BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.4 Model Pembelajaran Kooperatif
2.4.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Davinson dan Kroll dalam Nur Asma (2006:11) pembelajaran
kooperatif adalah kegiatan belajarsiswa dalam kelompok dimana siswa saling
bertukar ide dan bekerjasama dalam memecahkan suatu masalah.Siswa belajar
dalam suatu kelompok dan menghadapi masalah.Berdasarkan kemampuan tiap
individu, mereka berbagi ide guna memecahkan masalah belajar sedangkan
kooperatif melibatkan kelompok kecil yang berbeda dan pencapaian tujuan dari
tugas akademik sambil belajar keterampilan kolaboratif dan sosial.Kelompok
belajar diatur oleh guru agar meratanya kesempatan belajar dari siswa pintar dan
yang kurang pintar. Siswa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan tujuan yang
dicapai dan siswa juga belajar cara berkelompok antar anggota serta memupuk
kepedulian sosial antar anggota. Kemudian Anita Lie (2008:28)mengatakan
bahwa kooperatif adalah suatu sistem dimana siswa bekerjasama dengan siswa
lain dalam tugas tersruktur (pembelajaran gotong royong). Tugas terstruktur
dibuat oleh guru agar ketika siswa bekerjasama mempunyai arah yang jelas dan
tidak ada siswa yang bercanda atau bermalas-malasan.
Ahli yang lain yaitu Slavin dalm Isjoni dan Arif Ismail (2008:150),
Pembelajaran kooperatif adalah suatu model yang merangsang siswa untuk belajar
dalam kelompok kecil secara kolaboratif.Sebaiknya dalam pembelajaran
kooperatif, pembagian kelompok terdiri dari 4-6 0rang agar setiap siswa mampu
membina hubungan belajar bersama kelompoknya secara optimal.Menurut Sunal
dan Hans dalam Isjoni dan Arif Ismail (2008:152), Model pembelajaran
kooperatif adalah suatu cara untuk mendorong siswa bekerjasama dalam proses
pembelajaran dengan serangkaian strategi.Pembelajaran disini menuntut siswa
lebih aktif dalam memecahkan masalah dengan menggunakan cara-cara yang
disepakati oleh kelompok. Setiap kelompok akan mempunyai strategi yang
berbeda-beda, disinilah proses pembelajaran kelompok berlangsung. Terakhir
kelompok yang dipimpin dan diarahkan oleh guru dengan suatu konsep yang
luas.Acuan penugasan kelompok dibuat oleh guru dari awal sampai akhir.Memuat
indikator yang hendak dicapai dan tindak lanjut dari masing-masing kelompok.
Dari pengertian para ahli penulis menyimpulkan bahwa model
pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang dilakukan dalam
proses pembelajaran dimana siswa bekerjasama dalam kelompok untuk
memecahkan masalah, siswa dituntut aktif dan mampu menyesuaikan dalam
kelompok.
2.4.2 Macam-macam model pembelajaran kooperatif
Menurut Rusman (2010:213) terdapat 6 macam model pembelajaran kooperatif
yaitu:
2.4.2.1 Model Kooperatif Teknik STAD (Studend Teams Achievement Division)
Model pembelajaran yang melibatkan anggota kelompok yang terdiri dari
4-5 siswa heterogen untuk menguasai materi pelajaran dimana guru melakukan
evaluasi setiap satu atau dua minggu sekali. Siswa dilibatkan dalam sebuah tim
dalam berdiskusi, prosedur kuis maupun mengerjakan tugas. Siswa-siswa yang
mampu menguasai materi pelajaran baik secara individual maupun di dalam tim
dengan prestasi tinggi akan mendapatkan penghargaan.
2.4.2.2 Model Kooperatif Teknik GI (Group Investigasi)
Model pembelajaran kooperatif di mana siswa dibentuk berdasarkan atas
kesamaan minat atau kesenangan berteman setelah dilakukannya investigasi yang
dari berbagai sub topik lainnya sesuai hasil investigasi. Siswa menyiapkan dan
menyajikan laporan di depan kelas.
2.4.2.3 Model Pembelajaran Kooperatif teknik membuat pasangan ( Make a
Match)
Merupakan salah satu jenis model pembelajaran dimulai dengan teknik
mencari pasangan kartu antara jawaban dan soal. Siswa yang berhasil
mencocokkan kartunya akan mendapatkan poin. Keunggulan dari teknik ini
adalah suasana belajar yang menyenangkan dalam suatu topik pembelajaran.
