• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kerangka Teori

2.4 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

2.4.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

Teams Game Tournament pada mulanya dikembangkan oleh David De Vries dan Keith Edwards, ini merupakan model pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Dalam model ini, para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat sampai lima orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya diadakan touernament, di mana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. TGT menambahkan dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan

mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, memastikan telah terjadi tanggung jawab individu.39

TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotaan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing-masing.40

Model TGT ini merupakan model pembelajaran yang membuat siswa dapat berperan aktif dengan memiliki kebebasan untuk berinteraksi dengan anggota kelompok dan kebebasan menuangkan pendapatnya didalam pembelajaran yang menyenangkan sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.41

Jadi, model pembelajaran kooperatife tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah model pemeblajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. Tipe ini melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, mengandung unsur permainan yang bisa menggairahkan semangat belajar dan mengandung reinforcement. Aktivitas belajar selama menggunakan model Teams Games Tournament ini membuat siswa lebih menyenangkan, menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerja keras dan saling bekerja sama dalam satu tim.

39

Robert E. Slavin. op. cit., hal. 11

40 Rusman, op. Cit., hal. 223

41 Anisa Eka Pratiwi, Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games

TournamentTerhadap Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas V SD Negeri Gedongtengen Yogyakarta, Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, No. 2, Januari 2018, Vol. 4. h 340

2.4.2 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

Menurut Slavin dikutip oleh Nurdyansyah & Eni F. Fahyuni. Pembelajaran kooperatife tipe TGT terdiri lima langkah tahapan, yaitu:

1. Penyajian kelas

Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas, siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game / tournament karena skor game menentukan skor kelompok;

2. Belajar dalm kelompok (Teams)

Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 4- 5 orang anggotanya heterogen dilihat dari kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersipkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat games;42

3. Permainan (Games)

Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Tiap kelompok (tim) mendapatkan kesempatan untuk memilih

kartu bernomor yang tersedia pada meja turnamendan mencoba menjawab pertanyaan yang muncul. Apabila tiap anggota alam suatu tim tidak bisa menjawab pertanyaan, maka pertanyaan tersebut dilempar kepada kelompok lain, searah jarum jam. Tim yang bisa menjawab dengan benar pertanyaan itu akan mendapat skor yang telah tertera dibalik kartu tersebut. Sko ini yang nantinya dikumpulkan tim untuk menentukan skro akhir tim.

Jadi, setelah guru menyampaikan materi. Guru mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan bernomor (artinya, kartu bernomor tersebut memiliki pertanyaan yang mengenai materi yang telah dijelaskan oleh guru dan disetiap kartu memiliki skor). Skor tersebutlah yang akan menentukan pemenangnya. Artinya, siapa yang memiliki skor yang paling banyak itulah yang menjadi pemenenangnya.

4. Touranament

Tournament atau lomba biasanya dilakukan pada akhir minggu atau pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas.

5. Penghargaan kelompok

Pengraharaan diberikan kepad atim yang menang atau mendpaat skor tertinggi, skor tersebut pada akhirnya akan dijadikan sebagai tambahan nilai tugas siswa. Selain itu diberikan pula hadiah (Reward) sebagai motivasi belajar.43

Yuliana, dalam penelitiannya yang telah dilakukan menunjukkan bahwa model TGT dapat meningkatkan hasil belajar dengan baik.44

Dengan penerapan pembelajaran TGT dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam menyampaikan materi pelajaran, membantu mengaktifkan kemmapuan siswa untuk bersosialisasi dengan siswa lain. Siswa trebiasa bekerja sama dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar, sehingga hal ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. TGT merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang sangat bermanfaat bagi siswa. Adanya permainan dalam bentuk turnamen akademik yang dilaksanakan pada akhir pokok bahasan, memberikan peluang bagi setiap siswa untuk melakukan yang terbaik bagi kelompoknya, hal ini juga menuntut keaktifan dan partisipasi siswa pada proses pembelajaran. Dengan hal ini siswa berlomba-lomba untuk memproleh hasil belajar yang optimal.

2.4.3 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT

a. Kelebihan model TGT

i. Model TGT tidak hanya membuat peserta didik yang cerdas (berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran, tetapi peserta didik yang berkemampuan akademik lebih rendah juga ikut aktif dan mempunyai peranan penting dalam kelompoknya.

44 Yuliana “ Pengaruh Penerapan TGT Terhadap Hasil Belajar Pada Pembelajaran Matematika Kelas IV SDN 11 Ponkot”, Skripsi Universitas Tanjung Pura Pontianak, 2012

ii. Dengan pembelajaran ini akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya.

iii. Dalam model pembelajaran ini, membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru menjanjikan sebuah penghargaan pada peserta didik tau kelompok terbaik

iv. Dalam pembelajaran peserta didik ini, membuat peserta didik menjadi lebih senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa turnamen dalam model ini.

v. Membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar

vi. Mengembangkan kemampuan untuk menguji ide dan pemahaman siswa, serta menerima umpan balik

vii. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi b. Kekurangan model TGT

i. Membutuhkan waktu yang lama.

ii. Guru dituntut untuk pandai memilih materi pelajaran yang cocok untuk model ini.

iii. Guru harus mempersiapkan model ini dengan baik sebelum diterapkan. Misalnya, membuat soal untuk etiap meja turnamen atau lomba, dan guru harus tahu urutan akademis peserta didik dari yang tertinggi hingga terendah.45

45 Aris Shoimin. 2016. 68 Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, hal. 207-208

2.5 Pembelajaran IPA

Dokumen terkait