KAJIAN PUSTAKA
2.2 Kajian Teoritis
2.2.10 Model Pembelajaran Koopertif Tipe Group Investigation
Guru memberikan penghargaan untuk upaya maupun hasil belajar siswa secara individu dan kelompok.
Dalam perkembangannya, terdapat beberapa variasi model pembelajaran kooperatif, antara lain model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD), Tim Ahli (Jigsaw), Think Pair Share (TPS), Numbered Head Together (NHT), Teams Games Tournament (TGT), dan Investigasi Kelompok (Group Investigation).
2.2.10 Model Pembelajaran Koopertif Tipe Group Investigation
Salah satu variasi model pembelajaran kooperatif seperti yang dijelaskan pada pembahasan sebelumnya yaitu model pembelajaran Investigasi Kelompok (Group Investigation).
2.2.10.1 Pengertian
Model pembelajaran Investigasi Kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Model pembelajaran ini menekankan pada kemampuan berfikir tinggi dari siswa serta daya kemampuan bersosialisasi siswa dalam kelompoknya sehingga dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan peranannya. Model pembelajaran Investigasi Kelompok juga memerlukan siswa yang memilki keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik karena dalam implementasinya, guru membagi kelas menjadi kelompok kecil dengan anggota 5-6 siswa yang heterogen. Nantinya kelompok yang telah dibentuk tersebut akan mendapatkan tugas sesuai topik pembelajaran yang telah dipilih. Setiap kelompok memiliki tugas melakukan penyelidikan yang mendalam terhadap topik yang berbeda dan kemudian mempresentasikan hasil
penyelidikannya di depan kelas. Oleh karena itu, diperlukan pemikiran yang tinggi dari siswa dan kemampuan komunikasi yang baik agar semua siswa dapat memahami setiap topik yang dibicarakan oleh kelompok lainnya. Hal tersebut juga dijelaskan oleh Slavin (2005: 215) bahwa kesuksesan implementasi dari
Group Investigaton sebelumnya menuntut pelatihan dalam komunikasi dan sosial. Model pembelajaran Group Investigaton diterapkan pada materi pelajaran yang memerlukan penyelesaian yang bersifat multi-aspek. Materi yang digunakan adalah materi yang cakupannya luas sehingga materi atau topik tersebut dapat dibagi kedalam beberapa subtopik agar dapat dilakukan penyelidikan oleh kelompok-kelompok investigasi. Sebagai bagian dari investigasi, siswa dapat mencari informasi dari berbagai sumber seperti (bermacam buku, institusi, orang) yang berkaitan dengan masalah yang dipelajari. Hasil dari investigasi tersebut selanjutnya dievaluasi dan disintesis oleh semua anggota kelompok sehingga menghasilkan sebuah karya atau laporan.
2.2.10.2 Perencanaan Kooperatif
Perencanaan kooperatif merupakan salah satu bagian yang penting dalam
Group Investigaton. Kegiatan perencanaan kooperatif ini dilakukan oleh setiap kelompok dengan anggotanya. Setiap kelompok membagi-bagi tugas kepada semua anggota kelompoknya untuk melakukan penyelidikan sesuai topik yang dipilih kelompoknya. Pembagian ini berhubungan dengan bagaimana cara melakukan penyelidikan, informasi apa yang perlu dicari, sumber apa yang akan digunakan, siapa melakukan apa dan bagaimana cara mempresentasikan hasil karya mereka di depan kelas (Slavin 2005: 217).
2.2.10.3 Peran Guru
Pada setiap pembelajaran, peran guru sangat penting dalam menunjang keberhasilan belajar siswa. Dalam kelas yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Group Investigation, guru bertindak sebagai narasumber dan fasilitator (Slavin 2005: 217). Saat proses pembelajaran dengan model Investigasi kelompok berlangsung, guru berkeliling mengontrol diskusi siswa. Guru juga dapat membantu siswa yang mengalami kesulitan saat melakukan investigasi. Kesulitan disini bisa berbentuk kesulitan dalam interaksi kelompok maupun penyelesaian tugas-tugas siswa.