2.4.2.4 Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Struktural
Model ini menekankan bahwa ada hubungan antara siswa lakukan dengan siswa
pelajari.Penerapan model structural member pengaruh besar pada perkembangan
siswa pada sisi sosial, kognitif dan akademisnya.Pembelajaran di dalam kelas
memerlukan adanya interaksi siswa dengan siswa dan pembentukan kelompok
belajar dibedakan menjadi kelompok heterogen, kelompok acak, kelompok minat,
dan kelompok homogen.
2.4.2.5 Model Pembelajaran Kooperatif Teknik TGT ( Teams Games
Tournaments)
Adalah memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk
memperoleh skor bagi tim kelompoknya. Permainan TGT dilakukan dengan
membuat pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu yang diberi
angka.Permainan dalam bentuk turnamen ini digunakan sebagai penilaian
2.4.2.6 Model Pembelajaran Kooperatif Teknik jigsaw I
Model pembelajaran jigsaw dilaksanakan dengan pembagian kelompok secara
heterogen. Anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalhan yang berbeda
tetapi permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama. Utusan dalam
kelompok yang berbeda membahas permasalahan yang sama(tim ahli) selanjutnya
hasil pembahasan tersebut dibawa ke tim asal dan disampaikan ke anggota
kelompoknya. Teknik ini akan peneliti ambil karena menurut jigsaw adalah model
pembelajaran kooperatif yang fleksibel, memberi pengaruh yang positif terhadap
perkembangan serat memberi motivasi intrinsic bagi siswa.
2.4.3. Model Pembelajaran Kooperatif Teknik jigsaw I
Model ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di
Universitas Texas dan setelah itu dikembangkan lagi oleh Slavin. Jigsaw dalam
Bahasa Inggris berarti gergaji ukir namun pengertian lain juga menyebutnya
dengan istilah puzzle yaitu teka-teki menyusun menyusun potongan
gambar.Pembelajaran kooperatif teknik jigsaw mengambil pola/cara bekerja
gergaji yaitu siswa melakukan kegiatan belajar dengan cara bekerja dalam tim-tim
atau kelompok untuk tujuan bersama. Hubungan antara gergaji dengan bekerja
dalam tim bahwa gergaji terdiri dari ruas-ruas besi yang tajam. Ruas-ruas besi
yang tajam dibuat banyak agar tugas memotong kayu dapat segera
terselesaikan.Sama halnya dengan siswa belajar dengan kelompok (ruas gergaji
diselesaikan secara bersama dengan waktu yang cepat dan tepat (gergaji:dapat
memotong kayu lebih cepat).
Menurut Wardani dalam Isjoni dan Arif Ismail (2008:155) menyatakan
teknik jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif yang membantu siswa
menguasai pelajaran dan mendorong siswa beraktivitas untuk mencapai prestasi
belajar.Siswa tidak mampu menghafal bahan mata pelajaran secara keseluruhan
pada saat pelajaran berlangsung, ketidakmampuan siswa tersebut dapat diatasi
dengan teknik ini.Siswa berinteraksi dalam kelompok dan membagi materi
dengan anggota kelompok lainnya, kemudian bertukar materi. Proses
pembelajaran seperti ini dapat mendorong siswa untuk berfikir dan aktif.Menurut
Rusman (2010:218) model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw menitiberatkan
kerja kelompok yang berjumlah 4-6 orang dan siswa memiliki ketergantungan
positif dan bertanggungjawab secara mandiri.Pembelajaran teknik jigsaw yaitu
dengan membuat anggota kelompok dihadapkan ke topik permasalahan yang
berbeda. Namun permasalahan tiap kelompok sama. Tiap-tiap utusan kelompok
yang berbeda membahas materi yang sama (tim ahli). Tim ahli bertugas
membahas permasalahan yang sedang dihadapi dan selanjutnya hasil dari
pembahasan tersebut dibawa ke kelompok asal.
2.4.4 Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw
Menurut Anita Lie (2008:69) pembelajaran kooperatif teknik jisaw
mempunyai kekurangan dan kelebihan.kekurangan seperti: teknik ini
tim, teknik jigsaw hanya dapat diaplikasikan di kelas atas mengingat kelas cara
berfikirnya sudah konkrit dan nyata, serta diperlukan pendampingan oleh guru
secara eksklusif. Adapun kelebihan dari seperti: teknik ini cocok digunakan untuk
semua kelas/tingkatan; dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran IPA, IPS,
Matematika, Agama dan Bahasa; teknik ini biasa digunakan dalam pengajaran
membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara.
2.5 Hakekat Ilmu Pengetahuan Sosial