gafur (2003) mengatakan, Urutan kegiatan pembelajaran Kontekstual adalah sebagai berikut.

a) Pembelajaran pendahuluan (pre-instructional activities)

Pada umumnya kegiatan pembelajaran pendahuluan atau kegiatan awal dilaksanakan dengan kegiatan apersepsi atau prates. Berdasasarkan pembelajaran pendahuluan yang melibatkan kegiatan prates dapat diketahui kesiapan peserta didik untuk menerima materi pembelajaran.

b) Penyampaian materi pembelajaran (presenting instructional materials).

Penyampaian materi pembelajaran diupayakan senantiasa menantang peserta didik untuk memperoleh pengalaman langsung, menemukan ,menyimpulkan, dan menyusun sendiri konsep yang dipelajari. Sejalan dengan konsep tersebut, penyampaian materi pelajaran lebih mengarah pada prinsip pengalaman langsung penerapan dan kerja sama.

23 Peserta didik merupakan subjek pembelajaran bukan objek pembelajaran. Oleh sebab itu, mereka lebih banyak berperan aktif dalam pembelajaran dari pada guru. Guru lebih banyak berperan sebagai fasilator yaitu menyiapkan fasilitas dan kondisi pembelajaran yang dapat merangsang peserta didik untuk aktif belajar.

d) Pemberian umpan balik (providing feedback)

Pada umumnya pemberian umpan balik (providing feedback) dilakukan melalui kegiatan pascates. Umpan balik tersebut diartikan sebagai informasi diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan pembelajaran. Pembelajaran kontekstual tidak menyatakan secara eksplisit mengenai prinsip pembelajaran yang mengarah pada kegiatan umpan balik. Bahan umpan balik dapat diambil dari hasil penilaian melalui kegiatan pengamatan guru terhadap peserta didik dalam menerapkan prinsip-prinsip belajar kontekstual. Aspek-aspek yang dinilai, antara lain keaktifan peserta didik, penarikan simpulan, dan penerapan konsep. Adapun Umpan balik dapat dilakukan melalui kegiatan berikut: Peserta didik diberi tugas mengerjakan soal-soal latihan, lalu diberi kunci jawaban, mereka akan mengetahui jawaban benar atau salah.

24 Kegiatan tindak lanjut dalam pembekajaran kontekstual merupakan pembelajaran tingkat tinggi. Hal ini disebabkan bentuk tindak lanjut mentransfer pengetahuan (tranferring) dan pemberian penggayaan enrichment).

4) Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kontekstual

Menurut Juni (2017), Pembelajaran memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan. Oleh sebab itu, ketika mengimplementasikan model pembelajaran ini, guru perlu pertimbangan kelebihan dan kekurangan tersebut.

a) Kelebihan pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut (1) Pembelajaran lebih bermakna dan real

Peserta didik dituntut untuk menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dan kehidupan nyata.

(2) Pembelajaran lebih produktif

Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada peserta didik karena metode pembelajaran ini menganut aliran kontruktivisme, yaitu seseorang peserta didik dituntut untuk menemukan mengetahuinya sendiri.

b) Kekurangan pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut (1) Guru lebih intensif dalam membimbing

25 Dalam pembelajaran ini guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru lagi peserta didik. (2) Guru mendorong ide dan mengembangkan strategi untuk

belajar.

Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak peserta didik agar menyadari dengan sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.

Dokumen terkait