BAB II KAJIAN TEORI
D. Model Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran (Slavin, 2010: 4). Pembelajaran kooperatif merupakan sarana yang tepat untuk menumbuhkan kesadaran bahwa para siswa perlu belajar untuk berpikir, menyelesaikan masalah, dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka. Selain itu, pembelajaran kooperatif memiliki kelebihan yang sangat besar untuk
mengembangkan hubungan antara siswa dari latar belakang etnik yang berbeda dan antara siswa-siswa pendidikan khusu terbelakang secara akademik dengan teman sekelas mereka.
Pembelajaran kooperatif berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya dalam satu kelompok atau satu tim (Isjoni, 2010: 8). Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto, 2010: 37).
Abdulhak menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui berbagai proses antara peserta belajar sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama di antara peserta belajar itu sendiri (Isjoni, 2010: 28). Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang terstruktur dan sistematis, di mana kelompok-kelompok kecil bekerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama, serta bertanggungjawab pada aktivitas belajar anggota kelompoknya, sehingga seluruh anggotanya menguasai materi pelajaran dengan baik (Nur Asma, 2006: 12).
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah sebuah model pembelajaran proses dimana siswa aktif belajar dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan bersama dan pemahaman yang sama.
2. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan utama dalam penerapan model pembelajaran kooperatif adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok (Isjoni, 2010: 33).
Menurut Nur Asma tujuan pembelajaran kooperatif ada tiga, yaitu untuk pencapaian hasil belajar, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (2006:12). Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik dan meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar sehingga dapat menciptakan budaya lebih dapat menerima prestasi yang menonjol dalam berbagai tugas pembelajaran akademik. Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, serta belajar untuk menghargai satu sama lain. Pembelajaran ini juga penting untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan kerjasama dan peran siswa dalam kelompok, melatih keterampilan siswa untuk memecahkan
masalahan, serta mengajarkan siswa untuk saling menghargai dan menerima keberagaman satu sama lain sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.
3. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Karakteristik pembelajaran kooperatif menurut Nur Asma (2006: 22) adalah sebagai berikut.
a. Kelas dibagi atas kelompok kelompok kecil, dengan anggota kelompok yang terdiri dari beberapa orang siswa yang memiliki kemampuan akademik yang bervariasi serta memperhatika jenis kelamin dan etnis. b. Siswa belajar dalam kelompoknya dengan bekerjasama untuk menguasi
materi pembelajaran dengan saling membantu.
c. Sistem penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.
Menurut Slavin (Isjoni, 2010: 33-34) ada tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai berikut. a. Penghargaan kelompok
Penghargaan kelompok diperoleh dari keberhasilan kelompok yang didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personel yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli
b. Pertanggungjawaban individu
Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari semua anggorta kelompok. Anggota kelompok harus saling membantu agar setiap anggota siap menghadapi
c. Kesempatan yang sama untuk berhasil
Setiap siswa baik yang berprestai rendah, sedang atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik karena penilaian menggunakan metode skoring dengan melihat peningkatan nilai awal dan akhir.
Berdasarkan pendapat kedua tokoh tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik model pembelajaran kooperatif yaitu 1) adanya kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran; 2) setiap siswa bertanggung jawab atas kelompoknya dan diri sendiri; dan 3) penghargaan diberikan kepada kelompok bukan individu.
4. Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Tidak semua belajar kelompok bisa diangap sebagai kooperatif learning. Roberrt dan David Johnson (Anita Lie, 2007: 31-35) mengatakan bahwa untuk mencapai hasil maksimal ada lima unsur pembelajaran yang harus diterapkan, yaitu sebagai berikut.
a. Saling ketergantungan positif, yaitu setiap anggota kelompok saling bekerjasama agar tujuan kelompok dapat tercapai.
b. Tanggung jawab perseorangan, setiap siswa dalam kelompok memiliki tanggung jawab atas tugasnya.
c. Tatap muka, yaitu setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi sehingga dapat bekerjasaman dengan lebih baik.
d. Komunikasi antar anggota, yaitu komunikasi yang baik antar anggota kelompok sehingga mampu memperkaya pengalaman belajar dan dapat mengembangkan mental dan emosional siswa.
e. Evaluasi proses kelompok, yaitu evaluasi kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar untuk mengetahui proses dan hasil kerja kelompok.
