• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

F. Model Pembelajaran Kooperatif

Pada dasarnya pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalm kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi untuk mengarah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing (Slavin, 2008:4).

Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak dalam Trianto, 2007: 42). Di

31

dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang terdiri 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tuga anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar ( Trianto, 2007: 41).

Menurut Panitz dalam Suprijono (2009:54), pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Model pembelajaran cooperatif learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran cooperatif learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model kooperatif learning dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif (Lie, 2005:29).

32

Model cooperative learning ditandai oleh struktur tugas, tujuan dan reward yang kooperatif. Siswa dalam situasi cooperative learning didorong dan dituntut untuk mengerjakan tugas bersama secara bersama-sama dan mereka harus mengorganisasikan usahanya untuk menyelamatkan tugas itu. Disamping itu dalam cooperative learning untuk mendapat reward yang akan mereka bagi, bila mereka sukses sebagai kelompok. Pelajaran dengan cooperative learning dapat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut: 1) Siswa bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan belajar; 2) Tim-tim itu terdiri dari siwa-siswa yang berprestasi, sedang, rendah dan tinggi; 3) Tim-tim itu terdiri dari campuran ras, budaya dan gender; 4) Sistem reward-nya berorientasi kelompok (Areends, 2008:5); 5) Model cooperative learning dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan utama yaitu prestasi akademik, toleransi dan penerimaan terhadap keanekaragaman perbedaan dan pengembangan keterampilan sosial (Arrends, 2008:5).

Roger dan David dalam Suprijono (2009:58-61) menyatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hal yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan.

Lima unsur tersebut adalah:

1. Positive Interdependence (saling ketergantungan positif)

Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua pertanggungjawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang

33

ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut.

2. Personal Responsibility ( tanggung jawab perseorangan)

Pertanggungjawaban ini muncul jika dilakukan pengukuran terhadap keberhasilan kelompok. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah membentuk semua anggota kelompok menjadi pribadi yang kuat. Tanggungjawab perseorangan adalah kunci untuk menjamin semua anggota yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama. Artinya setelah mengikuti kelompok belajar bersama, anggota kelompok harus dapat menyelesaikan tugas yang sama.

3. Face to Face Promotive Interaction ( interaksi promotif)

Unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling ketergantungan positif.

Ciri-ciri interaksi promotif adalah:

a. Saling membantu secara efektif dan efisien.

b. Saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan.

c. Memproses informasi bersama secara lebih efektif dan efisien. d. Saling mengingatkan.

e. Saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan wawasan terhadap masalah yang dihadapi.

f. Saling percaya.

34

4. Interpersonal skill ( komunikasi antar kelompok)

Untuk mengkoordinasikan kegiatan peserta didik dalam pencapaian tujuan peserta didik harus:

a. Saling mengenal dan mempercayai.

b. Mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius. c. Saling menerima dan saling mendukung.

d. Mampu menyelesaikan konflik secara konstruktif. 5. Group processing (Pemrosesan kelompok)

Pemrosesan mengandung arti menilai. Melalui pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok. Tujuannya adalah meningkatkan efektivitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok. Ada dua tingkatan pemrosesan yaitu kelompok kecil dan kelas secarta keseluruhan.

Para “Johnsons” dan rekannya (seperti Johnson, Johnson dan Stanne, 2000) fokus pada pembandingan antara model kooperatif dengan model kompetitif. Secara keseluruhan hampir semua kajian yang membandingkan susunan kooperatif dengan susunan kompetitif mengindikasikan bahwa susunan kooperatif jauh lebih efektif dalam meningkatkan perkembangan personal, sosial dan akademik siswa. Maka dari itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa strategi pembelajaran kooperatif berpotensi meningkatkan seluruh dimensi pembelajaran siswa. Namun, penekanan pada strategi kooperatif versus strategi kompetitif memiliki batasan sendiri-sendiri.

35

Menekankan struktur kooperatif tidak berarti bahwa alternatif satu-satunya yang harus kita terapkan adalah struktur-struktur kooperatif. Beberapa kelas ada yang netral, yang berarti bahwa kompetisi tidak pasti mucul (Joyce, 2009: 77).

Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik (Trianto, 2007: 44). Untuk mencapai hasil belajar itu model pembelajaran kooperatif menuntut kerjasama dan interdependensi peserta didik dalam struktur tugas, struktur tujuan dan struktur rewardnya. Struktur tugas berhubungan bagaimana tugas diorganisir. Struktur tujuan dan reward mengacu pada derajat kerjasama atau kompetisi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan maupun reward (Suprijono, 2009: 61).

Menurut Lie dalam Made Wena (2009:192), ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas model pembelajaran kooperatif, yaitu (a) pengelompokan, (b) semangat pembelajaran kooperatif, (c) penataan ruang kelas. Ketiga faktor tersebut harus diperhatikan dan dijadikan pijakan dasar oleh guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif dalam kelas. Tanpa memperhatikan masalah tersebut, tujuan-tujuan pembelajaran kooperatif sulit tercapai.

36

Pembelajaran kooperatif mempunyai efek yang berarti terhadap penerimaan yang luas terhadap keragaman ras, budaya dan agama, strata sosial, kemampuan dan ketidakmampuan (Ibrahim dkk dalam Trianto, 2007: 44). Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan malalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain. Keterampilan sosial atau kooperatif berkembang secara signifikan dslam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif sangat tepat digunakan untuk melatihkan keterampilan-keterampilan Tanya jawab (Ibrahim dkk dalam Trianto, 2007: 45).

Dokumen terkait