2.2.10.4 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Group Investigation
Menurut Setiawan dalam Veristika dkk (2012: 3) Model pembelajaran
Group Investigation memiliki kelebihan untuk dapat meningkatkan keaktifan siswa yaitu:
(1) Proses belajar bisa berjalan lebih efektif karena siswa melakukan investigasi sendiri dan melakukan interaksi dengan kelompok investigasinya (2) Meningkatkan kerja sama antarsiswa dalam satu kelompok
(3) Siswa belajar berkomunikasi baik dengan teman sendiri maupun guru (4) Meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan
(5) Siswa belajar lebih berani untuk mengungkapkan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.
Selain memiliki kelebihan, menurut Setiawan dalam Nurdin (2010), model pembelajaran Group Investigation juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu:
(1) Materi yang tersampaikan pada satu kali pertemuan lebih sedikit (2) Sulitnya memberikan penilaian secara personal
(3) Tidak semua topik cocok dengan model pembelajaran Group Investigation, model pembelajaran Group Investigation cocok untuk diterapkan pada suatu topik yang menuntut siswa untuk memahami suatu bahasan dari pengalaman yang dialami sendiri
(4) Diskusi kelompok biasanya berjalan kurang efektif
(5) Siswa yang tidak tuntas memahami materi prasyarat akan mengalami kesulitan saat menggunakan model ini.
Berdasarkan kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Group Investigation yang dijelaskan di atas, maka dalam penerapannya guru harus berusaha mengantisipasi segala kekurangan model pembelajaran tersebut dan meningkatkan kelebihan yang dimiliki model pembelajaran Group Investigation
agar proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal.
2.2.10.5 Langkah-langkah Pembelajaran
Model pembelajaran Group Investigation memilki tahap-tahap yang sistematis dalam implementasinya. Menurut Sharan dalam Tan et al (2007: 143) “Group investigation requires students to form small interest groups, plan and implement their investigation, synthesize the findings of group members, and present their findings to the class”. Investigasi kelompok mengharuskan siswa untuk membentuk kelompok kecil, merencanakan dan melaksanakan investigasi mereka, mensintesis temuan dari anggota kelompok, dan mempresentasikan temuan mereka di depan kelas.
Menurut Slavin (2005: 218-220), Group Investigation memilki enam tahap, yaitu:
(1) Tahap 1, mengidentifikasikan topik dan mengatur murid ke dalam kelompok.
Dalam tahap ini, siswa memilih topik-topik yang akan mereka pelajari sesuai dengan materi pembelajaran, biasanya ditentukan oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan dalam kelompok heterogen yang beranggotakan 5-6 siswa.
(2) Tahap 2, merencanakan tugas yang akan dipelajari (perencanaan kooperatif).
Pada tahap ini, siswa dalam setiap kelompok merencanakan memilih satu topik dari beberapa topik yang telah ditentukan sebelumnya. Kemudian merencanakan cara melakukan invastigasi topik tersebut dan pembagian tugas masing-masing anggota kelompok.
(3) Tahap 3, melaksanakan investigasi
Pada tahap ketiga ini, siswa mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, menganalisis data, dan membuat kesimpulan dari informasi-informasi hasil investigasi tiap anggota kelompok. Setiap anggota kelompok harus ikut berpartisipasi dalam melakukan investigasi.
(4) Tahap 4, menyiapkan laporan akhir
Pada tahap ini siswa menyiapkan laporan dari hasil investigasi mereka di tahap tiga. Siswa merencanakan bagaimana cara melaporkan karya mereka
semenarik mungkin di depan kelas. Siswa juga menentukan siapa yang akan mewakili kelompok untuk mempresentasikan hasil karya mereka.
(5) Tahap 5, mempresentasikan laporan akhir
Pada tahap ini, beberapa siswa atau semua siswa yang mewakili masing-masing kelompok mempresentasikan hasil karya atau laporan mereka di depan kelas. Anggota kelompok yang lain mendengarkan kelompok lain yang sedang presentasi. Diskusi kelas dapat terjadi di sini untuk membahas hal-hal yang belum dipahami. Guru mengatur jalannya diskusi dan membantu mengatasi kesulitan siswa.
(6) Tahap 6, evaluasi
Pada tahap ini, siswa dan guru mengevaluasi kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok.
2.2.11 Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation pada Materi