• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

D. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

STAD kependekan dari Student Teams Achievement Division. Slavin (2005) mendefinisikan “STAD sebagai suatu kinerja tim yang mendorong tiap anggota melakukan kontribusi terhadap rekognisi tim melalui skor kemajuan individual” (hlm.143). Isjoni berpendapat STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal (seperti yang dikutip dalam Taniredja, 2011, hlm.64).

Berdasarkan definisi di atas, peneliti mendefinisikan STAD sebagai suatu kinerja tim yang menekankan pada aktivitas dan interaksi dimana siswa akan bertanggung jawab terhadap kemajuan tim dan kemajuan diri sendiri melalui kuis individu.

2. Komponen Utama STAD

Slavin (2005) menyebutkan bahwa STAD terdiri atas lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim” (hlm.144). Berikut penjelasannya.

a) Presentasi kelas

Materi diperkenalkan melalui presentasi di dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering dilakukanatau diskusi pelajaran yang dipimpin guru. Dengan cara ini, siswa dituntut untuk memberikan perhatian selama presentasi, karena dapat membantu mereka mengerjakan kuis.

b) Tim

Tim terdiri dari tiga, empat, atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, dan etnisitas. Fungsinya adalah memastikan seluruh anggota tim aktif dan mempersiapkan anggota supaya dapat mengerjakan kuis dengan baik.

Kuis dilaksanakan setelah pertemuan pertama dari presentasi kelas dan pertemuan kedua dari praktik tim. Siswa mengerjakan kuis individual. Siswa tidak diperbolehkan saling membantu dalam mengerjakan kuis. Siswa bertanggung jawab secara individual untuk memahami materi.

d) Skor Kemajuan Individual

Skor kemajuan individual dimaksudkan bahwa semua siswa dapat melampaui skor minimum dan mempunyai kesempatan yang sama untuk berhasil jika mereka melakukan yang terbaik dalam bidang akademis. Sistem poin kemajuan bersifat adil karena setiap siswa berkompetisi dengan dirinya sendiri.

Tabel 2.1. Pedoman Skor Perkembangan Individu (Slavin, 2005)

Nilai Tes Skor Perkembangan

Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5 10 poin di bawah skor awal 10 Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20 Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30 Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30 e) Rekognisi Tim

Gagasan utama dalam rekognisi tim adalah menghitung skor kemajuan individual dan skor tim. Siswa berusaha meningkatkan kinerja mereka, karena dapat menyumbangkan poin untuk memperoleh kemajuan maksimal bagi tim. Tim memperoleh penghargaan jika skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu.

Tabel 2.2. Perhitungan Perkembangan Kelompok (Rusman, 2011)

No Rata-Rata Skor Kualifikasi

1 0 ≤ N ≤ 5 -

2 6 ≤ N ≤ 15 Tim yang Baik (Good Team) 3 16 ≤ N ≤ 20 Tim yang Baik Sekali (Great Team) 4 21 ≤ N ≤ 30 Tim yang Istimewa (Super Team)

3. Langkah Pembelajaran Tipe STAD

Rusman (2011) menyebutkan langkah-langkah model pembelajaran tipe STAD sebagai berikut:

a. Penyampaian tujuan dan motivasi

Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa untuk belajar. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif.

b. Pembagian kelompok

Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompoknya terdiri dari 3-5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas kelas dalam prestasi akademik, jenis kelamin, ras. c. Presentasi dari guru

Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari.

d. Kegiatan belajar dalam tim

Siswa belajar dalam kelompok. Guru menyiapkan lembar kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.

e. Kuis atau evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa mengerjakan secara individual. Ini dilakuan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar.

f. Penghargaan prestasi tim

Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0-100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan menghitung skor individu, menghitung skor kelompok, dan pemberian hadiah serta pengakuan skor kelompok. (hlm.215)

4. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Slavin (2005) menyebutkan kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai berikut:

