1. Pengertian Pembelajaran Pembelajaran Kooperatif (Cooperative
Learning)
Solihatin (2007:4) mengemukakan bahwa pada dasarnya
Cooperative Learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Davidson dan Kroll dalam Asma (2006:11) mendefinisikan Cooperative Learning adalah kegiatan yang berlangsung di lingkungan belajar siswa dalam kelompok kecil yang saling berbagi ide-ide dan bekerja secara kolaboratif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada dalam tugas mereka. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dapat mengakomodasi kepentingan siswa dalam kelompok untuk mengkolaborasikan pengembangan diri di dalam proses pembelajaran. Menurut Slavin (2009:4) pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.
Pembelajaran kooperatif dilakukan pada kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Esensi pembelajaran kooperatif itu adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terdapat sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Pada pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif antar anggota kelompok. Siswa saling bekerja sama untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.
Keberhasilan kelompok dalam mencapai tujuan tergantung pada kerja sama yang kompak dan serasi dalam kelompok itu. Dengan memperhatikan pengertian dari pembelajaran kooperatif di atas, peneliti berpendapat bahwa model pembelajaran ini sangat baik untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa. Dalam berkelompok, semua siswa dituntut untuk bekerja dan bertanggung jawab sehingga di dalam kerja kelompok tidak ada anggota kelompok yang asal namanya saja tercantum sebagai anggota kelompok, tetapi semua harus aktif.
2. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Jhonson dalam Lie (2002:3) untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan yaitu :
a. Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan pada suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, guru perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
b. Tanggung jawab perseorangan
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Guru dalam model pembelajaran kooperatif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
Dalam pembelajaran Kooperatif setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
d. Komunikasi antar anggota
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
e. Evaluasi proses kelompok
Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
3. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Asma (2006:12) model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yaitu:
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
c. Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.
Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
Menurut Slavin (2009:33) tujuan yang paling penting dari pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi.
4. Teknik - teknik Model Cooperative Learning
Menurut Asma (2006:59,82) dalam model pembelajaran Cooperative Learning dikenal beberapa teknik, yaitu: tipe STAD, tipe TGT, TAI, CIRC, Investigasi Kelompok (Group Investigation), Jigsaw, dan Co-op Co-op. Tentang hal itu dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Teknik STAD (Student Team Achievement Division)
Pembelajaran kooperatif teknik STAD adalah pembelajaran kooperatif di mana siswa belajar dengan menggunakan kelompok kecil yang anggotanya heterogen dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pembelajaran, kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pembelajaran melalui tutorial, kuis satu sama lain dan atau melakukan diskusi.
2.Teknik TGT (Teams-Games-Tournament)
TGT merupakan teknik pembelajaran yang didahului dengan penyajian materi pembelajaran oleh guru dan diakhiri dengan
memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa. Kemudian siswa melakukan diskusi pada kelompok masing-masing.
3.Teknik TAI (Team-Asisted Individualization)
Teknik TAI dirancang dan digunakan untuk pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Model pembelajaran kooperatif dengan teknik TAI mengharapkan setiap siswa bekerja sesuai dengan unit-unit yang diprogramkan secara individu yang dipilih sesuai dengan level kamampuannya.
4.Teknik CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
CIRC adalah teknik dari model pembelajaran kooperatif yang beranggota 4 orang siswa yang terlibat dalam sebuah rangkaian kegiatan bersama, termasuk saling membacakan satu dengan lainnya, membuat prediksi tentang bagaimana cerita naratif yang akan muncul, saling membuatkan ikhtisar satu dengan yang lain, menulis tanggapan terhadap cerita, dan berlatih pengejaan serta perbendaharaan kata.
5.Teknik GI (Group Investigation)
Adalah teknik dari model pembelajaran kooperatif yang dilaksanakan dengan cara mencari dan menemukan informasi (gagasan, opini, data, solusi) dari berbagai macam sumber (buku-buku, institusi-institusi, orang-orang) di dalam dan di luar kelas. Siswa mengevaluasi dan mensintesiskan semua informasi yang disampaikan oleh masing-masing anggota kelompok dan akhirnya dapat menghasilkan produk berupa laporan kelompok.
6.Teknik Jigsaw
Teknik Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan para koleganya (1978). Teknik ini biasanya digunakan untuk materi yang bersifat narasi tertulis seperti pada kajian-kajian sosial, sastra, dan beberapa kegaiatan ilmu pengetahuan (sains) terutama yang terkait dengan tujuan pembelajarannya untuk pemerolehan konsep bukan keterampilan.
7. Teknik Co-op Co-op
Teknik Co-op Co-op menempatkan kelompok-kelompok dalam kerja sama satu dengan yang lain untuk mengkaji topik kelas. Teknik
Co-op Co-op memungkinkan siswa untuk bekerja bersama dalam kelompok-kelompok kecil, dan kemudian memberikan kesempatan bagi mereka untuk asling tukar pemahaman yang baru dengan teman sebaya.
Dari ketujuh teknik pembelajaran Cooperative Learning di atas, peneliti akan menggunakan teknik Jigsaw.