Menurut Bennet (Isjoni, 2010: 60) ada lima unsur dasar yang dapat membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu: a. Possitive Interdependence, yaitu hubungan timbal balik yang didasari
adanya kepentingan yang sama atau perasaan di antara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula atau sebaliknya.
b. Interaction Face to face, yaitu interaksi langsung antar siswa tanpa ada perantara.
c. Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok.
d. Membutuhkan keluwesan, yaitu menciptakan hubungan antar pribadi, mengembangkan kemampuan kelompok, dan memelihara hubungan kerja yang positif.
e. Meningkatkan keterampilan bekerjasama dalam memecahkan masalah (proses kelompok).
Berdasarkan pendapat kedua tokoh tersebut, dapat disimpulkan unsur pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
a. Adanya ketergantungan positif antar siswa dalam kelompok. b. Tatap muka secara langsung siswa dalam kelompok.
c. Setiap siswa memiliki tanggung jawab atas tugasnya masing-masing. d. Komunikasi dan hubungan yang baik antar anggota kelompok.
e. Evaluasi diberikan kepada kelompok dan individu selama proses pembelajaran agar dapat bekerjasama lebih efektif.
5. Prinsip Model Pembelajaran Kooperatif
Nur Asma (2006: 14) menyebutkan dalam pembelajaran kooperatif setidaknya ada lima prinsip yang dianut, yaitu prinsip belajar siswa aktif (student active learning), belajar kerjasama (cooperative learning), pembelajaran partisipatorik, mengajar reaktif (reactive teaching), dan pembelajaran menyenangkan (joyfull learning).
a. Belajar siswa aktif
Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif berpusat pada siswa, aktivitas belajar lebih dominan dilakukan siswa, pengetahuan yang dibangun dan ditemukan adalah dengan belajar bersama-sama dengan anggota kelompok sampai masing-masing siswa memahami materi pembelajaran dan mengakhiri dengan membuat laporan kelompok dan individual.
b. Belajar Kerjasama
Proses pembelajaran dilalui dengan bekerjasama dalam kelompok untuk membangun pengetahuan yang tengah dipelajari. Seluruh siswa terlibat secara aktif dalam kelompok untuk melaakukan diskusi, memecahkan masalah dan mengujinya secara bersama-sama, sehingga bentuk pengetahuan baru dari hasil kerjasama mereka.
c. Pembelajaran Partisipatorik
Melalui model pembelajaran kooperatif siswa belajar dengan melakukan sesuatu (learning by doing) secara bersama-sama untuk menemukan dan membanngun pengetahuan yang menjadi tujuan pembelajaran.
d. Reactive Teaching
Guru menciptakan strategi yang tepat agar seluruh siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Motivasi siswa dapat dibangkitkan jika guru mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menarik serta dapat meyakinkan siswanya akan manfaat pelajaran untuk masa depan mereka.
e. Pembelajaran yang menyenangkan
Pembelajaran harus berjalan dalam suasana menyenangkan, tidak ada lagi suasana yang menakutkan lagi bagi siswa atau suasana belajar yang tertekan. Suasana belajar yang menyenangkan harus dimulai dari sikap dan perilaku guru di dalam maupun di luar kelas. Guru harus
memiliki sikap yang ramah dan tutur bahasa yang menyayangi siswa-siswanya.
6. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team-Achievement Division Metode Student Team Learning adalah teknik pembelajaran kooperatif yang dikembangkan dan dikembangkan oleh John Hopskins University (Slavin, 2010:10). Student Team Learning yang diadaptasi pada sebagian mata pebelajaran dan tingkat kelas ada tiga, salah satunya adalah Student Team-Achievement Division (STAD). Slavin (2010: 143) juga berpendapat bahwa STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. STAD terdiri atas lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim.
Pada pembelajaran STAD menurut Slavin (2010: 11) para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etnik. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya, semua siswa mengerjakan kuis mengenai meteri secara sendiri-sendiri, dimana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling bantu. Skor kuis pada siswa dibandingkan dengan rata-rata pencapaian mereka sebelumnya, dan kepada masing-masing tim diberikan poin berdasarkan tingkat kemajuan yang diraih siswa dibandingkan hasil yang
mereka capai sebelumnya. Perolehan poin digunakan untuk mendapatkan penghargaan.
Gagasan utama dari STAD adalah untuk memotivasi siswa supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru (Slavin, 2010: 12). Siswa memiliki tanggung jawab individual karena siswa tidak bolek saling bantu pada saat kuis, padahal skor siswa akan berengaruh terhadap skor kelompok.