BAB II KAJIAN PUSTAKA
4. Model Pembelajaran Kooperatif
Tugas utama guru adalah menciptakan suasana proses belajar mengajar di dalam kelas agar terjadi interaksi kegiatan pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik. Salah satu
keberhasilan belajar tergantung pada metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru di dalam kelas. Metode pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya guru boleh memilih metode pembelajaran yang sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan.
Metode adalah cara yang teratur untuk mencapai tujuan. Metode pendidikan adalah cara-cara yang dipakai oleh orang atau sekelompok orang untuk membimbing anak/peserta didik sesuai dengan perkembangannya ke arah tujuan yang hendak dicapai.(Sumitro, 2006:76). Model pembelajaran kooperatif sering disebut model pembelajaran gotong royong. Menurut Anita Lie (2007:12), pembelajaran kooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan siswa dalam tugas terstruktur. Sedangkan menurut Slavin dalam buku Cooperative Learning Analisis Pembelajaran IPS diterjemahkan oleh Etin Solihatin dan Raharjo (2007:4) Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Menurut Etin Solihatin dan Raharjo (2007:4) menyatakan bahwa
pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai
suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok.
25
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa dibagi dalam kelompok kecil dalam rangka bekerja sama menyelesaikan tugas dengan memperhatikan struktur pembagian tugas dalam kelompok.
Menurut Arends (2008 : 356) model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar.
b. Kelompok dibentuk dari siswa berkemampuan akademis tinggi, sedang dan rendah serta berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
c. Penghargaan lebih berorientasi kelompok dan pada individu.
Pembelajaran kooperatif menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesama sebagai sebuah tim dalam menyelesaikan suatu masalah. Tim atau kelompok yang dibentuk memiliki keanekaragaman. Keanekaragaman yang dimaksud yaitu perbedaan kemampuan akademik, jenis kelamin, maupun latar belakang masing-masing individu.
Menurut Anita Lie (2007:31-35) untuk mencapai hasil yang maksimal ada lima unsur yang harus diterapkan dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu :
a. Saling ketergantungan positif
Keberhasilan suatu kelompok bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.
b. Tanggung jawab perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugas.
c. Tatap muka
Setiap kelompok harus diberi kesempatan bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membantu sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi adalah menghargai perbedaan, memanfaatka kelebihan dan mengisi kekurangan masing-masing. Sinergi tidak dapat dipisahkan begitu saja dalam sekejap, tetapi merupakan proses kelompok yang cukup panjang. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi.
d. Komunikasi antar anggota
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan komunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok ini juga merupakan proses yang panjang, tidak dapat seseorang diharapkan langsung menjadi komunikator yang handal dalam waktu sekejap. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan Pembina perkembangan mental dan emosional.
e. Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khsus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya dapat bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali kerja kelompok, tetapi dapat diadakan selang beberapa wakttu setelah beberapa kali
pembelajaran terlibat dalam kegiatan pembelajaran Cooperative
Learning.
Model belajar kooperatif mendorong peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh guru selama proses pembelajaran dan berupaya untuk mencari solusi pemecahan masalah tersebut dengan siswa yang lain dalam kelompok. Oleh karena itu, maka tujuan dari model pembelajaran ini adalah sebagai berikut : a. Dapat memberikan keuntungan bagi siswa yang berprestasi tinggi
maupun rendah dalam melaksanakan tugas-tugas kelompok secara bersama-sama, dimana siswa yang berprestasi tinggi dapat membantu
27
temannya dalam menyelesaikan tugas tersebut secara bersama-sama pula.
b. Memberikan kesempatan kepada semua siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja sama dan saling ketergantungan satu sama lain dalam mengerjakan tugas bersama.
c. Dapat mendukung pembentukan sikap dan perilaku social siswa yang positif serta siswa dapat belajar untuk saling menghargai satu sama lain.
Dengan mengutip berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif pada prinsipnya memberikan ruang yang lebih luas kepada siswa untuk berprestasi dan saling bekerja sama. Model pembelajaran semacam ini sangat baik untuk melatih siswa sejak dini bekerja sama satu sama lain. Di samping itu, antar siswa dituntut untuk memberi perhatian, terutama bagi mereka yang kemampuan belajarnya masih rendah.