Dapat mengembangkan prestasi siswa. Dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa, siswa merasa lebih terkontrol untuk keberhasilan akademis. Dapat memberikan perkembangan yang berkesan pada hubungan interpersonal diantara anggota kelompok yang berbeda etnis. Bekerja dalam kelompok untuk menguasai pelajaran yang diberikan guru. Bertanggung jawab terhadap kemajuan individu maupun tim. Meningkatkan interaksi siswa dalam pembelajaran. (hlm.150)

E. Ilmu Pengetahuan Sosial 1. Hakikat IPS

IPS ( Ilmu Pengetahuan Sosial ) merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu social studies atau social sciences. IPS dapat diartikan sebagai penelaahan atau kajian tentang masyarakat. Sapriya (2009) menyatakan “istilah IPS di sekolah dasar merupakan nama mata pelajaran yang berdiri sendiri sebagai integrasi dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan” (hlm.20). IPS disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Materi IPS untuk jenjang sekolah dasar terlihat dari dimensi pedagogik dan psikologis serta karakteristik

kemampuan berpikir peserta didik yang bersifat holistik.

Hamid Hasan dan Kosasih dalam Solihatin (2008) menyatakan bahwa: IPS memiliki peranan penting. IPS mampu mempersiapkan, membina, dan membentuk kemampuan peserta didik menguasai pengetahuan, sikap, nilai, dan kecakapan dasar yang diperlukan bagi kehidupan di masyarakat. IPS dapat memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Lebih lanjut, IPS dapat memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kemampuan menggunakan penalaran dalam mengambil keputusan setiap persoalan yang dihadapinya. (hlm.1)

2. Tujuan Pembelajaran IPS SD Sapriya (2009) menyatakan bahwa:

Tujuan dari IPS antara lain mendidik siswa sebagai warga negara yang baik, warga masyarakat yang konstruktif dan produktif yaitu warga negara yang memahami dirinya sendiri dan masyarakatnya, mampu merasa sebagai warga negara, dan jika mungkin juga mampu hidup sebagaimana layaknya warga negara. (hlm.35)

Lebih lanjut, tujuan IPS meliputi mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPS, meningkatkan kesadaran untuk menghargai sesama dan segala keteraturannya, melatih dan mempersiapkan siswa agar mampu bersosialisasi dengan masyarakat, dan memperoleh bekal pengetahuan, konsep, keterampilan IPS sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan.

3. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar

Rosdijati (2010) menyebutkan bahwa pembelajaran IPS dilakukan agar peserta didik dapat mencapai kompetensi sebagai berikut:

a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetensi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional, dan global. (hlm.1)

Pembelajaran IPS berarti mempelajari berbagai konsep dan proses yang berhubungan dengan IPS. Proses IPS dijabarkan ke dalam

keterampilan berpikir atau keterampilan dasar. Siswa secara bertahap dibimbing agar memiliki keterampilan dasar yang digunakan untuk mengenal dan memahami berbagai konsep IPS. Contoh-contoh keterampilan dasarnya antara lain mengumpulkan data informasi, membuat deskripsi, mengklasifikasi, membuat tabel, membuat peta, membuat model, merencanakan kunjungan observasi, menyusun pertanyaan wawancara, mewawancarai nara sumber, menginterpretasi data, mengidentifikasi hubungan sebab-akibat, menarik kesimpulan, membuat generalisasi, mengembangkan konsep diri yang positif, menunjukkan kepekaan dan toleransi kepada orang lain, menghargai perbedaan, menganalisis kekuatan dan kelemahan, menilai, memprediksi, mengevaluasi, dan memperbaiki.

Dalam membimbing siswa agar secara bertahap memiliki keterampilan dasar IPS dan memahami konsep-konsep IPS, guru diharapkan agar menugasi siswa melakukan kegiatan-kegiatan belajar akti IPS. Dalam melakukan kegiatan itu, siswa diarahkan untuk memanfaatkan beragam sumber belajar IPS yang tersedia di sekolah dan terjangkau dalam lingkungan fisik, sosial, dan budaya di sekitarnya.

Dokumen terkait